Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 01 Desember 2009

ANALISIS STRATA NORMA DAN SEMIOTIK DALAM PUISI ASMARADANA KARYA GOENAWAN MUHAMAD

ANALISIS STRATA NORMA DAN SEMIOTIK DALAM PUISI ASMARADANA KARYA GOENAWAN MUHAMAD


disusun untuk memenuhi tugas tengah semester mata kuliah Pengkajian Puisi (lanjut) dosen pengampu Dr. Agus Nuryatin, M. Hum. dan Maharani Intan Andalas, S.S.

Oleh : ALFIAN ROKHMANSYAH

2150407005/Sastra Indonesia S-1/Univ. Negeri Semarang


ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena

angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika

langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara

mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,

perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi

pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan

mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani

lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,

kulupakan wajahmu.

1971 Goenawan Muhamad

(Asmaradana, 1992: 44)

1. PENDAHULUAN

Menurut Wellek (dalam Baribin, 2004: 31), karya sastra adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Setiap pengalaman sebenarnya merupakan usaha menangkap rangkaian norma dalam karya sastra.

Pradopo (dalam Suharianto, 2005: 8) mengatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif.

Puisi merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks.

Perkembangan bentuk dan isi puisi-puisi tersebut tidak terlepas dari teks-teks atau karya lain. Ada berbagai cara yang dilakukan pengarang dalam mencari sumber penciptaan baik yang disadari secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, pengarang mengambil mitos, cerita wayang, legenda, kisah-kisah nabi, dll. Sebagai sumber rujukan penciptaan. Artinya, karya tidak merupakan hal yang berdiri sendiri, tetapi sepenuhnya bergantung pada teks-teks yang berada di sekitarnya.

Dalam analisis ini, digunakan puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad yang termuat dalam kumpulan puisinya Asmaradana (1992). Puisi ini pertama kali muncul pada majalah Horison tahun 1970-an. Kemudian termuat ulang dalam tiga kumpulan puisi Goenawan Muhamad, yaitu Interlude (1974), Asmaradana (1992), dan Puisi-puisi Lengkap Goenawan Muhamad (2001).

Tema puisi-puisi Goenawan cukup beragam, misalnya menyoal politik, agama, ekonomi, kekuasaan, cinta, perempuan, Tuhan, ibu, dan kekerasan. Yang menarik adalah dalam berkarya Goenawan pun menggunakan peristiwa-peristiwa yang ada dalam legenda atau mitos-mitos klasik. Tema-tema di atas diambil dari beberapa tokoh mitos dan diolah kembali menjadi puisi. Keberagaman tema ini tidak terlepas dari ketertarikannya dan penguasaannya terhadap berbagai persoalan yang ada juga penguasaannya terhadap berbagai pengetahuan baik yang berupa fiksi maupun non-fiksi.

Fenomena wayang dan mitos yang digunakan Goenawan dalam puisinya cukup banyak. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena selain ditafsirkan berbeda dari pakem, juga kekuatan estetiknya sangat kuat. Metafor-metafornya yang orisinal sangat khas dan selalu hampir penuh kejutan, mengandung musikalitas yang rata-rata merdu, dan kuat dalam membangun suasana dalam mengemban gagasan tema. Hal ini telah memberi pengaruh yang cukup besar pada penyair generasi berikutnya. Karena itu, dalam kesempatan ini, penulis memilih puisi-puisi yang mengandung kisah wayang dan mitos. Pemilihan terhadap puisi-puisi ini salah satunya karena didasari oleh ketertarikan atas pendapat Goenawan di atas bahwa wayang telah memberi suatu “dunia penghayatan yang tidak berbentuk”, yang justru sangat terbuka untuk dibentuknya sendiri.

Dalam penentuan makna sebuah puisi dapat dilakukan menggunakan dua cara, yaitu analisis strata norma dan analisis semiotik. Roman Ingarden (dalam Wellek, 1989: 186-187) menyebutkan strata norma dalam karya sastra antara lain: lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis dunia yang dilihat dari suatu titik pandang tertentu, dan lapis metafisika.

Wellek (dalam Pradopo, 1990: 15) mengemukakan analisis strata norma menurut Roman Ingarden sebagai berikut:

1. Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Suara sebagai konvensi bahasa, disusun sedemikian rupa hingga menimbulkan arti. Sehingga suara itu tidak hanya sekadar suara tidak berarti. Dengan adanya suara-suara itu, akan bisa ditangkap artinya atau maksud dari puisi tersebut.

2. Lapis arti (unit of meaning), yaitu berupa rangkauan fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya merupakan satuan-satuan arti.

3. Lapis yang berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.

4. Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkadung dalamnya (implied).

5. Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan suci. Melalui sifat-sifat seni ini dapat memberikan renungan atau kontemplasi kepada pembaca.

Strata norma dari Roman Ingerden ini diterapkan pada saat melakukan analisis dan interpretasi pada puisi yang diteliti. Karena biasanya analisis dan interpretasi puisi dilakukan secara bersamaan.

Penentuan makna puisi secara semiotik merupakan penerapan teori semiotik dari Pierce dan Saussure. Penerapan ini dilakukan oleh Riffatere yang tergambar dalam bukunya Semiotic of Poetry. Penentuan makna secara semiotik dilakukan dengan menggunakan dua pembacaan yaitu pembacaan heruistik dan hermenuetik. Teori semiotik Riffatere dapat dimasukkan ke dalam pembacaan hermenuetik karena telah mengalami pemaknaan mendalam.

2. PENUTUP

Puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad menceritakan mengenai perpisahan antara Anjasmara dan Damar Wulan. Tokoh ia atau aku lirik menggantikan tokoh Damar Wulan yang ada dalam suasana kebimbangan. Damar Wulan dengan berat hati menerima tugas mulia sebagai panglima perang melawan Minak Jingga. Ia telah membaca peta nasibnya dan telah pula mengukur kemampuannya melawan Minak Jingga. Hanya satu kata yaitu kematian yang akan didapatkannya karena Minak Jingga memiliki pusaka sakti. Oleh karena itu, ketika Anjasmara terlena atau tidur dalam pangkuannya, Damar Wulan perlahan-lahan pergi melangkah meninggalkan sang kekasih. Sebelum meninggalkan kekasihnya itu, Damar Wulan mengucap dalam hati salam perpisahan terhadap Anjasmara.

Dari kedua analisis di atas, yaitu menggunakan analisis strata norma Roman Ingarden dan semiotik puisi Riffatere, diperoleh pemahaman mengenai puisi Asmaradana karya Goenawan Muhamad. Asmaradana berarti perasaan asmara atau cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat Tuhan. Kata asmaradana sebagaimana tembang macapat Jawa, merupakan tembang yang ditujukan bagi anak remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan.

Isi puisi ini menggambarkan bagaimana keikhlasan seorang istri untuk melepas kepergian suaminya yang pasti tidak akan ia jumpai lagi. Jika peperangan yang dilakukan suaminya mengalami kekalahan, maka suaminya akan mati. Sedangkan jika peperangan itu dimenangkan oleh suaminya, maka ia harus rela melihat suaminya menikah dengan perempuan lain dan menjadi bagian dari kerajaan Majapahit. Puisi ini mengandung pesan bahwa sepasang suami istri tidak akan bersatu untuk selamanya, seorang suami tidak akan selamanya mendampingi istrinya.

Puisi Asmaradana karya Goenawan tersebut menunjukkan adanya aktivitas dan kreativitas penyairnya untuk menggubah karya seni yang bermutu. Aktivitas dan kreativitas Goenawan tersebut dapat sebagai upaya penyelamatan warisan budaya bangsa yang semakin mengukuhkan keberadaan mitos Anjasmara dan Damar Wulan. Selain itu, upaya Goenawan juga membuktikan bahwa di era globalisasi dan teknologi seperti sekarang ini, ia masih mempunyai wawasan tradisional.

Dalam sebuah transformasi, baik sastra maupun budaya, terdapat kesinambungan dan penyimpangan dari tradisi budaya sastra sebelumnya. Bentuk kesinambungan dari tradisi itu dapat berupa pengukuhan jatidiri mitos yang tidak ada. Goenawan dalam puisi Asmaradana mempunyai visi untuk mengukuhkan keberadaan mitos yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKA

1. Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.

2. _______. 2004. “Kritik Sastra I”. Paparan Kuliah. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

3. Casirerr, Ernest. 1987. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia. Jakarta: Gramedia.

4. Edraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.

5. http://kotasolo.info/indek.php?option=com_content&task=view&id=750&Itemid=58

6. Mohamad, Goenawan. 1992. Asmaradana. Jakarta: Grasindo.

7. _______. 2001. Sajak-sajak Lengkap 1961—2001. Jakarta: Metafor Publising.

8. _______. 2004. Goenawan Mohamad: Selected Poems. Jakarta: Ikrar Mandiriabadi.

9. Mugijatna. 2008. “Teori Semiotika Puisi Reffaterre dan Ideologi Penyair”. Artikel Konferensi Internasional Kesusastraan XIX. Malang: Batu.

10. Nuryatin, Agus. 2006. “Teori Sastra 1”. Modul Perkuliahan. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

11. Pendit, Nyoman S. 2005. Bharatayudha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

12. _______. 2005. Mahabharata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

13. _______. 2006. Ramayana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

14. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

15. _______. 1990. Pengkajian Puisi.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

16. _______. 2003. Prinsif-prinsif Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

17. Prastyo, Arif Bagus. 2005. Epifenomenon. Jakarta: Grasindo.

18. Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

19. Reffaterre, M. 1978. Semiotics of Poetry. Great Britain: Spottiswoode Ballantyne.

20. Ricoeur, Paul. Hermeneutika Ilmu Sosial (terjemahan oleh Muhamad Syukri). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

21. S. Hall, Calvin dan Lindzey, Gardner. 1993. Teori-teori Psikodinamik (Klinis)(terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.

22. Santoso, Agus Budi. 2007. “Teori Sastra”. Modul. Malang: IKIP PGRI Malang.

23. Setia, Beni. 2003. Subordinasi Wanita dalam “Damar Wulan”. Swara.

24. Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

25. Suroso, dkk. 2009. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera.

26. Suyoto, Agustinus. 2007. “Dasar-dasar Analisis Puisi”. Bahan Ajar. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2 Yogyakarta.

27. Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.

28. _______. 1987. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

29. Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

30. Wolf, Naomi. 2004. Mitos Kecantikan (terjemahan). Yogyakarta: Niagara.

31. Zoest, Aart van. 1991. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.

32. _______. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Diterjemahkan oleh Ani Soekowati. Jakarta: Yayasan.

33. Zoetmulder, P.J. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Untuk download hasil analisis ini, silakan klik di sini untuk mendownload file

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...