Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 14 April 2009

Penembak Misterius Karya Seno Gumira Aji Darma

Sinopsis

Bunga rampai cerita pendek ini disekat menjadi tiga ruang cerita: (1) Penembak Misterius: Trilogi; (2) Cerita untuk Alina; (3) Bayi Siapa Menangis di Semak-Semak?. Ada lima belas cerita maktub dalamnya. Semuanya adalah karya Seno yang ditulis antara tahun 1985 sampai 1990, dan mulanya diterbitkan lewat ruang-ruang di suratkabar dan majalah. Di bagian akhir buku, terselip sebuah pembacaan kritis atas apa yang disebut sebagai trilogi Seno tentang ‘petrus’: Keroncong Pembunuhan, Bunyi Hujan di atas Genting, dan Grhhh. Tulisan itu karya Budiawan, dosen Kajian Ilmu Religi dan Budaya, Program Pasca Sarjana, Universitas Sanata Dharma.

Ulasan

Seno, Sastra, dan Jurnalisme

Seno pernah membuat pernyataan, yang semoga saja kian hari tidak menjadi sumbang, ‘[k]etika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.’ Dan Seno memang tidak mengumbar nada sumbang ketika melafalkan pernyataannya itu. Seno, seorang jurnalis, betul-betul memberdayakan sastra untuk membuncahkan sesuatu yang tidak lagi dapat dikoarkan lewat mulut jurnalisme. Budiawan, dalam analisis ringkasnya terhadap trilogi ‘petrus’, mengungkapkan, ‘…ketika dunia-dunia perbincangan lainnya sudah (hampir) sepenuhnya berada dalam kontrol kekuasaan yang dominan, sastra – dalam batas-batas tertentu – mampu keluar dari jangkauan kontrol itu.’ Setidaknya sampai sekarang, dalam batas dan kasus tertentu pula, seperti itulah yang sahih terjadi.

Kekuasaan dominan yang represif kerap melakukan tindakan pengawasan terhadap peredaran informasi. Jurnalisme, yang terejawantahkan lewat mediamassa, adalah wahana peredaran itu. Sudah lazim dan acapkali terjadi penguasa menata sesukanya lalu-lintas, jenis, dan isi informasi yang beredar dalam masyarakat. Penataan itu diwujudkan, kebanyakan, dalam bentuk sensor dan, yang paling puncak, pembredelan.

Pengendalian arah haluan mediamassa berarti, salah satunya (mungkin satu-satunya), pengamanan posisi dan citra penguasa. Ini karena yang paling banyak dikendalikan adalah informasi seputar peristiwa yang dapat memancing terbentuknya, sebutlah, ‘sifat kritis’ memandang kebijakan-kebijakan yang dibuat penguasa, dalam hal ini, pemerintah. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timor-Timur, NAD, kasus pembantaian Tanjungpriok, dan, seperti yang akan dibahas oleh ulasan ini, penembak-misterius, adalah sedikit contoh peristiwa yang dengan sengaja dihilangkan dari ruang pikir publik. Itu dia kuncinya! Khalayak harus dibuat lupa!

Perjuangan yang dilakukan Seno, yang jurnalis itu, dengan merekam sekaligus membeberkan peristiwa-peristiwa, yang ‘tabu’ diketahui masyarakat, lewat sastra dapat ditemui di kumpulan cerita pendek Saksi Mata dan Penembak Misterius, untuk menyebut dua contoh saja. Dengan tidak mengabaikan gaya khas cerita sastra, bau gaya reportase masih dapat diendus dari cara-ucap yang ditawarkan Seno dalam cerita-ceritanya. Bahasa yang lugas, metafora yang sederhana dan dekat namun mengena, dan struktur kalimat yang tidak bertele-tele, sebenarnya dengan gamblang menelanjangi cadar kiasan yang lumrah ditemukan dalam sastra. Hampir tidak ada susunan kata yang akrobatik. Banyak terjadi pengulangan-pengulangan frasa atau kalimat. Tapi, itu semua terbaca sebagai cara Seno menonjolkan niat utama dari ceritanya.

Dan begitulah jurnalisme, ia dihadirkan dengan gaya ucap yang mudah dimengerti orang (ke)banyak(an). Ini karena tujuan dari jurnalisme adalah ‘memberitahu’, bukan, tidak untuk memukulrata apa yang hadir dalam sastra, menciptakan labirin kata yang ujungnya menghidangkan pesan utama.

Petrus: Antara Lupa dan Trauma

Coba saja cari kisah ‘petrus’ (penembak misterius) dalam buku-buku sejarah yang diedarkan di sekolahan. Sama saja dengan berbagai peristiwa-peristiwa lain, kemisteriusan ‘petrus’ tetap di kawal untuk tidak diketahui oleh manusia-manusia dini dalam sebuah paparan yang adil. Kisah ‘petrus’, yang gegar dari tahun 1983-1985, mungkin rata-rata hanya hadir di benak orang-orang hidup setelah periode itu dalam bentuk dongeng atau ‘cerita-silat’.

Gaya pembasmian kejahatan a la pendekar-penumpas-kejahatan ini pada awalnya memang disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat, yang resah dengan naik-drastisnya tingkat kejahatan, khususnya di kota-kota besar, karena merosotnya laju pertumbuhan ekonomi saat itu. Sudah lumrah: laju ekonomi merosot, kejahatan melonjak. Namun, pertanyaan yang sesungguhnya harus dijawab adalah mengapa laju ekonomi merosot dan kejahatan macam apa yang merebak?

Penembakan misterius juga merupakan bukti dari penggunaan kekuatan militer dalam mengatur peri kehidupan masyarakat. Militer, sebagai pemegang kekuatan bersenjata, dengan giat dan ligat menumpas orang-orang (yang dicurigai) pelaku kejahatan. Uniknya, seperti yang tersua dalam cerita Bunyi Hujan di atas Genting dan Grhhh, ciri khusus pelaku kejahatan yang salah satunya dijadikan acuan adalah ciri yang kini bolehlah disebut dangkal: tubuh bertato.

Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang itu tergelataklah mayat bertato. (Bunyi Hujan di atas Genting)

Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu masih terlihat sisa-sisa tato. (Grhhh)

Mungkin memang benar bahwa kebanyakan pelaku kejahatan (kecil) adalah orang-orang yang bertato. Tapi apa semua orang bertato adalah penjahat? Sepertinya dari titik peristiwa ini pula semakin kuat citra stereotipikal tentang tato yang beredar di masyarakat luas. Perlu diingat, sampai sekarangpun masih dengan terang tersisa jejak trauma tato itu di mata publik.

Yang menarik dan harus diperhatikan dari penumpasan kejahatan gaya Batman ini adalah bahwa, dari sekitar 10.000 korban yang bergelimpangan akibat timah panas petrus, dapat dikatakan semuanya adalah pelaku kejahatan ‘kecil’. Mereka adalah orang-orang yang dicurigai sebagai perampok, pencuri, preman, bandar judi, dsb, bahkan banyak sekali yang ternyata sudah menyandang gelar ‘mantan penjahat’. Lagipula, belum pernah ada terdengar seorang anggota DPR yang korup menjadi korban petrus.

***

Sebenarnya, karena keresahan yang terjadi, pemerintah sudah melarang pers untuk meliput hal-hal yang bersangkutan dengan petrus pada Agustus 1983. Padahal, sampai 1985 petrus masih merajai jalanan. Inilah usaha pemerintah untuk menghilangkan ingatan masyarakat akan petrus. Mediamassa, sebagai sumur informasi paling populer, adalah target yang jitu untuk dibungkam. Pada titik tertentu, penghilangan sesuatu isu dari mediamassa berbanding lurus dengan hilangnya perhatian khalayak terhadap sesuatu isu tersebut. Dengan cerdik, pemerintah dapat membaca relasi-berbanding-lurus ini. Dan dengan picik dibungkamlah jurnalisme.

Walau bagaimanapun, kecaman bertubi-tubi tetap berdesing datang dari berbagai pihak: kalangan DPR, pembela HAM, orang-orang peduli penegakan hukum, dan masyarakat sendiri, yang ternyata menjadi resah dan ketakutan karena mencekamnya situasi yang diciptakan oleh petrus. Dari segi penegakan hukum, misalnya, ada Adnan Buyung Nasution yang dengan keras menentang pelecehan yang dilakukan pihak militer secara terang-terangan terhadap supremasi hukum. Seno juga tidak lupa menyelipkan hal ini dalam kebimbangan tokohnya di cerita Keroncong Pembunuhan. Si juru-tembak-tepat yang dibayar untuk membunuh seseorang itu bahkan dengan jelas mempertanyakan,

Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana?
“Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?”

Lebih lagi, tidak dapat dipungkiri, situasi mencekam memang benar-benar meruak dan menghantui kehidupan masyarakat pada saat itu. Masyarakat, yang tadinya mendukung karena tingkat kejahatan menurun drastis, berbalik menghujat petrus karena kengerian yang diakibatkannya dan kealpaannya memberantas kejahatan secara adil dan menyeluruh. Petrus memang berhasil menciptakan trauma di tengah-tengah masyarakat. Mayat yang bergelimpangan menjadi pemandangan yang selalu menemani matahari menyapa bumi. Kondisi apa ini? Seakan-akan tidak ada masalah lain saja. Seakan-akan kejahatan (kecil) yang meningkat pada masa itu datang dengan sendirinya. Petrus adalah sebuah program yang dilaksanakan dengan eka-sudut-pandang. Tidak disadari bahwa kepelikan masalah ini adalah (hanya) sekepul asal akibat dari suatu bara yang menyala dalam sekam. Trauma ini digugat oleh Seno dalam Grhhh:

“Pembantaian itu kesalahan besar, Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati, Pak! Mereka membalas dendam!”

Cerita Lainnya dan Sedikit Blurb untuk Seno

Dalam bunga rampai cerita pendek tersebut, maktub pula dua belas cerita lainnya, yang mengambil suasana yang umumnya muradif dengan trilogi petrus: Jakarta, atau kehidupan perkotaan yang sesak. Di bagian Cerita untuk Alina, kejenuhan, kepunahan, kenangan, dan macam-macam tetek-bengek kehidupan perkotaan dinarasikan dengan lugas. Seno cukup cerdik untuk memakai tokoh-tokoh ‘tak penting’, tokoh-tokoh yang tidak ‘elit’, sebagai mata pusaran ceritanya (tukang becak, karyawan biasa, pelacur, penari telanjang, sersan polisi, dll. dsb. adalah sedikit dari banyak contoh). Lagi-lagi, ibarat seekor ayam yang tak bosan mengingatkan manusia untuk bangun di pagi hari, meskipun tidak jelas apakah ayam memang bermaksud membangunkan manusia dengan kokoknya, cerita-cerita Seno selalu memukul gong ingatan pembaca akan hal-hal kecil yang terancam punah karena sudah ‘terlalu biasa’ hadir di seputaran hidup khalayak. Ambillah contoh Becak Terakhir di Dunia (atawa Rambo) yang mengingatkan kita tentang punahnya becak di Jakarta. Atau, Sarman, yang menggaruk-garuk kesadaran orang tentang kehidupan nada-mutlak khas kaum pekerja di kota besar. Dengan kekhasan cara-tutur yang minim akrobat kata, Seno menghadirkan cerita yang sederhana, tapi mengena.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...