Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Minggu, 08 Maret 2009

ANALISIS MATRIARKI DAN HIDDEN WOMEN DALAM SYAIR DAMARWULAN

ANALISIS MATRIARKI DAN HIDDEN WOMEN DALAM SYAIR DAMARWULAN

Pigeaud (1967:232) menyebutkan bahwa cerita Damarwulan berasal dari Jawa Timur dan menyebar ke daerah Jawa Tengah dan Bali melalui jalur perdagangan. Resepsi cerita Damarwulan ini cukup beragam. Resepsi tersebut mulai dari bentuk teks, baik hikayat, cerita, dan syair dan pertunjukkan pentas. Sebagai contoh, resepsi cerita Damarwulan dalam bentuk buku antara lain, Lajang Damar-Woelan (Labberton, 1922), Mekar Bangsa Majapahit (Sutan Palindih, 1949), Hikayat Damarwulan (Mardjana, 1953), Serat Damarwulan (R. Harja Hadipati Danuredjo, 1953), Damarwulan (Suparta Brata, 1976), Legendriya (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud, 1982), Cerita Damarwulan (Bachtum, 1983) dan lain-lain.
Sebagai cerita yang berbentuk petualangan ajaib-ajaib dan genre syair romantis (Braginsky, 1998:252), syair Damarwulan ML 176 memiliki kekhasaan dan keunikan tersendiri dan jarang dilakukan penelitian dengan prespektif feminisme. Pada umumnya, penelitian yang pernah dilakukan hanya seputar struktur, kepahlawanan, ataupun melacak kesejarahan naskah dan resepsinya. Selain hal tersebut di atas, kecurigaan-kecurigaan mulai muncul ketika membaca syair Damarwulan ini. Kecurigan-kecurigan tersebut antara lain, (1) posisi Kencowungu sebagai ratu yang memegang kekuasaan secara penuh harus rela menyerahkan kekuasaannya pada Damarwulan (setelah menikah) dan takut terhadap ancaman Menakjinggo, (2) sebab musabab Damarwulan menggantikan kedudukan Kenconowungu sebagai penguasa sah dari negeri Majapahit, (3) proses inisiasi Damarwulan sebelum menjadi Raja Majapahit telah menimbulkan tindak patriarki dengan mengawini tiga perempuan, yakni dua istri musuhnya dan satu penolongnya yang merepresentasikan simbol kekuatan laki-laki yang kriyarkis, (4) dari poin nomer tiga terdapat kejangalan yakni mengapa para perempuan tersebut mensyaratkan Damarwulan harus menjadikan penolong sebagai istrinya, dan (5) kecurigaan terhadap peran Damarwulan dalam mengejar dan mematikan potensi intelektual dan peran Ratu Kenconowungu dengan menggantikannya sebagai pemegang kekuasaan yang sah dan multak terhadap negeri Majapahit.Hal yang menarik lainnya dari teks Damarwulan ini √°dalah bahwa teks ini memiliki kesesuaian atau relevansi dengan kehidupan masa kini terutama mengenai kedudukan dan peran perempuan. Dari hal tersebut timbul pernyataan mengenai keadaan, eksistensi, dan bentuk-bentuk peniadaan, penekanan, dan pengobjektivikasian yang terhadirkan dalam oposisi kedua dunia, dunia laki-laki dan perempun. Atau dengan kata lain, bagaimana bentuk dan proses relasi dan oposisi antara dunia Ratu Kenconowungu dan Damarwulan yang terjadi dalam masyarakat tersebut.Matriarki merupakan suatu bentuk masyarakat dalam mana ibu dijadikan pemimpin dan bertindak sebagai garis keturunan perempuan (Huum, 2002:275). Secara ideologis, matriarki mengasumsikan bahwa kekuatan perempuan dan kasih ibu merupakan kekuatan yang kohesif secara sosial. Hidden women atau perempuan tersembunyi merupakan suatu bentuk proses untuk mendeskripsikan penyingkiran perempuan, kehidupan mereka, dan sumbangan mereka terhadap proses kehidupan bermasyarakat. Dari kedua konsep tersebut, tulisan ini akan menjawab (1) bagaimana “keberadaan” Ratu Kenconowungu atau perempuan dalam menghadapi fungsi sebagai matriaki dari masyarakat Majapahit dan (2) bagimana proses-proses peniadaan atau pengingkaran terhadap dunia perempuan terjadi dan dilakukan oleh dunia laki-laki dalam teks ini.
Tanda-tanda matriarki dan hidden women ditunjukkan melalui posisi Ratu Kenconowunggu sebagai pemegang kekuasaan yang sah. Relasi antara Ratu Kenconowungu dengan Damarwulan dan keberadaan Ratu Kenconowungu dalam menghadapi segala keadaan merupakan satu representasi leberadaan matriarki. Dalam pandangan feminis, matriarki juga dicirikan dengan kedamaian, keselamatan, dan kebersamaan (bdk, Fakih, 1996:71).


Untuk download file ini, silakan klik di sini (PDF File), thanks...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...