Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Senin, 13 Juli 2009

PERSPEKTIF FEMINISME PADA TOKOH BU BEI DALAM NOVEL “CANTING” KARYA ARSWENDO ATOMOWILOTO (KAJIAN KRITIK FEMINISME)

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Untuk mengetahui pandangan budaya dalam suatu masyarakat, tidaklah semata-mata didapatkan dari tulisan-tulisan ilmiah saja. Tidak juga harus terjun masuk ke dalam masyarakat yang bersangkutan, tetapi dapat dilakukan dengan cara menggali karya-karya fiksi seperti buku-buku sastra atau novel agar pandangan suatu budaya dapat diketahui.

Tidak hanya hanya itu saja, dari karya sastra banyak sekali terungkap pandangan-pandangan dari suatu kebudayaan tertentu yang hidup di suatu masyarakat pada masa-masa tertentu. Suatu hal yang dapat dimengerti bahwa karya fiksi adalah suatu produk kehidupan yang banyak mengandung nilai-nilai social, politis, etika, religi, dan filosofis. 

Karya sastra adalah salah satu jenis hasil budi daya masyarakat yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihanyati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat dan lingkungannya, ia tak bisa begitu saja melepaskan diri dari masyarakat lingkungannya.

Karya sastra, seperti diakui banyak orang, merupakan suatu bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu yang serba “rutinitas” dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran dan sekaligus menyebabkan pembaca menjadi “terbata-bata” untuk berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel.

Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan. Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah, antara lain, yang menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan sebuah novel, dan untuk keperluan tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil kerja kajian yang dihasilkan. Novel sebagai karya sastra pada dasarnya lahir karena reaksi terhadap keadaan. Secara sosiologis, manusia dan peristiwa dalam novel adalah pantulan realitas yang dicerminkan oleh pengarang dari suatu keadaan dalam masyarakat dan tempat tertentu.

Arswendo adalah seorang penulis yang mempunyai reputasi nasional. Beliau adalah seorang pengarang Indonesia yang berkualitas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Diantaranya adalah penghargaan untuk naskah dramanya yang berjudul Penantang Tuhan (1972). Disamping itu karyanya yang lain berupa novel yang diangkat ke dunia sinetron yaitu novel yang berjudul Vonis Kepagian, Menghitung Hari, dan satu novel yang berlatar belakang jawa yaitu Canting (Atmowiloto 1997: 379).

Objek kajian penulisan ini adalah novel yang berjudul Canting. Alasannya adalah gaya pengungkapan Arswendo Atmowiloto yang secara tidak lansung menuju pada pokok permasalahan, sehingga menimbulkan untuk terus mengikuti aturan cerita selanjutnya. Yang paling utama adalah karena novel Canting karya Arswendo Atmowiloto mempunyai tema yang sangat menarik, yaitu kehidupan seorang wanita yang mengalami pergulatan batin akibat adanya keinginan untuk mempertahankan tradisi budaya Jawa dalam keluarga dan keinginan untuk melepaskan diri dari budaya jawa.  

Gambaran peran dan kedudukan tokoh Bu Bei yang dimunculkan dalam novel Canting, merupakan bukti bahwa dalam novel ini terdapat sikap emansipasi. Arswendo Atmowiloto adalah pengarang yang berhasil membawa para pembaca pada suasana dan peristiwa yang diceritakan lengkap dengan peran dan emansipasi tokoh yang amat memikat sehingga pembaca larut di dalam situasi yang sebenarnya.

Novel Canting karya Arswendo Atmowiloto menceritakan kehidupan sebuah keluarga keturunan bangsawan atau ningrat. Canting adalah alat tradisional dari tembaga untuk membatik dan alat tersebut bagi buruh-buruh batik merupakan nyawa. Setiap saat membatik dalam hidupnya. Canting yang ditiup dengan segenap perasaan dan nafas. Tapi batik yang terbuat dengan canting menjadi terbanting karena munculnya jenis batik yang lain, yaitu jenis printing atau cetak yang hanya memerlukan waktu beberapa kejap saja, bila dibandingkan dengan batik, canting yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk membuatnya. Karena itu, tidak salah bila canting merupakan sebuah symbol budaya yang kalah dan tersisih. 

Manfaat yang akan terasa dari hasil kajian itu adalah apabila pembaca (segera) membaca ulang karya sastra yang dikajinya. Dengan cara ini akan dirasakan adanya pembedaan yaitu ditemukan sesuatu yang baru, yang terdapat dalam karya sastra itu sebagai akibat kekompleksitasan karya yang bersangkutan sehingga sesuatu yang dihadapi baru dapat ditentukan. Dengan demikian, pembaca akan lebih menikmati dan memahami cerita, tema, pesan-pesan, tokoh, gaya bahasa, dan hal-hal lain yang diungkapkan dalam karya yang dikaji (Nurgiyantoro, 1995: 32).

Berdasarkan hal di atas, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti sifat dan perilaku tokoh Bu Bei dari perspektif feminisme kemudian dihubungkan dengan realita kehidupan di alam nyata melalui pendekatan mimetik yang sebelumnya dianalisis dengan pendekatan objektif.

2. Tujuan Penulisan

a.Mendeskripsi perwatakan dari tokoh Bu Bei dalam novel Canting dari perspektif feminisme.
b.Menguraikan koherensi perwatakan tokoh Bu Bei dalam novel Canting dengan realita kehidupan dunia nyata dari perspektif feminisme.
c.Mendeskripsi kritik feminisme perwatakan tokoh Bu Bei dalam novel Canting.

3. Simpulan

Berdasarkan tinjauan dan pembahasan masalah, maka dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut:
1.Bu Bei mempunyai karakter nrima, patuh, sabar serta selalu mementingkan orang lain dari pada kepentingan dirinya sendiri. Dia tidak pernah ngangsa dalam bekerja. Prinsip hidupnya adalah pasrah. Dengan jalan pasrah, Bu Bei bisa mendapatkan kebahagiaan.
2.Koherensi penokohan pada tokoh Bu Bei dalam novel Canting ini menggunakan analisis pendekatan mimetik.
3.Kritik feminis terlihat dari keadaan Bu Bei sebagai seorang wanita yang mengalami pergulatan batin akibat adanya keinginan untuk mempertahankan tradisi budaya Jawa dalam keluarga dan keinginan untuk melepaskan diri dari budaya jawa.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan. 1997. “Domestik ke Publik: Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan”. Dalam Abdullah, Irwan (ed). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.
Adji, S.E. Peni. 2003. Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis. Dalam Jurnal Humanioran Volume XV, No. 1/2003, hlm. 23-28. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Atmowiloto, Arswendo. 1997. Canting. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.
Budianta, Melani. 2002. “Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar”. Dalam Budiman, Kris (Ed.). Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Noor, Redyanto. 1994. Perempuan Idaman Novel Indonesia: Erotik dan Narsistik. Semarang: Bendera.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahayu, Fitriani Nur. 2003. Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto. Skripsi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Saparie, Gunoto. 2005. Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881 (diunduh 20 April 2009).
Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.
Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Altenatif. Yogyakarta: Hanindita.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought : Pengantar paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Diterjemahkan oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta : Jalasutra.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Untuk download file silakan klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...