Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 26 Mei 2009

SEBUAH PENGANTAR PENELITIAN FILOLOGI BATAK


Judul : Surat Batak, Sejarah Perkembangan Tulisan Batak Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII
Penulis : Uli Kozok
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal : 194 hlm



Melihat judulnya saja, kita dapat dengan mudah menangkap isi yang ada dalam buku ini. Buku yang ditulis oleh Uli Kozok ini merupakan buku referensi bagi mahasiswa yang mengambil program keahlian Sastra Batak pada khususnya dan Sastra Nusantara maupun Sastra Indonesia pada umumnya. Uli Kozok merupakan warga negara Jerman yang mempunyai minat dalam penelitian naskah-naskah Batak. Ia juga pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Sumatra Utara dan mengajar Telaah Naskah Batak serta Sejarah Kebudayaan Sumatra Utara. Uli Kozok telah banyak menulis buku dan makalah-makalah ilmiah seputar sastra dan filologi Batak, salah satunya adalah Kitab Undang-undang Tanjung Tanah, Naskah Melayu yang Tertua.
Sekilas buku ini mirip dengan sebuah modul atau bahan ajar perkuliahan yang dibukukan. Hal ini dapat dilihat dari bab-bab yang ada dalam buku ini. Mulai dari pengantar penelitian filologi, pengenalan bahan pembuatan naskah Batak, pengenalan aksara Batak, tata cara penulisan aksara Batak, pedoman transliterasi naskah Batak, hingga pengenalan aksara Batak yang dapat digunakan pada komputer. Buku ini juga dilengkapi dengan bentuk-bentuk Cap Sisingamangaraja XII.
Buku ini merupakan buku yang ditujukan kepada mahasiswa yang mempelajari naskah dan kebudayaan Batak. Tetapi tidak menutup kemungkinan pengguna buku ini hanya terbatas pada mahasiswa atau para akademisi saja. Buku ini juga dapat digunakan oleh para peneliti naskah dan kebudayaan Batak. Mungkin kesan yang pertama kali didapat setelah membaca buku ini adalah kebingungan. Maklum saja, pemaparan yang dilakukan penulis dalam memaparkan tulisannya hampir kurang lengkap. Sebut saja pada bagian pedoman menulis aksara Batak. Di bagian ini penulis kurang memberikan uraian yang lengkap untuk menulis dan merangkai aksara Batak. Semua ini kembali ke paradigma awal terhadap buku ini, yaitu sebuah modul atau bahan ajar perkuliahan yang dibukukan.
Naskah Batak merupakan salah satu hasil kebudayaan masa lalu yang hingga kini masih menjadi kebanggaan bangsa. Hampir 90% naskah Batak yang diproduksi masyarakat masa lampau, kini tidak berada di Indonesia lagi. Tetapi berada di luar negeri, khususnya di Belanda. Hal ini dapat ditelusuri ke masa saat Indonesia dijajah oleh Belanda. Banyak naskah-naskah dari berbagai wilayah di Indonesia diboyong ke Belanda. Pemboyongan itu tidak begitu saja dan tanpa ada manfaatnya. Pemboyongan itu malah menjadi sebuah titik awal penelitian naskah-naskah kuno di Indonesia. Membaca buku referensi yang berhubungan dengan aksara Batak serta berlatih membaca dan menulis aksara Batak, merupakan hal yang paling utama dalam upaya mempelajari naskah Batak tersebut. Tetapi apakah banyak buku-buku yang memuat bahan untuk dijadikan referensi tersebut? Sebenarnya buku-buku yang memuat masalah-masalah naskah dan pedoman penulisan aksara Batak ini sudah cukup banyak. Tetapi peredaran buku-buku semacam itu masih jarang ditemui di Indonesia. Mungkin hanya beberapa saja dan itu mungkin juga sudah hampir tidak bisa ditemui lagi.
Pada dasarnya buku ini ingin memberikan gambaran mengenai kebudayaan Batak serta naskah-naskah yang diproduksi pada masa lampau. Selain itu, buku ini juga bertujuan untuk mempermudah para peneliti naskah dan kebudayaan Batak dalam memahami dan mentransliterasi naskah-naskah Batak yang ada. Buku ini juga memuat apa saja isi yang biasanya dikandung oleh naskah-naskah Batak. Penjelasan mengenai cara penulisan aksara Batak dan metode transliterasi naskah Batak diuraikan secara singkat. Penulis juga melengkapi dengan cara penulisan aksara Batak di komputer. Sebagai pelengkap, penulis menyertakan sebuah lampiran yang masih mempunyai hubungan dengan pembahasan utama buku ini, yaitu mengenai naskah dan kebudayaan Batak. Penulis melampirkan uraian mengenai Cap Si Singamangaraja XII. Uraian ini berisi penjelasan mengenai jenis-jenis cap Si Singamangaraja XII.
Dalam buku ini, penulis memberikan uraian mengenai dasar-dasar penelitian filologi Batak, seperti inventarisasi naskah Batak dan pengadaan naskah. Penulis juga memberikan penjelasan bagaimana proses pembuatan naskah bambu dan pustaha. Pustaha adalah buku kulit kayu. Penjelasan yang diberikan oleh penulis sebagai pengantar penelitian filologi Batak tidak berhenti sampai di sini. Penulis juga memberikan penjelasan mengenai pustaha dan isinya, seperti cerita, ilmu hitam, ilmu putih, obat, ilmu nujum, dan ilmu-ilmu lainnya.
Sebagai pengantar pada pembahasan aksara Batak, penulis memberikan penjelasan mengenai sejarah dari aksara Batak itu sendiri. Pada bagian berikutnya, penulis mulai menjelaskan pedoman menulis aksara Batak, kemudian metode transliterasi dan terjemahan. Tidak lupa, penulis juga mengenalkan aksara Batak di komputer, seperti aksara Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, dan Mandailing.
Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam pada pembaca, penulis memberikan beberapa latihan transliterasi, terjemahan, dan penulisan aksara Batak, yang disertai dengan kunci jawaban. Sehingga pembaca yang melakukan latihan ini dapat mencocokan jawabannya. Penulis juga memberikan beberapa daftar istilah dalam bidang filologi.
Buku ini penting tidak hanya untuk mahasiswa yang sedang mempelajari sastra Batak, khususnya naskah dan kebudayaan Batak, tetapi juga bagi mereka yang meneliti naskah dan kebudayaan Batak, seperti para peneliti di badan arkeologi maupun kebudayaan yang berorientasi pada kebudayaan Batak. Namun memang, buku ini bisa dikatakan sebagai bahan ajar perkuliahan yang “sengaja” dibukukan. Banyak bagian yang kurang diberi penjelasan secara terperinci dan mendalam. Hal ini yang membuat pembaca menjadi sulit untuk lebih mendalami apa yang disampaikan buku ini tanpa ada referensi lain sebagai bahan penopang buku ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...