Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Rabu, 01 April 2009

Perkembangan Kedudukan Kritik Sastra dalam “Criticism as a Secondary Art” karya Murray Krieger

Kritik sastra adalah bidang kesusastraan yang terus menerus 
berkembang di dunia. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi, perkembangan 
kritik sastra dunia tentu mempengaruhi perkembangan studi kritik sastra 
Indonesia. Pengaruh ini dapat timbul dari kerja-kerja kritik yang 
dilakukan oleh kritikus-kritikus sastra Indonesia—baik dari golongan akademisi, 
sastrawan, maupun peminat sastra—terhadap karya sastra Indonesia yang 
selanjutnya mendapatkan tanggapan dari masyarakat sastra dunia, kerja Kritik 
pada karya-karya berbahasa asing, atau sebaliknya: kerja kritik pada karya-karya 
Indonesia oleh kritikus-kritikus asing, maupun transfer pengetahuan dalam bentuk 
studi banding dan penterjemahan teks atau buku-buku teori kritik sastra.Artikel ini dimulai dengan pembahasan mengenai studi kritik sastra yang sejak 
dulu dipahami sebagai sebuah bentuk kerja interpretasi (menjelaskan maksud) 
untuk karya imajinatif (atau karya sastra) ternyata sudah mulai bergeser 
fungsinya dengan tuntutan menjadikan kritik sastra sebagai sebuah bentuk karya 
sastra sekelas dengan seni yang lain. sastra juga dimaksudkan untuk menjelaskan pada masyarakat bahwa karya sastra 
adalah hasil interpretasi pengarang terhadap suatu fenomena sehingga terkadang 
berbeda dan “mengacuhkan” kenyataan yang diakui masyarakat, untuk hal ini karya 
sastra perlu dilindungi karena karya tersebut perlu dipandang terlepas dari 
pengarangnya sebagai konstruksi yang otonom/berdiri sendiri. Krieger juga mengatakan kemungkinan adanya penjelasan kembali atas pengkaburan 
batas antara kesusastraan dan kritik sastra akan semakin sulit dilakukan jika 
pekerjaan-pekerjaan kritik yang ada sekarang hanya “melihat” sesuatu yang tampak 
dipermukaan (cover what only appears) dunia sastra, atau hanya bereaksi pada 
karya-karya yang telah mendapat tanggapan atau komentar sebelumnya. Dengan berpegang pada keunggulan, niscaya pada akhirnya kita 
juga harus meletakkan karya sastra pada kelas yang sama dengan kritik karena 
kritik yang tidak baik dan tidak memiliki keunggulan, pasti berasal dari tidak 
adanya keunggulan kesusastraan dari karya itu sendiri (no literal primacy in 
discourse at all). Yang pertama, ketika karya sastra ternyata hanya sekadar meniru tanpa memberikan 
refleksi lain, kritik sastra dapat dipandang sebagai karya utama karena kritik 
mampu menulis ulang (layaknya karya sastra) sebuah objek dalam terminologi atau 
pengertiannya sendiri (criticism is now have always been rewriting the object in 
the critic’s own terms).Walaupun dalam hal tata bahasa dan pilihan kata dapat dikatakan terlalu rumit, 
secara keseluruhan, tulisan Murray Krieger “Criticism as a Secondary Art” ini 
dapat dikatakan cukup baik dan membantu kita, pembacanya, mengerti bagaimana 
bentuk kritik sastra yang baik, kedudukan kritik sastra yang terus berkembang, 
dan sedikit kilasan perkembangan kritik sastra Amerika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...