Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Minggu, 08 Maret 2009

ANALISIS MASALAH REDEFINISI NYAI DALAM BUNGA ROOS DARI CIKEMBANG KARYA KWEE TEK HOAY

ANALISIS MASALAH REDEFINISI NYAI DALAM BUNGA ROOS DARI CIKEMBANG KARYA KWEE TEK HOAY

Sykorsky (1980:503) menyebutkan bahwa cerita penyaian adalah salah satu cerita asli dalam kesusastraan (pra) Indonesia. Lan juga mengutarakan bahwa cerita nyai ini sering dipentaskan dalam sandiwara atau drama, terutama pada masyarakat Peranakan-Cina (1958:150). Cerita ini relatif bersifat heterogen (Faruk, 2002:102). Hal ini dibuktikan dari latar belakang dan isi ceritanya. Karena politik Belanda, terutama konstruksi sastra Balai Pustaka, cerita ini dianggap sebagai “cerita liar” (bdk. Rosidi, 1964:18-19, Jedamski, 1992: 34-35).
Pernyaian ketika itu mendapat pengesahan budaya dan sosial dari masyarakat (Christanty, 1994:25). Selain sebagai pemuas kebutuhan seksual dan pelayan rumah, nyai dijadikan sebagai sarana pembelajaran budaya Melayu bagi bangsa Eropa untuk melanggengkan kekuasaannya (Damarastri, 2002:15). Nyai sering dijadikan sebagai mediator budaya, sosial, dan politik (Locher-Scholten, 1992:226-267). Penyaian sendiri juga dikaitkan dengan alasan kesehatan, yakni untuk menghindari penyakit akibat hubungan pelacuran (Hessenlink dalam Faruk, 2002:99).
Cerita Bunga Roos Dari Cikembang (BRDC) ini adalah salah satu cerita yang bertemakan pernyaian dengan latar belakang masyarakat (peranakan) Cina di Indonesia (Sunda) yang terbit pertama kali tahun 1927. Menurut Sidharta (1996:333-332, 2004:11-12), cerita ini merupakan resepsi dari A Midsummer’s Night Dream, William Shakespeare (lht. Sumardjo, 1989:92). Cerita ini pada mulanya adalah novel, lalu disadur menjadi drama dan juga difilmkan. Menurutnya, cerita ini penuh mistik, mengharukan, dan bermaksud untuk menghapus prasangka nyai dan putri-putrinya yang tidak diperlakukan baik dalam keluarga Tionghoa serta persamaan antar bangsa (Sidharta, 1989:75). BRDC ini mencerminkan latar sosial peranakan Cina di Sunda, sebagai pandangan pengarang tentang Buddhisme dan Theosophy, dan juga cerita yang popular. (Kwee, 1977:138-149). Menurut Sumardjo, (1989:103-104), BRDC merupakan cermin kesetiaan nyai (Marsiti) terhadap Tuannya.
Dari berbagai penelitian tersebut, nyai hanya ditempatkan sebagai objek yang diartikan atau didefinisikan, ditafsirkan, dan dimaknai kehadirannya. Pemasalahan yang hendak dipecahkan dalam tulisan ini adalah: (1) bagaimana pengkonstruksian nyai dalam BRDC dan (2) bagaimana politk relasi diantara pelaku praktik pernyaian dalam menempatkan nyai sebagai budaya yang dilegalkan. Tulisan ini mengacu pada pengertian redefinisi subjek perempuan dalam studi feminis pasca-kolonial.
Redefinisi subjek perempuan erat hubungannya dengan batas tempat, wilayah atau lokasi, dan lingkungan yang melingkari subjek perempuan. Subjek perempuan diartikan sebagai wacana yang membawa implikasi dari posisinya dalam rangka hubungan politik dan praktik ideologi yang melingkupinya (Eagleton, 1996:339).
Ada dua hal yang menjadi pancangan dalam meredefinisikan perempuan (Dunia Ketiga). Pertama, redefinisi itu harus mencakup suatu dekonstruksi dan pembongkaran. Kedua, redefinisi tersebut suatu bangunan dan pengkonstruksian (Mohanty, 1996:388).
Spivak mengenalkan konsep pembacaan teks (kolonial) dengan strategi dekonstruksi. Dekonstruksi dianggap sebagai metode pembacaan secara terbuka dalam mana perbedaan-pebedaan konseptual pengarang pada teks ditunjukkan kesalahannya pada sejumlah ketidakkonsistenan dan paradoksial yang meletakkan konsep-konsep di dalam teks sebagai satu kesatuan (Sarup, 1994:34). Culler (1994:86) mengatakan bahwa dalam mendekonstruksi wacana pada intinya adalah merusak oposisi-oposisi hirarkis dalam mana wacana tersebut bersandar. Dengan mengaplikasikan teori Derrida, dekonstruksi dijadikan alat pembacaan untuk meruntuhkan kekuasaan wacana pusat dan membuka ruang bagi tuntutan masyarakat marginal (dalam Moore-Gilbert, 1997:83-84). Menurutnya, dekonstruksi bukan hanya praktik pembongkaran saja, tetapi sebagai upaya untuk memeriksa bagaimana kebenaran-kebenaran itu diproduksi dalam dan melalui formasi-formasi sosial dan politik.
Dalam hal jender, Spivak (1993:176) menyimpulkan bahwa (1) dekonstruksi memperjelas kritik phallosentris, (2) dekonstruksi menempatkan wacana yang kuat untuk melawan wacana phallosentris, dan (3) sebagai praktik feminis, dekonstruksi menempatkan perempuan pada perbedaan seksual dan bukan yang esensial, tetapi sebagai tekstual. Masalah redefinisi subjek perempuan (Dunia Ketiga) mendapat perhatian Spivak dalam tulisannya “Three Women’s Texts And a Critique of Imperialism” (1985). Spivak (2003:307) berusaha untuk menguji pengoperasian “worlding” yang juga disebut sebagai “Dunia Ketiga”.




Untuk download file ini, silakan klik di sini (PDF File), thanks...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...