Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 02 Juli 2009

JENIS-JENIS RELASI MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Relasi makna terdiri dari:
1. Sinonim atau Sinonimi
Sinonimi atau yang sering disebut dengan sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dan frase duduk perut. Relasi ini bersifat dua arah (Chaer, 2003: 297).
2. Antonim atau Antonimi
Antonimi adalah pasangan kata yang mempunyai arti yang berlawanan. (Alwasilah, 1987: 150). Misalnya, mudah dan sukar; tinggi dan rendah; lebar dan sempit; besar dan kecil. Hubungan ini mempunyai hubungan timbal balik.
3. Homonimi atau Homonim
Homonimi adalah beberapa kata diucapkan persis sama tapi artinya beda (Alwasilah, 1987: 150). Menurut Verhaar (1983: 395), homonim adalah hubungan di antara dua kata atau lebih yang bentuknya sama tetapi maknanya berbeda. Misalnya bisa yang bermakna “mampu” dan bisa yang bermakna “racun”.
4. Hiponimi atau Hiponim
Chaer (2003: 305-306) mengatakan bahwa hoponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misalnya kata merpati dan kata burung. Relasi hiponimi bersifat searah, bukan dua arah, sebab jika merpati berhiponim dengan burung, maka burung bukang berhiponim dengan merpati, melainkan berhipernim.
5. Polisemi
Polisemi adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu atau ganda. Karena kegandaan makna seperti itulah maka pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna kata yang didengar atau dibacanya. Polisemi terjadi karena kecepatan melafalkan kata, faktor gramatikal, faktor leksikal, faktor pengaruh bahasa asing, faktor pemakai bahasa yang ingin menghemat penggunaan kata, dan faktor pada bahasa itu sendiri yang terbuka untuk menerima perubahan baik perubahan bentuk maupun perubahan makna (Pateda, 2001: 213).
6. Ambiguitas
Pateda membagi ambiguitas menjadi 3 menurut tingkatannya, yaitu ambiguitas pada tingkat fonetik, ambiguitas pada tingkat gramatikal, dan ambiguitas pada tingkat leksikal (Pateda, 2001: 202). Ambiguitas pada tingkat fonetik timbul akibat membaurnya bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan. Kadang-kadang karena kata-kata yang membentuk kalimat diujarkan secara cepat, orang menjadi ragu-ragu tentang makna kalimat yang diujarkan. Misalnya, seseorang mengujarkan /kera apa/, apakah yang dimaksud kera apa, atau kerap apa.
7. Idiom
Idiom adalah grup kata-kata yang mempunyai makna tersendiri yang berbeda dari makna tiap kata dalam grup itu. Idiom tidak bisa diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa asing. Idiom adalah persoalan pemakaian bahasa oleh penutur asli, idiom tidak bisa membuat sendiri (Alwasilah, 1987: 150)
8. Redundansi
Istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya kalimat Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika (Chaer, 2003: 310).

Daftar Pustaka
Alwasilah, Chaedar. 1987. Linguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Lyons, John. 1995. Pengantar Teori Linguistik. Diterjemahkan oleh L. Soetikno. Jakarta: Gramedia.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Verhaar, J.W.M. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 
untuk download file silakan klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...