Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Minggu, 22 Maret 2009

Memahami Psikologi Masyarakat Indonesia melalui Pengkajian Folklor Nusantara sebagai Dasar Pemahaman Psikologi Berbasis Budaya Indonesia

Memahami Psikologi Masyarakat Indonesia melalui Pengkajian Folklor Nusantara sebagai Dasar Pemahaman Psikologi Berbasis Budaya Indonesia (Pendekatan Multidisiplin Psikologi, Ilmu-Ilmu Sastra dan Antropologi)

Oleh

DR. Arif Budi Wurianto, MSi

Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang



Dasar Keilmuan

Pengaruh filsafat Barat atas epistemologi keilmuan mewarnai hampir seluruh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah suatu kompleksitas permasalahan yang sangat dinamis yang dihadapi manusia dalam upayanya mencari kebenaran. Pengaruh Barat ini sangat rasional mengingat ilmu pengetahuan pada kelahirannya tampak dalam bentuk filosofi Yunani Kuno sekitar 6 s.d. 3 abad SM sampai abad ke-6 Masehi. Dalam kurun 12 abad ilmu dalam wilayah filsafat yang merupakan academic community para filosof. Dalam perkembangannya secara singkat dapat dikatakan ilmu mengalami pertumbuhan dan perkembangan dari jaman Pra Yunani kuno- Yunani abad pertengahan sampai pada masa Renaissance. Dalam tataran Grand Theory The Law of Three Stages of Development dikenal perkembangan keilmuan dari tartaran theologis, metafisik, dampai pada positif.

Dalam perkembangan selanjutnya dalam upaya mencari kebenaran (epistemologi) terdapat dikotomi antara ilmu western dan ilmu non western. Western (Barat) berupaya dengan penuh kesadaran melakukan suatu kegiatan kongkret berkelanjutan untuk memperbaiki, merombak, memperbarui tata kehidupan, tata masyarakat atau tata negara yang dirasakan tidak memuaskan. Hal ini dalam bentuk filsafat ilmu pengetahuan dan implikasi-implikasinya yang dirintis sejak jaman Yunani kuno dan diterapkan di dunia Barat sejak Renaissance dan Aufklarung sampai sekarang yang hasilnya berupa IPTEK. Sedangkan ilmu Non Western subjek escape dari kenyataan yang tidak memuaskan. Artinya akan menjauhi dan mengasingkan diri secara fisik/ruhani. Pencari kebenaran akan meng” cover ”, memperindah kenyataan yang tidak memuaskan dengan khayalan atau gambaran sesuatu yang ideal. Munculnya cerita lisanb, dongeng, wayang, tarian, permainan bahasa, pepatah, kata bersandi, dan sebagainya. Pelarian mental ini menggambarkan hal-hal yang ideal dan indah. Meskipun hasilnya bukan sesuatu konsep filsafati yang abstrak, namun para moyang pemikir dan ‘begawan' ini mampu menciptakan bangunan yang indah dan besar seoperti candi, pura, kapal, dan dukungan teknologi konstruksi kapal. Ilmu falak/perbintangan, ilmu musim, kompas dan kelautan. Juga ilmu-ilmu tentang batin dan jiwa manusia.

Berkaitan dengan upaya pencarian kebenaran melalui pemahaman Psikologi Berbasis Budaya Indonesia, maka mau tidak mau akan berhadapan dengan pencarian epistemologi non western. Cakupan objek studi ini tentunya sangat luas. Telah ada upaya pencarian ilmu psikologi berbasis budaya Indonesia, seperti Darmanto Jatman (1996) melalui Psikologi Jawa yang mengambil model renungan dari konsep batin Ki Ageng Suryamentaram. Demikian juga dengan Franz Magnis Suseno yang mencoba mengidentifikasi dunia batin psikologi orang Jawa sebagaimana dalam Javanese Ethics and World-View The javanese Idea of The Good Life (1997) dan Niels Mulder yang mengeksplorasi Ruang Batin Masyarakat Indonesia melalui Inside Indonesian Society: An Interpretation of Cultural Change in Java (2001).

Maksud dan Tujuan

Sebagai outsider di bidang Psikologi tentunya sangat riskan untuk mengklaim bahwa makalah ini layak untuk tema simposium ini. Namun tidak ada salahnya apabila dicoba untuk turut menyumbangkan pikiran secara interdisipliner bidang studi kultural. Sebagaimana dalam tradisi academic community ilmu dapat dilihat dari dimensi-dimensi dengan mengkaitkan keilmuan yang satu dengan yang lain serta diupayakannya sebuah temuan/ discovery .

Paparan ini mengambil objek kajian folklore nusantara untuk lebih lanjut diambil makna makna batin masyarakat penuturnya sebagai bahan (objek) kajian psikologi. Dasar pijakannya adalah pemahaman ( verstehen ) karena sifat ilmu ini adalah geisteswissenschaften atau kultuurwissenschaften. Filsafat keilmuan ini adalah subjek masuk ke dalam objek. Subjek mentransposisikan pengalaman dalam arti memindahkan objektivitas masuk kembali ke pengalaman reproduktif. Sifat memberi pemahaman maknawi (verstehen/understand) dimaksudkan untuk memperoleh makna tentang objek yang dihadapi. Hasilnya berupa makna yang tersimpul dalam objek. Objek dapat berupa teks, simbol, peristiwa, yang menampak dalam kesadaran objek.

Alat analisis kajian ini adalah hermeneutika. Hermeneutika (Yunani: Hermes: Hermeneuien:'menafsirkan') akan merekonstruksi dan mereproduksi maksud pendapat/perasaan sebagaimana tertera dalam suatu teks atau simbol dengan cara mentransposisi suatu peristiwa sejarah dan apa yang terjadi pada masa lalu ke kondisi aktual masa kini. Semuanya tidak untuk diulangi melainkan diberi makna baru melalui penafsiran kembali melalui kerangka pengalaman penafsir yang aktual/dalam kondisi masa kini. Hasilnya adalah sesuatu yang maknawi dalam dimensi yang lebih luas. Misalnya dengan mengkaji dongeng-dongeng yang berkembang di tiap daerah di Indonesia yang merupakan produk masa lalu diboyong ke masa kini dan diberi makna untuk dapat diterapkan ke masalah yang lebih luas, misalnya psikologi.

Sekilas Folklore dan Antropologi Psikologi

Folklore secara umum didefinisikan sebagai bagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun. Diantara kolektif dalam berbagai macam versi yang berbeda dan bersifat tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat / mnemonik device (Danandjaja, 2002:2). Folklore biasanya mempunyai bentuk yang berpola sebagaimana dalam cerita rakyat atau permainan rakyat pada umumnya. Folklore pada umumnya mempunyai kegunaan atau fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif misalnya cerita rakyat sebagai alat pendidik, hiburan, protes sosial, dan proyeksi suatu keinginan yang terpendam. Sebagai bentuk kebudayaan milik bersama (kolektif) folklore bersifat pralogis yaitu logika yang khusus dan kadang berbeda dengan logika umum. Penelitian tentang folklore telah banyak dilakukan untuk berbagai macam tujuan, misalnya untuk tujuan Antropologi, Pendidikan, Bahasa, Seni Pertunjukan, Sosiologi, dan berbagai pranata sosial. Penelitian folklore dapat juga dimanfaatkan untuk bidang Psikologi, karena folklore mengungkapkan secara sadar atau tidak sadar bagaimana suatu kolektif masyarakat berpikir, bertindak, berperilaku, dan memanifestasikan berbagai sikap mental, pola pikir, tata nilai, dan mengabadikan hal-hal yang dirasa penting oleh folk kolektif pendukungnya. Misalnya bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Minangkabau melalui pepatah, pantun, dan peribahasa. Demikian juga bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Jawa melalui permainan rakyat (dolanan, tembang), bahasa rakyat (parikan, tembung seroja, sengkalan, dsb.), puisi rakyat, ragam seni pertunjukan, lelucon, bahkan manifestasi dalam fisik kebudayaan seperti batik, wayang, tarian, dan sebagainya.

Sebagaimana dikemukakan oleh William R. Bascom (1965) bahwa empat fungsi utama folklore adalah : (a) sebagai sistem proyeksi yaitu alat pencermin angan-angan suatu kolektif, (b) sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan anak, dan (d) sebagai alat pengawas atau kontrol agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota kolektifnya. Secara teori folklore berkaitan dengan tujuh unsur kebudayaan universal yaitu ekonomi (sistem pencaharian hidup), teknologi (sistem peralatan dan perlengkapan hidup), sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi. Berdasarkan tujuh unsur kebudayaan universal tersebut maka folklore dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar yaitu folklore lisan, folklore sebagian lisan, dan folklore bukan lisan. Brunvand (1968) menyatakan folklore terdiri atas mentifacts, sociofact dan artifacts. Selain itu kebudayaan pada hakikatnya merupakan tata kelakuan manusia, kelakuan manusia dan hasil kelakuan manusia, maka Psikologi Masyarakat Indonesia dapat dipahami melalui pengkajian folklore nusantara sebagai dasar pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia, baik dalam bentuk, fungsi dan maknanya. Dalam bidang antroplogi psikologi hal ini sangat penting. Antropologi budaya dan antropologi sosial yang memiliki hubungan erat dengan folklore dapat berhubungan dengan ilmu psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, ilmu psikiatrik, dan psikoanalisa secara produktif dan sistematis.

Sebagaimana telah diketahui psikologi kepribadian yang meliputi perkembangan dan psikiatri memiliki objek kajian kepribadian manusia dan usaha untuk memahami mengapa serta bagaimana pribadi berbeda antara satu dengan yang lain. Sementara itu dalam antropologi psikologi ada upaya menjembatani kebudayaan dan kepribadian yang pada intinya merupakan interdisiplin antara antropologi dan psikologi (Barnouw, 1963;Danandjaja 1994). Dengan mengambil konsep Francis L. K. Hsu (1961;Danandjaja 1994) maka psikologi masyarakat Indonesia dapat dipahami melalui pengkajian folklore nusantara sebagai dasar pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia dapat diupayakan dikaji melalui kajian kebudayaan (Culture on Studies) khususnya folklore dengan menitikberatkan:

• Cross cultural studies atau pengkajian lintas budaya mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya melalui analisis kritis berbagai folklore yang berkembang dan menyebar di nusantara;

• Segala bentuk kebudayaan dalam folklore sebagai variabel bebas (independent variable) maupun variabel terikat (dependend variable) yang berkaitan dengan kepribadian;

• Kajian atas individu dan kolektif masyarakat sebagai tempat atau wadah kebudayaan;

Selanjutnya perlu dilihat juga hubungan struktur sosial dan nilai budaya dengan pola rata-rata pengasuhan anak, perilaku yang diungkapkan melalui hubungan antara pola rata-rata pengasuhan anak dengan struktur kepribadian rata-rata, hubungan antara struktur kepribadian rata-rata dengan sistem peran dan aspek proyeksi dari kebudayaan. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah konsep kepribadian-kebudayaan (personality culture) yang timbul sebagai dampak interaksi antara psikologi dan antropologi.

Tiga kelompok besar masalah hubungan antara culture and personality seperti human nature, typical personality, dan individual personality berkaitan erat dengan munculnya hubungan antara perubahan kebudayaan dengan perubahan kepribadian dan hubungan kebudayaan dengan kepribadian “abnormal”. Selama ini banyak teori yang diambil dari Perspektif Barat. Melalui pengkajian secara kritis, analitis, dan berkelanjutan tentang cross culture studies dapat dimungkinkan diperoleh sebuah konsep, model, pendekatan, paradigma dan teori psikologi berbasis budaya Indonesia. Niels Mulder (2001) telah memulai kajian tentang variasi budaya dalam kepribadian suatu masyarakat seperti benturan antarkultur, antarkebudayaan, dan antarnilai pada masyarakat berbasis budaya timur khususnya Asia Tenggara, Indonesia, Thailand, Philipina dan Jawa. Hal ini sangat mungkin dapat dikembangkan lebih lanjut mengingat pandangan hidup dan kebudayaan bukan merupakan hal yang statis melainkan kebudayaan dapat dipandang sebagai petunjuk mental dalam kehidupan maupun sesuatu yang baru.

Folklor Nusantara sebagai Dasar Pemahaman Psikologi Berbasis Budaya Indonesia

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa bentuk-bentuk folklor Indonesia (Nusantara) dapat digolongkan dalam folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Folklor lisan bentuknya murni lisan, antara lain : bahasa rakyat, seperti logat, “julukan”pangkat tradisional, gelar kebangsawanan; ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, pemeo; pertanyaan tradisional seperti teka-teki (“bedhekan”); Puisi Rakyat seperti pantun, syair, gurindam, parikan;Cerita Prosa Rakyat seperti dongeng, mite, legenda;

Dan Nyanyain rakyat. Folklor sebagian lisan meliputi : Kepercayaan rakyat seperti takhyul (superstitious); dan Permainan rakyat. Sedangkan folklor bukan lisan misalnya makanan rakyat, arsitektur, kerajinan rakyat, perhiasan tubuh, hgerak isyarat tradisional, musik rakyat dan bahasa isyarat untuk komunikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia di daerah-daerah, terutama yang masih mempertahankan nilai-nilai dan kebiasaan tradisional, hal-hal di atas masih atau sebagian masih diterapkan. Paling tidak untuk sebuah dongeng, permainan anak-anak, atau bahasa rakyat. Misalnya kisah pemanfaatan pepatah dan peribahasa pada masyarakat Minangkabau akan memberikan implikasi dan dampak psikologis dalam hubungan sosial serta pembentuk kepribadian. James Danandjaja pada 1972 telah berupaya mengumpulkan berbagai folklor Indonesia dan mengkajinya dalam perspektif antropologi.

Pengkajian folklor nusantara melalui metode survei lintas budaya untuk tujuan psikologi misalnya penelitian tentang praktik pengasuhan anak dengan unsur-unsur kebudayaan. Pengasuhan anak berpengaruh terhadap sifat-sifat kepribadian anak yang bersangkutan dan sifat-sifat kepribadian tersebut akan tetap menjadi kepribadiannya setelah ia dewasa. Banyak dongeng nusantara atau legenda yang di dalamnya dapat digali makna sistem tingkah laku, misalnya :

• Tingkah laku yang bersifat selalu minta dilayani.

• Tingkah laku yang bersifat suka mengungkapkan perasaan.

• Tingkah laku yang bersifat suka bergantung pada kemampuan sendiri.

• Tingkah laku yang bersifat mempunyai rasa tanggung jawab.

• Tingkah laku yang bersifat ingin mencapai sesuatu yang lebih baik.

• Tingkah laku yang bersifat patuh pada orangtua atau pemimpin.

• Tingkah laku yang bersifat gemar menolong orang lain yang sedang mengalami kesukaran.

• Tingkah laku yang ingin menguasai orang lain.

• Tingkah laku yang bersifat keramahan di dalam pergaulan.

• Tingkah laku yang bersifat suka menyerang baik sebagai akibat ancaman maupun kesempatan.

(John Whiting, Irving S., Child, et. al 1966:9-11,78-81; dalam Dananjaya, 1994:144).

Metode pemanfaatan folklor nusantara sebagai bahan penelitian antropologi psikologi atau dapat dimanfaatkan pada pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia dapat dilakukan melalui :

• Metode Tematik/ Thematic analisis; metode ini akan menganalisis tema-tema yang mendasari suatu bentuk folklor. Tema cerita dalam “Bawang merah dan bawang putih” bagi para gadis di Jawa; tema cerita Malim Kundang dari Minang; Joko Kendil bagi masyarakat Jawa; Si Pitung bagi masyarakat Betawi; peribahasa “sehari selembar benang, lama-lama menjadi selembar kain” dsb. merupakan bahan dasar alat peda gogik yang dapat memberi pesan positif.

• Analisis Hasil Produksi Material yang merupakan proses mempelajari budaya material suatu kolektif untuk memperoleh pengetahuan mendalam mengenai struktur kepribadian, sifat-sifat dan emosi para pemilik dan pendukung budaya. Misalnya mendengarkanm “klenengan” karawitan Jawa yang lembut dan tempo lambat, lukisan batik atau ornamen pada keris di Jawa; menunjukkan bagaimana ketelatenan, detail dan filosofis mewarnai kepribadian pendukungnya. Ornamen masa lalu yang penuh seni hias; sementara sekarang lebih polos dan sederhana menunjukkan pola lkeprinbadian daya guna dan adiguna, dsb.

Ada tiga pendekatan untuk mengetahui kepribadian suatu masyarakat dengan memanfaatkan folklor. Pendekatan tersebut sebagaimana dikembangkan Victor Barnouw (dalam Dananjaya, 1994:153) adalah :

• Penelitian penjajagan (eksplorasi)

• Survey Lintas Budaya (cross culture surveys)

• Analisis intensivitas folklor suatu masyarakat.

Penelitian penjajagan (eksplorasi) misalnya menjajagi sejauh mana kesamaan tema semacam “oedipus complex” dalam cerita rakyat di Indonesia antara “Prabu Watu Gunung” di Jawa dengan Sangkuriang di Sunda, bahkan Oedipus di Barat. Motif menjadi dasar pijakan universalitas simbol-simbol psikologis (archetype arkais). Pendekatan yang kedua mencoba menghubungkan suatu nilai yang dititikberatkan pada suatu bentuk folklor, terhadap pola-pola tertentu (misalnya dalam pengasuhan anak). Dongeng-dongeng dari sejumlah suku di Indonesia dikumpulkan dan diberi skor untuk suatu kebutuhan mencapai sesuatu yang lebih baik dalm hal pengasuhan anak. Contoh lain untuk mengetahui perilaku agresif dan non agresif dari skor 12 dongeng anak di Indonesia. Tentunya untuk menghubungkan adanya tema-tema folklor pada pola pengasuhan anak. Sementara itu pada pendekatan yang ketiga dilakukan analisis terhadap intensivitas suatu folklor, baik intensif maupun kurang intensif folklor suatu masyarakat. Gambaran-gambaran kepribadian yang dapat dilihat dari aspek-aspek kebudayaan. Hubungan pria dan wanita dalam sejumlah cerita rakyat di Indonesia. Melalui pendekatan ini diketahui adanya struktur kepribadian dasar atau rata-rata yang khas dari kebudayaan yang bersangkutan, atau integrasi kebudayaan berkecenderungan untujk mengembangkan konsistensi tertentu di dalam folklornya. Bagaimanakah keterkaitan Cinderella di Barat dengan Andhe-andhe Lumut di Jawa?

Penutup

Penelitian folklor yang pada dasarnya meliputi tahap pengumpulan, pengklasifikasian dan penganalisaan dimaksudkan untuk mendapatkan bahan pengetahuan tata kelakuan kolektif pendukung kebudayaan. Selanjutnya secara hermeneutis dapat dijadikan sebagai sarana epistemologis ke arah antropologi psikologi atau pemahaman piskologis berbasis budaya. Sumbangan folklor nusantara terhadap pemahaman psikologi berbasis budaya dapat dipandang sebagai salah satu strategi pengembangan ilmu.


versi English....

Understanding the Psychology Society of Indonesia through Pengkajian Folklor Nusantara as a Basic Understanding Psychology-Based Culture of Indonesia (multidisciplinary approach Psychology, Science-Science Literature and Anthropology)

By

DR. Arif Budi Wurianto, MSi

Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang



Basic scientific

The influence of philosophy on Western scientific epistemology coloring almost all science. Knowledge is a complexity of the problems faced by very dynamic people in the efforts searching for the truth. Western influence is very rational in considering his knowledge appear in the form of Ancient Greek philosophy about 6 sd Century BC to 3 century BC-6. In 12 century the century of science in philosophy which is the academic community of philosophers. In its development of short science can be said to growth and development from the ancient Greek era pre-mid-century Greece to the Renaissance period. Rank in the Grand Theory of Law The Three Stages of Development from the development of scientific tartaran theologis, metaphysical, dampai on the positive.

In further developments in the effort to seek the truth (epistemology) there dikotomi between western science and non-western science. Western (West) with the full awareness of trying to do an activity kongkret continuing to improve, remodel, update the governance of life, public administration or governance of the country does not feel satisfying. This is in the form of philosophy of science and the implications-implications that dirintis since ancient Greek times, and applied in the West since the Renaissance and Aufklarung until now the results form the Science & Technology. Non-Western science, while the subject escape from reality that is not satisfactory. This means will isolate themselves and avoid the physical / ruhani. Search the truth will "cover", which does not embellish the facts with the illusion or the image of the ideal. The emergence lisanb story, tale, puppet, dance, language games, saying, bersandi word, and so forth. Escape this mental describe things that ideal and beautiful. Although the result is not something that filsafati abstract concept, but the trust and the fathers' Begawan 'this building to create a beautiful and large seoperti temple, shrine, boats, construction technology, and support ships. Astronomy / astrology, science, season, and marine compass. The sciences of the human mind and soul.

In connection with the search of truth through the Psychology-Based Culture of Indonesia, it would not be dealing with the search non-western epistemology. The scope of this study was the object of course is very knowledgeable. There have been efforts to search knowledge-based cultural psychology of Indonesia, as Darmanto Jatman (1996) Psychology through Java reflection model that takes the concept of inner Ki Ageng Suryamentaram. Likewise with Franz Magnis Suseno which try to identify the inner psychology of the Javanese in Javanese Ethics and World-View The Javanese Idea of The Good Life (1997) and Niels Mulder is exploring space Batin People of Indonesia through Inside Indonesian Society: An Interpretation of Cultural Change in Java (2001).

Purpose and Objectives

As Outsider in the field of Psychology is certainly at risk to claim that this paper is eligible for the theme of this symposium. However, when no one tried to take donated interdisipliner the mind field of cultural studies. As in the tradition of academic science community can be seen from the dimensions of scholarly connect with one another and a diupayakannya findings / discovery.

Expose this study, taking the object Folklore nusantara taken to further the inner meaning of meaning as penuturnya material (object) study psychology. Pijakannya is a basic understanding (verstehen) the nature of science because this is geisteswissenschaften or kultuurwissenschaften. Scientific philosophy is the subject into the object. Subject mentransposisikan experience in the sense that the objectivity of re-entry to the reproductive. Understanding the nature of giving maknawi (verstehen / understand) to obtain the intended meaning of the object encountered. The result is a form of meaning in tersimpul object. Objects can be text, symbols, events, see the object in awareness.

Analysis tool, this study is hermeneutika. Hermeneutika (Greek: Hermes: Hermeneuien: 'interpret') will reconstruct and reproduce meaning opinion / feelings, as shown in a text or symbols in a way mentransposisi a history and what happened in the past to the current condition of the present. Overall not to be repeated but are given new meaning through re-interpretation of experience through the framework of the current interpreter / conditions of the present. The result is something that maknawi in a wider dimension. For example, with the fairy-tale that grew in every region in Indonesia which is a product of the past to the present time diboyong and given meaning to be applied to the broader issues, such as psychology.

Overview of Folklore and Anthropology Psychology

Folklore is defined in general as part of a collective culture that spread and inherited from generation to generation. Among the collective in a variety of different versions and are both in the traditional form of oral and examples that come with the movement cue or reminder tool / device mnemonik (Danandjaja, 2002:2). Folklore has usually figured as a form of folklore in the game or people in general. Folklore in general have a purpose or function in life with a collective such as folklore as a tool in educational, entertainment, social protest, and the projection of a hidden desire. As a form of cultural property (collective) pralogis Folklore is a logic that is specific and sometimes different from the general logic. Research on Folklore has been done for various purposes, for purposes such as Anthropology, Education, Language, Art, Sociology, and a variety of social regulation. Folklore research can also be used for the field of Psychology, for the Folklore or not consciously aware of how a collective society to think, act, behave, and memanifestasikan various mental attitudes, thought patterns, value system, and enshrine the things that are important by the collective folk supporting. For example, how the norms of life and behavior and thought patterns and manifestations moral community through the Minangkabau proverb, verse, and goes. Similarly how the norms of life and behavior and thought patterns and manifestations moral community through the Java people (dolanan, tembang), the language of the people (parikan, tembung lotos, sengkalan, etc..), People's poetry, performance art fad, jokes, and even physical manifestation in the culture such as batik, wayang, dance, and so forth.

As presented by William R. Bascom (1965) that the four main functions Folklore is: (a) as a projection system that is a tool pencermin notion of a collective, (b) regulation as a means of affirmation of culture and institutions, (c) as a means of education for children, and (d) as supervisory control equipment or norms in order to be obeyed by members of the community kolektifnya. Folklore in theory related to the seven elements of universal culture that is economic (the system main life), technology (systems and equipment life), the system of social, language, arts, knowledge systems, and religion. Based on the seven elements of culture are universal and Folklore can be grouped into three major groups namely Folklore oral, partly oral Folklore, Folklore, and not oral. Brunvand (1968) states Folklore of mentifacts, sociofact and artifacts. Besides the fact that culture is a governing human behavior, human behavior and the results of human behavior, the Psychology Society can be understood through the Indonesian Folklore of the archipelago as a basis for understanding the psychology-based culture, both in form, function and its meaning. In the field of psychology antroplogi this is very important. Cultural anthropology and social anthropology that has a close relationship with the Folklore can be related to the science of personality psychology, development psychology, science, psychiatric, and psychoanalysis in a systematic and productive.

As has been known personality psychology that includes the development of psychiatry and has the personality of the study objects and human effort to understand why and how time is different between one another. Meanwhile, in anthropology there are efforts to bridge the psychological and cultural identity that is essentially inter between anthropology and psychology (Barnouw, 1963; Danandjaja 1994). By taking the concept of Francis L. K. Hsu (1961; Danandjaja 1994) the psychology of the Indonesian people can be understood through the Folklore of the archipelago as a basis for understanding the psychology-based Indonesian culture can be attempted through the study of culture (on Culture Studies) with an especially Folklore:

• Cross cultural studies, or of cross-cultural personality of the social system and culture through critical analysis of various Folklore and a growing spread in the archipelago;

• Any form of culture in Folklore as a free variable (independent variable) and variables bound (dependend variable) related to the personality;

• Study on the individual and collective community as a place or culture vessel;

Next need to see also the structure of social relations and cultural values with the average pattern nurture children, attitudes expressed through the relationship between the average pattern nurture the personality structure of children with average, the relationship between personality structure with the average system aspects and the role of projection of culture. To note in this regard is the concept of personality-culture (culture personality), which arise as a result of the interaction between psychology and anthropology.

Three groups of the relationship between culture and personality, such as human nature, typical personality, and individual personality are closely tied to the emergence of the relationship between culture change with changes in personality and cultural relations with the personality "abnormal". So far, many theoretical perspectives taken from the West. Through the review of critical, analytical, and development of cross-culture studies may be possible to obtain a concept, models, approaches, paradigms and psychological theory-based culture of Indonesia. Niels Mulder (2001) have begun the study of cultural variations in personality as a community of antarkultur, antarkebudayaan, antarnilai and community-based culture in the east, especially Southeast Asia, Indonesia, Thailand, the Philippines and Java. This is may be further developed considering the views of life and culture is not static but culture can be regarded as guidance in mental life and something new.

Folklor archipelago as a Basic Understanding Psychology-Based Culture Indonesia

As has already been described in the previous section that forms folklor Indonesia (Indonesia) can be classified in oral folklor, folklor partly oral, and non-verbal folklor. Folklor pure oral oral forms, among others: the language of the people, such as speech, "nickname" the traditional designation, earl; traditional expressions such as maxim, proverb, pemeo; traditional questions such as puzzles ( "bedhekan"); such as the People's Poetry pantun, versification, gurindam, parikan; Cerita Rakyat as prose tale, pupilasgustativas, legend;

And Nyanyain people. Folklor verbal part includes: Spirituality of the people as superstition (superstitious); and people. While oral folklor not people such as food, architecture, folk crafts, body jewelry, signaling hgerak traditional, folk music and sign language for communication.

In daily life of Indonesian society in the areas, particularly those still maintaining the values and traditional customs, things are still at the top or in part still applies. At least for a tale, children's games, or the language of the people. For example, the story goes on and saying Minangkabau society will provide the implications and impact of psychological and social relations in forming personality. James Danandjaja in 1972 has been working to collect various folklor and mengkajinya in anthropological perspective.

Folklor of the archipelago through a survey method for the purpose of cross-cultural psychology, for example research on childcare practices with elements of culture. Nurture children's effect on nature of the child's personality and the personality attributes will remain the virginity after he was grown. Many nusantara myth or legend in which the meaning can be extracted system behavior, for example:

• behavior that have always served.

• behavior that is like the feeling.

• behavior like that is dependent on the ability of its own.

• behavior that have a sense of responsibility.

• behavior that you want to achieve something better.

• behavior of the parents or abiding leader.

• behavior of a love to help others who are experiencing difficulty.

• behavior that you want to control other people.

• behavior of warmth in the crowd.

• behavior is like that as a result of the attack both the opportunity and threat.

(John Whiting, Irving S., Child, et. 1966:9-11,78-81 al; in Dananjaya, 1994:144).

Folklor nusantara the method of research as anthropology or psychology can be utilized in understanding the psychology-based Indonesian culture can be done through:

• Method Thematic / Thematic analysis, this method will analyze the themes that underlie a form of folklor. Theme in the story "Onion and garlic" for girls in Java; theme of the story Malim Kundang Minang; Joko Kendil Java for the community; Si Pitung the Betawi people, saying "a day sheet thread, a long-long sheet of cloth" and so on. material is peda gogik basic tool that can give a positive message.

• Production Materials Analysis is a process of cultural learning material to obtain a collective depth of knowledge about the structure of personality, nature and emotions of owners and supporting culture. For example mendengarkanm "klenengan" Java karawitan soft and slow tempo, batik painting, or jewelry on the keris in Java; shows how patience, detail and personality supporting philosophical slant. Ornaments past full of decorative art, while it is more straightforward and simple pattern indicates lkeprinbadian efficiency and adiguna, etc..

There are three approaches to understand the personality of a community by utilizing folklor. Approach as developed by Victor Barnouw (in Dananjaya, 1994:153) is:

• Research penjajagan (exploration)

• Cross-Cultural Survey (cross-cultural surveys)

• Analysis intensivitas folklor a community.

Penjajagan Research (exploration), for example menjajagi extent to which similarity in themes such as "oedipus complex" in the story of people in Indonesia between "Watu Gunung Prabu" in Java in the Sunda Sangkuriang, even in the West oedipus. Motif basic foothold into the universality of symbols psychological (archetype arkais). Approaches that try to connect a second value that dititikberatkan in the form of a folklor, of particular patterns (such as in childcare). Fairy-tale from a number of tribes in India were collected and given a score needs to achieve something better dalm the nurture of children. Another example for the behavior of aggressive and non aggressive scores of 12 children's tale in Indonesia. Of course, to connect the themes in the pattern folklor nurture children. Meanwhile, on the third approach to the analysis conducted intensivitas a folklor, both intensive and less intensive folklor a community. Picturesque personality that can be viewed from the aspects of culture. Relationship men and women in a number of stories of people in Indonesia. Through this approach, the basic personality structure of the average or typical of the culture concerned, or the integration of culture berkecenderungan untujk develop a certain consistency in the folklornya. How is the Cinderella of the West Andhe-andhe Lumut in Java?

Conclusion

Research folklor which essentially covers the collection, pengklasifikasian and penganalisaan intended to obtain knowledge of collective behavior supporting governance culture. Then the hermeneutis can be used as a means epistemologis to the psychological or anthropological understanding piskologis-based culture. Folklor nusantara contribution to the understanding of psychology-based culture can be regarded as one of the strategies of science.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...