Cari di sini

Memuat...
PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 24 Juli 2009

PERKEMBANGAN TEORI SASTRA MUTAKHIR

Sumber: http://mahayana-mahadewa.com/?p=348

D.W. Fokkema dan Elrud Kunne-Ibsch, Teori Sastra Abad Kedua Puluh, terjemahan J. Praptadihardja dan Kepler Silaban (Jakarta: Gramedia, 1988), xxiii + 281 halaman.

Perkembangan kritik sastra akademis di Indonesia dewasa ini, sesungguhnya berutang budi pada kritik sastra aliran Rawamangun. Terlepas dari segala kekurangannya, kritik Rawamangun telah menanamkan satu tradisi ilmiah dalam pengkajian sastra.

Kini, berbagai perkembangan kritik sastra di Barat yang juga mulai semarak di Indonesia selepas tahun 1980-an, makin memberi kemungkinan lain yang lebih beragam dari pendekatan struktural yang dipegang teguh kritik aliran Rawamangun. Teks sastra yang semula diperlakukan sebagai struktur yang otonom dan mandiri, terlepas dari konteks sosio-kultural, menjadi objek kajian yang dapat dihubungkaitkan dengan teks-teks lain di luar sastra.

Satu kecenderungan baru yang marak belakangan ini adalah mun-culnya berbagai tulisan yang secara tidak tepat menyinggung kritik sastra mutakhir. Konsep atau istilah strukturalisme, dekonstruksionisme, hermeneutika, resepsi sastra, dan semiotika dibicarakan secara agak serampangan. Akibatnya, sudah dapat diduga, kritik sastra yang mestinya berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara pengarang –lewat teks– dan pembaca, menjadi sebuah hutan belantara yang gelap dan menyesatkan. Dalam konteks itulah, buku ini niscaya dapat dijadikan sebagai panduan mendasar dan berharga guna memahami apa yang sesungguhnya hendak dicapai aliran-aliran itu dan bagaimana lalu-lintas aliran-aliran itu berkembang dan berusaha saling melengkapi.

Pada bagian Kata Pengantar, misalnya, Fokkema dan Kunne-Ibsch memaparkan secara singkat bagaimana perkembangan kritik sastra tahun 1970-an yang diwakili hermeneutik versus studi sastra yang empiris berkembang sedemikian pesatnya. Pada dasawarsa yang sama, muncul pula naratologi, kritik dekonstruksi, dan ideologis. Dan dengan caranya sendiri, sebuah teks sastra dibongkar dan dihubungkan dengan berbagai disiplin yang berbeda (hlm. xi). Lalu, timbul pertanyaan: di mana tempatnya kritik sastra?

Dalam melakukan interpretasi teks, kritik memerlukan teori. Perlu adanya mengenai konsep sastra dan kriteria penilaian dalam kritik sastra. Di sini, kita melihat, betapa simpang-siur perdebatan konsep sastra, perumusan teori dan keperluannya dalam menentukan kriteria penilaian. Dalam hal ini, “teori sastra harus menciptakan dasar konsep yang universal yang dapat dipakai mendeskripsikan fakta-kata tertentu” (hlm. 12).

Selanjutnya kedua penulis Belanda itu mencermati secara tajam “Formalisme Rusia,
Strukturalisme Ceko dan Semiotik Soviet”.Meski uraiannya begitu njlimet, kita disajikan serangkaian catatan kritis atas gagasan dasar kaum formalis yang kemudian kelak menjadi cikal-bakal strukturalisme. Bahwa kaum formalis telah berjasa membawa studi sastra sebagai kegiatan ilmiah yang lalu ditekankan Roman Jakobson mengenai pentingnya ilmu sastra sebagai cabang ilmu tersendiri, telah mengundang banyak ilmuwan memasuki perdebatan akademis. Tak pelak lagi, bagian ini menjadi penting manakala kita hendak memahami percabangannya menuju strukturalisme Prancis.

Di Prancis, strukturalisme semula berkembang agak tersendat. Namun berkat perjuangan kaum strukturalis dalam menentang pendukung gagasan faktualitas yang diwariskan positivisme dan individualitas yang ditekankan eksistensialisme, strukturalisme mendapat tempat dan momentum yang tepat. Bahkan, strukturalisme linguistik pasca-Saussure dan strukturalisme antropologi lambat-laun makin semarak. Belakangan, muncul pula Raymond Picard sebagai wakil kritik lama dan dan Roland Barthes sebagai wakil kritik baru.

Ada tiga kecenderungan perkembangan strukturalisme Prancis: Pertama, kritik strukturalisme dengan tokoh sentral, antara lain, Merleau-Ponty dan Barthes. Kedua, naratologi strukturalis yang bersandar pada gagasan Vladimir Propp versus Greimas. Ketiga, deskripsi teks strukturalis-linguistik khasnya lewat gagasan Claude Levi-Strauss dan Michael Riffaterre.

Bagian penting lainnya dalam buku ini menyangkut pembicaraan teori sastra Marxis. Di sini Fokkema dan Kunne-Ibsch mengungkapkan secara kritis landasan teori sastra Marxis. Uraiannya dimulai dari gagasan materialisme-dialektika Marx-Engels dan Lenin; yang disertai pula dengan deskripsi latar belakang Realisme Sosialis sampai ke neo-Marxisme Georg Lukacs. Perkembangan teori sastra Marxis di Cina baru mendapat perhatian setelah Gerakan Empat Mei (1919). Selepas itu, tumbuh pesat gerakan sastra dan jurnal sastra yang membahas seni untuk seni sampai ke utilitarianisme Marxis (hlm. 133). Belakangan, teori sastra Marxis didasarkan pada gagasan Mao. Namun, karena terlalu meyakini ideologi Marxis, teori sastra Mao di Cina pada dasarnya menolak eksperimentasi dan perbedaan pendapat.

Dalam teori sastra neo-Marxisme, karya-karya avant-garde justru menjadi salah satu bahan perdebatan. Dari keberatan Lukacs atas ekspresionisme yang dipertentangkan dengan realisme, Bertold Brecht, Ernst Bloch, Theodor W. Adorno dan bahkan tokoh-tokoh neo-Marxisme sendiri, terlibat dalam perdebatan itu. Menurut Adorno, Lukacs terlalu dogmatis dalam memberi batasan mengenai Realisme Sosialis. Dari konteks perdebatan itu, Fokkema dan Kunne-Ibsch memasukkan Lukacs ke dalam kotak Marxis ortodoks, sementara yang lain, di antaranya, Adorno, Lucien Goldmann, Walter Benyamin, dan Fredric Jameson, termasuk neo-Marxisme.

Satu hal yang menarik dalam bagian ini adalah uraian mengenai gagasan Realisme Sosialis yang mengingatkan kita pada propaganda seniman Lekra tahun 1960-an. Sesungguhnya, Realisme Sosial, baik yang hendak diterapkan di Cina, maupun yang dijadikan sebagai bagian garis politik partai, tidak lebih dari teori sastra yang penuh dengan pemaksaan ideologis.

Agak berbeda dengan teori sastra yang sudah dibicarakan sebelumnya, resepsi sastra tidak begitu menekankan pada teks sastra, melainkan pada pemaknaannya atas teks. Seperti dikatakan Jurij M. Lotman, “Realitas kultural dan historis yang disebut karya sastra tidak berhenti di dalam teks. Teks hanyalah salah satu unsur dalam suatu relasi. Nyatanya karya sastra terdiri atas teks dalam relasinya dengan ekstratekstual; dengan norma-norma sastra, tradisi, dan imajinasi” (hlm. 174). Dalam hal ini, “teori resepsi menghargai relativisme kultural dan relativisme historis …” (hlm. 175).

Begitulah, para ahli resepsi sastra (Jerman), banyak yang memanfaatkan sejarah, hermeneutika dan strukturalisme, meski tekanan pada bidang-bidang itu berbeda. Maka, tidak terhindarkan pemikiran Hans Robert Jauss, Wolfgang Iser dan Roman Ingarden dijadikan sebagai landasan teori resepsi. Aliran Konstanz, misalnya, secara gencar menerapkan teori Jauss; kelompok Werner Bauer mengembangkannya menjadi analisis kontemporer, dan bukan analisis historis, sementara Georg Just mendasari gagasannya dengan menggabungkan teori Iser dan Jauss.

Di luar itu, muncul pula pendekatan sosial-politik, sebagaimana yang dilakukan Manfred Durzal yang berbeda dengan pendekatan Georg Just. Menurutnya, estetika resepsi yang meneliti kondisi-kondisi putusan kritis harus memusatkan perhatiannya pada dunia kesadaran politik dan sosial, sebagaimana yang tersirat dalam novel-novel Amerika dan Jerman.

Bagian akhir dalam buku ini mengungkapkan peluang bagi pengembangan teori sastra yang lain yang lebih beragam. Semiotika yang dikembangkan Umberto Eco, sosiologi pengetahuan yang ditekankan Jauss atau yang berdasarkan pada pemikiran sosiologi Peter Berger dan Thomas Luckman, sesungguhnya sangat memungkinkan menemukan fungsi-fungsi kognitif seni atau setidak-tidaknya menjadi objek penelitian, bagaimana konsep sosiologi pengetahuan dimanfaatkan untuk kepentingan teori sastra.

Akhirnya, Fokkema dan Kunne-Ibsch menekankan kembali tujuan buku ini. Bahwa keduanya tidak bermaksud menjawab simpang-siur aliran-aliran teori sastra, namun sejumlah masalah mendasar mengenai studi ilmiah sastra dapat dihadapi dengan pemahaman baru. Memang, membaca buku ini, kita banyak disuguhi pemahaman baru mengenai berbagai aliran teori sastra secara sangat mendasar dan lebih jelas. Tak pelak lagi, bagi peminat sastra, khususnya mereka yang ingin mendalami teori dan kritik sastra, buku ini dapatlah dijadikan sebagai acuan penting yang mesti dicermati.

(Maman S. Mahayana, Staf Pengajar FSUI, Depok).

Senin, 13 Juli 2009

Film : Harry Potter and the Half-Blood Prince (MOVIE)


“Years ago, I knew a boy who made all the wrong choices. His name was Tom Riddle. Today, the world knows him by another name…, Voldemort!”

Sang Terpilih
Para Harry Potter freaks pasti nggak akan kesulitan menebak, milik siapa kira-kira kalimat di atas? Yep, kalimat itu diucapkan oleh Kepala Sekolah Sihir Hogwarts paling terkenal, Albus Dumbledore (Michael Gambon), saat menjalani tugas barunya sebagai private lecturer alias pembimbing pribadi Sang Terpilih, Harry Potter (Daniel Radcliffe).

Di tahun ke-enamnya di Hogwarts, Harry memang sedang disiapkan untuk sebuah tantangan besar, menaklukkan penyihir hitam paling berbahaya sepanjang masa, Lord Voldemort (Ralph Fiennes). Sesuai kalimat pembuka di atas, dalam persiapannya Dumbledore dan Harry mengajak penonton menelusuri sejarah dan masa lalu si Pangeran Kegelapan.

Itulah inti dari film berdurasi 153 menit ini. Semakin mendekati ending, jangan kaget kalau suasana suram makin terasa karena lebih banyak adegan kekacauan dan pertempuran yang ditampilkan. Makanya Motion Picture Association of America (kayak badan sensor-nya gitu deh) memberi label “PG” alias “Parental Guidance suggested” untuk film ini. Selain Half Blood Prince, The Prisoner of Azkaban juga punya label yang sama. Tapi ada kabar bagus buat yang kangen pingin nonton Quidditch. Tenang ajaaa…, setelah absen nongol di dua film Harry Potter sebelumnya, David Yates (sutradara) akhirnya menyajikan pertandingan Quidditch full seperti yang ada di The Sorcerer’s Stone.

Behind The Scene “The Half Blood Prince” :
  • Menghabiskan biaya sekitar Rp. 2,5 triliun rupiah.
  • Udah mengalami tiga kali pengunduran tanggal rilis yang menyulut kemarahan Harry Potter freaks di seluruh dunia. Mereka menuduh pihak Warner Bros sebagai distributor, sengaja menunda perilisan sampai setengah tahun lebih demi keuntungan finansial semata. Well, kayaknya gosip itu emang bener deh. Udah jadi rahasia umum kalau franchise “Batman” dan “Harry Potter” adalah dua “tambang emas” Warner Bros. Mereka udah untung besar lho dari film The Dark Knight tahun 2008 lalu. Nah kalau Half Blood Prince tetap rilis November 2008 seperti jadwal semula, terus tahun ini mereka nggak dapet apa-apa, doooong???
  • Banyak karakter baru yang bakal meramaikan film ini. Penasaran kan pingin lihat visualisasi Fenrir Greyback, Horace Slughorn, Narcissa Malfoy, Tom Riddle kecil, Marcus Belby dan Lavender Brown?
  • Seperti pada film-film Harry Potter sebelumnya, Half Blood Prince nggak setia dengan bukunya. Ada cerita penting di buku yang nggak dimasukkan di sini, dan ada beberapa adegan tambahan yang nggak ada di buku. Katanya sih supaya makin seru…!!


Voldemort menguasai dunia Muggle dan penyihir, Hogwarts tak lagi aman. Harry menduga bahaya juga mengancam puri, namun Dumbledore lebih intens mempersiapkan dirinya untuk pertempuran terakhir yang segera tiba. Bersama-sama mereka mencari cara untuk meruntuhkan pertahanan Voldemort, dan untuk hal ini, Dumbledore merekrut teman lamanya Professor Horace Slughorn, yang ia yakini mengetahui banyak informasi penting

Sementara itu, Harry tertarik pada Ginny, begitu juga dengan Dean Thomas. Lavender Brown memutuskan Ron menjadi kekasihnya. Hermione, penuh dengan rasa cemburu namun tidak dapat menentukan isi hatinya. Saat romantisme merebak, salah satu murid memilih tetap sendiri. Ia memilih jalan hitam. Meski banyak cinta namun tragedi di depan mata dan Hogwarts tak akan sama

Jenis Film :
Fantasy
Produser :
David Heyman, David Barron
Produksi :
Warner Bros. Pictures
Durasi :
153

Cast & Crew
Pemain :
Daniel Radcliffe
Rupert Grint
Emma Watson
Bonnie Wright
Sir Michael Gambon
Alan Rickman
Helena Bonham Carter
Sutradara :
David Yates



Tunggu tanggal tayangnya 16 Juli 2009 di Bioskop2 Indonesia (tentunya jaringan 21) dong!!!!
Tonton YA!!!!

KRITIK PADA PUISI “KISSAH ZAMAN” KARYA ANAS MA’RUF

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


Kritik sastra merupakan kegiatan penilaian terhadap karya sastra. Dalam realitanya, setiap karya sastra bukan materi yang ada dengan sendirinya, melainkan materi yang diciptakan oleh pengarang. Maka kritik sastra dapat mencakup masalah kepengarangan yang bersangkutan dengan hakikat karya sastra, atau mencakup masalah hubungan sastra dengan kemanusiaan. Meskipun perlu ditegaskan bahwa sasaran utama kritik sastra adalah karya sastra atau teks bukan pengarangnya.

Berdasarkan latar belakang dalam rumusan masalah yang diangkat pada penulisan karya ilmiah ini adalah: (a) Bagaimana cara menganalisis puisi ”Kissah Zaman” karya Anas Ma’ruf? (b) Bagaimana cara menginterpretasi puisi ”Kissah Zaman” karya Anas Ma’ruf? (c) Bagaimana cara menilai puisi ”Kissah Zaman” karya Anas Ma’ruf?

Penulisan karya tulis ini juga bertujuan untuk: (a) Mendeskripsi cara menganalisis puisi ”Kissah Zaman” karya Anas Ma’ruf (b) Mendeskripsi cara menginterpretasi puisi ”Kissah Zaman” karya Anas Ma’ruf (c) Mendeskripsi cara menilai puisi ”Kissah Zaman” karya Anas Ma’ruf.

Tinjauan pustaka yang digunakan meliputi pengertian kritik sastra, kedudukan kritik sastra, serta peran dan fungsi kritik sastra. Data dan sumber data karya ilmiah ini diperoleh dari referensi dan buku-buku yang berhubungan dengan materi. Sedangkan metode yang digunakan yaitu pendekatan penulisan, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik penulisan.

DAFTAR PUSTAKA

Baribin, Raminah. 2004. Paparan Kuliah Kritik Sastra I.
Jassin H.B. 1959. Analisa dan Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai.
Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar.
Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Suharianto, S. 1981. Pengantar Apresiasi Puisi. Surakarta: Widya Duta.
Teeuw, A. 1980. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pusat Bahasa Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia
_____________________. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia

Untuk download file silakan klik disini

ANALISIS KEUTUHAN WACANA PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO PADA RAPAT PARIPURNA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT TANGGAL 16 AGUSTUS 2007

Oleh :
ALFIAN ROKHMANSYAH
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


Abstrak

Pidato merupakan salah satu bentuk komunikasi. Pidato kenagaraan biasanya menunjukkan ciri-ciri khusus sebagai wacana persuasif. Hal ini dapat dilihat dari adanya penggunaan kata-kata yang bersifat memengaruhi dan mengajak pendengarnya untuk melakukan apa yang dikatakan. Ketidakpahaman pendengar atau pembaca naskah pidato dapat disebabkan oleh penggunaan bahasa yang rancu dan tidak adanya kepaduan bentuk maupun kepaduan makna. Permasalahan dalam penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) apa saja aspek-aspek yang membangun keutuhan wacana pidato? dan (2) bagaimana alur gagasan dalam pidato tersebut? Wacana adalah satuan bahasa yang komunikatif, yaitu yang sedang menjalankan fungsinya. Ini berarti wacana harus mempunyai pesan yang jelas dan dengan dukungan situasi komunikasinya, bersifat otonom, dan dapat berdiri sendiri. Kohesi dan koherensi dalam wacana merupakan salah satu unsur pembangun wacana selain tema, konteks, unsur bahasa, dan maksud. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini berupa wacana tulis yang bersumber dari pidato presien Susilo Bambang Yudhoyono dalam Rapat Paripurna DPR RI tanggal 16 Agustus 2007. Data diperoleh dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam transkripsi pidato.

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diambil simpulan bahwa wacana pidato kenegaraan umumnya merupakan bentuk wacana persuasif. Wacana pidato kenegaraan dapat diklasifikasikan tidak hanya dalam wacana persuasif tetapi juga ke dalam wacana naratif. Wacana pidato terdiri dari atas tiga bagian, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Wacana pidato yang disampaikan Presiden RI ini bisa dikatakan kohesif dan koheren. Unsur-unsur penanda kohesi yang muncul dalam wacana ini adalah referensi, substitusi, konjungsi, dan perulangan leksikal. Pada pengembangan paragraf atau alur gagasan untuk mencapai koherensi, digunakan struktur penyajian problem kemudian penyampaian solusinya.

Kata kunci: wacana pidato, kohesi, koherensi


DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, et.al. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Hiski Komisariat Malang dan YA3 Malang.
Beaugrande, Robert Alain de dan Wolfgang Ulrich. 1981. Introduction to Text Linguistics. UK : Longman.
Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Wacana. Diterjemahkan oleh I. Sutikno. Jakarta: Gramedia.
Djajasudarma, T. Fatimah. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: Eresco.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Mediai. Yogayakarta: LKIS.
Fairclough, Norman. 1992. Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press.
Halliday, M.A.K. 1985. An Introduction to Functional Grammar 2e. UK: Edward Arnold.
_______. 1976. Cohesion in English. London: Oxford University Press.
Hartono, Bambang. 2000. Kajian Wacana Bahasa Indonesia. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Kridalaksana, Harimurti. 1978. “Keutuhan Wacana”, dalam Bahasa dan Sastra Th. IV No. 1. Jakarta: P3B.
Kridalaksana, Harimurti. 1978. “Keutuhan Wacana”. Dalam Bahasa dan Sastra. Tahun IV No.1. Jakarta: PPPB.
Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Mundandar, Aris. 2001. Analisis Struktur Retorika: Alternatif Pemahaman Koherensi Wacana Selebaran Partai Rakyat Demokratik. http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id/karyadetail.php?id=23 diakses tanggal 7 Juli 2009.
Nunan, David. 1992. Mengembangkan Pemahaman Wacana: Teori dan Praktik. Diterjemahkan oleh Elly W. Silangen. Jakarta: Pustaka Setia.
Nunan, David. 1993. Introducing Discourse Analysis. Middlesex: Penguin Books. 
Purwati, Sri Kristiana Budi. 2003. Kohesi Wacana Iklan Undian Berhadian Media Massa Cetak. Skripsi. Semarang: FBS, Unnes.
Ramlan, M. 1993. Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.
Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Untuk download file silakan klik disini

GAYA DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL “DURGA UMAYI” KARYA Y.B. MANGUNWIJAYA (SUATU KAJIAN STILISTIKA)

Oleh:
ALFIAN ROKHMANSYAH
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang (Unnes)



1. PENDAHULUAN

Sastra dan bahasa merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara sastra dengan bahasa bersifat dialektis (Wellek dan Warren, 1990: 218). Bahasa sebagai sistem tanda primer dan sastra dianggap sebagai sistem tanda sekunder menurut istilah Lotman (dalam Teeuw, 1984: 99). Bahasa sebagai sistem tanda primer membentuk model dunia bagi pemakainya, yakni sebagai model yang pada prinsipnya digunakan untuk mewujudkan konseptual manusia di dalam menafsirkan segala sesuatu baik di dalam maupun di luar dirinya. Selanjutnya, sastra yang menggunakan media bahasa tergantung pada sistem primer yang diadakan oleh bahasa. Dengan kata lain, sebuah karya sastra hanya dapat dipahami melalui bahasa.

Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genre-nya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya. Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu. Dengan sudut pandang demikian dapat dikatakan bahwa sebenarnya ada kekhususan atau keunikan masing-masing pengarang sebagai ciri khasnya yang mungkin merupakan kesengajaan atau invensi pengarang dalam proses kreatifnya (Subroto, 1999: 1). Menurut Aminuddin (1995: 1) gaya merupakan perujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya. Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.

Penelitian gaya bahasa yang terdapat dalam kaya sastra sampai saat ini masih jarang dilakukan atau masih sedikit (Pradopo, 2000: 263). Studi gaya bahasa umumnya masuk ke dalam dua bidang kajian yakni linguistik dan sastra. Teks dianggap memiliki nilai yang sama untuk diteliti dari prespektif manapun (Barthes, 1981: 37-38). Dengan demikian, teks mempunyai perlakuan yang sama untuk diinterpretasikan. 

Tulisan ini akan menelaah salah satu novel dalam sastra Indonesia karya Y.B. Mangunwijaya yang berjudul Durga Umayi. Durga Umayi adalah sebuah roman yang bercerita tentang hidup seorang wanita bernama Iin Sulinda yang akan bertambah panjang jadi Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida Charlotte Eugenie de Progueleaux nee du Bois de la Montagne Angelin Ruth Portier Tukinah Senik. Ia biasa dipanggil dengan Nyonya Nusamusbida, Iin atau Linda atau Tiwi atau Madame Nussy, Bik Ci atau Tante Wi. Tergantung situasi dan suasana.

Iin Sulinda lahir sebagai putri bungsu dari pasangan Obrus, seorang eks Kopral KNIL dan Heiho zaman Jepang dan gerilyawan zaman revolusi bersenjata dulu, dan Legimah, seorang penjual gethuk cothot di depan Klenteng. Iin tumbuh sebagai gadis cantik yang sering dikagumi para pemuda setempat, di mana pun beradanya. Kehidupan yang dijalaninya itu berlangsung dari sejak zaman Belanda sampai zaman Orde Baru.

Sebenarnya, Iin Sulinda dikenal sebagai call girl di kalangan diplomat dan negarawan dunia, pengusaha papan atas, dan sudah tentu para jenderal berbintang. Semua itu dilakukannya dengan dalih tugas negara demi lancarnya diplomasi-diplomasi, lobi-lobi penting tingkat internasional. Kelakuannya ini sering semata-mata untuk melihat bagaimana banyak laki-laki yang konon tokoh-tokoh gagah, agung, serba mentereng di depan publik, nyatanya tak berdaya oleh seorang wanita di atas ranjang.

Iin adalah korban laki-laki. Hal ini dialaminya sedari kecil. Terasa sekali bagaimana kakak laki-lakinya begitu bebas keluar-main ke mana saja tanpa beban, sedangkan dirinya, Iin maksudnya, cuma pelampiasan kesal sang kakak. Misalnya saja Iin-lah yang menjahit baju dan celana kakaknya yang sobek, atau Iin-lah yang ditendang kakaknya ketika sedang datang kesal.

Sebagai sebuah roman, penulis memberikan kesan aneh dengan eksperimen-eksperimen kalimat di dalamnya. Bahkan ada satu kalimat yang sampai mencakup dua halaman.

 
2. SIMPULAN

Dari analisis yang dilakukan pada novel Durga Umayi dengan pendekatan stilistika, didapati beberapa temuan sebagai berikut:
1. Diksi yang digunakan sebagai pilihan pembangun novel ini cukup beragam. 
a. Pengarang menggunakan pilihan leksikal dari bahasa asing, seperti: bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Perancis, dan bahasa Jawa. 
b. Pengarang juga menggunakan istilah. Banyak nama tokoh pahlawan dan tokoh sejarah Indonesia dipergunakan dalam novel ini. Ada pula penggunaan istilah dari bahasa Jepang yaitu heiho. 
c. pengarang juga menggunakan akronim.
2. Gaya Kalimat yang ditemui meliputi struktur kalimat dan citraan dalam kalimat. 
a. Kalimat-kalimat dalam novel ini memang kurang wajar apabila dibandingkan dengan kalimat pada umumnya. Kalimat-kalimat dalam novel ini jika digolongkan ke dalam kalimat majemuk memang kurang pas, karena kalimat dalam novel ini hampir seluruhnya kurang wajar. Ada beberapa paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat saja.
b. Dalam novel ini, pengarang menggunakan kalimat dalam bahasa asing. Pengarang mencantumkan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang diletakkan di dalam tanda kurung yang berada samping kalimat itu. 
c. Citraan yang ditemukan pada novel ini antara lain citran penglihatan, citraan pendengaran, dan citraan gerak.
3. Novel ini mempunyai ciri khas tersendiri dari novel lain.
a. Bagian awal novel disisipkan bagian yang diberi judul Prawayang yang berisi jalinan kata-kata yang ditulis dalam berbagai bahasa. 
b. Kunci untuk menerangkan garis besar Durga Umayi sebenarnya dapat ditemukan dari judulnya, yaitu Durga Umayi. “Durga Umayi” berasal dari dua nama “Dewi Umayi” dan “Batari Durga”. Pengarang dalam pemilihan judul Durga Umayi mempunyai latar belakang. Hal ini terlihat pada bagian cerita di dalam novel. Walaupun penjelasan ini tidak secara terang-terangan menjelaskan mengenai judul novel, tetapi bagian novel ini dapat menjadi gambaran mengenai alasan pengarang memilih judul Durga Umayi.
c. Novel ini menggunakan beberapa buku sebagai referensi penyusunan cerita. Pengarang juga menambahkan catatan kaki untuk beberapa peristiwa yang ia ambil dari sumber tertentu. 
4. Majas yang ditemukan pada novel ini, antara lain: majas personifikasi, majas hiperbola, majas repetisi, majas retoris, majas sarkasme, majas simile, majas klimaks, majas metafora, dan majas ironi.


3. DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan et. al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Aminuddin. 1995. Stilistika, Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Arifin, E. Zaenal dan Junaiyah H.M. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo.
Baehaqie, Imam. 2008. Handout Sintaksis Bahasa Indonesia. Modul. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Barthes, Roland. 1981. “Theory of The Text” dalam Unitying The Text: A Post-Structuralist Reader dalam Robert Young. London dan New York: Routledge and Kegan Paul. 
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Fowier, Roger. 1987. Modern Critical Terms. London and New York: Routledge & Kegan Paul. 
Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Komposisi. Ende: Nusa Indah. 
_______. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Freedom Institute.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Mangunwijaya, Y.B. 1994. Durga Umayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Natawijaya, Suparman. 1986. Apresiasi Stilistika. Jakarta: Internusa.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 
Subroto, D. Edi, dkk. 1999. Telaah Stilistika Novel-Novel Berbahasa Jawa Tahun 1980-an. Jakarta: P3B, Depdikbud.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.
Suharianto, S., Dra. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Syarifudin, Imam. 2006. Diksi dan Majas serta Fungsinya dalam Novel Jangan Beri Aku Narkoba Karya Alberthiene Endah. Skripsi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Turner, G.W. 1977. Stylistics. Harmondsworth: Penguin Books. 
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

4. BIOGRAFI Y. B. MANGUNWIJAYA

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. Lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 dan wafat di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun. Ia dikenal sebagai rohaniawan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik. Anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Romo Mangun, julukan populernya, dikenal melalui novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. Mendapatkan penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996. Ia banyak melahirkan kumpulan novel seperti: Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, Roro Mendut, Durga Umayi, Burung-Burung Manyar dan esai-esainya tersebar di berbagai surat kabar di Indonesia. Bukunya Sastra dan Religiositas mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982.

Dalam bidang arsitektur, beliau juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya adalah Aga Khan Award, yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta.

Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.

Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat dengan "jeritan suara hati nurani" menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Pendidikan
1.HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936-1943) 
2.STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947) 
3.SMU-B Santo Albertus, Malang (1948-1951) 
4.Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta (1951) 
5.Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang (1952) 
6.Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959) 
7.Teknik Arsitektur, ITB, Bandung (1959) 
8.Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966) 
9.Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978) 

Penghargaan
1.Penghargaan Kincir Emas untuk penulisan cerpen dari Radio Nederland.
2.Aga Khan Award for Architecture untuk permukiman warga pinggiran Kali Code, Yogyakarta.
3.Penghargaan arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk tempat peziarahan Sendangsono.
4.Pernghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996.

Buku dan tulisan
1.Balada Becak, novel, 1985 
2.Balada dara-dara Mendut, novel, 1993 
3.Burung-Burung Rantau, novel, 1992 
4.Burung-Burung Manyar, novel, 1981 
5.Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987 
6.Durga Umayi, novel, 1985 
7.Esei-esei orang Republik, 1987 
8.Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980 
9.Gereja Diaspora, 1999 
10.Gerundelan Orang Republik, 1995 
11.Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983 
12.Impian Dari Yogyakarta, 2003 
13.Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000 
14.Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999 
15.Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999 
16.Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999 
17.Menuju Indonesia Serba Baru, 1998 
18.Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998 
19.Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999 
20.Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999 
21.Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986 
22.Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999 
23.Politik Hati Nurani 
24.Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978 
25.Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern 
26.Ragawidya, 1986 
27.Romo Rahadi, novel, 1981 (terbit dengan nama samaran Y. Wastu Wijaya) 
28.Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel Trilogi, 1983-1987 
29.Rumah Bambu, kumpulan cerpen, 2000 
30.Sastra dan Religiositas, kumpulan esai, 1982 
31.Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999
32.Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001 
33.Spiritualitas Baru 
34.Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999 
35.Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994 
36.Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988 


Untuk download file silakan klik disini

KAJIAN STRUKTURAL DALAM PUISI “SEMBAHYANG KARANG” KARYA ARINI HIDAJATI

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Tentang puisi pernah muncul berbagai definisi. Definisi puisi yang paling terkenal menyebutkan bahwa puisi itua adalah bentuk karangan yang padat dan terikat dengan syarat-syarat: banyaknya baris dalam setiap baris, dan terdapatnya persamaan bunyi atau rima, baik rima horizontal maupun rima vertical. Definisi tersebut memang tepat benar ketika puisi yang dimaksud dalam bentuk pantun, syair, gurindam, dan sejenisnya. Jelasnya ketika Chairil Anwar belum muncul. Tetapi setelah Chairil Anwar muncul dengan puisi-puisinya yang berbeda jauh dari yang ada pada saat itu, definisi tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Sesungguhnyalah, definisi tak akan pernah mampu dengan pas menyebutkan semua hal yang terdapat di dalam sesuatu yang didefinisikan. Dua kemungkinan pasti akan kita temukan dalam definisi tersebut. Ataukah terlalu sempit sehingga masih ada yang tersisa dari hal yang didefinisikan atau sebaliknya, terlalu luas sehingga mencakupi hal-hal yang tidak seharusnya ada dalam definisi tersebut.

Namun sekadar sebagai pegangan tidak ada jeleknya kita kutip beberapa definisi tentang puisi. Suminto A. Sayuti dalam bukunya Berkenalan dengan Puisi mengatakan bahwa secara sederhana puisi dapat dirumuskan sebagai sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya. (2002: 3-4)

Sementara itu, Rachmat Djoko Pradopo (1990: 7) setelah menyiasati definisi-definisi puisi dari Samuel Taylor Coleridge, Carlyle, Auden, Wordworth, Shelly, dan Shanon Ahmad, menyimpulkan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

Seperti dikatakan, bahwa tak pernah ada definisi yang lengkap atau sempurna. Namun, betapapun definisi tak kurang pentingnya dalam upaya mengetahui hal atau sesuatu yang didefinisikan tersebut. Dari definisi-definisi itu, kita dapat menangkap hal-hal yang esensial yang merupakan karakteristik sesuatu yang didefinisikan. Dengan bekal pengetahuan tersebut, kita dapat membayangkan wujud atau wajah sebenarnya yang didefinisikan itu.


2. Kajian Struktural

Sebelum mengkaji tentang kestruktural puisi, terlebih dahulu dikaji tentang jenis puisi tersebut. Puisi “Sembahyang Karang” karya Arini Hidajati termasuk ke dalam jenis puisi prismatis karena banyak menggunakan kata-kata kias, pelambang-pelambang, atau gaya bahasa.

Untuk memahami jenis puisi ini, tidak terlalu mudah. Pembaca dituntut berpikir agak keras, berupaya untuk menemukan makna dalam lambang-lambang, kiasan-kiasan yang digunakan dalam puisi tersebut. Tidak tertutup kemungkinan maksud yang ditemukan pembaca tidak sama dengan yang dimaksudkan penyairnya. Juga sering terjadi perbedaan penafsiran antara pembaca yang satu dengan yang lain.

Daftar Pustaka

Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suharianto, S. 1981. Pengantar Apresiasi Puisi. Surakarta: Widya Duta.
Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Untuk download file silakan klik disini

PENDEKATAN OBYEKTIF ABRAMS DALAM DRAMA ENSEMBEL ‘EDAN’ DARI PAYUDARA DUNIA KARYA MUHAMMAD HARYANTO

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Perkembangan dunia sastra tidak lepas dari jerih payah para sastrawan yang berusaha menyajikan karya-karya sastra modern untuk memberikan hiburan maupun pengetahuan kepada pembacanya. Perkembangan sastra harus diimbangi dengan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu sastra.

Perkembangan genre sastra, khususnya drama, banyak menghasilkan karya yang baru. Jenis drama yang sekarang ini banyak berkembang di kalangan sastrawan Indonesia adalah drama modern dan kontemporer, seperti Dag-Dig-Dug dan Aduh.

Penelitian dan pengkajian drama pun banyak dilakukan oleh peneliti sastra maupun para mahasiswa jurusan sastra . Mereka masih berkutat pada teori-teori dari barat sebagai landasan dalam penelitianya.

Di dalam unsur-unsur pembangun drama, khususnya unsur intrinsik, ada beberapa hubungan timbal balik atau koherensi (keselarasan) di antara unsur-unsur intrinsik tersebut.

Dalam pengkajian ini, penulis mengambil judul “Pendekatan Obyektif Abrams dalam Drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia Karya Muhammad Haryanto”. Penulis mengambil judul ini karena penulis ingin mengkaji lebih dalam pada unsur-unsur intrinsik dari drama, sehingga penulis memilih pendekatan objektif untuk mengkaji drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia tersebut. Selain itu penulis juga ingin mengetahui bagaimana sebenarnya hubungan atau koherensi diantaranya unsur intrinsiknya.

2. Simpulan 

Pengkajian ini dimaksudkan untuk menarik simpulan yang berhubungan dengan proses pengkajian drama melalui pendekatan obyektif sebagaimana disebutkan oleh Abrams dalam teori Universe-nya. Penulis dapat menarik simpulan dari apa yang telah penulis peroleh dari hasil pengkajian drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia melalui pendekatan obyektif Abrams.
1)Drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini telah memenuhi beberapa unsur pembangun drama.
2)Ada beberapa hubungan atau koheresi antara unsur satu dengan unsur yang lain.
3)Tema yang diambil penulis naskah mempunyai banyak pengaruh terhadap pembentukan konflik yang ada dalam drama.
4)Di dalam drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini, konflik menggerakkan cerita mulai dari eksposisi menuju klimaks (rising action) dan dari klimaks menuju pemecahan (falling action).
5)Watak-watak yang dimiliki setiap tokoh dalam drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini, akan menyebabkan terjadinya konflik-konflik, baik itu konflik sementara maupun konflik utama.
6)Tokoh atau karakter yang ada dalam drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia mempunyai fungsi untuk menggerakkan drama.
7)Kontribusi alur untuk latar dan latar untuk alur memang tidak banyak berpengaruh kepada struktur drama.
8)Watak tokoh yang keras akan menimbulkan latar suasana yang tegang karena adanya konflik yang muncul.
9)Drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini menggunakan sub alur atau alur bawahan untuk mengantarkan kepada tingkatan alur yang lebih tinggi, yaitu dengan cara memasukkan konflik baru yang secara tidak langsung ikut andil dalam pembentukan konflik utama.

3. DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp.Oxford: Oxford University Press.
Budiyati, L.M 2006. Hand Out Perkuliahan Apresiasi Sastra Indonesia. Semarang: Fakultas Pendidikan bahasa dan Seni, IKIP Semarang.
Esten, Mursal. 1978. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.
Hudayat, Asep Yusup. 2007. Metode Penelitian Sastra. Modul. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran.
Lewis, Leary. 1976. American Literature: A Study and Research Guide. New York: St. Martin’s Press.
Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
Pradopo, Rahmat Djoko, 1999. Strukturalisme. Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Satoto, Soediro. 1990. Pengkajian Drama I. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Sugihastuti, Dra, M.S. Proses Keratif dan Teori Interpelasi. Artikel jurnal Humaniora Volume XIII, No. 2001. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Suharianto, S.1982. Dasar-dasar Teori sastra. Surakarta: Widya Duta.
Waluyo, Herman J. 2003. Drama, Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita.
Wellek, Rene, dan Austin Warren. 1993. Teori Kasusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Untuk download file silakan klik disini

JENIS GAYA DAN EFEK YANG DITIMBULKAN DALAM PUISI “WALAU" KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang

Dari analisis yang dilakukan pada puisi Walau karya Sutardji Calzoum Bachri ditemukan gaya bahasa berupa majas antara lain majas personifikasi, simile, hiperbola, metafora dan repetisi. Gaya bahasa ini mempunyai fungsi masing-masing. Salah satunya adalah dijadikan sarana pembungkus makna sehingga layak dilakukan pembongkaran guna mengetahui makna, efek, dan citraan yang ditimbulkan dari penggunaan gaya tersebut.

Persajakan dalam puisi Walau karya Sutardji ini memang tidak begitu menonjol. Sutardji memang bukan tipe penyair yang senang dengan permainan bunyi-bunyi, tetapi ia adalah seorang penyair yang senang memainkan kata-kata untuk menonjolkan makna yang ingin ia sampaikan.

Dalam gaya bahasa kata ini, sesungguhnya kata tidak dapat dilepaskan dari hubungan kalimatnya karena tanpa hubungannya dengan unsur kalimat yang lain, kata tidak akan ada maknanya sebagai gaya. Akan tetapi, gaya kata ini adalah kata yang paling mendapatkan fungsi dalam hubungan kalimatnya. Dalam gaya kata ini yang menonjol dalam puisi Walau adalah gaya citraan dan bahasa kiasan.

Gaya kalimat dan wacana dalam puisi Walau pada umumnya adalah sarana retorika (rhetorical devices). Sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berusaha menarik perhatian, pikiran, sehingga pembaca merenungkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikemukakan penyair. Sarana retorika yang ada dalam puisi Walau adalah repetisi dan hiperbola.

Puisi ini mempunyai makna yang sangat kompleks bagi para penyair. Makna yang tertuang pada puisi ini adalah seorang penyair walaupun ia telah mendapatkan gelas sebagai penyair besar (presiden penyair), tetapi kemampuannya tidak dapat disetarakan dengan kemampuan Tuhan. Walaupun sama-sama dapat menghasilkan sebuah puisi, tetapi fungsi dan nilai yang terkandung dalam puisi itu sangatlah berbeda.

Menurut Sutardji puisi adalah sarana untuk menjadi setara dengan Allah. Hal ini dimungkinkan dengan asumsi bahwa Allah pun bisa menciptakan puisi yang digunakan untuk hadir dalam kehidupan manusia. Tetapi di tengah perjalanannya, Sutardji menemukan bahwa antara penyair dan Allah terbentang jarak yang sangat jauh. Dalam situasi tersebut, jarak yang membentang tetap menjadi soal yang tidak terselesaikan. Tidak ada satu pun jalan keluar untuk masalah tersebut, kecuali kesadaran bahwa manusia tidak akan sampai sebatas Allah.

Daftar Pustaka

Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O Amuk Kapak, Tiga Kumpulan Sajak. Jakarta: Yayasan Indonesia dan Majalah Horison.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.  
_____________________. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Turner, G.W. 1977. Stylistics. Harmondsworth: Penguin Books. 
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.



Untuk download file silakan klik disini

ANALISIS STRUKTURAL PADA DRAMA “ENSEMBEL EDAN DARI PAYUDARA DUNIA” (SEBUAH KAJIAN KRITIK OBJEKTIF)

ANALISIS STRUKTURAL PADA DRAMA “ENSEMBEL EDAN DARI PAYUDARA DUNIA” (SEBUAH KAJIAN KRITIK OBJEKTIF)

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Perkembangan dunia sastra tidak lepas dari jerih payah para sastrawan yang berusaha menyajikan karya-karya sastra untuk memberikan hiburan maupun pengetahuan kepada pembacanya. Perkembangan sastra harus diimbangi dengan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu sastra. Perkembangan genre sastra, khususnya drama, banyak menghasilkan karya yang baru. Jenis drama yang sekarang ini banyak berkembang di kalangan sastrawan Indonesia adalah drama modern dan kontemporer walaupun tidak memungkiri dengan drama zaman sebelum modern.

Karya sastra adalah salah satu jenis hasil budi daya masyarakat yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihanyati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat dan lingkungannya, ia tak bisa begitu saja melepaskan diri dari masyarakat lingkungannya.

Karya sastra, seperti diakui banyak orang, merupakan suatu bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu yang serba “rutinitas” dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran dan sekaligus menyebabkan pembaca menjadi “terbata-bata” untuk berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra dalam bentuk drama.

Drama berasal dari bahasa Yunani, draien, yang berarti berbuat, bertindak, atau beraksi. Dalam perkembangan selanjutnya kata ‘drama’ mengandung arti kejadian, risalah, atau karangan. Hakikat drama adalah konflik atau tikaian. Perwujudannya dalam teater dapat berupa gerak, cakapan, atau penokohan. Tikaian atau konflik dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan, manusia dengan alam semesta, bahkan manusia dengan Tuhan.

Penelitian, pengkajian, serta pemberian nilai dalam drama pun banyak dilakukan oleh peneliti sastra maupun para mahasiswa jurusan sastra. Mereka masih berkutat pada teori-teori dari barat sebagai landasan dalam penelitian, pengkajian, dan pemberian nilai pada karya sastranya. Di dalam unsur-unsur pembangun drama, khususnya unsur intrinsik, ada beberapa hubungan timbal balik atau koherensi (keselarasan) di antara unsur-unsur intrinsik tersebut.

Dalam pengkajian ini, penulis mengambil judul “Analisis Struktural pada Drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia (Sebuah Kajian Kritik Objektif)”. Penulis mengambil judul ini karena penulis ingin mengkaji lebih dalam pada unsur-unsur intrinsik dari drama, sehingga penulis memilih kritik objektif dalam analisis strukturalnya untuk mengkritisi drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia tersebut. Selain itu penulis juga ingin mengetahui bagaimana sebenarnya hubungan atau koherensi diantaranya unsur intrinsiknya.

2. Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut:
1)Drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini telah memenuhi beberapa unsur pembangun drama.
2)Ada beberapa hubungan atau koheresi antara unsur satu dengan unsur yang lain.
3)Tema yang diambil penulis naskah mempunyai banyak pengaruh terhadap pembentukan konflik yang ada dalam drama.
4)Di dalam drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini, konflik menggerakkan cerita mulai dari eksposisi menuju klimaks (rising action) dan dari klimaks menuju pemecahan (falling action).
5)Watak-watak yang dimiliki setiap tokoh dalam drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini, akan menyebabkan terjadinya konflik-konflik, baik itu konflik sementara maupun konflik utama.
6)Tokoh atau karakter yang ada dalam drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia mempunyai fungsi untuk menggerakkan drama.
7)Kontribusi alur untuk latar dan latar untuk alur memang tidak banyak berpengaruh kepada struktur drama.
8)Watak tokoh yang keras akan menimbulkan latar suasana yang tegang karena adanya konflik yang muncul.
9)Drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia ini menggunakan sub alur atau alur bawahan untuk mengantarkan kepada tingkatan alur yang lebih tinggi, yaitu dengan cara memasukkan konflik baru yang secara tidak langsung ikut andil dalam pembentukan konflik utama.
10) Setelah diuraikan analisis strukturalnya dan koherensi antarunsur, drama Ensembel ‘Edan’ dari Payudara Dunia diberi penilaian secara objektif (kritik objektif).

DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.
Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.
Budiyati, L.M 2006. Hand Out Perkuliahan Apresiasi Sastra Indonesia. Semarang: Fakultas Pendidikan bahasa dan Seni, IKIP Semarang.
Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.


Untuk download file silakan klik disini

PERSPEKTIF FEMINISME PADA TOKOH BU BEI DALAM NOVEL “CANTING” KARYA ARSWENDO ATOMOWILOTO (KAJIAN KRITIK FEMINISME)

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Untuk mengetahui pandangan budaya dalam suatu masyarakat, tidaklah semata-mata didapatkan dari tulisan-tulisan ilmiah saja. Tidak juga harus terjun masuk ke dalam masyarakat yang bersangkutan, tetapi dapat dilakukan dengan cara menggali karya-karya fiksi seperti buku-buku sastra atau novel agar pandangan suatu budaya dapat diketahui.

Tidak hanya hanya itu saja, dari karya sastra banyak sekali terungkap pandangan-pandangan dari suatu kebudayaan tertentu yang hidup di suatu masyarakat pada masa-masa tertentu. Suatu hal yang dapat dimengerti bahwa karya fiksi adalah suatu produk kehidupan yang banyak mengandung nilai-nilai social, politis, etika, religi, dan filosofis. 

Karya sastra adalah salah satu jenis hasil budi daya masyarakat yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihanyati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat dan lingkungannya, ia tak bisa begitu saja melepaskan diri dari masyarakat lingkungannya.

Karya sastra, seperti diakui banyak orang, merupakan suatu bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu yang serba “rutinitas” dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran dan sekaligus menyebabkan pembaca menjadi “terbata-bata” untuk berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel.

Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan. Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah, antara lain, yang menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan sebuah novel, dan untuk keperluan tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil kerja kajian yang dihasilkan. Novel sebagai karya sastra pada dasarnya lahir karena reaksi terhadap keadaan. Secara sosiologis, manusia dan peristiwa dalam novel adalah pantulan realitas yang dicerminkan oleh pengarang dari suatu keadaan dalam masyarakat dan tempat tertentu.

Arswendo adalah seorang penulis yang mempunyai reputasi nasional. Beliau adalah seorang pengarang Indonesia yang berkualitas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Diantaranya adalah penghargaan untuk naskah dramanya yang berjudul Penantang Tuhan (1972). Disamping itu karyanya yang lain berupa novel yang diangkat ke dunia sinetron yaitu novel yang berjudul Vonis Kepagian, Menghitung Hari, dan satu novel yang berlatar belakang jawa yaitu Canting (Atmowiloto 1997: 379).

Objek kajian penulisan ini adalah novel yang berjudul Canting. Alasannya adalah gaya pengungkapan Arswendo Atmowiloto yang secara tidak lansung menuju pada pokok permasalahan, sehingga menimbulkan untuk terus mengikuti aturan cerita selanjutnya. Yang paling utama adalah karena novel Canting karya Arswendo Atmowiloto mempunyai tema yang sangat menarik, yaitu kehidupan seorang wanita yang mengalami pergulatan batin akibat adanya keinginan untuk mempertahankan tradisi budaya Jawa dalam keluarga dan keinginan untuk melepaskan diri dari budaya jawa.  

Gambaran peran dan kedudukan tokoh Bu Bei yang dimunculkan dalam novel Canting, merupakan bukti bahwa dalam novel ini terdapat sikap emansipasi. Arswendo Atmowiloto adalah pengarang yang berhasil membawa para pembaca pada suasana dan peristiwa yang diceritakan lengkap dengan peran dan emansipasi tokoh yang amat memikat sehingga pembaca larut di dalam situasi yang sebenarnya.

Novel Canting karya Arswendo Atmowiloto menceritakan kehidupan sebuah keluarga keturunan bangsawan atau ningrat. Canting adalah alat tradisional dari tembaga untuk membatik dan alat tersebut bagi buruh-buruh batik merupakan nyawa. Setiap saat membatik dalam hidupnya. Canting yang ditiup dengan segenap perasaan dan nafas. Tapi batik yang terbuat dengan canting menjadi terbanting karena munculnya jenis batik yang lain, yaitu jenis printing atau cetak yang hanya memerlukan waktu beberapa kejap saja, bila dibandingkan dengan batik, canting yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk membuatnya. Karena itu, tidak salah bila canting merupakan sebuah symbol budaya yang kalah dan tersisih. 

Manfaat yang akan terasa dari hasil kajian itu adalah apabila pembaca (segera) membaca ulang karya sastra yang dikajinya. Dengan cara ini akan dirasakan adanya pembedaan yaitu ditemukan sesuatu yang baru, yang terdapat dalam karya sastra itu sebagai akibat kekompleksitasan karya yang bersangkutan sehingga sesuatu yang dihadapi baru dapat ditentukan. Dengan demikian, pembaca akan lebih menikmati dan memahami cerita, tema, pesan-pesan, tokoh, gaya bahasa, dan hal-hal lain yang diungkapkan dalam karya yang dikaji (Nurgiyantoro, 1995: 32).

Berdasarkan hal di atas, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti sifat dan perilaku tokoh Bu Bei dari perspektif feminisme kemudian dihubungkan dengan realita kehidupan di alam nyata melalui pendekatan mimetik yang sebelumnya dianalisis dengan pendekatan objektif.

2. Tujuan Penulisan

a.Mendeskripsi perwatakan dari tokoh Bu Bei dalam novel Canting dari perspektif feminisme.
b.Menguraikan koherensi perwatakan tokoh Bu Bei dalam novel Canting dengan realita kehidupan dunia nyata dari perspektif feminisme.
c.Mendeskripsi kritik feminisme perwatakan tokoh Bu Bei dalam novel Canting.

3. Simpulan

Berdasarkan tinjauan dan pembahasan masalah, maka dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut:
1.Bu Bei mempunyai karakter nrima, patuh, sabar serta selalu mementingkan orang lain dari pada kepentingan dirinya sendiri. Dia tidak pernah ngangsa dalam bekerja. Prinsip hidupnya adalah pasrah. Dengan jalan pasrah, Bu Bei bisa mendapatkan kebahagiaan.
2.Koherensi penokohan pada tokoh Bu Bei dalam novel Canting ini menggunakan analisis pendekatan mimetik.
3.Kritik feminis terlihat dari keadaan Bu Bei sebagai seorang wanita yang mengalami pergulatan batin akibat adanya keinginan untuk mempertahankan tradisi budaya Jawa dalam keluarga dan keinginan untuk melepaskan diri dari budaya jawa.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan. 1997. “Domestik ke Publik: Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan”. Dalam Abdullah, Irwan (ed). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.
Adji, S.E. Peni. 2003. Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis. Dalam Jurnal Humanioran Volume XV, No. 1/2003, hlm. 23-28. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Atmowiloto, Arswendo. 1997. Canting. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.
Budianta, Melani. 2002. “Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar”. Dalam Budiman, Kris (Ed.). Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Noor, Redyanto. 1994. Perempuan Idaman Novel Indonesia: Erotik dan Narsistik. Semarang: Bendera.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahayu, Fitriani Nur. 2003. Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto. Skripsi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Saparie, Gunoto. 2005. Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881 (diunduh 20 April 2009).
Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.
Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Altenatif. Yogyakarta: Hanindita.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought : Pengantar paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Diterjemahkan oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta : Jalasutra.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Untuk download file silakan klik disini

ANALISIS TANDA DALAM NOVEL “LELAKI TERINDAH” KARYA ANDREI AKSANA (KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)

Oleh:
ALFIAN ROKHMANSYAH
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang




1. Pendahuluan

Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Karya sastra merupakan sistem tanda tingkat kedua. Dalam sastra konvensi bahasa disesuaikan dengan konvensi sastra.dalam karya sastra kata-kata ditentukan oleh konvensi sastra, sehingga timbul arti baru yaitu arti sastra. Jadi arti sastra itu merupakan arti dari arti, untuk membedakan arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertamadsisebut meaning dan arti sastra disebut makna (significance).

Studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem tanda-tanda dan karena itu menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti. Menurut Endraswara (2008a: 64) struktural semiotik muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem sendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda.

Analisis prosa menggunakan pendekatan semiotik sebenarnya hampir sama dengan analisis semiotik puisi, yaitu bertujuan menemukan makna yang terkandung dalam karya sastra. Umumnya analisis semiotik prosa menggunakan teori-teori struktural prosa, salah satunya dengan teori semiotik Roland Barthes. Barthes menggunakan metode analisis lima kode, yaitu kode teka-teki atau hermeneutik, kode konotatif atau semik, kode simbolis, kode aksian, dan kode budaya. Kelima kode ini digunakan untuk menganalisis karya sastra khususnya prosa dengan tujuan untuk menemukan amanat yang terkandung dalam karya tersebut. 

Objek yang dikaji dalam analisis ini adalah novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana. Novel Lelaki Terindah bercerita kehidupan pasangan gay yang mengalami beberapa konflik dari lingkungan mereka. Rafky yang awalnya adalah seorang heteroseksual dapat berubah menjadi homoseksual karena jatuh cinta terhadap Valent yang seorang homosesksual.

2. Kajian Semiotik Roland Barthes

Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial (Sobur, 2004: 95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Ahli sastra Teeuw (1984: 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh.

Salah satu tokoh semiotik terkenal ialah Roland Barthes. Ia menerapkan model Saussure dalam penelitiannya tentang karya-karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen-komponen tanda penanda-petanda terdapat juga pada tanda-tanda bukan bahasa antara lain terdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan sistem citra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk mempertahankan dan menonjolkan identitasnya (Saussure,1988).

Barthes (dalam Saussure, 1988) menggunakan teori signifiant-signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi. Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda. Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengembangan ini disebut sebagai gejala metabahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy).

Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangannya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi disebut metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.

Dalam kaitan dengan pemakai tanda, kita juga dapat memasukkan perasaan sebagai (aspek emotif) sebagai salah satu faktor yang membentuk konotasi. Model Barthes demikian juga model Saussure tidak hanya diterapkan pada analisis bahasa sebagai salah satu aspek kebudayaan, tetapi juga dapat digunakan untuk menganalisis unsur-unsur kebudayaan.

Semiotik yang dikembangkan Barthes juga disebut dengan semiotika konotatif. Terapannya juga pada karya sastra tidak sekadar membatasi diri pada analisis secara semiosis, tetapi juga menerapkan pendekatan konotatif pada berbagai gejala kemasyarakatan. Di dalam karya sastra ia mencari arti ’kedua’ yang tersembunyi dari gejala struktur tertentu (Zoest, 1993: 4). Aliran semiotik yang dipelopori oleh Julia Kristeva disebut semiotika eksplanatif. Ciri aliran ini adalah adanya sasaran akhir untuk mengambil alih kedudukan filsafat. Karena begitu terarahnya pada sasaran, semiotik ini terkadang disebut ilmu total baru (de nieuwe totaalwetwnschap). Dalam semiotik ini pengertian tanda kehilangan tempat sentralnya. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti.

Penelitian yang menilai tanda terlalu statis, terlalu nonhistoris, dan terlalu reduksionalis, diganti oleh penelitian yang disebut praktek arti (betekenis praktijk). Para ahli semiotika jenis ini tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi, mencampurkan analisis mereka dengan pengertian-pengertian dari dua aliran hermeutika yang sukses zaman itu, yakni psikoanalisis dan marxisme (Zoest, 1993: 5).

Bahasa dalam pemakaiannya bersifat bidimensional. Disebut dengan demikian, karena keberadaan makna selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antarlambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemeran serta konteks sosial dan situasional yang melatarinya. Dihubungkan dengan fungsi yang dimiliki, bahasa memiliki fungsi eksternal juga fungsi internal. Oleh sebab itu selain dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antardiri sendiri.

Kajian bahasa sebagai suatu kode dalam pemakaian berfokus pada (1) karakteristik hubungan antara bentuk, lambang atau kata satu dengan yang lainnya, (2) hubungan antar-bentuk kebahasaan dengan dunia luar yang di-acunya, (3) hubungan antara kode dengan pemakainya.

3. Simpulan

Dari analisis menggunakan metode lima kode Roland Barthes di atas, dapat disimpulkan mengenai amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini, yaitu:
1.Cinta akan muncul walaupun dengan waktu yang sangat singkat.
2.Cinta sejati tidak hanya muncul antara pria dan wanita tetapi juga muncul antara pria dan pria, walaupun itu dianggap tabu dalam masyarakat.
3.Hubungan sesama pria memang tidak gampang diterima di masyarakat. Apalagi di Indonesia yang mempunyai norma ketimuran.
4.Cinta sejati akan selalu hidup walapun telah terpisahkan oleh waktu.

4. Daftar Pustaka

Abrams, M.H. 1981. A Glosary of Literary Term. New York: Holt, Rinehart and Wiston.
Aksana, Andrei. 2006. Lelaki Terindah. Jakarta: Gramedia.
Aminuddin. 1988. Semantik : Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru.
Budiman, Manneke. 2002. “Indonesia: Perang Tanda” dalam Indonesia: Tanda yang Retak. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Endraswara, Suwardi. 2008a. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Endraswara, Suwardi. 2008b. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Hoed, Benny H. 2002. “Strukturalisme, Pragmatik dan Semiotik dalam Kajian Budaya,” dalam Indonesia: Tanda yang Retak. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saussure, F. 1988. Course in General Linguistics. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Teeuw, A. 1984. Khasanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Widayani, Viena. 2006. Konsep Diri Pria Homoseksual (Studi Kasus di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus). Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.
Zoest, Aart. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.


Untuk download file silakan klik disini

ASPEK SEMANTIK DAN VERBA DALAM CERPEN “USAPKAN AIR MATA IBUKU…” (SEBUAH KAJIAN STRUKTURAL TZEVETAN TODOROV)

Oleh :
Laili Ernawati
2150407018
Sastra Indonesia, S1
Universitas Negeri Semarang


1. Pendahuluan

Di era yang semakin globalisasi ini, tak urung dan tak lepas perkembangan karya sastra juga semakin maju, khususnya prosa yang merupakan hasil penuangan ide, gagasan, pikiran para penghasil sastra dengan usaha yang keras. Sekarang ini banyak muncul para sastrawan baru, khususnya di bidang penulisan cerita pendek. Mulai dari orang biasa hingga artis pun mencoba menggepakkan karyanya lewat cerita pendek bahkan novel.

Metode pendekatan yang sering digunakan dalam mengkaji suatu karya sastra adalah pendekatan struktural. Pendekatan ini dapat mengupas karya sastra atas dasar strukturnya. Akan tetapi, pendekatan ini baru merupakan kerja pendahuluan karena karya sastra merupakan bagian atau mata rantai sejarah sastra dan sejarah bangsanya. Dengan demikian karya sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-budayanya (Teeuw, 1983 :61)

Dalam membaca dan memahami karya sastra bukanlah hal yang gampang atau mudah. Menurut Culler (1975: 134) mengatakan bahwa membaca sastra adalah kegiatan yang paradoksal, yaitu kita menciptakan kembali dunia ciptaan, dunia rekaan, dan menjadikannya sesuatu yang akhirnya dapat kita kenali. Salah satu cara memahami karya sastra adalah dengan mengkaji atau menganalisis karya sastra tersebut.

Dalam perkembaangannya, strukturalisme mengalami beberapa perubahan dalam menilai dan menganalisis sastra. Salah satu perkembangannya adalah naratologi strukturalis, yang merupakan pendekatan dalam bidang naratif. Beberapa tokoh sastra strukturalis mencetuskan teori-teori mereka setelah melakukan penelitian dari teks-teks naratif. 

Todorov merupakan salah satu yang mencetuskan teorinya atas dasar naratif. Teori naratif strukturalis berkembang dari analogi-analogi linguistik dasar tertentu. Sintaksis adalah model dasar aturan naratif. Pendekatan yang Todorov gembar-gemborkan waktu itu adalah “sintaksis naratif”.

Dalam kajian yang akan penulis lakukan, penulis akan mengambil judul “Aspek Sematik dan Verba dalam Cerita Pendek Usapkan Air Mata Ibuku Karya Dwi Agustina (Sebuah kajian struktural Tzvetan Todorov)”dengan alasan bahwa pendekatan stuktural yang dicetuskan oleh Todorov dalam perkembangan di Indonesia masih terbilang baru. Sehingga penulis berharap dapat mencapai hasil yang maksimal dalam mengkaji cerita pendek yang berjudul Usapkan Air Mata Ibuku. 

2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan pengkajian ini selain memenuhi tugas mata kuliah Pengkajian Prosa, juga untuk:
1)Menjelaskan kajian cerita pendek Usapkan Air Mata Ibuku dengan pendekatan naratologi Todorov khususnya aspek semantik.
2)Menjelaskan kajian cerita pendek Usapkan Air Mata Ibuku dengan pendekatan naratologi Todorov khususnya aspek verba.
3)Menjelaskan hasil yang diperoleh dari pengkajian cerita pendek Usapkan Air Mata Ibuku dengan pendekatan naratologi Todorov.

3. Naratologi Strukturalis Tzevetan Todorov

Todorov adalah salah satu tokoh strukturalis yang mencetuskan pandangannya mengenai teks sastra. Todorov mengatakan bahwa telaah teks sastra meliputi:
a. Aspek semantik : hubungan sintagmatik dan paradigmatik
b. Aspek verba : modus, kala, sudut pandang, dan penuturan
c. Aspek sintaksis : struktur teks, sintaksis naratif, kekhususan, relasi
(Todorov dalam Zeimar,dkk., 1985)

4. Simpulan

Pengkajian yang dilakukan penulis terhadap cerita pendek di atas adalah menggunakan pendekatan dalam teori Todorov. Simpulan yang dapat penulis simpulkan setelah mengkaji cerita pendek tersebut, adalah:
1)Todorov adalah salah satu tokoh strukturalis yang mencetuskan pandangannya mengenai teks sastra. Todorov mengatakan bahwa telaah teks sastra meliputi:
a.Aspek semantik : hubungan sintagmatik dan paradigmatik
b.Aspek verba : modus, kala, sudut pandang, dan penuturan
c.Aspek sintaksis : struktur teks, sintaksis naratif, kekhususan, relasi
2)Dalam aspek semantik terdapat dua hubungan, yaitu:
a.Hubungan sintagmatik, terdapat dua aspek yang dianalisis yaitu urutan peristiwa dan fungsi utama
b.Hubungan paradigmatik, terdapat dua aspek yang dianalisis yaitu indeks dan informan
3)Dalam aspek verba, terdapat tiga kategori yang dianalisis, yaitu:
a.Kategori Modus terdapat tiga gaya cerita yakni gaya langsung, gaya tak langsung, dan gaya ujaran yang diceritakan
b.Kategori Waktu
c.Kategori Pandangan 
4)Dalam aspek sintaksis, terdapat tiga kategori yang dianalisis, yaitu:
a.Struktur teks : urutan logis, urutan temporal, dan urutan spasial
b.Sintaksis naratif : kalimat, sekuen, dan teks
c.Kekhususan dan relasi

5. DAFTAR PUSTAKA

Nuryatin, Agus. 2006. Handout Perkuliahan: Teori Sastra (1). Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Selden, Rahman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah mada University Press.
Chamamah, S. 2001. “Penelitian Sastra, Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar”. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya. 
Hudayat, Asep Yusup. 2007. Metode penelitian Sastra, modul. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran.
Minderop, Albertine. 2005. Metode Karakteristik Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer: dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, hlm. 239-246. Yogyakarta: Kinisius.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Todorov, Tzevetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K. S. Zaimar, dkk. Jakarta: Pustaka Jaya. 
Kumpulan cerpen lomba seleksi peksimida.


Untuk download file silakan klik disini

Rabu, 08 Juli 2009

TANDA DAN MAKNANYA DALAM PUISI PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA KARYA HARTOYO ANDANGJAYA (KAJIAN SEMIOTIKA PUISI)

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia S1


PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa,
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara,
mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perenpuan yang membawa bakul di pagi buta,
siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja,
perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

(Hartoyo Andangjaya)


1. Pendahuluan

Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif. Puisi merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks.

Pradopo (dalam Suharianto 2005: 8) mengatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Analisis semiotik yang diterapkan pada puisi berbeda dengan semiotik yang diterapkan untuk prosa. Semiotik puisi sebenarnya tidak akan berhenti sampai pada perangkat puitiknya saja, melainkan dapat sampai pada melacak latar belakang ideologi pengarangnya, atau latar belakang sosial-budaya puisi yang ditulisnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Riffaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry.

Puisi yang dijadikan obyek kajian dalam analisis ini adalah puisi Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya. Analisis semiotik pada puisi Hartoyo Andangjaya ini, berpedoman pada teori Riffaterre.

2. Analisis Semiotik Puisi Perempuan-Perempuan Perkasa

Analisis puisi Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya dilakukan dengan menganalisis unsur intrinsik menggunakan pendekatan semiotik, khususnya pendekatan semiotik puisi dari Riffaterre. Analisis tanda pada unsur intrinsik meliputi analisis gaya bahasa, enjambemen, tipografi, penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti.

Judul puisi perempuan-perempuan perkasa dapat dikatakan dapat mewakili isi yang ingin disampaikan oleh penyair dalam puisi ini. Frasa perempuan-perempuan perkasa merupakan penggambaran penyair mengenai perjuangan kaum wanita, yaitu ibu-ibu, dalam mencari nafkah untuk membantu perekonomian keluarga serta menyejahterakan keluarga mereka. Setiap hari mereka berjuang membanting tulang di tepat kerja mereka. Hal yang ingin ditonjolkan penyair dalam puisi ini adalah pengorbanan dan kerja keras para ibu-ibu dengan mengibaratkan mereka sebagai perempuan-perempuan perkasa.

3. Penutup

Puisi ini termasuk puisi yang mudah dipahami oleh pembaca. Pembaca akan dengan mudah menemukan makna yang ingin disampaikan oleh penyair. Karena penyair menggunakan susunan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca sehingga tidak terdapat nonsense pada puisi ini.

Puisi ini menggambarkan perjuangan seorang wanita yang telah berkeluarga untuk mencari nafkah demi kehidupan keluarga dan ikut membantu perekonomian keluarga. Walaupun suami mereka telah bekerja.

Setiap hari mereka berjuang membanting tulang di tepat kerja mereka. Hal yang ingin ditonjolkan penyair dalam puisi ini adalah pengorbanan dan kerja keras para ibu-ibu dengan mengibaratkan mereka sebagai perempuan-perempuan perkasa.

Penyair juga mengumpamakan ibu sebagai akar yang menopang pohon. Dengan kata lain ibu yang bekerja membanting tulang dan menghidupi keluarga adalah penopang ekonomi keluarga disamping suaminya.

Puisi ini juga dapat dihubungkan dengan kehidupan masyarakat sekarang. Banyak ibu-ibu yang bekerja dan meniti karier di luar rumah ketimbang mengasuh dan menjaga keluarga mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Edraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Keraf, Gorys. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Kridalaksana, Harimukti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mugijatna. 2008. “Teori Semiotika Puisi Reffaterre dan Ideologi Penyair”. Artikel Konferensi Internasional Kesusastraan XIX di Batu 12-14 Agustus 2008. Malang: Batu.
Mulyana, Slamet. 1956. Peristiwa Bahasa dan Sastra. Jakarta: Granaco N.V.
Natawijaya, Suparman. 1986. Apresiasi Stilistika. Jakarta: Internusa.
Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sasatra. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.
_______. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
_______. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Reffaterre, M. 1978. Semiotics of Poetry. Great Britain: Spottiswoode Ballantyne.
Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Suyoto, Agustinus. 2007. “Dasar-dasar Analisis Puisi”. Lembar Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2 Yogyakarta.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Zoest, Aart van. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Diterjemahkan oleh Ani Soekowati. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.


untuk download file silakan klik di sini

Kamis, 02 Juli 2009

RESUME ILMU BAHASA LAPANGAN Karya Wiliam J. Samarin

Oleh :
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang


Bab I Tujuan Linguistik Lapangan

Bab II Faktor-Faktor Manusia dalam Pebelitain

Bab III Informan Bahasa

Bab IV Korpus Linguistik

Bab V Memperoleh dan Memelihara Korpus

Bab VI Teknik Pemancingan

Bab VII Membuat Kegiatan Kerja Menjadi Bermanfaat

Bab VIII Memeriksa dan Membandingkan Data

Bab IX Prosedur dalam Analisis Lapangan


untuk download file klik disini

RESUME KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA MENURUT HARIMUKTI KRIDALAKSANA

RESUME 
KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA
MENURUT HARIMUKTI KRIDALAKSANA

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Penelitian Linguistik dosen pengampu Prof. Dr. B. Karno Ekowardono

Oleh:
Nama : Alfian Rokhmansyah
NIM : 2150407005
Program Studi : Sastra Indonesia S1
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2009

untuk download file klik di sini

NASKAH BERTITIMANGSA HIJRIYAH

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang

A. Pendahuluan
 Untuk mementukan penanggalan dalam hijriyah, dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain: (1) Isti’mal, yaitu menggenapkan hitungan bulan menjadi 30 hari, dan (2) Rukyat Al-Hilal, yaitu menyaksikan bulan baru lewat alat teropong yang canggih.

B. Penanggalan Hijriyah
 Penanggalan Hijriyah dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad s.a.w. dari Makkah ke Madinah. Penanggalan dalam tahun Hijriyah menggunakan perhitungan peredaran bulan. Menurut perhitungan astronomi berdasarkan perhitungan peredaran bulan, satu tahun memakan waktu 354 hari, 8 jam, 48 menit, dan 36 detik. Sedangkan satu bulan memakan waktu 29 hari, 12 jam, 44 menit, dan 3 detik. Dalam penanggalan Hijriyah juga terdapat tujuh hari seperti dalam penanggalan Masehi, yaitu Ahad, Ithnain, Tsalatsa, Arba’a, Khamis, Jum’ah, Sabtu.

C. Penjajaran Tahun Hijriyah dengan Tahun Masehi
Cara menyesuaikan dan mengkonversi tahun Hijriyah dengan tahun Masehi atau sebaliknya menggunakan rumus berikut:
1. Untuk mengkonversi dari tahun Hijriyah ke tahun Masehi menggunakan rumus: 32/33 (H + 622), dengan H adalah tahun Hijriyah yang akan dikonversi.
2. Untuk mengkonversi tahun Masehi ke tahun Hijriyah menggunakan rumus: 33/32 (M – 622) dengan M adalah tahun Masehi yang akan dikonversi.

D. Penyesuaian Titimangsa Hijriyah ke Titimangsa Masehi
 1. Tibyan fi ma’rifat al-adyan
 Naskah selesai ditulis pada hari Ahad, 9 Rajab 1064. Maka, M = 32/33 x 1064 + 622 = 1031,75 + 622 = 1653,75. Tahun itu sesuai dengan tabel Dr. Ferdinand dan pada Encyclopaedie van Ned. Indie bahwa 1 Muharram 1064 bersesuaian dengan hari Sabtu, 22 November 1653.
Perhitungan selanjutnya adalah sebagai berikut:
1) Rajab adalah bulan ke-7. Bulan 1 s/d ada 177 hari. Tanggal 9 Rajab adalah hari yang ke177 + 9 = 186 untuk tahun 1064 Hijriyah.
2) Tanggal 1 Muharram 1064 jatuh bertepatan dengan 22 November 1653. November adalah bulan ke-11. Bulan 1 s/d 10 = 304 hari. Tanggal 22 November adalah hari ke 304 + 22 = 326 untuk tahun 1653.
3) Tanggal 9 Rajab adalah hari yang ke 326 + 186 = 512 dihitung dari 1 Januari 1653. Tanggal 1 Muharram 1064 dan tanggal 22 November 1653 menduduki hari yang berimpit, sehingga tanggal 9 Rajab itu tidak merupakan hari yang ke 512, tetapi dikurangi satu hari, jadi 9 Rajab itu merupakan hari yang ke 511 dihitung dari 1 Januari 1653.
4) Baik tahun 1064 A.H. dan tahun 1653 A.D. merupakan tahun biasa, bukan tahun kabisat, jadi tahun 1653 berumur 365 hari. Kalau demikian maka tanggal 9 Rajab itu merupakan hari yang ke 511 – 36 = untuk tahun 1654, atau bertepatan dengan tanggal 26 Mei 1654.  
 2. Hikayat Sultan Abdul Muluk
 Naskah selesai ditulis pada hari Rabu, 8 Rajab 1262. Maka, M = 32/33 x 1262 + 622 = 1233,75 + 622 = 1845,75. Tahun itu sesuai dengan tabel pada Encyclopaedie van Ned. Indie bahwa 1 Muharram 1262 bersesuaian dengan tanggal 30 Desember 1845.
Perhitungan selanjutnya adalah sebagai berikut:
1) Rajep adalah bulan yang ke-7. Bulan 1 s/d 6 = 177 hari. Tanggal 8 Rajep adalah hari yang ke 177 + 8 = 185 untuk tahun 1262 A.H.
2) Tanggal 1 Muharram 1262 jatuh bertepatan dengan 30 Desember 1845. Desember adalah bulan ke-12. Bulan 1 s/d 11 Masehi = 334 hari, jadi 30 Desember adalah hari yang ke 334 + 30 = 364.
3) Tanggal 1 Muharram 1262 dan tanggal 30 Desember 1845 merupakan hari yang berimpit, sehingga 8 Rajep merupakan hari yang ke 549 – 1 = 548 dihitung mulai 1 Januari 1845 atau merupakan hari yang ke 548 – 365 = 183 untuk tahun 1846 A.D. Jadi, 8 Rajep 1262 bertepatan dengan 2 Juli 1846 A.D.
3. Hikayat Raja Pasai
 Naskah selesai ditulis pada hari Senin, 21 Muharram 1230. Maka, M = 32/33 x 1230 + 622 = 1192,72 + 622 = 1814,72. Tahun itu sesuai dengan tabel Dr. Ferdinand dan pada Encyclopaedie van Ned. Indie bahwa 1 Muharram 1230 bersesuaian dengan hari Rabu, 14 Desember 1814.
Perhitungan selanjutnya adalah sebagai berikut:
1) Tanggal 21 Muharram adalah hari yang ke-21 untuk tahun 1230 H.
2) Tanggal 1 Muharram 1230 bertepatan dengan tanggal 14 Desember 1814. Tanggal 14 Desember adalah hari yang ke 334 + 14 = 348 untuk tahun 1814 A.D.
3) Tanggal 21 Muharram 1230 adalah hari yang ke 348 = 21 = 369 dihitung dari tanggal 1 Januari 1814. Tanggal 1 Muharram 1230 dan tanggal 14 Desember 1814 merupakan hari yang berimpit, jadi 21 Muharram 1230 merupakan hari yang ke 369 – 1 = 368 dihitung dari 1 Januari 1814 atau hari ke 368 – 365 = 3 untuk tahun 1815 A.D. Jadi, 21 Muharram 1230 bertepatan dengan 3 Januari 1815.  

E. Rumus dan Tabel Penyesuaian Titimangsa Awal Tahun Hijriyah
1. Rumus Penyesuaian
 Rumus mencari penyesuaian satu tahun hijriyah ke tahun Masehi sudah dijelaskan di atas. Dalam rumus disebutkan untuk mendapatkan angka tahun Masehi hendaklah dibuang keenam angka desimal dari hasil perkalian 970.224 dengan tahun hijriyah dan tambahlah dengan 621.5774. Bila itu dikerjakan maka tahun Masehi akan selalu kurang satu dari kenyatan. Maka untuk mendapatkan tahun Masehi yang sesuai dengan tahun yang benar rumus itu sedikit diubah dengan tidak membuang keenam angka desimal itu.
2. Tabel Penyesuaian
1) Tabel penyesuaian dalam buku Dr. Ferdinand terungkap:
2) Penyesuaian awal tahun Hijriyah (1 Muharram) dengan hari dan tanggal.
3) Penyesuaian awal bulan-bulan lainnya tanpa adanya tanggal.
4) Kutipan hanya akan diakhiri dengan tahun 1043 A.H. yang bertepatan dengan berlakunya penanggalan Jawa-Islam pada zaman kerajaan Mataram
5) Tabel ini diakhiri dengan tahun 1050 A.H. agar tidak memecah siklus 30 tahunan tahun hijriyah.
6) Dalam tabel, setiap siklus 30 tahunan tahun Hijriyah dipisahkan dengan garis panjang dan tahun-tahun kabisat diberi tanda bintang.