Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 10 Februari 2009

Perempuan Berkalung Sorban


Sinopsis :

Kisah berawal dari sebuah pesantren Al-Huda di Jawa Timur milik Kyai Hanan (Joshua Pandelaky) pada tahun 80-an. Seorang gadis berumur sepuluh tahun Annisa (Nasya Abigail) yang menjadi anak ke tiga dari sang Kyai berbeda dengan gadis kecil lainnya di daerah tempat pesantren itu. Ketika kedua saudara laki-lakinya belajar menunggangi kuda, Annisa kecil ingin juga belajar. Namun, dia dilarang oleh kedua orang tuanya, karena dia seorang perempuan.


Annisa merasa tak nyaman dengan lingkungan pesantren dan keluarganya karena selalu ‘menyampingkan’ statusnya sebagai perempuan dengan alasan syariat Islam. Untungnya ada salah satu orang yang mengerti kegelisahan Annisa yang keras kepala dan mengajari Annisa naik kuda, dia adalah Khudori (Oka Antara) seorang lelaki cerdas dengan pikiran terbuka. Namun, perlindungan Khudori tak berlangsung lama karena dia harus pergi ke Al-Azhar di Kairo untuk melanjutkan kuliahnya dan meninggalkan Annisa sendirian.

Annisa (Revalina S Temat) telah remaja dan memutuskan untuk melamar beasiswa di sebuah Universitas Islam di Yogjakarta. Namun, Annisa mendapat garis lain dalam hidupnya yaitu masuk ke dunia pernikahan. Annisa dijodohkan dengan Samsudin (Reza Rahadian) anak seorang Kyai yang membantu pesantren Al-Huda. Dunia pernikahan dirasa Annisa buruk karena perbuatan kasar dan tekanan yang dilakukan sang suami. Tak hanya perlakuan kasar yang didapatkan, Annisa juga dipoligami. Annisa tak bisa berbuat apa-apa karena syariat Islam yang selalu ada dalam dirinya bahwa perempuan harus mengikuti apa yang dilakukan suami dan menurut apa kata suami.

Annisa selalu merasa kalau perempuan menjadi warga negara kelas dua, ditindas hak-haknya dan dilupakan suaranya. Namun, semuanya berubah ketika Khudori datang kembali ke Al-Huda dan bertemu dengan Annisa. Benih-benih cinta yang dirasakan sejak kecil masih ada dalam diri Annisa dan Khudori. Mereka pun disangka telah melakukan hal yang tak diperbolehkan sebagai seorang lelaki dan istri orang. Annisa akhirnya diceraikan sang suami dan dia memutuskan untuk pergi ke Yogjakarta.

Di Yogjakarta Annisa mulai memperlihatkan bakatnya dengan menulis. Dia bekerja di sebuah kantor konsultan dan menjadi konsultan handal. Annisa pun menikah dengan Khudori dan kembali ke Al-Huda dengan membawa buku-buku karyanya. Annisa ingin santri-santri yang ada di sana belajar memperjuangkan haknya sebagai perempuan dengan banyak membaca dan menulis. Namun, di pesantren itu terdapat larangan membaca buku yang berbau dunia luar. Annisa memperjuangkannya dengan membuat perpustakaan di Al-Huda.

Di film ini Akting Revalina S. Temat cukup memukau. Meskipun baru berusia 23 tahun dia cukup ciamik berakting menjadi seorang ibu hamil. Film yang diadaptasi dari novel karya Abidah Al Khalieqy berkisar tentang perempuan dan perjuangannya meraih eksistensi. Sang sutradara, Hanung pun siap mendapatkan kontroversi dengan film ini dengan membuat film yang berisi tentang Islam dan syariatnya.

“Saya merasa sedih Islam menjadi kiblat untuk laki-laki dan keperluannya, bukan berarti saya membela perempuan tapi mari kita bicara secara proporsional karena tuhan mencintai perbedaan tapi jangan dibeda-bedakan. Saya siap film ini menuai kontroversi dan kalau nggak ada yang suka saya siap berdiskusi,” ujar sutradara yang telah merilis tiga film yang diangkat dari novel.

Jenis Film : Drama
Produser : Hanung Bramantyo
Produksi : Starvision 
Pemain : Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Ida Leman, Tika Putri  
Sutradara : Hanung Bramantyo  
Penulis : Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor 

CATATAN:

Sebenarnya film ini banyak mengundang kontroversi karena banyak yang menganggap cerita dalam film ini terlalu mengada-ada dan melecehkan ajaran Islam.

Propaganda ideologi sekuler liberal dalam sebuah film bukanlah suatu hal yang baru. Hollywood sudah melakukannya untuk memasarkan ideologi Kapitalis dan menyerang musuh-musuh ideloginya dengan cap teroris dalam setiap filmnya. Disayangkan, Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam pun menjadi korban propaganda ideologi sekulerliberal. Film kontroversi baru-baru ini dirilis dengan agenda gender yang selama ini diperjuangkan oleh kaum liberal.

Dalam film perempuan berkalung surban sangat terasa muatan liberalisasi agama Islam. Islam sebagai tertuduh dan "orang-orang yang terliberal atas Islam mencoba berwajah Islam". Sangat aneh memang jika agenda masa kelam perempuan akibat perlakuan sebuah agam di eropa kemudian mencoba disamaratakan terhadap Islam. Saya terheran dan terkagum dengan acara debat tentang film tersebut di Tvone tadi malam (11 februari 2009).

Saya heran kepada hanung dan musdah, mengapa mereka menghukumi sebuah fakta yang terjadi di masyarakat dengan kacamata liberal dan menjatuhkan tuduhan kepada Islam. Apakah benar mereka adalah agen ideologi liberal yang didanai sebagaimana statemen tokoh betawi dalam debat tersebut? Bisa jadai kemungkinannya seperti itu. Ideologi liberal memang telah banyak merasuki jiwa-jiwa orang Islam. Hatinya masih mengaku Islam tapi pemikiran ideologinya bukanlah Islam.

Kebodohan dalam menimba ilmu Islam, menyebabkan orang begitu mudah menuduhkan hal-hal negatif yang terjadi kepada Islam hanya karena pelakunya beraagam Islam. Kemarin pun, saya ditanaya oleh salah satu peserta LK HMI di Jakarta Selatan tentang tuduhan orang ateis terhadap agama atau khususnya Islam. Coba lihat, pelaku kriminal dan kejahatan mereka adalah orang-orang beragama, lalu buat apa beragama. mending ateis tapi tidak jahat. kata si ateis.

Cara berpikir ini pula yang dilakukan oleh kaumliberal yaitu menghukumi fakta yang terjadi hanya karena pelakunya beridentitas tertentu tanpa mendalami kembali apakah kelauannya sesuai identitasnya atu tdak. 

Untuk menjawab tuduhan sang atesi pun sangat mudah dengan mengambil fakta juga. Di unisoviet, Cina, Kuba yang hampir sebagian besar saat itu warganya banyak yang ateis dan pelaku kriminal juga tentunya banyak ateis, begitu bukan? Di amrik pun mayoritasnya bukan muslim, sehingga pelaku kejahatan banyaknya bukan muslim? benar kan?

Kembal kepada filmnya si hanung. film tersebut sangat bermuatan politis dan ideologi tertentu yaitu liberal sekuler. Ciri khas ideologi sekuler yaitu melepaskan "jeratan" nafsu dari ketertundukan kepada Tuhan. sesuatu yang baku dari quran dan sunnah pun mencoba ditentangnya tanpa pandang bulu. Akal adalah yang dipertuhan. Bagi kaum liberal hubungan dengan Tuhan adalah private dan sangat private hanya antara sang pribadi dengan Tuhannya. Orang lain tak perlu ikut campur atu sok tahu.

Ideologi sekuler liberal ini memang lahir dari peradaban eropa. Saat itu para Raja yang menganut Kristen telah banyak menyalhgunakan wewenagnya ats nama agama dan sebaliknya banyak para pemimpin agama menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendaknya. sehingga terjadilah "pemberontakan" dan menang dengan lahirnya ideologi sekuler dengan semboyannya "hak kaisar untuk kaisar dan hak tuhan untuk Tuhan".

Namun, saya berpikir jika hal ini pun diperlakukan kepada islam maka sangat salah alamat. Mengapa? Karena Islam bukan hanya agam ritual yang mengatur urusan ibadah, nikah, kematian, dan makanan saja. Islam menngatur sistem ekonomi, pemerintahan, pergaulan, ahlak, keluarga, peradilan, politik, sosial, pertahanan keamanan, hak dan kewajiban warganegara.

Maka, jelas sekali pertentangan atau peperanagn ideologi anatara Orang Islam yang berideolgi islam dan "orang islam" yang berideolgi sekuler liberal.Islam adalah agama ritual dan ideologi sehingga tidak bisa disamakan dengan agama lain yang hanya bersifat ritual saja dan bisa mengambil ideologi yang bukan dari agamanya seperti Kapitalis dan Sosialis.

Peperangan ideologi ini tidak akan pernah berhenti dan pasti membutuhkan pemenang. Saat ini hanya Islam yang belum punya kembali sebuah negara yang menrapkan ideologi Islam. sedangakan kapitalis sedang berjaya dengan Amrika nya. Uni Soviet pengusung Sosialisme komunis pun sudah tumbagng, sedangkan China sudah mengadopsi beberapa cara-cara Kapitalis meski secara mendasar masih Sosialisme.

Nah, yang kasian adalah negara dunia ketiga (negara dengan mayoritas Islam yang terjajah). Negara berkembang (bekas jajahan) sebenarnya masih terjajah dan selalu dijadikan obyek hingga sekarang. Mengapa di negara-negara berkembang khusunya negara dengan mayoritas penduduknya Islam tidak bisa maju? Karena negara-negara Kapitalis hanya menjadikan obyek jajahan dan jika mereka ingin menjadikan negara Kapitalis sebagaimana Amrik cs terbentur oleh penolkan penduduknya yang masih cinta ideologi Islam.

Dan disinilah masalahnya, untuk selalu mencengkeramkan penjajhan maka harus ada yang mengemban ide-ide penjajah atau agen-agen penjajah. Tanpa disadari atau secra sadar kaum liberal adalah salah satu agen penjajah di bidang pemikiran yang inginmengeluarkan ummat Islam dari ideologi Islamnya.

Waspadalah...waspadalah...

Perempuan Berkalung Surban Menyesatkan (?)

FILM ”Perempuan Berkalung Sorban” besutan Sutradara Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop dinilai banyak mengandung muatan agama yang menyesatkan. Film yang diadopsi dari novel karya Abidah Al Khalieqy itu juga dianggap telah melecehkan Alquran dan Hadits, serta telah menjelek-jelekan pesantren.

Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, “Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar.”

”Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,” cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.

Ia menegaskan, penggunaan kata ”berdasarkan Alquran dan Hadits” dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ”Perempuan Berkalung Sorban” juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.

“Yang ada justru hadits yang sebaliknya,” tegas Kiai Ali Mustafa. ”Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),” ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ”Perempuan Berkalung Surban” telah menyesatkan. “Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan.”

Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ”Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,” tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ”Sebaiknya tidak usah ditonton.”

Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. “Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,” cetus Fitriyani.

Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. “Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,” tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.

”Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren,” kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ”Perempuan Berkalung Sorban”, Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. “Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,” kilahnya.

Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah.

1 komentar:

  1. Mohon Ijin..untuk menyadur analisis anda tentang PBS. Semoga ilmu anda bertambah manfaatnya bagi org lain.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...