Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 14 Januari 2010

ANALISIS KETIDAKADILAN GENDER PADA TOKOH WANITA DALAM NOVEL PEREMPUAN KEMBANG JEPUN KARYA LAN FANG (KAJIAN KRITIK FEMINISME)

Oleh :
Alfian Rokhmansyah
NIM 2150407005
Sastra Indonesia, S-1
Universitas Negeri Semarang


A. Pendahuluan
Kesusastraan merupakan karya seni yang di dalamnya berupa nilai-nilai tentang karya sastra dan bukan karya sastra. Dengan mempelajari karya sastra, seseorang harus belajar dari masyarakat melalui adat istiadat di suatu daerah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardjo (1999: 194) bahwa nilai-nilai dalam karya sastra tidak begitu saja lahir tanpa adanya pengorbanan, tetapi dengan belajar dari masyarakat.

Selain sebagai karya seni yang memiliki imajinasi dan sosial, sastra juga dianggap sebagai karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai alat atau sarana intelektual. Sejalan dengan tersebut, Faruk (1999: 84) menyatakan bahwa kesusastraan berfungsi untuk mendidik semua orang berfikir secara jernih atau halus, tidak berprasangka buruk pada orang lain. Jassin (1983: 4) menyatakan bahwa seseorang perlu menghayati pengalaman kehidupan yang ia peroleh di dunia ini kemudian diterapkan dalam karya satra yang akan menarik perhatian orang lain.

Menurut Damono (1984: 1) sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium dan bahasa sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam hal ini kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmasyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang.

Tidak dipungkiri dunia sastra saat ini sedang mengalami banyak terobosan yang digawangi oleh sastrawan-sastrawan muda. Dunia sastra adalah dunia yang lebih berpihak kepada manusia dan aspek kemanusiaan serta semakin diminati banyak orang karena eksistensinya lebih banyak menawarkan pilihan-pilihan dalam menghadapi liku-liku kehidupan. Hal ini terbukti dengan munculnya karya sastra yang mengangkat permasalahan yang dulu dianggap tabu dan tidak sopan oleh masyarakat, kemudian dikemas dalam sebuah karya yang layak dinikmati masyarakat.

Permasalaha yang menjadi sorotan publik dan ide dalam sebuah karya sastra saat ini adalah mengenai permasalahan gender. Adanya perbedaab gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inqualities). Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan gender baik bagi kaum laki-laki dan terutama kaum wanita.

Sosok wanita sering kali dianggap sebagai the other sex atau the second sex yang mana keberadaannya sering kali tidak diperhitungkan. Posisi kaum wanita dalam keluarga dan masyarakat tidak lebih hanya sebagai konco wingking-nya laki-laki, artinya, tugas sosialnya hanyalah sekadar pelayan bagi seorang suami, seorang istri hanya bertugas menghidangkan makanan bagi sang suami, mengandung dan melahirkan anaknya, dan bahkan tidak jarang istri tidak mengetahui banyak hal tentang suaminya. Wanita juga hanya ibu bagi anak-anaknya, tugasnya melahirkan, menyusui dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan materi anak, tanpa ada bekal pengetahuan sedikitpun tentang pengasuhan dan pendidikan anak.

Wanita sering kali berada dalam kondisi yang terpuruk dan mengenaskan. Banyak kaum wanita yang tidak pernah merasakan pendidikan formal. Pendidikan nonformal dari pihak keluarga dan lingkungan hanya sekadar pembekalan untuk mengatur urusan dapur dan rumah tangga saja.

Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana baik kaum laki-laki dan wanita menjadi korban dari sistem tersebut (Fakih, 2003: 12). Permasalahan gender tersebut yaitu bahwa kehidupan wanita di zaman dahulu sampai sekarang mengalami kegelapan dan sangat diabaikan keberadaannya. Gambaran sosok wanita selalu berada dalam kekuasaan laki-laki.

Menurut Fakih (2003: 10) karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif, maka laki-laki kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena wanita harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum wanita, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Dengan adanya permasalahan gender tersebut membawa perkembangan baru bagi dunia sastra yaitu memberikan pengaruh terhadap cara pandang sastrawan untuk menciptakan tokoh wanita dalam karya sastranya.

Wanita di wilayah publik cenderung dimanfaatkan oleh kaum laki-laki untuk memuaskan koloninya. Wanita telah menjelma menjadi bahan eksploitasi bisnis dan seks. Dengan kata lain, saat ini telah hilang sifat feminis yang dibanggakan dan disanjung bukan saja oleh kaum wanita, namun juga kaum laki-laki. Hal ini sangat menyakitkan apabila wanita hanya menjadi satu segmen bisnis atau pasar (Anshori, 1997: 2).

Menurut Suroso dan Suwardi (1998: 2), sastra Indonesia memandang wanita menjadi dua bagian kategori. Kategori pertama adalah peran wanita dilihat dari segi biologisnya (isteri, ibu, dan objek seks) atau berdasarkan tradisi lingkungan. Kedua, bahwa peranan yang didapat dari kedudukannya sebagai individu dan bukan sebagai pendamping suami. Tokoh wanita seperti kategori kedua di atas, biasanya disebut sebagai wanita feminis yaitu wanita yang berusaha mandiri dalam berpikir, bertindak serta menyadari hak-haknya.

Lan Fang merupakan penulis muda dalam ranah kesustraan Indonesia. Novel Perempuan Kembang Jepun merupakan salah satu karya Lang Fang yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2006. Novel ini mengangkat masalah wanita pada pusat hiburan Kembang Jepun di Surabaya pada era tahun 1940-an. Jadi novel ini termasuk salah satu novel sejarah. Peristiwa sejarah yang terjadi, yaitu berakhirnya masa penjajahan Belanda di Indonesia dan awal zaman penjajahan Jepang di Indonesia menjadi latar dalam novel ini.

Keistimewaan Lan Fang dalam novel Perempuan Kembang Jepun adalah bahwa tokoh yang terlibat dalam novel tersebut dapat diungkapkan dengan cermat dalam jalinan cerita sehingga alur cerita tetap terjaga dari awal sampai akhir, meskipun alur ceritanya merupakan alur flash back. Selain itu, Lan Fang mampu menggambarkan kehidupan pada akhir masa penjajahan Belanda dan awal jaman penjajahan Jepang yang serba sulit dan kompleks, terutama ketidakadilan gender yang dialami oleh wanita. Dalam novel ini pembaca dihadapkan pada ketidakadilan yang dialami oleh wanita pada zaman penjajahan Jepang. Melalui karya sastra ini pengarang memberikan refleksi kepada pembaca tentang ketidakadilan yang dialami oleh wanita pada masa itu tanpa dapat melakukan pembelaan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh para tokoh wanita dalam novel tersebut. Sebagai contoh, ketika seorang isteri meminta tanggung jawab suaminya supaya bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, tetapi yang diterima adalah makian dan omelan dari suaminya. Selain itu, wanita juga dijadikan sebagai objek seksual oleh laki-laki tanpa dapat memberikan perlawanan sehingga menimbulkan trauma yang berkepanjangan.

Ketidakadilan yang dialami oleh wanita juga masih sering terjadi sampai sekarang, baik itu ketidakadilan dalam berumah tangga, seksual maupun ekonomi. Hal ini yang membuat peneliti memilih topik ketidakadilan gender terhadap wanita dalam novel Perempuan Kembang Jepun karya Lang Fang. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kajian sastra feminis, dengan mempertimbangkan segi-segi feminisme (Djajanegara, 2000: 27).


B. Landasan Teori
1. Teori Struktural
2. Teori Kritik Sastra Feminisme
2.1 Teori Feminisme
2.2 Kritik Sastra Feminis
3. Ketidakadilan Gender
1) Marginalisasi Wanita
2) Subordinasi Wanita
3) Setereotip Jenis Kelamin
4) Kekerasan terhadap Wanita
5) Beban Kerja

D. Penutup

Dari hasil analisis unsur intrinsik dan analisis ketidakadilan gender yang ada di dalam novel Perempuan Kembang Jepun ini, dapat disimpulkan beberapa hal. Tema novel Perempuan Kembang Jepun adalah tentang pencarian cinta sejati karena seberapapun terkenal atau tenarnya seseorang tetap membutuhkan cinta dan kebersamaan. Alur atau plot novel Perempuan Kembang Jepun ini adalah plot campuran. Hal tersebut terlihat pada penanda waktu di setiap bagian awal dari novel. Hal ini terlihat pada bagian prolog, terutama pada akhir, merupakan awal tahap penyelesaian yang kemudian dilanjutkan pada bagian V dan epilog. Pada tataran ini, plot novel adalah flash back. Namun bagian I sampai dengan bagian IV memperlihatkan urutan waktu yang tumpang tindih.

Penokohan dalam Novel Perempuan Kembang Jepun adalah terdiri dari tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah Matsumi (Tjoa Kim Hwa), sedangkan tokoh tambahan adalah Lestari (Kaguya), Sulis dan Sujono. Sifat karakteristik masing-masing tokoh berdasarkan pada tiga dimensi, yaitu fisiologis, sosiologis, dan psikologis.

Adapun latar dalam novel Perempuan Kembang Jepun adalah latar waktu, latar tempat, dan latar sosial. Latar waktu ditunjukkan pada prolog dan epilog dalam novel. Bergulirnya cerita dimulai pada tahun 1941 sampai dengan Februari 2004. Latar tempat ditunjukkan dengan namanama kota yang dipakai dalam novel. Kota-kota tersebut di antaranya adalah Surabaya dan Kyoto, Jepang. Selain kota, latar tempat juga ditunjukkan dengan tempat hiburan, yaitu kelab hiburan di Kembang Jepun.

Ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh wanita dalam novel Perempuan Kembang Jepun adalah marginalisasi wanita, subordinasi wanita, stereotip wanita, kekerasan terhadap wanita serta gender dan beban kerja. Ketidakadilan gender terjadi pada tokoh wanita, terutama pada tokoh Matsumi (Tjoa Kim Hwa). Tetapi tokoh wanita lain di dalam novel ini juga mengalami kasus ketidakadilan gender.

E. Daftar Pustaka
1. Abdullah, Irwan. 1997. “Dari Domestik ke Publik: Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan.” Dalam Abdullah, Irwan (Ed.). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2. Adji, S.E. Peni. 2003. Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis. Dalam Jurnal Humanioran Volume XV, No. 1/2003, hlm. 23-28. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
3. Anshori, Dadang (Ed). 1997. Membincangkan Feminisme (Refleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita). Bandung : Pustaka Hidayah.
4. Budianta, Melani. 2002. “Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar”. Dalam Budiman, Kris (Ed.). Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
5. Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
6. Demartoto, Argyo. 2005. Menyibak Sensitivitas Gender dalam Keluarga Difabel. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
7. Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
8. Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
9. Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
10. Fang, Lan. 2007. Perempuan Kembang Jepun. Jakarta : Gramedia.
11. Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
12. Ihromi, Tapi Omas, dkk. 2000. Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita. Bandung : Alumni.
13. Jassin, H.B. 1983. Sastra Indonesia Sebagai Warga Dunia Sastra. Jakarta: Gramedia.
14. Luhulima, Achie Sudiarti. 2000. Pemahaman Bentuk-Bentuk Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya. Bandung : Alumni.
15. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
16. Poerwandari, Kristi. 2000. Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita. Bandung: Alumni.
17. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
18. Saparie, Gunoto. 2005. Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881 (diunduh 20 April 2009).
19. Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
20. Semi, M. Atar. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta : Angkasa Raya.
21. Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.
22. Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
23. Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
24. Sugihastuti. 2002. Wanita di Mata Wanita: Perspektif Sajak-Sajak Toeti Heraty. Bandung : Nuansa.
25. Suharianto. S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
26. Sumardjo, Jakob. 1999. Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977. Bandung: Alumni.
27. Supriyadi, Wila Chandrawila. 2001. Kumpulan Tulisan Perempuan dan Kekerasan Dalam Perkawinan. Bandung : Mandar Maju.
28. Suroso dan Suwardi. 1998. Pola Pikir Wanita dalam Novel Modern. Yogyakarta : Lembaga Penelitain IKIP Yogyakarta.
29. Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
30. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
31. Widanti, Agnes. 2005. Hukum Berkeadilan Jender. Jakarta : Penerbit Buku Kompas-PT Kompas Media Nusantara.



Untuk download file ini, silakan klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...