Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 14 Januari 2010

ANALISIS STRUKTURAL PUISI TAK PERNAH KAU KUCINTA SEDALAM ITU KARYA BERTOLD BRECHT

Oleh :
Alfian Rokhmansyah
NIM 2150407005
Sastra Indonesia, S-1
Universitas Negeri Semarang


TAK PERNAH KAU KUCINTA SEDALAM ITU

Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,
Seperti di malam aku meninggalkanmu,
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang biru, adikku,
Dan bintang memutih di barat itu

Tak sedikit pun aku tertawa, adikku, tak sedikitpun
Di jalan iseng ke kelam nasibku
Sementara wajah-wajah di belakang itu
Berangsur memucat di hutan biru

Semua hal mengasyikkan di malam itu, adikku
Tak pernah sebelum dan sesudah itu –
Kuakui: hanya burung besar menemaniku,
Dengan pekik lapar di gelap itu

Karya: Bertold Brecht
Judul asli: Ich habe dich nie je so geliebt...
Penerjemah: Goenawan Mohamad


A. Pendahuluan
Menurut Wellek (dalam Baribin, 2004: 31), karya sastra adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Setiap pengalaman sebenarnya merupakan usaha menangkap rangkaian norma dalam karya sastra.

Pradopo (dalam Suharianto, 2005: 8) mengatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif.

Puisi merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks.

Sebuah puisi adalah sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur pembangun tersebut dinyatakan bersifat padu karena tidak dapat berdiri sendiri tanpa mengaitkan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Unsur-unsur dalam sebuah puisi bersifat fungsional dalam kesatuannya dan juga bersifat fungsional terhadap unsur lainnya (Waluyo, 1991: 25).

Puisi terdiri atas dua unsur pokok yakni struktur fisik dan struktur batin (Waluyo, 1991: 29). Kedua bagian itu terdiri atas unsur-unsur yang saling mengikat keterjalinan dan unsur itu membentuk totalitas makna yang utuh.

Struktur batin puisi terdiri atas : tema, nada, perasaan, dan amanat. Sedangkan struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian, kata kongkrit, majas, verifikasi dan tipografi puisi. Majas terdiri atas lambang dan kiasan, sedangkan verifikasi terdiri dari : rima, ritma dan metrum (Waluyo, 1991: 28).

Dalam analisis struktural ini, puisi yang dianalisis adalah Tak Pernah Kau Kucinta Sedalam Itu karya Bertold Brecht yang diterjemahkan oleh Goenawan Mohamad. Puisi ini menceritakan mengenai proses perpisahan antara sepasang kekasih.

B. Analisis Struktural Puisi
Analisis puisi Tak Pernah Kau Kucinta Sedalam Itu karya Bertold Brecht meliputi struktur fisik puisi dan struktur batin puisi. Struktur fisik meliputi rima, tipografi, diksi, enjambemen, dan bahasa. Sedangkan struktur batin yaitu tema, amanat, perasaan dan suasana.

C. Penutup
Puisi yang dianalisis adalah Tak Pernah Kau Kucinta Sedalam Itu karya Bertold Brecht yang diterjemahkan oleh Goenawan Mohamad. Puisi ini menceritakan mengenai proses perpisahan antara sepasang kekasih. Amanat yang dapat diperoleh dari puisi ini adalah penyesalan pasti akan datang belakangan setelah semua terjadi. Tetapi dengan usaha yang cukup besar, penyesalan itu pasti akan bisa diatasi.

Pemenggalan yang dilakukan penerjemah dimaksudkan untuk membentuk rima akhir yang sama. Pada tiap akhir baris pada puisi ini menggunakan rima akhir vokal /u/. Tujuannya adalah untuk memunculkan nilai estetis pada puisi.

Judul asli puisi ini adalah Ich habe dich nie je so geliebt… yang berasal dari bahasa Jerman. Oleh penerjemah, judul ini diterjemahkan menjadi Tak pernah kau kucintai sedalam itu. Penerjemahan judul puisi ini disesuaikan dengan isi puisi yang diterjemahkan. Judul puisi ini juga terdapat pada baris pertama bait pertama puisi terjemahannya.

Dari hasil penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah, pemilihan kata dalam puisi terjemahannya terbilang mudah untuk dimengerti. Tetapi penerjemah melakukan penggabungan kata yang menimbulkan ketidaksesuaian makna secara sintaksis. Muncul beberapa kiasan dalam puisi terjemahan ini.

Proses penerjemahan merupakan proses pengalihan bahasa dengan memerhatikan bahasa sasaran. Pada puisi Tak Pernah Kau Kucintai Sedalam Itu, penerjemah mengubah susunan kalimat pada puisi asli, sehingga puisi terjemahan dapat dipahami oleh pembaca bahasa sasaran, yaitu pengguna bahasa Indonesia. Penerjemah tetap memertahankan isi puisi sebagaimana puisi aslinya, tetapi juga mengubah sistem bahasa asli menjadi sistem bahasa Indonesia. Hal ini terbukti dari pemunculan sistem bahasa kias pada puisi terjemahan.

Bentuk-bentuk majas atau gaya bahasa dalam puisi ini juga digunakan untuk menambah nilai estetis dalam puisi terjemahan yang disesuaikan dengan puisi asli. Penerjemah memanfaatkan bentuk-bentuk gaya bahasa sebagaimana puisi asli Indonesia.

Secara umum, puisi ini didominasi oleh vokal /u/. Hal ini terlihat dari rima akhir yang terjadi. Sehingga pendominasian vokal /u/ ini menimbulkan efek kakofoni dan efoni sekaligus. Perasaan yang muncul pada puisi ini adalah murung, sedih, gundah, kecewa. Imaji yang terjadi adalah imaji bulat, berat, besar, rendah. Sedangkan suasana yang disebabkan dominasi vokal /u/ muncul suasana mesra, penuh kasih sayang, kacau, tidak teratur, dan tidak menyenangkan.

Munculnya rima pada puisi ini dipengaruhi oleh proses penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah. Karena belum tentu pada puisi aslinya terdapat bentuk rima seperti pada puisi terjemahannya. Gaya seorang pengarang juga dapat dilihat pada puisi hasil terjemahannya, walaupun ia hanya sekadar menerjemahkan.

D. Daftar Pustaka
1. Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.
2. _______. 2004. “Kritik Sastra I”. Paparan Kuliah. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
3. Edraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
4. Nuryatin, Agus. 2006. “Teori Sastra 1”. Modul Perkuliahan. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
5. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
6. _______. 1990. Pengkajian Puisi.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
7. _______. 2003. Prinsif-prinsif Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
8. Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
9. Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
10. _______. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia.
11. Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

12. Sumber Puisi: http://goenawanmohamad.com/puisi/sajak-bertold-brecht.html


Untuk mendownload file ini, silakan klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...