Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Minggu, 08 Maret 2009

ANALISIS REPRESENTASI PRIBUMI DALAM NOVEL PIETER ELBERVELD KARYA TIO IE SOEI

ANALISIS REPRESENTASI PRIBUMI DALAM NOVEL PIETER ELBERVELD KARYA TIO IE SOEI

Pieter Elberveld karya Tio Ie Soei adalah salah satu karya sastra peranakan Tionghoa. Lan (1958:54) mengolongkan Pieter Elberveld ke dalam kelompok sastra yang berdasarkan kenyataan dan termasuk bidang sejarah tentang tokoh Pieter Elberveld yang oleh orang Belanda dipandang sebagai seorang pemberontak dan dihukum mati dengan jalan dibeset oleh empat ekor kuda di kota Jakarta. Salmon (1985:112) mengolongkan Pieter Elberveld ini ke dalam kelompok novel dan cerpen asli yang bercerita tentang masyarakat Belanda. Lombard (2005:65) menjadikan Pieter Elberveld sebagai kasus gerakan oposisi Indo Muslim dan pemimpin Jawa terhadap kekuasaan Belanda.
Pieter Elberveld sebagai sastra yang terpojokkan erat hubungannya dengan peran kekuasaan ketika itu. Kekuasaan tersebut dapat meliputi kekuasaan masa kolonial dan sesudahnya. Hegemoni sastra tradisi Balai Pustaka adalah salah satu contohnya yang menempatkan teks Pieter Elberveld sebagai karya yang termarjinalkan. Representasi merupakan fenomena yang menarik dan dominan yang terdapat dalam Pieter Elberveld. Pieter Elberveld juga dicurigai sebagai salah satu strategi politik kolonial. Selain itu, narasi Pieter Elberveld menunjukkan tema perlawaan terhadap dominasi kekuasaan yang diwujudkan melalui permainan politik. Permainan politik itu dapat ditelusuri melalui melalui citra, nada, dan tujuan dari representasi. Untuk itu, pembongkaran strategi politik dibalik representasi perlu dilakukan untuk mengetahui peran, posisi, dan identitas dari masyarakat masa itu. Hal ini juga bermanfaat bagi penulisan sejarah sosial bangsa Indonesia dengan menitikberatkan pada narasi yang termarjinalkan.
Representasi didefinisikan sebagai “kehadiran ” atau “penampakan”. Representasi juga diartikan sebagai aksi penempatan yang selanjutnya membawa efek terhadap aksi yang lain. Representasi menguak perbedaan cara-cara dalam mana citra diimplikasikan di dalam ketidaksamaan kekuatan dan subordinasi subaltern. Edwar Said dalam Orientalisme (2001) membandingkan fakta bahwa representasi tidak pernah dapat menjadi realistik.
Gayatri Spivak (1990) memperkenalkan dua istilah untuk representasi. Pertama, dia mendefinisikan sebagai politik atau membicarakan untuk seseorang atau hasrat seseorang atau sesuatu. Kedua, representasi sebagai “wakil” dan “lukisan orang”. Gabungan antara keduanya harus dijaga dalam pikiran. Spivak menyarankan “kritik yang terus menerus” untuk menahan pengkonstuksian Sang Lain sebagai objek pengetahuan dan meninggalkan ke luar kenyataan Sang Lain.
Analisis representasi tidak hanya pada istilah yang menghadirkan, tetapi juga istilah yang direpresentasikan. Representasi harus diartikan sebagai alat politik untuk mengekalkan sistem-sistem ketidakadilan dan subordinatif. Representasi bergerak dengan cara meletakkan efek melalui pesan untuk mempengaruhi opini dan aksi. Analisis representasi harus menanyakan ideologi yang membawainya. Representasi membentuk pikiran yang mempunyai implikasi untuk kenyataan orang di dalam konteks yang nyata.


Untuk download file ini, silakan klik di sini (PDF File), thanks...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...