Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 14 April 2009

RELASI BAHASA, KUASA, DAN PENYEMPITAN POLA PIKIR KRITIS MANUSIA: SEBUAH PEMBACAAN ATAS PUISI INVANI

A. Pengantar

April tanggal empat tahun dua ribu delapan, invani menuliskan “sesuatu” yang menyulut rasa ingin tahu saya. Saya tak berani berpreasumsi bahwa yang ditulis invani adalah sebuah puisi, cerpen, apalagi novel dan drama. Maka saya lebih senang menyebutnya dengan kata “sesuatu” saja. judul dari tulisan itu adalah TERALENIASI DENGAN KATA DAN BAHASA. Inilah tulisan tersebut, yang saya kutip dari blog invani.

kulimatahgnarrkdv
nfgbrooabfbj
agdjrtkbjlmd
nyroona?

gsekfooqy
gteootjal
hbdwywildj
mnvays!

mbcwiuhdy
hdgiuqbfklhdfuyguurths
najgsdkyqgggaaLLO
hnsjabdjlaaauu!!

sisogbsjgfalgfur
motwlHDBCkksldrt
nxbgsjka?

nclhhllqqoakjl
mcolfurnslfetroo
ikdhvbugva,mgfs?

khyt!
khyt!
khyt!

ou!

nb: bingung? kalo anda bingung berarti anda telah teralienasi dengan bahasa dan katakata! mari ciptakan bahasa itu sendiri! bahasa yang semenamena! bahasa yang membebaskan imajinasi dan mimpi dan gairah masa muda, yeaaah!!!

pertama sekali, saya menduga tulisan invani adalah sebuah sandi. sandi yang saya sangka dapat saya pecahkan dengan menggunakan rumus yang saya dapat kala ikut pramuka dulu. ternyata tidak segampang itu. saya tak berhasil. maka saya mereka-reka dengan memandangi tuts keyboard. saya pikir saya bisa menemukan jawabannya di sana. mungkin ada peta tertentu yang dapat terbaca dengan membayangkan lompatan-lompatan jari invani di atas papankunci tersebut. ternyata tidak juga. pupus harapan saya. biarlah. kalaupun ini adalah sandi, biarkan dia tak terbaca. karena, setelah membaca notabene yang ditulis di akhir, saya yakin invani hanya ingin menggelitik kita, manusia berbahasa.

B. Bahasa dan Kita

ada, sedikitnya, dua versi nalar tentang hubungan tarik-menarik bahasa dan manusia. dengan memakai konsep absolute-idea yang diutarakan Hegel, orang dapat bersangka bahwa manusia yang mengkonstruksi bahasa. saya paparkan sedikit pemahaman sementara saya tentang konsep ini.

pemikiran Hegel bertitikberat pada konsep “ruh” alias ide absolut yang tempatnya ada di tempurung kepala, di alam pikir manusia. manusia, dengan kemampuan pikirnya, mengkondisikan materi-materi yang hadir di sekeliling manusia. mari maknai materi sebagai “tidak benda semata.” ini karena materi sebenarnya berarti lebih luas dari sekedar “benda”, yang akan tereferensikan maknanya, secara singkat dan rapuh, sebagai benda padat, benda cair, benda gas, benda mati, benda hidup, dan lain sebagainya dalam otak kita. materi yang saya maksud di sini adalah “lingkungan.” lingkungan tempat individu-individu hidup dan berdinamika, juga berdialektika. konsep yang ditawarkan Hegel ini bermakna manusia mempunyai “kuasa” dalam membentuk materi. apa yang terpikirkan manusia kemudian dituangkan ke dalam bangunan lingkungan, lalu menjadi realita. mirip dengan konsep “i think therefore i am”-nya Descartes. hantu tidak akan muncul dalam bentuk materi kalau tidak dipikirkan oleh manusia, begitu kira-kira contoh kecilnya.

demikian juga dengan nasib bahasa. rangkaian fonem (baik bebas maupun tak bebas) yang kemudian terbentuk menjadi morfem, lalu frasa, lalu klausa, lalu kalimat, lalu wacana, kesemuanya itu ada berkat pikiran manusia. pikiran manusialah yang mengkonstruksi bahasa. kosa kata, begitu juga maknanya, tidak akan niscaya kalau tidak diperam dan ditetaskan oleh pemikiran manusia. lihatlah argumen de Saussure yang menyatakan bahwa “bahasa adalah arbiter (semena-mena).” makna tidak muncul dalam kaitannya dengan kata yang menjadi petanda (signifier) dari objek yang diacu, artinya tidak ada hubungan antara fonem k-u-r-s-i, yang membentuk kata nomina “kursi”, dengan bentukan obyek tempat duduk itu.

walau demikian tertinggal sedikit pertanyaan tentang kata yang terbentuk justru dari bunyi yang dimaksudkan. “berkokok”, “mengaum”, “mengeong”, “makgedebuk”, atau ekspresi sejenis “jantungku dag-dig-dug,” kesemuanya terbentuk dari penalaran manusia akan bunyi, yang memaknai objek. ilmu linguistik menyebutnya kata onomatopoeia (maaf mungkin ada kesalahan dalam pengejaan). pun begitu, kita masih dapat mengkritisi kata-bunyi ini. manusia menerjemahkan bunyi yang didengarnya tersebut semampunya dengan menggunakan organ artikulasi yang tersedia. tentunya, bukanlah bunyi “kukuruyuk” yang dilafalkan ayam jantan ketika berkokok kapan saja. ini karena konstruksi organ artikulasi yang dipunya ayam tidak sama dengan manusia. begitu juga dengan bunyi buku jatuh, suara kucing, atau suara anjing. meskipun sempat tersirat wacana bunyi (baca: lingkungan) yang membentuk kata-bunyi (baca: bahasa), tetap saja “kuasa” manusialah yang menerjemahkan bunyi tersebut karena kata itu digunakan untuk kepentingan komunikasi wicara manusia itu sendiri.

“kuasa” manusia atas bahasa dapat pula dilihat dari ceritera alkitab, pada kitab Kejadian, tentang penciptaan dunia dan manusia. digambarkan di situ Adam, yang konon manusia pertama itu, memberi nama binatang dan tumbuhan yang ada di Firdaus. lagi-lagi kemenangan ada pada pihak manusia (baca: pikiran) dan bukan pada materi di sekelilingnya (baca: lingkungan).

pendapat ini seakan-akan mutlak benarnya, apalagi kalau kita bicara tentang masa alpha (mula). secara garis waktu, bila hendak percaya pada kisah penciptaan, maka manusia, melalui pikirannya, membentuk bahasa (terwakilkan lewat nama-nama yang diberi Adam untuk binatang dan tumbuhan itu).

ada kritik terhadap pandangan yang bersumber dari pemikiran Hegel ini, terutama yang mempengaruhi pembentukan bahasa. kaum pascastrukturalis mendebat dengan hebat pendapat lama, yang termaktub dalam Traditional Theories barat. Kaum pascastrukturalis berpendapat bahwa bahasalah yang sebenarnya membentuk manusia. kondisi, melalui perspektif, menentukan pendapat yang terlontar dari pikiran manusia. bahasa “menguasai” kita. dan darinyalah manusia terbentuk. paham tentang ini, menurut saya, ada kaitannya dengan sudut pandang yang dimulai dari titik kronologis waktu yang tidak alpha (mula). ini kontemporer, setidaknya sampai saat ini. keadaan sudah berbalik. manusia mutakhir tidak lagi seperti Adam, yang saat itu masih sendirian. manusia mutakhir, sejak lahir, telah dikurung oleh bombardir semiotika. dan dari tanda-tanda itulah manusia terbentuk. manusia kini mencari referensi tidak lagi dari mutlak dari alam pikirannya sendiri. media telah mendominasi. dari media-media itulah manusia memandang, dan cenderung menerima. lingkungan melontarkan bahasa pada manusia. ingat! bahasa telah tercipta. tidak bermaksud untuk menjadi ahistoris, saya rasa, kini giliran bahasa yang mencipta.

tarik-menarik antara pembentukan bahasa-manusia dan manusia-bahasa saya rasa akan menjadi sangat filosofis kalau hanya terus dibicarakan dalam taraf wacana. yang dapat saya tangkap dari pembacaan saya atas narasi ini, memang benar manusia mutakhir dipengaruhi oleh lingkungannya, dalam konteks ini, bahasa. namun, yang sebenarnya terjadi adalah bahwa manusia dibuat terpengaruh oleh bahasa! lalu siapa yang mengendalikan pergerakan ini? tentu bukan hantu. tapi, manusia lain. seperti yang saya utarakan di atas, media adalah kuda tunggangannya. bahasa ternyata dapat mempengaruhi pola pikir manusia, termasuk sampai pada taraf berpikir kritis. ini karena ada sebuah ikatan yang sangat erat antara isi pikiran manusia dengan cara melafalkan pikiran tersebut. bahasa-bunyi adalah alat komunikasi paling populer, begitu juga bahasa-huruf. kita tahu bahwa kata-kata dapat menjadi sangat liar dalam hal makna. ilmu Pragmatik mempelajari tentang keliaran ini. belum lagi berbicara tentang keliaran-keliaran lain ketika ilmu bahasa telah bersinggungan dengan paham pascakolonialime, misalnya. akan lebih panjang ceritanya.

keliaran kata dalam hal makna sebenarnya bergerak, seringnya, tanpa disadari manusia. kata dapat berarti apa saja, tergantung dengan relasi pembicara dengan pendengar, konteks ruang dan waktu yang menyandingi pengucapannya, ekspresi, raut wajah, nada suara (beserta element suprasegmental lainnya), posisi si pembicara, latar ideologinya, motifnya, budaya, dan masih banyak lagi. lema “mati” dapat berarti apa saja: kondisi setelah habisnya hidup, padam, tak bergerak, tak bereaksi, penjaga pintu neraka, atau bahkan lumpia dan kacang goreng. semua tergantung pada unsur-unsur yang telah saya sebutkan di atas tadi.

orang sering kemudian mencari akar makna pada apa yang disebut sebagai “semantic properties.” nantinya, ini berujung pada konsep makna “universal” yang dikandung sebuah kata. dan konsep itulah varian-varian makna dimunculkan. tapi ini kiranya tidaklah cukup, mengingat ciri liar yang dimiliki bahasa.

kemudian, saya menyadari bahwa yang penting untuk diperhatikan bukanlah masalah “apakah manusia menciptakan bahasa ataukah bahasa menciptakan manusia” karena dialektika “ayam” dan “telur” akan tak pernah habis kita perdebatkan. lagipula, pertayaan seperti itu akan mudah dijawab dengan memilih salah satu atau menerima keduanya.Tapi, yang utama adalah bagaimana pergerakan bahasa dalam konteks hubungannya dengan pembentukan “manusia” dan motif dibalik penggunaan bahasa, oleh “manusia” lainnya, sehubungan dengan pemolaan peta mental spesies homosapien mutakhir. hal ini akan lebih berguna, terutama untuk membaca situasi sekarang, dan sangat relevan juga digunakan untuk membaca tulisan invani, tentang manusia yang teralienasi karena bahasa.

C. Alienasi Manusia oleh Bahasa

mari kita lihat cara invani menuliskan karyanya itu.

tak ada spasi! saya berasumsi, dengan menggunakan nalar gramatikal yang saya miliki, bahwa setiap baris yang ditulis invani mewakili satu kata saja. saya ambilkan satu contoh baitnya:

kulimatahgnarrkdv
nfgbrooabfbj
agdjrtkbjlmd
nyroona?

tak ada tanda titik, hanya tanda koma, lalu tanda tanya, dan tanda seru, yang menutup setiap baitnya. ini saya asumsikan sebagai kata-kata tersebut sebenarnya adalah kalimat karena tanda tanya dan seru digunakan juga untuk menutup kalimat, meskipun kalimat itu digunakan dengan mereduksi kata tanya, atau subyek kalimat (dalam kasus kalimat seru [imperatif]). saya ambilkan dua bait contoh:

nclhhllqqoakjl
mcolfurnslfetroo
ikdhvbugva,mgfs?

khyt!
khyt!
khyt!

invani menggabungkan konsep penulisan huruf kecil dan kapital dalam kata-katanya. ini contohnya:

motwlHDBCkksldrt

saya tak berani memberi makna apa-apa dari tulisan invani karena tak ada referensi makna yang bisa saya temui. ini karena invani belum bersepakat dengan pembacanya tentang makna yang ia maksud dari gugusan alfabet tulisannya itu. nah, satu hal penting muncul: bahwa bahasa membutuhkan kesepakatan makna dari kedua belah pihak (pembicara dan lawan bicara).

sebagai sebuah bahasa yang ia sebut “baru”, bahasa dari tulisan invani hanya akan bermakna, dalam hubungannya dengan dunia di luar “dunia” invani, ketika pembaca telah menyetujui makna-maksud yang ditawarkan invani untuk kosa-kata barunya itu. tapi, dapat juga terbaca bahwa, mungkin, invani menyerahkan pembentukan makna pada pembaca, atau invani sendiri tidak mengetahui makna dari apa yang sebenarnya ia tulis, atau invani memaknai semua tulisannya dengan: “bingung? kalo anda bingung berarti anda telah teralienasi dengan bahasa dan katakata!”

lalu, benarkah tatabahasa dan konvensi makna mengalienasi manusia? atau, benarkah tatabahasa dan konvensi makna hanya sebuah alat bagi manusia untuk mengekspesikan maksud dari nalarnya? apa sebenarnya alienasi itu? bukankah, kalau ditarik ke ruang yang lebih kosmik, manusia itu sendiri telah terpenjara oleh bahasa dan konvensi makna, yang seakan-akan menjadi satu-satunya alat komunikasi?

lagi-lagi saya katakan, pembahasan tentang hal itu “tidak penting”!

invani sendiri sebenarnya telah terpenjara! lihatlah cara ia menulis. bukankah huruf yang digunakannya, beserta tanda bacanya, adalah semuanya Latin? tidakkah seharusnya invani, dengan wacana pembaruan yang ia usung, menciptakan huruf-hurufnya sendiri? lalu bukankah ini juga berarti bahwa ia sendiri telah teralienasi oleh referensi terbatasnya tentang ragam alfabet? tidakkah ini berarti invani telah terpenjara oleh terbatasnya ketersediaan pilihan alfabet pada tuts keyboard yang beredar di indonesia-raya ini (karena di indonesia tak ada keyboard yang berhuruf Kawi atau Palawa, misalnya)? tapi, benarkah ia ter”alienasi”? saya rasa bukan begitu cara membaca tulisan invani.

saya lebih tertarik untuk membahas permasalahan yang lebih transendental dari itu. saya beranggapan bahwa pemikiran tentang alienasi manusia yang disebabkan oleh bahasa itu ada benarnya. saya melihat dari topik tentang relasi antara bahasa, manusia, pemolaan peta mental, dan kekuasaan. Contoh paling baik untuk melihat gejala ini adalah sebuah novel “ramalan” yang ditulis oleh George Orwell, berjudul 1984.

saya sendiri baru teringat akan tulisan invani ini setelah melakukan pembicaraan singkat dengannya. invani mengatakan bahwa ia tertarik untuk meneliti konsep bahasa Newspeak dan Oldspeak dalam kaitannya dengan “power maintenance.”

Newspeak dan Oldspeak adalah dua bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam novel 1984. dua-duanya bahasa Inggris. Newspeak diformulasikan dalam usaha untuk memuluskan sebuah paham yang disebut Sosialismeinggris (disingkat Sosing atau Ingsoc). di situ terlihat sekali pretensi dalam pembentukan kata dan tatabahasa baru oleh pemerintah, yang diikonkan dengan tokoh “Bung Besar.” keliaran kata dijinakkan dengan meminimalisir ambiguitas dan makna multiinterpretatif. penyempitan ruang tatabahasa dilakukan. regularitas diberlakukan. dan kata tak bisa tak berujung pada satu objek saja.

lalu, mari kita lihat efeknya pada peta mental manusia. semua ruang interpretasi telah dirampingkan dan menjadi sangat kurus-kering. bahasa inggris yang mengenal konsep “regular-irregular verbs” kini dikebiri: tak ada yang tak regular. semua bentuk irregular dipancung dan direinkarnasikan ke dalam bentuk regularnya. suffiks -ed dan -d lah yang dipakai untuk menandai kata kerja dengan tenses beda. contohnya, “go” yang seharusnya menjadi “went” (past tense) dan “gone” (perfect tense), dibuat menjadi “goed” saja. perampingan ini tidak hanya berdampak positif (kemudahan mengucapkan dan mempelajari bahasa), lebih lagi, ia berdampak sangat buruk pada pola pikir kritis manusia. manusia akan berpikir lebih ramping karena terbatasnya ketersediaan kosa-kata dan tatabahasa serta pilihan makna. di sinilah letak hubungan pikiran manusia dan bahasa: bahwa manusia mutakhir tak bisa berpikir lebih jauh dari bahasa yang tersedia. dan apa akibatnya pada konsep “power maintenence” tadi? tentunya penguasa akan lebih mudah mengontrol pergerakan mas(s)a.

seperti inilah saya kira konsep alienasi yang dimaksudkan oleh invani (ini pembacaan saya, anda boleh menafsirkan lain). manusia teralienasi karena bahasa mengurungnya. lalu apa yang bisa dilakukan? pendidikan tentunya! pendidikan manusia yang dilakukan secara militan dan tidak “terinstitusi”kan. manusia perlu disadarkan perihal posisi tawar mereka terhadap “dunia.” manusia memiliki hak untuk berpikir kritis dan liar, sama liarnya seperti bahasa. usaha-usaha untuk menggunakan bahasa, lewat cara mengebiri keliarannya, untuk menyempitkan peta pola pikir kritis manusia harus dilawan dengan penyadaran secara tak-kenal-lelah-dan-takut. manusia mutakhir bukan Adam. ingat itu! kita “terlanjur” terlahir pada dunia yang telah “terlanjur” berusia. tak bisa lagi kita terus bernostalgia! alienasi pikiran oleh bahasa adalah hal yang tak mustahil. secara “ajaib” hal ini bisa terjadi. saya sepenuh hati mendukung sorakan invani tentang “bahasa yang membebaskan imajinasi dan mimpi.”

D. Penutup

tulisan ini sebenarnya bukan hanya sebuah pembacaan atas TERALIENASI DENGAN KATA DAN BAHASA karya invani_ik ben een vrijdenker. ini juga merupakan sebuah ajakan bagi invani untuk bekerjasama membaca dan menelaah konsep “alienasi pikir oleh bahasa”, yang referensinya bisa ditemui di novel 1984 karangan George Orwell. Maukah kau menulis denganku, invani?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...