Cari di sini

Memuat...
PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 01 Desember 2009

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN HUBUNGAN ANTARUNSUR DALAM NOVEL LELAKI TERINDAH KARYA ANDREI AKSANA

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN HUBUNGAN ANTARUNSUR DALAM NOVEL LELAKI TERINDAH KARYA ANDREI AKSANA


disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengkajian Sastra Populer dosen pengampu Sumartini, S.S., M.A.


Oleh:

ALFIAN ROKHMANSYAH

2150407005/Sastra Indonesia S-1/Univ. Negeri Semarang


A. Pendahuluan


Dalam penelitian karya sastra, analisis atau pendekatan obyektif terhadap unsur-unsur intrinsik atau struktur karya sastra merupakan tahap awal untuk meneliti karya sastra sebelum memasuki penelitian lebih lanjut (Damono, 1984: 2). Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik, yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam.


Pendekatan struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984: 135). Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaiatan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna.


Mengenai struktur, Wellek dan Warren (1992: 56) memberi batasan bahwa struktur pengertiannya dimasukkan kedalam isi dan bentuk, sejauh keduanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan estetik. Jadi struktur karya sastra fiksi itu terdiri dari bentuk dan isi. Menurut Jan Van Luxemburg (1986: 38) struktur yang dimaksudkan, mengandung pengertian relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara keseluruhannya. Struktur karya sastra fiksi terdiri atas unsur unsur alur, penokohan, tema, latar dan amanat sebagai unsur yang paling menunjang dan paling dominan dalam membangun karya sastra fiksi (Sumardjo, 1997: 54).


Dalam sejarah sastra Indonesia, karya sastra dapat dikelompokan menjadi karya sastra serius dan karya sastra populer. Menurut Kayam (1981: 88) sastra populer adalah perekam kehidupan, dan tidak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan. Ia menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah menceritakan pengalaman-pengalamannya itu. Sastra populer yang baik akan mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya.


Analisis struktural pada karya sastra populer biasanya ditujukan pada prosa fiksi populer yang banyak diminati oleh pembaca. Dalam analisis ini digunakan novel Lelaki Terindah yang merupakan novel populer. Novel ini selanjutnya akan dianalisis berdasarkan unsur pembangunnya, yaitu tema, amanat, alur, latar, tokoh penokohan, gaya bahasa, dan sudut pandang.


B. Analisis Unsur Intrinsik dalam Novel


Novel Lelaki Terindah ini merupakan novel yang dibilang cukup unik. Pengarang sengaja memasukkan dirinya sebagai tokoh dalam novel. pengarang masuk sebagai tokoh pengantar yang bertemu dengan tokoh utama, Rafky, yang ingin ceritanya di tulis oleh tokoh pengarang.


Pembagian bab-bab dalam novel ini tidak begitu jelas. Tetapi akan mudah dipahami karena cerita antara Rafky dan tokoh pengarang akan mengawali setiap bab yang ada dalam novel. Cerita ini akan menjadi prolog yang mengantarkan pembaca untuk masuk ke dalam setiap bab yang mengikutinya.


Keunikan lain novel ini adalah pemanfaatan puisi yang ditulis oleh pengarang untuk mempertegas keadaan diri tokoh atau suasana dalam cerita. Penulisan puisi dalam novel ini akan membantu pembaca dalam memahami isi cerita yang sedang berlangsung, karena puisi tidak ditulis dengan kata-kata yang sukar dimengerti


C. Penutup


Dari hasil analisis di atas, unsur intrinsik yang paling menonjol adalah tokoh penokohan dan latar. Dua unsur ini yang merupakan kunci utama dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana.


Tokoh dan penokohan mempunyai ciri sendiri. Konflik-konflik yang terjadi antartokoh atau dalam diri tokoh dijelaskan secara lengkap oleh pengarang. Dalam hal pemaparan latar, pengarang mempunyai pengalaman mengenai lokasi-lokasi yang ada di Thailand, sehingga pembaca dapat merasakan kondisi sosial, budaya, maupun masyarakat yang ada di Thailand. Selain itu, pengarang juga memberikan pandangan mengenai kondisi masyarakat Indonesia yang belum bisa menerima kaum homoseksual.


DAFTAR PUSTAKA

1. Aksana, Andrei. 2007. Lelaki Terindah. Jakarta: Gramedia.

2. Damono, Sapardi Joko. 1984. Kesusastraan Indonesia Modern : Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia.

3. Esten, Mursal. 1990. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.

4. Luxemburg, Jan Van, Meikel Basl, Willem G Westeijn. 1986. Pengantar Ilmu Sastra (terj. Dick Hartoko), Jakarta: Gramedia.

5. Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta.: Gajah Mada University Press.

6. Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta: Angkasa raya

7. Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

8. -------. 1996. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

9. Satoto, Soediro. 1993. Metode Penelitian Sastra. Surakarta: UNS Press.

10. Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Diterjemahkan oleh Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

11. Sumardjo, Jakop dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia.

12. Teeuw, A. 1984. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

13. -------. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Gramedia.

14. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1994. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani Budianta) Jakarta: Gramedia.




Untuk download hasil analisis ini, silakan klik di sini untuk mendownload file


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...