Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Rabu, 01 April 2009

POTRET BETAWI DALAM PUISI-PUISI RIDWAN SAIDI

Sastra Betawi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sastra Indonesia, selama ini berada dalam posisi marjinal, terpinggirkan. Padahal, jika kita merunut ke belakang, ke sejarah awal pertumbuhan kesusastraan Indonesia, maka boleh jadi embrio pembentukan sastra Indonesia justru dimulai dari sastra Betawi –kesusastraan Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu—Betawi yang kemudian secara sepihak dikategorikan sebagai bacaan liar.[1] Lihat saja, sebelum golongan peranakan Tionghoa memanfaatkan alat cetak yang mengawali perkenalan dengan majalah da suratkabar berbahasa Melayu,[2] Mohammad Bakir telah merintis pekerjaan mengarang sebagai profesi.[3] Ia menulis—mengarang buku-buku cerita dan meminjamkannya ke masyarakat dengan bayaran tertentu.[4] Rumahnya menjadi tempat penyewaan naskah-naskah koleksinya. Itulah yang kini disebut sebagai taman bacaan.[5]


Sejak berdiri Balai Pustaka dan kemudian menjadi mesin kebudayaan pihak kolonial Belanda, kesusastraan Melayu—Betawi dan kesusastraan Melayu—Tionghoa, tetap saja dianggap berada di luar mainstream. Si Doel Anak Betawi karya Aman Dt Madjoindo (1956) Sastra Betawi dan para pengarang Betawi, seperti nyaris tak terdengar. Bahkan posisi Firman Muntaco yang bercerita tentang kehidupan Betawi dan menggunakan bahasa Betawi, dan SM Ardan yang bercerita tentang dunia Betawi dengan deskripsi bahasa Indonesia, ditempatkan dalam dua kotak yang berbeda: sastra Betawi dan sastra Indonesia.

***

Berbeda dengan yang terjadi pada diri penyair Tuty Alawiyah dan Susy Aminah Aziz yang coba mengungkapkan kegelisahan diri keperempuanannya dalam larik-larik puisi berbahasa Indonesia. Ia tidak dimasukkan sebagai sastrawan Betawi dalam pengertian etnik, melainkan sebagai sastrawan Indonesia. Nama-nama itu juga tenggelam oleh sejumlah nama besar.

Kini, khazanah sastra Indonesia telah mencatat lagi beberapa nama, seperti Zeffry al-Katiri, Yahya Andi Saputra, dan belakangan Ridwan Saidi. Masing-masing dengan caranya sendiri coba menawarkan bentuk estetiknya sendiri. Zeffry al-Katiri seperti coba hendak merekronstruksi—merevitalisasi—mengevaluasi—dan menafsir ulang potret Betawi masa lalu. Dari sana kita dapat menangkap potret masa lalu Betawi dengan inklusivisme masyarakatnya, dengan berbagai keberagamannya. Yahya Andi Saputra, justru tidak melakukan itu. Ia bisa berbicara apa saja seperti penyair lain yang bertebaran.

Ada ciri khas –dan itu penting— yang coba dikedepankan Ridwan Saidi dalam sejumlah puisinya itu yang kemudian menjadi lain sama sekali ketika kita membandingkannya dengan Zeffry dan Yahya, dua penyair yang tadi disebutkan. Ridwan Saidi seperti membiarkan bebas begitu saja kosa-kata Betawi bertebaran di sana—sini.[6] Maka, dengan cara itu, semangat kultural yang mendekam dalam teks sastra, justru terasa lebih pas merepresentasikan semacam potret budaya, potret masyarakat, dan potret penyairnya yang coba melakukan kritik.

Kosa kata Betawi yang bertebaran dalam puisi-puisi Ridwan Saidi, tidak sekadar pamer istilah, tempelan, artifisial, atau hendak menunjukkan diri penyairnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan dunia dan masyarakat Betawi, melainkan justru memantulkan ciri estetik yang erat berkaitan dengan sikap budaya masyarakatnya. Sejak awal, kultur Betawi wujud seperti sebuah hibrida. Ia menerima siapa pun atau apa pun yang dianggap baik, tanpa harus membuang atau mengganggu produk yang ada dan sudah terpelihara. Maka, proses akulturasi dan inkulturasi seperti berlangsung begitu saja, tanpa ketegangan, tanpa friksi.

Dalam konteks itu, Betawi sesungguhnya laksana miniatur Indonesia yang apa pun yang datang dari negeri mana pun, diterima begitu saja dengan suka cita, sejauh dianggap baik dan tak menyentuh persoalan ideologi. Dalam pada itu, mereka juga tidak serta merta membuang yang sudah ada, ketika segala yang baru diterima. Semua diterima, semua dipelihara, dan semuanya mendapat tempat!

Selain persoalan itu, hal lain yang juga penting adalah semangat egalitarian, kelugasan, keikhlasan dan sikap masyarakatnya dalam menghadapi persoalan apa pun. Periksalah puisinya yang berjudul “Robohnya Labuhan Kalapa”. Sebuah kisah sejarah yang menggambarkan perang besar berebut pengaruh dan kekuasaan berbagai kerajaan atau kesultanan di Pulau Jawa. Dan pusat perebutan itu tidak lain adalah Sunda Kelapa. Tidak syak lagi, itu sebuah kisah yang fenomenal, menyejarah dan tidak dapat dibuat main-main. Puisi itu memaksa kita mencari cantelan di luar teks, yaitu peristiwa sejarah. Tetapi apa yang terjadi dalam puisi itu? Periksalah kutipan berikut:

Si Jagur ada tangannya lagi ngepelin
Jeriji empat jempol diselipin

Kayak tangan Bima lambing kejantanan

Kok sekarang jadi kode persetubuhan?


Sebuah wacana besar yang diungkap dalam puisi itu menunjukkan wawasan penyair yang begitu luas, tetapi juga laksana hendak merevitaliasi atau menafsir ulang sejarah masa lalu dalam konteks kekinian.

Puisi yang berjudul “Orang Pula Orang Pesisir” boleh jadi lebih dekat merepresentasikan sikap budaya masyarakat Betawi yang lugas, bebas, tanpa beban, tanpa pretensi, dan terkesan suka-suka. Apa pun masalahnya, berat—ringat, serius atau tidak, dapat disampaikan dengan cara demikian. Dengan begitu kita dapat melihat bahwa puisi Ridwan Saidi itu, tidak sekadar mewartakan sebuah atau serangkaian persoalan yang menimpa masyarakatnya, melainkan juga semangat budaya. Dalam hal ini, puisi (: sastra) selain menjadi dokumen sosial, juga sebagai pantulan sikap dan perilaku masyarakatnya.

Dengan cara demikian pula, kisah-kisah sejarah yang fenomenal (“Robohannya Labihan Kalapa”) atau kepahitgetiran oarng-orang pesisir, dapat disampaikan tanpa beban, lepas bebas, dan suka-suka. Periksa beberapa larik puisi itu yang dikutip berikut ini:

Hidup itu asyik betul

kata kultul

Hidup itu mengaso

kata roko-roko

Hidup itu ngejedok

kata blekok

Hidup itu getir

kata orang pula orang pesisir


Bagaimana sebuah paradoks dibenturkan: manusia dan unggas yang ternyata lebih berbahagia unggas daripada manusia (orang pesisir). Dalam suasana ketercampakan itu, dalam keadaan hidup manusia yang lebih buruk daripada unggas itu, keikhlasan dan menerima segalanya begitu saja adalah hal yang lain lagi.

Saingan di laut kapal keduk kurang ajar

Nelayan negara jiran berjiwa barbar

Tapi rejeki tak ketukar

Ada saja yang bisa dibawa pulang

Ada bini biar pada madang

Nyainya anak-anak kepengen kutang

Yang kelirnya merah kayak putu mayang

Buat simpan uang ada kantongnya sepasanga

Mak pasti girang


Begitulah, betapa pun pahit-getirnya hidup bagi orang pesisir itu, kepasrahan dalam menerima nasib, keyakinan dalam soal pembagian rezeki, menjadikan mereka dapat menjalani kehidupan seperti tanpa beban. Dalam bait itu pun, sesungguhnya tampak pula semangat guyon, becanda dalam suasana apa pun.

Lihat juga puisi berikutnya “Pictograph di Atas Pasir” yang masih tetap memperlihatkan semangat lepas, bebas, lugas, tanpa beban dalam menghadapi kehidupan ini. Maka, apa pun masalahnya, serius atau tidak, kecil atau besar, segalanya bisa saja diperlakukan sambil becanda, guyon.

Si tokoh liris, Musanip bin Bokir, dihadapkan dengan kenyataan hidup yang makin pahit dengan para petinggi negara yang makin tidak peduli pada rakyatnya. Dan ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tak berdaya, tak dapat berbuat apa-apa, kecualimembuat goresan-goresan piktograf: Ini ekspresi Betawi yang sudah menzaman/Kepahitan dan keperihan/hati yang terlaluka oleh keadaan/dan oleh mereka yang berjudi kekuasaan/ Sembari nasib rahayat dipake taruhan/Persis kayak duit gobangan//

Dalam situasi seperti itu, titik kulminasinya adalah sebuah paradoks tentang perlawanan yang sia-sia.

Ha ha ha ha ha ha ha ha ha

Biar lu tau rasah pada

Emang gue tanpa daksa apa

Gak bisa apa-apa uda

Lu sala

Ha ha ha ha ha ha ha ha ha

Batidur rata

Ata dilakiw mutu-mutu jahe

Lu trima nih kiriman gue


Musanip rame amat sih –emang ada apa’an

Mujenah gadis kencur penjaja jagung rebus setampahan

mendekati Musanip yang memandang pasir penuh goresan

Idih apa’an –Mujenah keheranan

Ini pan gambar kontol-kontolan

Mujenah lari blingsatan bahna ketakutan

Sambil jejeritan

Semua pada kesetanan

Musanip yang keorangan

Malah ketawa cekikikan


***

Begitulah, hampir keseluruhan puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Lagu Pesisiran: Puisi-Puisi Betawi karya Ridwan Saidi ini, tidak dapat lain: Betawi banget! Di sana, kita menemukan kosa kata Betawi yang memang pas tempatnya di situ. Kata ngebak dalam puisi “Kali Ciliwung” memang tidak pas benar jika diterjemahkan bermain air, mandi berlama-lama, mandi sambil bermain-main, dan seterusnya. Kata ngebak, khas ungkapan untuk menunjukkan anak-anak yang (suka) bermain di sungai atau kolam berlama-lama. Meski begitu, dalam beberapa hal, kata-kata Betawi atau kata Jawa atau Sunda, Belanda, atau apa pun bisa begitu muncul, semata-mata lantaran tuntutan tema cerita. Di belakang itu, tampak bahwa masyarakat Betawi dapat begitu gampang menerima pengaruh dari mana pun. Ia merepresentasikan inklusivisme, terbuka dalam menerima apa pun, sejauh dianggap baik.


Secara keseluruhan, “Lagu Pesisiran” merupakan potret Betawi –fisik dan psikis—nya. Maka, yang terungkap adalah wilayah-wilayah Betawi yang tegusur, kondisi sosial ekonomi yang termarjinalkan. Sementara yang berkaitan dengan persoalan psikis masyarakat Betawi, terungkaplah, betapa Betawi masih mempunyai harapan, betapapun pahitnya. Maka, selain otokritik tentang Jakarta yang terus kebanjiran, tentang Ciliwung yang kini tak lagi dapat dipakai ngebak atau tentang kisah si Pitung, segalanya seperti sebuah pewartaan kisah Betawi masa lalu dan masa kini.

Terlepas dari persoalan tematik itu, Ridwan Saidi tampaknya hendak menempatkan antologi puisi ini sebagai sebuah saluran besar untuk menumpahkan berbagai kisah tentang Betawi. Ia sekadar berkisah, tanpa beban, lepas, lugas. Justru dengan begitu, kita seperti berhadapan dengan kelakar panjang kisah masyarakat Betawi, seperti dongeng enteng pasosore, orang Sunda. Ada kegetiran dalam kelakar itu, tetapi tokh tetap juga harus dihadapi sebagai sebuah fakta, seperti kehidupan itu sendiri yang harus dijalani mengalir begitu saja. Dan Ridwan Saidi enteng saja berkisah tentang masyarakatnya dari berbagai penjuru. Boleh jadi lantaran ekspresinya yang tanpa beban itu, maka kita bahagia saja menikmatinya, betapapun di situ ada kisah getir dan pahit.

Bagaimanapun juga, jika kita meyakini, bahwa sastra sebagai roh kebudayaan dan di sana ada representasi sikap budaya masyarakatnya, maka antologi puisi ini, sungguh, Betawi banget. Di balik itu, boleh jadi masyarakat Betawi ini pun seperti miniatur masyarakat Indonesia ketika ia menerima dan memperlakukan kultur asing sebagai sesuatu yang baik jika tak menyinggung persoalan idelogi. Jadi, boleh juga antologi ini sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami kultur Indonesia secara keseluruhan. Kiranya begitu!


Bojonggede, 21 September 2008



[1] Periksa Maman S Mahayana, Sembilan Jawaban Sastra Indonesia, Jakarta: Bening Publishing, 2005, terutama pembicaraan mengenai “Sistem penerbitan Sastra Indonesia,” hlm. 323—332, dan “Yang Tercecer dalam Sejarah Sastra Indonesia,” hlm. 389—414.

[2] Cermati Md. Sidin Ahmad Ishak, Penerbitan dan Percetakan Buku Melayu 1807—1960 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1998) dan Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (Jakarta: Hasta Mitra, 2003). Periksa juga Claudine Salmon, Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu (Jakarta: Balai Pustaka, 1985).

[3] Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, tinggal di Kampung Pecenongan Gang Langgar Tinggi, Betawi. Ia penulis produktif, menyalin atau mengarang sendiri. Ada 28-an naskah yang dihasilkan Bakir. Ia kemudian membuat semacam taman bacaan yang menyewakan buku-buku koleksinya. Henri Chambert-Loir mencatat, sedikit ada 70-an judul naskah koleksi Muhammad Bakir. Periksa Henri Chambert-Loir, “Muhammad Bakir: A Batavian Scribe and Author,” Rima, Vol, 18, 1984. Lihat Dewaki Kramadibrata, Hikayat Sempurna Jaya: Cerita Wayang Melayu Kreasi Muhammad Bakir (Jakarta: Program Pascasarjana UI, 1991), tesis tidak dipublikasikan.


[4]Dalam naskah Hikayat Maharaja Gerebeg Jagad, ada kolofon yang menyatakan bahwa naskah itu selesai ditulis pada 29 Rabiul akhir Hijratun—Nabi Sallalahu alayhi wassalam sanat 1310 atau 19 November 1892. Dinyatakan pula, bahwa Bakir sebagai orang miskin yang mempunyai anak—istri. Tidak mempunyai pekerjaan, dan hanya mengharapkan pemasukan uang dari penyewaan hikayat dengan tarif sehari—semalam sebesar 10 sen untuk setiap naskahnya.


[5]Di Jakarta, tempat-tempat penyewaan naskah pada masa itu terdapat di daerah Kerukut, Pecenongan, Kampung Jawa, Kampung Peluit, Kampung Tembora, Sawah Besar, Kampung Sawah Jembatan Lima, dan Tanah Abang. Pemilik naskah lazimnya janda yang mengandalkan penghasilan dari usahanya menyewakan naskah. Nama-nama –pemilik naskah antara lain, Mak Kecil, Mak Tembora, Mak Pungut, Nyonya Sawang, dan Nyonya Rahima.

[6] Langkah Ridwan Saidi tentu saja bukan hal yang baru. Ajip Rosidi, Ayatrohaedi, Dodong Djiwapradja, Ramadhan KH adalah beberapa penyair Sunda yang sangat menyadari ketidakberdayaannya ketika kosa kata bahasa ibunya (Sunda) muncul begitu saja dalam ekspresi kreatifnya. Linus Suryadi dan Darmanto Jatman (Jawa), Zawawi Imron (Madura), atau Taufik Ikram Jamil (Melayu), juga sering kali enteng saja menyelusupkan kosa kata etniknya. Tentu saja penyairnya sendiri sangat menyadari, betapa dalam banyak hal tertentu, bahasa ibunya lebih dapat mewakili unek-uneknya ketika sesuatu hendak diungkapkan dalam bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...