Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 02 Juli 2009

SUNTINGAN TEKS NASKAH HIKAYAT MERONG MAHAWANGSA (SUATU KAJIAN FILOLOGIS)

SUNTINGAN TEKS NASKAH HIKAYAT MERONG MAHAWANGSA (SUATU KAJIAN FILOLOGIS)

Oleh :
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang

Pengetahuan tentang kebudayaan bangsa pada masa lampau dapat digali melalui peninggalan-peninggalan nenek moyang. Kebudayaan nenek moyang yang sudah ada beberapa abad yang lampau dapat kita ketahui kembali dalam bermacam-macam bentuk peninggalan, antara lain dalam bentuk tulisan yang terdapat pada batu, candi-candi atau peninggalan purbakala yang lain, dan naskah-naskah. Selain itu, ada juga peninggalan yang berbentuk lisan. Naskah sebagai peninggalan kebudayaan merupakan dokumen bangsa yang paling menarik bagi para peneliti kebudayaan lama karena memiliki kelebihan, yaitu dapat memberi informasi yang luas dibandingkan peninggalan yang berbentuk puing bangunan seperti candi, istana raja, dan lain-lain yang tidak dapat berbicara dengan sendirinya tetapi harus ditafsirkan (Soebadio, dalam Baried 1985:86).

Naskah sebagai dokumen tertulis tidak terlepas dari kebudayaan suatu bangsa. Hal ini berarti bahwa isi suatu naskah dapat meliputi semua aspek kehidupan budaya suatu bangsa, dalam arti dapat mencakup bidang-bidang filsafat, kehidupan agama, kepercayaan, dan lain-lain. Naskah juga merupakan dokumen sejarah yang mengandung nilai-nilai budaya masa lampau yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh Nusantara. Naskah-naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) di Jakarta, dan di tempat-tempat penyimpanan naskah yang lain, yakni di museum-museum, lembaga pemerintahan, istana-istana. Selain itu juga masih banyak naskah yang disimpan oleh perorangan yang merupakan warisan nenek moyangnya dan dijadikan sebagai koleksi pribadi.

Naskah kuno biasanya ditulis dengan menggunakan tangan. Naskah tulisan tangan adalah salah satu bentuk warisan kebudayaan Indonesia yang kurang mendapat perhatian dari masyarakat dibandingkan dengan peninggalan-peninggalan klasik lainnya, seperti candi dan prasasti. Hal ini selain karena bentuk tampilan yang kurang menarik, juga disebabkan keberadaannya yang pada umumnya tersimpan di lemari lemari penduduk dan museum, serta sulit mengetahui maknanya tanpa penelaahan.

Salah satu usaha untuk menyelamatkan sekaligus memanfaatkan naskah tersebut adalah dengan mengadakan penelitian. Penelitian terhadap naskah-naskah tersebut membutuhkan perhatian dan keahlian yang khusus. Ilmu khusus yang dapat menelaah naskah tersebut adalah ilmu filologi. 

Filologi dapat diartikan sebagai cinta pada ilmu dengan objek penelitiannya naskah. Tujuan filologi adalah untuk menemukan bentuk asal dan bentuk mula teks dan mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Naskah dapat diartikan sebagai semua bentuk tulisan tangan nenek moyang kita pada kertas, lontar, dan kulit kayu yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau.

Naskah yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah naskah Hikayat Merong Mahawangsa. Manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa berhubungan erat dengan keberadaan negeri Kedah karena dalam hikayat tersebut dituliskan sejarah tentang berdirinya Kesultanan Melayu Kedah. Data dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Hikayat Merong Mahawangsa merupakan sebuah hasil penulisan sejarah tradisional yang menceritakan asal-usul keturunan raja-raja Kedah (Salleh, 1998). Menurut Winstedt (dalam Salleh 1998: viii) hikayat ini ditulis sekitar tahun 1612 M.

Kurang lebih terdapat delapan versi salinan manuskrip ini (Salleh, 1998). Di antara kedelapan manuskrip tersebut, hanya manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa versi R.J. Wilkinson yang banyak beredar di masyarakat maupun yang disimpan di perpustakaan-perpustakaan nasional di berbagai negara.

Manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa menceritakan awal mula sejarah berdirinya negeri Kedah mulai dari dibukanya negeri tersebut oleh Raja Merong Mahawangsa. Garis besar isi yang dipaparkan pada naskah manuskrip versi Wilkinson. Beberapa hal yang diungkap dalam naskah manuskrip ini ialah asal-usul keturunan raja, pembukaan negeri, silsilah raja-raja mulai raja pertama hingga raja terakhir, proses pengislaman raja dan seluruh negeri, dan situasi pada masa penulisan.

Berdasarkan hasil penelitian pada naksah manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa dengan kajian filologi, dapat disimpulkan bahwa manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa versi R.J. Wilkinson saat ini tersimpan di Museum Negeri Kedah, Alor Setar, Malaysia. Manuskrip ini bertuliskan huruf Arab-Melayu dengan hiasan bunga-bunga di bagian pinggirnya. Manuskrip versi ini terdiri dari 113 halaman dengan ukuran 13 cm x 8,4 cm. Menurut Winstedt (dalam Salleh 1998: viii) hikayat ini ditulis sekitar tahun 1612 M. 

Kurang lebih terdapat delapan versi salinan manuskrip ini. Di antara kedelapan manuskrip tersebut, hanya manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa versi R.J. Wilkinson yang banyak beredar di masyarakat maupun yang disimpan di perpustakaan-perpustakaan nasional di berbagai negara. 

Hikayat Merong Mahawangsa dikategorikan ke dalam prosa berbentuk cerita atau sejarah yang diberi judul “hikayat”. Manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa menceritakan awal mula sejarah berdirinya negeri Kedah mulai dari dibukanya negeri tersebut oleh Raja Merong Mahawangsa. Garis besar isi yang dipaparkan di sini merujuk pada manuskrip versi Wilkinson. Beberapa hal yang diungkap dalam manuskrip ini ialah asal-usul keturunan raja, pembukaan negeri, silsilah raja-raja mulai raja pertama hingga raja terakhir, proses pengislaman raja dan seluruh negeri, situasi pada masa penulisan. Hikayat ini berisi lima bab yang masing-masing saling berhubungan antara satu bab dengan bab yang lain.

Peneliti mengajukan saran demi tercapainya sebuah pembaharuan. Adapun saran tersebut adalah penelitian ini hendaknya dapat memberikan dorongan bagi filolog untuk semakin giat melakukan penelitian mengenai naskah, dengan demikian studi filologi terhadap sastra lama sangat besar bantuannya bagi pengembangan kebudayaan di dunia, khususnya kebudayaan Indonesia.

Hasil Suntingan Teks

Hasil suntingan yang telah dipadukan dengan aparat kritik pada halaman 13 naskah manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa adalah sebagai berikut:

/13/ Tidak berapa lama berlayar, kira-kira sehari semalam lagi akan sampai ke pulau Langkapuri. Lalu terlihatlah burung garuda angkatan pelayaran anak raja itu. Lalu dinantikan hari malam. Setelah bahtera Raja Merong Mahawangsa singgah pada suatu pulau untuk mengambil air dan kayu, kemudian garuda itu pun datang seperti angin topan yang amat besar. Ia menyambar dan memukul dengan sayapnya dan menendang kakinya kepada bahtera anak Raja Rom itu, hingga tenggelam seluruh kapal dan keci itu. Orang pun banyak yang mati daripada yang hidup. Mereka bertaburan di sepanjang laut itu. Saat itu anak Raja Rom pun berpegangan pada sebuah papan di dalam laut itu seorang diri.

Hasil suntingan yang telah dipadukan dengan aparat kritik pada halaman 122 naskah manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa adalah sebagai berikut:

/122/ setelah sampai maka naiklah Syekh Abdullah untuk mendapatkan gurunya. Maka Syekh Abdullah pun terkejut, katanya, “Dimana selama ini tuan mendiamkan diri? Sangat lama hamba tidak bertemu dengan tuan. Maka kata tuan Syekh Abdullah, “Bukankah hamba datang menghadap kadam meminta tolong tuan untuk memohonkan kepada Allah Ta’ala, meminta mempertemukan hamba dengan setan dan iblis, karena hamba hendak mencaritahu dan belajar segala perbuatannya. Maka tuan menyuruh hamba pergi ke tengah padang besar di bawah pohon kayu untuk duduk. Maka hamba pun pergi duduk di bawah pohon kayu itu. Maka dengan pertolongan Allah subhanahu wa taala dan berkat doa tuan yang dikabulkan Allah Ta’ala kepada hambanya, dan yang disampaikan pula seperti keinginan hamba, maka datanglah penghulu setan memberi salam pada hamba. Lalu hamba pun menyahut salamnya. Maka ia bertanya kepada hamba apakah tujuan hamba hendak berjumpa dengan dia. Lalu hamba

Daftar Pustaka

Anonim. 2007. Bahasa Arab dalam Kesusateraan Melayu Klasik: Catatan dari Beberapa Hikayat Klasik. http://www melayuonline.com diakses 18 Juni 2009. 
_______. tt. Koleksi Manuskrip Melayu: Hikayat Merong Mahawangsa. www.ftsm.ukm.my/irpa/ea0036/Arkib/Sal-mustakim/SAlmustakim.htm Diakses tanggal 12 Juni 2009.
_______. tt. Manuskrip Hikayat Merong Mahawangsa. http://melayuonline.com/history/?a=TnN1L29QTS9VenVwRnRCb20%3D%3D&l=manuskrip-hikayat-merong-mahawangsa&lang=English diakses 12 Juni 2009.
Baried, dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi.. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Dipodjojo, Asdi. 1996. Memperkirakan Titi Mangsa Suatu Naskah. Yogyakarta: Penerbit Lukman Ofset Yogyakarta.
Djamaris, Edwar. 1990. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). Jakarta: Balai Pustaka. 
Djamaris, Edwar. 1991. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 
Fang, Liaw Yock. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik II. Jakarta: Erlangga.
Firdausi, Naim. 2007. Nama Tempat. http://www.mykedah.org diakses 19 Juni 2009.
Lubis, Nabilah. 2001. Naskah Teks dan Metodologi Penelitian Filologi. Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia. 
Robson. 1994. Prinsip-Prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL. 
Romdoni. 2004. Pedoman Membaca Arab Melayu. Jakarta : PT Intermedia Cipta Nusantara.
Rujiati, Sri Wulan. 1994. Kodikologi Melayu di Indonesia. Depok: FSUI. 
Salleh, Siti Hawa. 1991. Hikayat Merong Mahawangsa. Malaysia: University of Malaya. http://www.mcp.anu.edu.au/N/MW_bib.html diakses 15 Juni 2009.
_______. 1998. Hikayat Merong Mahawangsa. Kuala Lumpur, Malaysia: Yayasan Karyawan dan Penerbit Universiti Malaya.
_______. tt. Hikayat Merong Mahawangsa: Antara Mitos dan Realiti. http://www.mykedah2.com/10heritage/111_2.html diakses 20 Juni 2009.
Sangidu. 2004. Naskah-naskah Melayu Karya Hamzah Fansuri: Kajian Filologis. Yogyakarta: UGM Press. 
Sudardi, Bani. 2001. Dasar-dasar Teori Filologi. Surakarta: Penerbit Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret.
Sudjiman, Panuti. 1995. Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. 
Usman, Zuber. 1954. Kesusastraan Lama Indonesia. Djakarta: Gunung Agung.
Yusof, Wan Shamsudin Mohd. 2008. Manuskrip Melayu: Satu Tinjauan Khusus Mengenai Perkembangan di Kedah. http://www.kedah.gov diakses 12 Juni 2009.



untuk download file klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...