Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Senin, 13 Juli 2009

KAJIAN STRUKTURAL DALAM PUISI “SEMBAHYANG KARANG” KARYA ARINI HIDAJATI

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Tentang puisi pernah muncul berbagai definisi. Definisi puisi yang paling terkenal menyebutkan bahwa puisi itua adalah bentuk karangan yang padat dan terikat dengan syarat-syarat: banyaknya baris dalam setiap baris, dan terdapatnya persamaan bunyi atau rima, baik rima horizontal maupun rima vertical. Definisi tersebut memang tepat benar ketika puisi yang dimaksud dalam bentuk pantun, syair, gurindam, dan sejenisnya. Jelasnya ketika Chairil Anwar belum muncul. Tetapi setelah Chairil Anwar muncul dengan puisi-puisinya yang berbeda jauh dari yang ada pada saat itu, definisi tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Sesungguhnyalah, definisi tak akan pernah mampu dengan pas menyebutkan semua hal yang terdapat di dalam sesuatu yang didefinisikan. Dua kemungkinan pasti akan kita temukan dalam definisi tersebut. Ataukah terlalu sempit sehingga masih ada yang tersisa dari hal yang didefinisikan atau sebaliknya, terlalu luas sehingga mencakupi hal-hal yang tidak seharusnya ada dalam definisi tersebut.

Namun sekadar sebagai pegangan tidak ada jeleknya kita kutip beberapa definisi tentang puisi. Suminto A. Sayuti dalam bukunya Berkenalan dengan Puisi mengatakan bahwa secara sederhana puisi dapat dirumuskan sebagai sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya. (2002: 3-4)

Sementara itu, Rachmat Djoko Pradopo (1990: 7) setelah menyiasati definisi-definisi puisi dari Samuel Taylor Coleridge, Carlyle, Auden, Wordworth, Shelly, dan Shanon Ahmad, menyimpulkan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

Seperti dikatakan, bahwa tak pernah ada definisi yang lengkap atau sempurna. Namun, betapapun definisi tak kurang pentingnya dalam upaya mengetahui hal atau sesuatu yang didefinisikan tersebut. Dari definisi-definisi itu, kita dapat menangkap hal-hal yang esensial yang merupakan karakteristik sesuatu yang didefinisikan. Dengan bekal pengetahuan tersebut, kita dapat membayangkan wujud atau wajah sebenarnya yang didefinisikan itu.


2. Kajian Struktural

Sebelum mengkaji tentang kestruktural puisi, terlebih dahulu dikaji tentang jenis puisi tersebut. Puisi “Sembahyang Karang” karya Arini Hidajati termasuk ke dalam jenis puisi prismatis karena banyak menggunakan kata-kata kias, pelambang-pelambang, atau gaya bahasa.

Untuk memahami jenis puisi ini, tidak terlalu mudah. Pembaca dituntut berpikir agak keras, berupaya untuk menemukan makna dalam lambang-lambang, kiasan-kiasan yang digunakan dalam puisi tersebut. Tidak tertutup kemungkinan maksud yang ditemukan pembaca tidak sama dengan yang dimaksudkan penyairnya. Juga sering terjadi perbedaan penafsiran antara pembaca yang satu dengan yang lain.

Daftar Pustaka

Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suharianto, S. 1981. Pengantar Apresiasi Puisi. Surakarta: Widya Duta.
Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Untuk download file silakan klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...