Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 02 Juli 2009

JENIS GAYA DAN FUNGSINYA DALAM CERPEN SAKSI MATA KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (SEBUAH KAJIAN STILISTIKA)

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang

Sastra dengan bahasa merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara sastra dengan bahasa bersifat dialektis (Wellek dan Warren, 1990: 218). Bahasa sebagai sistem tanda primer dan sastra dianggap sebagai sistem tanda sekunder menurut istilah Lotman (dalam Teeuw, 1984: 99). Bahasa sebagai sistem tanda primer membentuk model dunia bagi pemakainya, yakni sebagai model yang pada prinsipnya digunakan untuk mewujudkan konseptual manusia di dalam menafsirkan segala sesuatu baik di dalam maupun di luar dirinya. Selanjutnya, sastra yang menggunakan media bahasa tergantung pada sistem primer yang diadakan oleh bahasa. Dengan kata lain, sebuah karya sastra hanya dapat dipahami melalui bahasa.

Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genre-nya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya. Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu. Dengan sudut pandang demikian dapat dikatakan bahwa sebenarnya ada kekhususan atau keunikan masing-masing pengarang sebagai ciri khasnya yang mungkin merupakan kesengajaan atau invensi pengarang dalam proses kreatifnya (Subroto, 1999: 1). Menurut Aminuddin (1995: 1) gaya merupakan perujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya. Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.

Seno Gumira Ajidarma merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang banyak menghasilkan karya sastra prosa, baik cerpen maupun novel. Beberapa cerpennya yang dimuat dalam beberapa media massa cetak telah dibukukan. Saksi Mata merupakan salah satu cerpen hasil karya Seno Gumira Ajidarma yang telah dibukukan dalam kumpulan cerpen Saksi Mata.

Dalam Saksi Mata, Seno mengajak pembaca untuk lebik peka terhadap situasi dan polemik yang terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru. Bahasa jurnalistik yang diterapkan Seno dalam cerpen ini cukup mudah dipahami. Penggambaran tokoh-tokonya pun simple dan tidak terlalu berlebih seperti cerpen pada umumnya.

Setelah dilakukan pembacaan terhadap cerpen ini, cerpen ini tampaknya menarik untuk diteliti dari sudut stilistika. Hal ini disebabkan gaya yang ada dalam cerpen ini sekilas menujukkan kekhasan gaya bahasa yakni munculnya dominasi gaya penceritaan, penggunaan bahasa yang khas, pemanfaatan diksi, dan munculnya gaya permajasan seperti gaya perumpaman, personifikasi, dan metafora. Selain itu, gaya tersebut dijadikan sarana pembungkus makna sehingga layak dilakukan pembongkaran guna mengetahui makna, efek, dan citraan yang ditimbulkan dari penggunaan gaya tersebut.

Dari analisis yang dilakukan pada cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma dengan menggunakan pendekatan stilistika, diperoleh beberap unsur pembangun dalam cerpen tersebut. Cerpen ini dibangun dengan memanfaatkan beberapa leksikan bahasa Jawa, dialek bahasa Betawi atau bahasa Indonesia gaul, kemudian juga menggunakan beberapa sinonim untuk menggantikan nama tokoh.

Beberapa gaya bahasa berupa majas juga ditemukan pada cerpen ini, antara lain majas repetisi, majas hiperbola, majas simile, majas klimaks, majas sarkasme, majas personifikasi, majas antithesis, dan majas retoris. Gaya bahasa ini mempunyai fungsi masing-masing. Majas yang paling dominan adalah majas hiperbola dan majas sarkasme. Hiperbola dimanfaatkan oleh pengarang untuk menggambarkan aliran darah yang mengalir. Sedangkan majas sarkasme digunakan oleh pengarang untuk menggambarkan tindakan yang dilakukan oleh para intelejen negara terhadap orang-orang yang meresa tidak bersalah.

Cerpen ini mengandung nilai moral yang sangat tinggi. Amanat yang ingin disampaikan oleh Seno adalah bagaimana tidak kekerasan yang dilakukan oleh pihak intelejen atau militer negara terhadap menghadapi kasus-kasus yang ada, seperti insiden Dili 12 November 1991. Cerpen ini juga merupakan penggambaran mengenai insiden Dili tersebut.

Daftar Pustaka

1. Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Saksi Mata. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
2. _______. 2005. Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yogyakarya: Bentang Pustaka.
3. Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
4. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
5. Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
6. Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
7. Pradopo, Rahmat Djoko. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
8. Subroto, D. Edi, dkk. 1999. Telaah Stilistika Novel-Novel Berbahasa Jawa Tahun 1980-an. Jakarta: P3B, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
9. Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.
10. Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita.
11. Syarifudin, Imam. 2006. Diksi dan Majas serta Fungsinya dalam Novel Jangan Beri aku narkoba karya Alberthiene Endah. Skripsi. Semarang: FBS, Unnes.
12. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
13. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
14. Waridah, Ernawati. 2008. EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka.
15. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

untuk download file silakan klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...