Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 30 April 2009

WAJAH NOVEL-NOVEL LESBIAN DI INDONESIA

Apa yang membuat sebuah buku (fiksi) dianggap sebagai buku yang baik? Tema, gaya bahasa, gaya bercerita, plot? Ada yang bilang bahwa buku fiksi yang bagus harus mengandung unsur drama yang kuat, alur cerita yang menarik, plot dengan sebab-akibat yang jelas, dan penokohan yang hidup. Namun, sefiksinya satu karya fiksi, dia memiliki nilai logika dan kemampuan untuk membangun sebuah realitas.

Realitas seperti apa yang ditampilkan dalam fiksi?

Seorang sahabat mengatakan bahwa sastra menggambarkan realitas yang tak tergambarkan dalam dunia real. Pengarang bisa menciptakan realitas apa pun yang diinginkannya. Saya setuju dengan pendapatnya, dan saya ingin menambahkan sedikit di sini. Sastra yang tercipta dari hasil pengalaman pengarang melihat dunia realitas akan dikembalikan lagi ke masyarakat pembaca yang notabene hidup dalam dunia real. Bagaimana pembaca menerima “realitas” yang ditawarkan sang pengarang adalah tergantung pada kemampuan si pengarang menciptakan suatu “realitas” yang bisa diterima akal sehat pembaca. Sastra adalah gemulai keindahan imajinasi pengarangnya. Pembaca dibuai masuk ke dalam realitas ciptaan, bukan dipaksa masuk dan menerimanya mentah-mentah.

Bagaimana wajah novel-novel bertema lesbian di Indonesia selama ini? Sastra lesbian sebagaimana juga karya fiksi secara umum, tidak lepas dari pedoman kaidah bersastra. Ide cerita, alur, plot, karakter, dipadu dalam narasi, deskripsi, dan dialog yang menjadikannya sebuah karya yang layak dibaca. Novel-novel bertema lesbian tidak bisa hanya menjual ide “lesbianisme” karena itu akan membuat novel atau cerita pendek semacam itu sebagai sekadar pamflet. Karya sastra seharusnya bisa berdiri sendiri lepas dari segala unsur tekanan politis atau misi apa pun. Sastra boleh politis tapi bukan di bawah tekanan politis apa pun. Bahkan mengutip Seno Gumira Ajidarma, sastra mesti berdiri di tonggak depan untuk melawan tekanan itu.

Sastra populer bertema lesbian sendiri sudah ada di Indonesia sejak 25 tahun lalu. Sementara di Amerika Serikat sejumlah novel bertema lesbian yang non-erotis sudah mulai muncul pada tahun 1950-an. Dunia sastra kita memang masih jauh tertinggal dari Amerika Serikat. Sebut saja jumlah judul yang terbit. Di Amerika sekitar 120.000 judul buku terbit setiap tahun. Sementara di Indonesia jumlah buku yang terbit per tahun masih berkisar pada angka ribuan. Kita juga bisa berkaca pada penghargaan terhadap karya yang dihasilkan. Mulai dari yang kelas TOP seperti Nobel, Pulitzer, atau Man Booker Prize, hingga penghargaan kelas Negara seperti ALA atau Orange Prize. Ada pula penghargaan ala entertainment seperti Oprah Book Club atau Richard and Judy Book Club. Penghargaan untuk buku-buku LGBT pun ada beberapa, seperti Stonewall Book Award dan Lambda Literary Award.

Sejumlah buku bertema LGBT hampir setiap tahun pasti menjadi nomine untuk penghargaan di luar penghargaan khusus untuk buku-buku fiksi bertema LGBT. Sebut saja pemenang Man Booker Prize tahun 2004, The Line of Beauty - Alan Hollinghurst. Atau buku-buku karya Sarah Waters yang beberapa kali jadi nomine di Man Booker Prize dan Orange Prize. Atau Fun Home-nya Alison Bechdel yang menjadi buku terpuji dengan mendapat sejumlah penghargaan dan dianggap salah satu buku terbaik tahun 2006 oleh berbagai media.

Di Indonesia sendiri belum ada penghargaan khusus untuk buku-buku fiksi LGBT. Jangankan untuk buku bertema khusus, penghargaan untuk karya-karya fiksi umum saja masih terbatas dari tahun ke tahun. Namun kini beberapa penghargaan makin terdengar gaungnya, di antaranya adalah Adikarya Ikapi, Dewan Kesenian Jakarta, dan Khatulistiwa Award. Karya sastra bertema LGBT dengan sendirinya harus bersaing langsung dengan karya-karya non-LGBT.

Yang membanggakan adalah sejumlah karya sastra bertema lesbian atau dengan tokoh utama lesbian pernah memenangkan penghargaan Adikarya Ikapi dan Dewan Kesenian Jakarta. Juara ketiga Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003, Tabula Rasa, menampilkan tokoh lesbian sebagai salah satu tokoh utama. Tahun 2005, novel dengan kisah cinta lesbian sebagai unsur utama, Jangan Beri Aku Narkoba (Detik Terakhir), memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi sebagai buku remaja terbaik. Saya mendapat bocoran bahwa juri Ikapi memutuskan Jangan Beri Aku Narkoba (Detik Terakhir) sebagai juara pertama adalah keputusan mayoritas, bahkan nyaris keputusan mutlak. Yang menarik lagi adalah, dua novel ini merupakan novel pertama karya sang pengarang. Jadi ketenaran dua pengarang novel tersebut sama sekali tak ada hubungannya dengan kemenangan mereka.

Di balik novel-novel lesbian pemenang penghargaan itu juga bertebaran sejumlah novel lesbian yang dibuat sebatas curhat derita sang lesbian. Selain itu terkadang novel-novel lesbian dipaksakan memiliki nilai politis/budaya tertentu. Ada misi besar yang ingin disampaikan secara berlebihan hingga melupakan kaidah-kaidah kepenulisan fiksi. Misi tersebut mungkin saja maksudnya baik, seperti misi untuk memperjuangkan keberadaan kaum homoseksual agar bisa dianggap “normal”, atau bertujuan agar kaum hetero bisa menerima kaum homoseksual. Tapi saat misi tersebut berteriak lebih keras daripada nilai sastranya, maka pembaca bukannya dibuai masuk ke dalam imajinasi tapi membuat pembaca dipaksa menerima realitas yang ditawarkan oleh sang pengarang. Bagaimana mungkin pengarang bisa menawarkan realitas tanpa nyawa yang sebatas curhat derita lesbian kepada pembacanya?

Dalam karya-karya fiksi (lesbian) sering kali pengarang melupakan kaidah berbahasa yang baik dan benar dan melecehkan kecerdasan pembaca dengan membuat cerita yang tak bisa diterima nalar. Bagaimana bangsa ini bisa bangga dengan ke-Indonesia-annya jika berbahasa dengan benar saja tidak bisa? Saya tidak bicara soal semata-mata kesalahan ketik atau EYD, tapi lebih dari semua itu. Ada hal yang lebih “menakjubkan” dan berbahaya dalam dunia sastra kita, dan satra lesbian pada khususnya. Menakjubkan dalam tanda petik di sini adalah sejumlah karya sastra lesbian itu diterbitkan hanya dengan dasar semata-mata bertema lesbian dan secara sista-sista seharusnya membeli buku itu. Berbahaya karena ini akan jadi bumerang yang menciptakan trauma buat pembaca yang muak oleh realitas yang ditawarkan oleh buku-buku yang dibuat “hanya untuk sista” ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...