Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 10 Maret 2009

Format Baru Sejarah Sastra Indonesia

BERTOLAK pada kesepakatan ahli yang menyatakan sastra 
Indonesia berawal pada roman-roman terbitan Balai Pustaka tahun 
1920-an, sejarahnya hingga sekarang terhitung masih sangat muda, 
sekitar 80 tahun. Karena itu, diperlukan buku-buku sejarah sastra yang bisa dirujuk pelajar, mahasiswa, peminat, dan ahli sastra. Karena itu, wajarlah apabila perjalanan sejarah 
sastra Indonesia dibagi-bagi dengan mempertimbangkan momentum perubahan 
sosial dan politik, seperti tampak dalam buku Ajip Rosidi (1968). 
Pembagian yang lebih rinci dengan angka tahun menjadi 
1900-1933, 1933-1942, 1942-1945, 1945-1953, 1953-1961, dan 1961-1967 
dengan warna masing-masing sebagaimana tampak pada sejumlah karya-karya 
sastra yang penting. 
Kemudian pada periode 1961-1967 tampak menonjol warna 
perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan sesudahnya 
tampak warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan 
sastra. 
Format baru 
Kalau momentum sosial-politik masih dipergunakan sebagai ancangan 
periodisasi sejarah sastra Indonesia 1900-2000, mungkin saja tercatat 
format baru dengan menempatkan tiga momentum besar sebagai 
tonggak-tonggak pembatas perubahan sosial, politik, dan budaya, yaitu 
proklamasi kemerdekaan 17-8-1945, geger politik dan tragedi nasional 30 
September 1965, dan reformasi politik 21 Mei 1998. 
Analisis struktural Umar Yunus tentang perkembangan 
puisi Indonesia dan Melayu modern (Bhratara, Jakarta, 1981) dan telaah 
struktural tentang novel Indonesia (Universiti Malay, Kuala Lumpur, 
1974) barangkali dapat dipergunakan sebagai rujukan untuk menjelaskan 
perubahan-perubahan tersebut. 
Dengan mempertimbangkan ketiga momentum tadi maka 
diperoleh empat masa perjalanan sejarah sastra Indonesia, yaitu masa 
pertama mencakup tahun 1900-1945, masa kedua mencakup tahun 1945-1965, 
masa ketiga mencakup tahun 1965-1998, dan masa keempat yang dimulai 
pada tahun 1998 hingga waktu yang belum dapat diperhitungkan.Dengan meminjam baju politik yang dianggap populer dan 
tetap mempertimbangkan nasionalisme maka penamaan keempat masa 
perjalanan sastra Indonesia itu bisa menghasilkan tawaran sebagai 
berikut: 
Masa Pertumbuhan atau Masa Kebangkitan dapat dipergunakan untuk 
mewadahi kehidupan sastra Indonesia tahun 1900-1945 dengan alasan bahwa 
pada masa itu telah tumbuh nasionalisme yang juga tampak dalam sejumlah 
karya sastra, seperti sajak-sajak Rustam Efendi, Muhamad Yamin, Asmara 
Hadi dan lain-lain. 
Yang jelas, pada masa itu bertumbuhan karya sastra yang sebagian sudah 
bersemangat Indonesia dan sekarang memang tercatat sebagai modal awal 
khazanah sastra Indonesia. 
Masa Pemapanan dapat dipergunakan untuk mewadahi kehidupan sastra 
Indonesia tahun 1965-1998 dengan alasan pada masa itu terjadi pemapanan 
berbagai sistem: sosial, politik, penerbitan, dan pendidikan yang 
dampaknya tampak juga di bidang sastra Indonesia. Mengingat besarnya muatan sejarah sastra Indonesia itu 
maka diperlukan pembagian sejarah pertumbuhan dan perkembangannya 
menjadi empat masa seperti tersebut tadi, yaitu (1) masa pertumbuhan 
atau masa kebangkitan dengan angka tahun 1900-1945, (2) masa pergolakan 
atau masa revolusi dengan angka tahun 1945-1965, (3) masa pemapanan 
dengan angka tahun 1965-1998, dan (4) masa pembebasan dengan angka 
tahun 1998-sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...