Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Minggu, 01 Maret 2009

About "LELAKI TERINDAH" Andrei Aksana


Lelaki Terindah is the title of a novel written by Andrei Aksana. For those who don’t really follow the development of novel publication in Indonesia and Indonesian authors—that mean they never hear this name yet—Andrei Aksana is the grandson of big poets Sanoesi Pane and Armijn Pane. These two names are commonly found in school books—from elementary, junior, and senior high schools—in Indonesia.
At first I read the review of this book in one national newspaper. The review easily attracted me. But, my bad thing is, I didn’t note the title and I forgot it easily. Therefore, when trying to find it in one bookstore, I didn’t find it.
Some months later, when I went to a bookstore with Julie, she appointed the novel to me, saying, “Look, isn’t the title provoking?” FYI, ‘indah’ means beautiful, how could a man become beautiful? After appointing the novel, Julie went to other shelves while I took the novel from the shelf. I was provoked. LOL. When looking at the drawing on the front cover, my up and down teeth directly clicked, “Wow …” I saw a part of sexy body of a man that I believe would make women’s mouth like Samantha Jones—one character in Sex and the City—water openly. LOL. (well … honestly, I am impressed by her open sexual drive, and wonder if I could become like her. LOL. This is one thing that my Abang doesn’t like AT ALL. LOL.
First, I read the poem on the back cover.

Suatu ketika dulu
Aku pernah dihanyut asmara

Tapi tak pernah ku tenggelam
Karena kekuatan cintamu
Menjadi perahu dan dayungku

Hanya engkaulah yang mampu
Melenyapkan ragu menjadi tahu
Memupuskan kelu menjadi deru

Hanya engkaulah yang bisa
Menggantikan tawar menjadi rasa
Menhadirkan tiada menjadi ada

Karena hanya engkaulah …

Lelaki Terindah di hidupku

One time in the past
I was carried away by love

But I was never sunk
The strength of your love
Was my boat and row
to go along the ocean of love

you are the only one who is able
to change doubt into understanding
to alternate pessimism into optimism

you are the only one who is capable
to convert tasteless into tasty
to present existence from nothing

because you are the only 

the most gorgeous man in my life
(badly translated by Nana LOL)

What a very romantic and adoring poem, from someone to a man—the most beautiful (well, I’d prefer to translate it into ‘gorgeous’ a word that is more androgynous) one. In an instant I loved the poem. When I opened the beginning pages, I found another poem that is also very romantic and adoring. 

Tak pernah cukup kata
Menjabarkan keindahanmu …

Tak pernah cukup batas
Memagari kehadiranmu …

Kau lebur mimpi menjadi bentuk
Kau pahat angan memiliki raga

Bagimu
Segalanya mungkin …

These two poems were enough to provoke me to buy the novel. LOL. I wanted to buy two novels instead of just one. One was for myself, and the other one was for the one that was automatically on my mind when reading those two adoring poems. However, when reading the beginning pages of chapter one, and I found that it was about homosexual love (and it made me glad because at last I found the novel I was looking for after reading the review in one national newspaper some months before), I cancelled to buy two. I didn’t want to give the novel to the one who was on my mind automatically when reading the title of the book. I didn’t want him to think that I encouraged him to be a homosexual. LOL. Because I am a straight person, I want him to be one too so we would always be attracted to each other. LOL. As someone claiming as following the postmodern phenomenon, I don’t consider homosexual as abnormal or a social disease (you can read my post entitled “What is normal?” and “Sexuality” some months ago). However, since I am straight, I would be very broken hearted if the one that I dub as my Lelaki Terindah were homo. LOL. It makes sense, doesn’t it? LOL.
I bought the novel on March 17, 2005. I have used the novel as one subject for discussion in my literature class several times, especially when I discussed how society influences writers to produce their works. It illustrates how sociological approach is used to dissect one literary work. There is always close relationship between society and literature. I am really a strong follower of Daniel Goldmann’s theory on Genetic Structuralism: there is always close relationship between the work and the writer, and between the work and the society where and when the writer lives and produces his/her work.
Going back to Andrei Aksana as the author of Lelaki Terindah. I love the beautiful poems he writes and inserts inside his novels. However, I am not provoked to buy his other novels because to me they are about common themes, although I believe they are beautifully written. And, suddenly I want to write something on Lelaki Terindah because my sister borrowed this novel some days ago.


Kupasan Lain

kita mulai saja dari sampulnya: eksklusif, man. Dengan gambar yang mungkin dimaksudkan untuk menarik minat pembeli (cewek, atau cowok gay), tapi terus terang malah bikin ilfil: gambar dada cowok yang berotot, naked chest, of course, dalam warna abu-abu keemasan. Satu-satunya yang menarik adalah tulisan Masterpiece itu tadi. Kita kan kalo mau baca buku yang ditulis seorang pengarang, baiknya mulai dari masterpiece-nya, biar kagak kecewa, gitu. Balik ke sampul. Eksklusif, hitam (warna favoritku), model sampulnya seperti sampul buku hardcover (padahal bukan). Harganya… emmm…. Berapa ya, bukan saya beli sih. Tapi keliatannya 65 ribuan kali. Cukup mahal. Soalnya ni buku dijual bersama CD lagu dan videoklip. Salah satu strategi penjualan (dia kan orang marketing). Kelihatannya dia sudah melakukan ini untuk buku-bukunya yang sebelumnya, hence dia disebut “The Singing Author”. Gak pernah liat vidklip dan dengar suaranya sih. 

Sekarang the story: cukup mudah ditebak. Ada dua cowok, Valent (pilihan namanya saja sudah menjelaskan) dan Rafky, ketemu di pesawat ke Thailand (nah, jelas kan cerita ini tentang apa?). Valent is a gay. Rafky menyangka dirinya hetero, eh ternyata melihat Valent yang manis, malah ikutan gay juga. Yah apalagi kalo suasananya (baca: lokasinya) mendukung. IMHO, pada dasarnya manusia itu di dalam dirinya punya kemampuan untuk biseks, tinggal tergantung lingkungan dan superegonya. Dan kelihatannya homoseksualitas kurang bisa disembunyikan (dikendalikan) dan lebih meminta pengakuan dibanding heteroseksualitas. Cowok-cowok gay berkeras untuk menikah dan hidup bersama, sedangkan cowok-cewek selalu berusaha untuk menjauhi komitmen resmi.

Mereka berdua sudah punya cewek, Valent malah sudah mau nikah. Segalanya jadi runyam waktu balik ke Indonesia. Mulailah timbul masalah, mengingat hubungan sesama jenis bukan hal yang bisa diterima. 

Cerita disusun dengan gaya campur-campur prosa dan puisi. Sesuatu yang manis, sebenarnya. Tiap beberapa paragraf prosa, ada beberapa baris puisi. Tetapi karena aku dari dulu paling tidak mengerti puisi (mampunya hanya memahami syair-syair pantun Melayu yang terdiri dari 4 baris a-b-a-b bersampiran, atau puisi isi yang tersurat jelas), dan karena rasanya puisinya kadang diusahakan keliatan “nyambung” dengan ceritanya (padahal enggak), maka gaya ini terasa sangat mengganggu kontinuitas cerita. 

Seksualitasnya juga ditulis terlalu mendetil, sehingga agak membosankan, dilewatin berhalaman-halaman juga tidak berpengaruh. Penulisnya sama sekali tidak memberikan tempat untuk berimajinasi. Akan terasa lebih indah kalau ditulis secara halus dan samar-samar. Tapi mungkin juga kekurangnyamanan ini karena aku produk jaman yang berbeda dari sang pengarang *mengernyitkan dahi*

Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk menyentuh perasaan pembaca, untuk membuat kita berpihak pada tokoh-tokoh utama. Hal yang gagal dilakukan. Tokoh Kinan (pacarnya Rafky) malah lebih “tidak cengeng” daripada kedua tokoh utama. Aku memang tersentuh, tapi justru tersentuh beberapa puisi cinta yang kebetulan cukup bisa dipahami dan menyentuh hati. Juga untuk yang baru putus cinta, kayaknya puisi-puisinya bakal terasa menarik, karena serasa senasib-sepenanggungan dengan sang tokoh.

Buku ini kabarnya laris sekali. Bisa dipahami sih. Menulis tentang gay, lesbianisme, dan seks bebas sebagai sesuatu yang jamak dilakukan, pada jaman sekarang ini sangat dipandang dengan tatapan menghujat (yang munafik), tetapi sangat menjanjikan, karena pasti laris. Ingat fenomena Jakarta Undercover, yang notabene sebenarnya hanya potongan-potongan siaran pandangan mata sang penulis di tempat-tempat begituan, ditulis dalam gaya bercerita koran seks & kriminal. Ada edisi 2-nya, lagi. Tidak mengerti kenapa sekarang penulis-penulis fiksi populer seperti berlomba-lomba untuk mengambil topik sekitar seks. Katanya sih karena ini jaman kebebasan berpendapat, bahkan ada yang menyebut ini jaman emansipasi wanita yang berani menyuarakan tentang seks, padahal dulu malu-malu. Hey, telat rupanya. Sejak jaman dulu, sebenarnya seksualitas sudah banyak ditulis oleh penulis wanita Indonesia. Cuma lebih halus saja cara berceritanya. Tak perlu mendetil, tapi tujuannya sampai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...