Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Minggu, 01 Maret 2009

Homoseksualitas sebagai Fiksi

Di tengah booming industri penerbitan buku dewasa ini, dunia fiksi kita seperti didera oleh sebuah godaan besar untuk melampaui klaimnya selama ini sebagai tempat bagi masyarakat bercermin, melihat dan memahami dirinya sendiri. Pengalaman kolektif sehari-hari sebuah masyarakat, atau peristiwa-peristiwa “biasa” yang dekat dengan dunia pengarang yang bersangkutan, seolah kehilangan daya pikat sebagai bahan eksplorasi untuk dihadirkan kembali sebaga wacana alternatif bagi pembaca, untuk mendefinisikan kembali keberadaannya, dan menimbang-nimbang kembali apa yang sebenarnya disebut sebagai realitas. Para pengarang tiba-tiba berpretensi menjadi peneliti sosial dan beramai-ramai menyingkap “realitas-realitas tersembunyi”, wilayah yang sebelumnya secara umum dianggap “abu-abu”, “sensitif” dan “tabu”. Maka, seperti kita saksikan, seksualitas merupakan lahan yang pertama kali dan paling banyak diserbu oleh pengarang-pengarang dengan ambisi seperti itu.

Bahkan hingga hari ini, seks masih menjadi muara bagi segala bentuk eksplorasi tema: pengarang bisa menjelajahi apa saja dan ke mana saja, dari komunitas punk, dunia para pemakai narkoba hingga bilik-bilik pesantren, tapi semua itu bermuara pada satu titik singgung yang sama, seks. Tentu saja tidak semua pengarang menampilkan cara dan gaya yang sama dalam hal ini, dan untuk itulah kita masih bisa berharap dari sini karena di tengah keseragaman masih selalu bisa ditemukan hal-hal yang keluar jalur. Paling tidak, kita masih bisa dibuat kaget, gemas, mengernyitkan dahi untuk pada akhirnya dipaksa jujur mengakui bahwa apa yang dihadirkan itu tak lebih dari serpihan dunia yang kita diami, realitas yang sebenarnya dekat, namun selama ini, mungkin atas nama banyak hal, sengaja tak diungkapkan.

Sampai batas tertentu, dengan analisis tajam, apa yang dilakukan Abidah El Khalieqy lewat novel “Geni Jora” bisa dilihat sebagai upaya seperti diilustrasikan di atas. Panorama dunia pesantren perempuan yang dilukiskannya dalam novel itu tidak hanya telah memesona para juri Sayembara Novel DKJ 2003 sehingga menganugerahinya hadiah kedua, tapi juga kita semua. Betapa kita menjadi tahu bahwa di balik tembok pesantren perempuan ada kehidupan yang dinamis serupa dunia sekolah yang sering kita saksikan di sinetron-sinetron: ada geng urakan yang terdiri dari anak-anak orang kaya melawan kelompok “anak baik-baik”. Ada intrik, fitnah dan upaya dari kelompok yang satu untuk menjatuhkan kelompok yang lain.

Mari kita tengok lebih dalam. Dalam “Geni Jora” yang pertama disebut tadi diwakili oleh Sonya, dan yang kedua oleh tokoh “aku”.

Alkisah, si aku punya teman yang sangat akrab, bernama Elya. Kepada Elya, semua keluh kesah kutumpahkan. Sebaliknya, Elya sama sekali tidak pernah mengeluh. Aku kagum oleh ketegaran dan sikap mandirinya. Barangkali usianya yang lebih tua dibandingkan aku sendiri, menjadikan Elya begitu dewasa…Seperti seorang kakak yang penuh perhatian, Elya senantiasa mendorongku…dengan luapan kasih sayang…Kadang aku merasa Elya lebih memperhatikanku daripada dirinya sendiri, demikianlah si aku melukiskan keakrabannya dengan sahabatnya di pesantren itu. Pada bagian lain, hubungan keduanya digambarkan dalam detail yang bisa diimajinasikan sebagai sesuatu yang mesra. Simak misalnya pengakuan ini: Jika aku ngantuk dan molor terus untuk qiyamullail, Elya segera membikinkan aku kopi panas sembari melantunkan puisinya Rabi’ah al Adwiyya…Aku mencintaimu dengan dua macam cinta…

Sampai di situ pembaca bisa curiga, jangan-jangan salah satu dari kedua perempuan itu menganggap yang lain lebih dari sekedar sahabat. Dalam arti, ada cinta di antara mereka, layaknya hasrat yang tumbuh antara laki-laki dengan perempuan dalam etika hubungan seksual yang normatif. Dengan cerdik, pengarang mengelola kemungkinan kecurigaan pembaca semacam itu dan mewakilkannya lewat tokoh Sonya, musuh mereka. Sonya pun mengawasi setiap gerak-gerik si aku dan Elya yang hampir setiap malam selalu berduaan, dan pada suatu malam berhasil memergoki keduanya sedang berpelukan. Pelukan itu, harum parfum Elya, membuat aku terkesiap, sekejap. Lalu demam itu menyerangku kembali, demam yang kualami beberapa waktu lalu saat tangan Elya mengelus jemariku di atas lantai tiga. Kata Sonya, “Ternyata sedang dimabuk kepayang, to. Mesra benar. Ketua majelis tahkim tengah bercinta dengan anak buahnya. Benar-benar sensasional.”

Puncak ketegangan konflik antara Sonya dengan si aku dan Elya itu kemudian menjadi semacam pintu masuk bagi pengarang untuk mendiskusikan wacana yang hendak dihampirkannya dalam novelnya: homoseksualitas –dalam hal ini homoseksualitas perempuan- di pesantren. Sampai akhir cerita memang tidak ada penyebutan yang tegas dan eksplisit bahwa baik si aku maupun Elya, atau pun dua-duanya adalah lesbian atau bukan lesbian. Namun jelas, bahwa wacana lesbian dihadirkan sebagai sebuah bentuk fitnah –alasan bagi Sonya untuk melaporkan kedua musuhnya itu kepada pemimpin pondok. Pengarang memberikan penjelasan yang diletakkan di dalam tanda kurung: Biasanya, para pelaku lesbian akan dihukum cambuk sebanyak delapan puluh kali…lalu mereka dikirim kembali pulang kepada orangtua masing-masing setelah wali murid dipanggil dan diberi wejangan tentang perilaku para putri mereka…Dalam keseluruhan kehidupan pesantren, kejahatan lesbian merupakan kejahatan paling tidak terampuni.

***

Tanpa harus jauh-jauh melacak sampai ke Serat Centhini dari abad ke-19 kita bisa mengatakan, isu homoseksualitas dalam (karya) fiksi sebenarnya sama tuanya dengan heteroseksualitas dalam fiksi. Setidaknya, kalau kita mau bicara tentang “fiksi modern”, homoseksualitas bukanlah tema yang sama sekali baru di Indonesia. Kita bisa menelusurinya hingga ke dekade 1970-an, ketika untuk pertama kalinya cerpenis SN Ratmana mempublikasikan cerpennya yang berjudul “Sang Profesor”. Kendati tak sekali pun menyebut kata ‘homoseks’ atau pun ‘gay’, cerpen bertanda tahun 1974 itu dengan lugas memainkan imajinasi pada wilayah tersebut. Cukup mengejutkan bahwa cerita ini ditulis oleh cerpenis yang dikenal konservatif dan bergaya realis, sekaligus seorang guru SMA di daerah. Cerpen ini berkisah tentang tokoh bernama Ramli yang sedang melayat mantan dosennya yang meninggal dunia. Lewat kilas balik yang dilakukan Ramli, pembaca mendapat penjelasan mengenai sang dosen. Ia cendekiawan sekaligus pejuang kemerdekaan yang berhati tulus: ketika orang ramai terjun ke gelanggang politik untuk mencari kedudukan setelah proklamasi, ia justru memilih jalan yang sepi, menjadi rektor di universitas.

Ramli salah satu murid sang profesor yang sangat mengagumi dan memujanya. Hingga pada suatu ketika, diajaklah Ramli meninjau proyek universitas di suatu desa. Mereka menginap di rumah Pak Lurah, dan di situlah terjadi -apa yang di masa sekarang disebut- pelecehan seksual: sang profesor mencoba menyetubuhi Ramli. Hormat Ramli pada gurunya itu pun berubah menjadi rasa muak dan jijik. Namun, di saat menyaksikan arak-arakan jenazah sang profesor menuju kuburan, Ramli mengalami pergulatan batin hingga akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa profesor itu hanyalah seorang manusia biasa. “Telah berpulang seorang manusia biasa pada hari ini.” Ya, alangkah tepatnya kalimat itu menurut Ramli…Dengan jalan pikiran demikian, Ramli seolah-olah mendapat semangat baru…tidak ia rasakan benturan apa-apa lagi di dalam hatinya.

Di sela acara Cakrawala Sastra Indonesia di TIM belum lama ini, saya berkesempatan mendiskusikan cerpen tersebut dengan penulisnya. Secara implisit, Ratmana menolak jika karyanya itu dikatakan sebagai cerpen bertema homoseksual. Menurutnya, homoseksualitas hanyalah background saja, sedangkan “pesan utama” cerpen itu sebenarnya soal ketidaksempurnaan manusia, bahwa betapa seorang yang sudah menyandang gelar profesor pun ternyata masih menyimpan cacat dan kekurangan. Ini berlawanan dengan Serat Centhini, yang dalam analisis Ben Anderson menempatkan adegan-adegan homoseksual sebagai bagian dari simbol impian akan sebuah masyarakat yang ideal. Dua kontras ini pada akhirnya justru membantu kita memahami lebih dalam, seperti apa dan bagaimana homoseksualitas tampil dalam fiksi. Sebab, justru pada dua kontras inilah terletak paradoksnya: homoseksualitas dalam fiksi benar-benar menjadi fiksi. Ia tak pernah hadir secara nyata sebagai dan untuk dirinya sendiri. Pada Centhini, setidaknya sejauh kita masih bersepakat dengan Anderson, homoseksualitas hanyalah simbol, sedangkan dalam Ratmana, ia lebih minor lagi karena dilihat sebagai nilai-kurang dari kemanusiaan seseorang.

Begitu pun dalam “Geni Jora”: homoseksualitas hanyalah informasi yang dihampirkan, diletakkan dalam tanda kurung sebagai penjelasan dari penulisnya. Ia ada, tapi tidak di “sini”: kehadirannya hanyalah merupakan upaya untuk menegaskan kembali penolakan atasnya. Dengan kata lain, dalam fiksi homoseksualitas telah dijauhkan dari seksualitas, dari hakikatnya. Dalam diskusi bertajuk “Homoseksualitas dalam Fiksi” yang berlangsung di tengah Q! Film Festival 2005 (ajang pemutaran film-film gay dan lesbian) di Jakarta, 22 September lalu, memberi gambaran yang konkret mengenai hal itu. Diskusi tersebut menampilkan tiga novelis-pop yang dikenal banyak menulis tema homoseksualitas dalam karya mereka. Tapi, ketika mereka diminta bicara tentang karya-karyanya itu, dan bagaimana peserta diskusi sebagai wakil dari masyarakat pembaca menanggapinya, memperlihatkan sebuah kecenderungan yang keluar konteks. Andrei Aksana, penulis novel “Lelaki Terindah” yang laris, justru dengan bising sibuk menegas-negaskan bahwa dirinya bukan gay. Sedangkan, salah seorang peserta diskusi justru bertanya, apakah para penulis itu tidak takut kalau apa yang ditulisnya ditiru oleh pembaca yang awam. Sampai di sini, yang terjadi sudah mengisyaratkan sebuah kepanikan moral yang berlebihan, yang menandakan bahwa baik penulis maupun pembaca (masyarakat) ternyata sama-sama belum cukup siap dengan tema yang satu ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...