Cari di sini

Memuat...
PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 01 Desember 2009

PERSPEKTIF FEMINISME DALAM NOVEL LAYAR TERKEMBANG KARYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA: KAJIAN FEMINISME

PERSPEKTIF FEMINISME DALAM NOVEL LAYAR TERKEMBANG KARYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA: KAJIAN FEMINISME


disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengkajian Prosa (Lanjut) dosen pengampu Dra. L. M. Budiyati, M. Pd.


Oleh :

Alfian Rokhmansyah 2150407005

Laili Ernawati 2150407018

Widiyawati 2150407025

Septa Indriawati 2150407005


Sastra Indonesia S-1/Univ. Negeri Semarang


A. PENDAHULUAN


Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan. Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah, antara lain, yang menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan sebuah novel, dan untuk keperluan tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil kerja kajian yang dihasilkan.


Layar Terkembang merupakan salah satu karya masa Balai Pustaka yang terkenal. Novel ini mengusung feminisme yang jarang ditemui di masa lalu. Feminisme dalam novel ini baru terungkap setelah muncul novel Belenggu yang muncul beberapa tahun kemudian dan ditolak oleh Balai Pustaka.


Dalam novel ini diceritakan kisah cinta segitiga antara dua perempuan yang merupakan saudara kandung dengan seorang pria. Tuti dan Maria merupakan dua tokoh kakak beradik yang rukun walapun Tuti tahu saudaranya suka dengan pria yang ia cintai. Akhirnya Tuti mengalah dan mengikhlaskan Yusuf pada Maria.


Maria mempunyai penyakin yang mengakibatkan ia meningga. Tetapi Maria sempat berpesan jika Tuti harus menjaga Yusuf. Akhirnya sepeninggal Maria, Yusuf menikah dengan Tuti.


B. TEORI FEMINISME


Feminisme menurut Goefe (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2002:18) adalah teori tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di segala bidang. Suatu kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan perempuan. Hal ini disebabkan perempuan selalu mengalami ketimpangan gender selama ini.


Feminisme berupaya menggali identitas perempuan yang selama ini tertutupi hegemoni patriarkat. Identitas diperlukan sebagai dasar pergerakan memperjuangkan kesamaan hak dan membongkar akar dari segala ketertindasan perempuan. Tujuan feminis adalah mengakhiri dominasi laki-laki dengan cara menghancurkan struktur budaya, segala hukum dan aturan-aturan yang menempatkan perempuan sebagai korban yang tidak tampak dan tidak berharga. Hal ini diterima perempuan sebagai marginalisasi, subordinasi, stereotipe, dan kekerasan.


Menurut Fakih (2003:99-100) feminisme berangkat dari asumsi bahwa perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi. Feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem yang dahulu tidak adil menuju ke sistem yang lebih adil bagi kedua jenis kelamin. Hakikat feminisme adalah gerakan transformasi sosial. Puncak cita-cita feminis adalah menciptakan sebuah tatanan baru yang lebih baik dan lebih adil untuk laki-laki dan perempuan.


Menurut Eisenstein (dalam Fakih, 2003:92-93) ketidakadilan yang dialami perempuan bukan karena perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi lebih karena penilaian dan anggapan. Ketidakadilan terhadap perempuan terjadi karena konstruksi sosial di masyarakat. Sebagai sebuah konstruksi, sistem itu bisa dibongkar dengan cara merumuskan nilai-nilai yang mengatur kedudukan pada satu gender yang berlaku untuk setiap jenis kelamin. Lebih utamanya adalah membangun suatu budaya perempuan dan laki-laki , dalam arti sebuah budaya yang sama-sama menghargai kedua jenis kelamin. Penghargaan terhadap kedua jenis kelamin tersebut belum ada, dan mau tidak mau harus dilakukan untuk mewujudkannya.


Dalam kajian terhadap perempuan konsep utama yang harus dipahami adalah perbedaan antara seks dan gender. Gender dan seks merupakan sebuah konsep yang berbeda. Pembedaan konsep itu diperlukan guna memahami ketidakadilan sistem sosial. Hal ini disebabkan masih banyak kesalahan dengan apa yang dimaksud dengan gender dan seks (Fakih, 2003:7).


Menurut Fakih (2003:8-9) gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Konstruksi ini melalui jalan yang panjang dan melalui proses sosialisasi yang secara perlahan melekat pada jenis kelamin tertentu. Pelekatan ini dipelajari dari lingkungan sekitar seperti, orang tua, sekolah, budaya, kepercayaan, pendidikan dan sebagainya. Laki-laki dianggap sebagai makluk yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sementara perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Sifat dan ciri yang dimiliki jenis kelamin itu sebenarnya dapat dipertukarkan. Hal ini karena ciri dan sifat itu merupakan hasil konstruksi masyarakat. Sifat dan ciri yang melekat sangat dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya masyarakat di dalamnya, serta perubahan zaman yang terjadi. Pemberian sifat pada tiap-tiap jenis kelamin ini menimbulkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Hal ini karena ada anggapan perempuan membutuhkan perlindungan laki-laki.


Perbedaan gender tidak akan menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Akan tetapi, yang terjadi perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan gender terutama kepada perempuan. Manifestasi ketidakadilan gender terjadi dalam berbagai bentuk, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Fakih, 2003:12).


Perbedaan gender ini juga telah melahirkan budaya patriarkat. Patriarkat diartikan sebagai kekuasaan yang dimiliki oleh ayah atau laki-laki. Konstruksi sosial kekuasaan laki-laki dalam keluarga berkaitan dengan seluruh penguasaan anggota keluarga, sumber ekonomi, pengambil keputusan, pembuat peraturan dan lainnya. Dapat dikatakan, patriarkat adalah sebuah sistem yang meletakkan kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Sistem ini pada akhirnya menjadi sebuah ideologi dalam masyarakat bahwa perempuan adalah milik laki-laki sehingga setiap gerak langkah perempuan tidak boleh melebihi yang memilikinya. Hal ini membuat segala nilai sosial yang ada harus disesuaikan menurut pandangan dan kepentingan laki-laki. Sistem seperti inilah yang membuat perempuan dirugikan baik dalam politik, ekonomi, maupun budaya.


C. PENUTUP


Feminisme berupaya menggali identitas perempuan yang selama ini tertutupi hegemoni patriarkat. Identitas diperlukan sebagai dasar pergerakan memperjuangkan kesamaan hak dan membongkar akar dari segala ketertindasan perempuan. Tujuan feminis adalah mengakhiri dominasi laki-laki dengan cara menghancurkan struktur budaya, segala hukum dan aturan-aturan yang menempatkan perempuan sebagai korban yang tidak tampak dan tidak berharga. Hal ini diterima perempuan sebagai marginalisasi, subordinasi, stereotipe, dan kekerasan.


Dalam novel Layar Terkembang diceritakan kisah cinta segitiga antara dua perempuan yang merupakan saudara kandung dengan seorang pria. Tuti dan Maria merupakan dua tokoh kakak beradik yang rukun walapun Tuti tahu saudaranya suka dengan pria yang ia cintai. Akhirnya Tuti mengalah dan mengikhlaskan Yusuf pada Maria. Maria mempunyai penyakin yang mengakibatkan ia meningga. Tetapi Maria sempat berpesan jika Tuti harus menjaga Yusuf. Akhirnya sepeninggal Maria, Yusuf menikah dengan Tuti.


Pandangan feminisme pengarang pria akan lebih rendah daripada pandangan feminisme pengarang wanita. Pengarang wanita umumnya dengan vulgar memunculkan bahasa feminisme untuk menyalurkan pandangan mereka. Sebaliknya pengarang pria yang mengangkat pandangan feminisme, umumnya masih memandang kodrat wanita yang ada di bawah laki-laki.


Tokoh Tuti digambarkan seorang wanita yang teguh dan mempunyai banyak kegiatan. Ia merupakan seorang aktivis yang selalu berprinsip. Penggambaran yang dilakukan oleh Alisjahbana pada tokoh ini adalah untuk menjelaskan mengenai bagaimana wanita yang sudah terpengaruh oleh kehidupan luar. Tetapi ia masih tunduk pada laki-laki.


Alisjahbana menggambarkan tokoh Maria sebagai seorang wanita yang lemah dan penurut dengan laki-laki. Ia lebih memiliki jiwa wanita dunia timur. Ia tidak begitu terpengaruh dunia luar. Sehingga ia lebih berwatak lembut.


DAFTAR PUSTAKA

1. Abdullah, Irwan. 1997. “Dari Domestik ke Publik: Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan.” Dalam Abdullah, Irwan (Ed.). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2. Adji, S.E. Peni. 2003. Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis. Dalam Jurnal Humanioran Volume XV, No. 1/2003, hlm. 23-28. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

3. Alisjahbana, Sutan Takdir. 2000. Layar Terkembang. Jakarta: Balai Pustaka.

4. Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

5. Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.

6. Budianta, Melani. 2002.Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar. Dalam Budiman, Kris (Ed.). Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.

7. Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

8. Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.

9. Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

10. Noor, Redyanto. 1994. Perempuan Idaman Novel Indonesia: Erotik dan Narsistik. Semarang: Bendera.

11. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

12. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

13. Rahayu, Fitriani Nur. 2003. Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto. Skripsi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

14. Saparie, Gunoto. 2005. Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881 (diunduh 11 November 2009).

15. Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

16. Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.

17. Suaka, I Nyoman. 2003. Citra Wanita dalam Kritik Sastra Feminis. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/9/28/ap3.html (diunduh 11 November 2009).

18. Subono, Nur Iman. 2001. Laki-laki, Kekerasan Gender dan Feminisme. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan.

19. Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

20. Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

21. Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Altenatif. Yogyakarta: Hanindita.

22. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

23. _______. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

24. Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought : Pengantar paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Diterjemahkan oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta : Jalasutra.

25. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.


Untuk download hasil analisis ini, silakan klik di sini untuk mendownload file


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...