Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 02 Juli 2009

ANALISIS SEMIOTIKA CERPEN MEGATRUH KARYA TITON RAHMAWAN (KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES)

Oleh :

Alfian Rokhmansyah 2150407005
Wdiyawati 2150407025
Dewi Rohmiyati 2150407027
Septa Indriawati 2150407028

Program Studi Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang


Menurut Endraswara (2003: 64) struktural semiotik muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem sendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda.

Seperti halnya bahasa, teater dapat menonjolkan atau membuat sesuatu yng aneh, asing, atau lain (make strange) unsur-unsur yang spesifik dari pemangungan sebagai cara untuk menciptakan makna yang lain sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pemberi tanda (Indarti, 2004: 102).

Segala sesuatu yang disajikan kepada penonton dalam kerangka teatrikal adalah tanda. Membaca tanda-tanda (untuk memahaminya) adalah suatu cara yang dapat kita mulai dengan jalan memahami apa saja yang berada di sekitar kita. Misalnya kita ‘membaca’ orang-orang yang kita jumpai di jalan, bagaimana mereka berpakaian, rambut kusut, pakaian yang lusuh, dan sepasang sepatu yang jelek yang menandakan pria kota. Meskipun kita dengan sendirinya akan ‘membaca’ dari apa yang kita lihat tersebut karena pengetahuan kita akan kode-kode pakaian (Barthes dalam Indarti, 2004: 99-100).

Analisis prosa menggunakan pendekatan semiotik sebenarnya hampir sama dengan analisis semiotik puisi, yaitu bertujuan menemukan makna yang terkandung dalam karya sastra. Umumnya analisis semiotik prosa menggunakan teori-teori struktural prosa, salah satunya dengan teori semiotik Roland Barthes. Barthes menggunakan metode analisis lima kode, yaitu kode teka-teki atau hermeneutik, kode konotatif atau semik, kode simbolis, kode aksian, dan kode budaya. Kelima kode ini digunakan untuk menganalisis karya sastra khususnya prosa dengan tujuan untuk menemukan amanat yang terkandung dalam karya tersebut. 

Dalam analisis ini menggunakan objek sebuah cerpen karya Titon Rahmawan yang berjudul Megatruh. Dalam cerpen ini diceritakan seorang anak yang tidak mau tahu dengan orang tuanya karena sudah merasa dibodohi dengan kelakuan orang tuanya. Akhirnya ia tahu jika ayahnya telah meninggal, dan ia mengalami pergulatan batin. Di samping itu dia harus menerima jika ia tidak sedikit pun mendapat warisan harta orang tuanya. Ia hanya diberi sajadah kumal, sarung kumal, dan layang-layang dari kain.

Analisis cerpen Megatruh ini menggunakan teori semiotik yang dicetuskan oleh Roland Barthes, yaitu menggunakan analisis lima kode, yaitu kode hermeneutik, kode konotatif, kode aksian, kode simbolis, dan kode budaya. Dari analisis menggunakan metode lima kode Roland Barthes, dapat disimpulkan mengenai amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini, yaitu:
1. Seorang anak harus patuh kepada orang tua, yang digambarkan dari tokoh Agung yang tidak mau mendengar pesan-pesan keluarganya ketika bapaknya dalam kondisi sakit.
2. Sebaiknya lebih mengutamakan keluarga dari pekerjaan walaupun dituntut untuk lebih profesional. Hal ini terlihat ketika Agung lebih memilih untuk bekerja daripada pulang menjenguk bapaknya yang sedang sakit.
3. Setiap orang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhannya dalam kondisi apapun. Hal inin terlihat ketika Bapak mewariskan sajadah dan sarung kumal kepada Agung yang dapat diartikan walaupun dalam kondisi apapun tetap jangan meninggalkan solat.
4. Janji harus selalu ditepati. Pesan ini diperoleh dari layang-layang yang diberikan kepada Agung. Bapak telah menjanjikan membuatkan layang-layang yang lebih bagus untuk putra Agung, dan Agung tak kunjung datang untuk menemui bapaknya sampai akhirnya bapaknya meninggal.

Daftar Pustaka
1. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
2. Hudayat, Asep Yusup. 2007. Metode Penelitian Sastra. Modul. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran.
3. Indarti, Titik. 2004. Memahami Drama Sebagai Teks Sastra dan Pertunjukan. Surabaya : Unesa University Press
4. Minderop, Albertine. 2005. Metode Karaktertistik Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
5. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 
6. Rahmawan, Titon. 2007. Megatruh. Dalam Kumpulan Cerpen Tembang Bukit Kapur, Cerpen Pilihan Escaeva. Fenty Febriyanti (Ed.). Jakarta: Escaeva. 
7. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
8. Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar, dkk. Jakarta: Djambatan.
9. Van Zoest, Art. 1993. Semiotika : tentang tanda, cara kerjanya dan apa yang kita lakukan dengannya (terjemahan Ani Soekawati). Jakarta : Yayasan Sumber Agung.
 

untuk download file silakan klik di sini


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...