Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 14 Januari 2010

IZINKAN AKU BERMIMPI

IZINKAN AKU BERMIMPI

Oleh: Alfian Rokhmansyah

Fahri berjalan menyusuri koridor kantornya dengan langkah gontai. Kepalanya seakan mau pecah. Persoalan bertubi-tubi datang kepadanya. Mualai dari urusan kerjaannya, urusan keluarganya, hingga urusan tunangannya. Ia pernah mencoba bunuh diri. Tetapi semua itu batal karena ia sadar jika bunuh diri bukan jalan satu-satunya untuk bebas dari masalah.

Di perjalanan menuju rumahnya, ia memikirkan masalah yang akan timbul setelah ia sampai di rumah. Ayah dan ibunya pasti akan berdiri di depan pintu, dan langsung menyemburkan api kemarahan mereka. Pikiran Fahri seakan mulai panas. Telinganya mulai panas. Dengan apa yang didengarnya selama ini.

Benar. Apa yang terfikirkan Fahri dalam perjalanan pulang akhirnya terjadi. Ia berjalan ke arah ayah dan ibunya. Menatap muka mereka yang menahan amarah.

“Fahri, Ibu sudah katakan, kamu tidak boleh kecapaian. Kamu tidak perlu bekerja seperti ini. Kakakmu saja yang kerja. Dia tidak mau kamu kenapa-kenapa,” ucap ibuku. Aku lihat matanya mulai berair.

Tiba-tiba muncul suara itu dari dalam. “Dengar kata Ibu. Aku tak mau kamu sakit lagi. Sinta juga telah mendesakku untuk menasehatimu.” Fakri tahu itu suara kakaknya. Ia merasa aneh. Kenapa kakaknya ada di rumahnya. Padahal biasanya kakaknya tidak pernah datang kecuali ada masalah.

Fahri masuk ke rumah diikuti ayah dan ibunya. Fahri melihat kakaknya, Arman, dan istrinya tengah duduk di sofa ruang tamu. Fahri duduk di sebelah kakaknya.

“Dengar adikku. Sinta semalam menceritakan semuanya kepadaku. Aku minta maaf, karena aku kemarin tidak tahu jika kau masuk rumah sakit,” ucap Arman sambil memeluk Fahri. “Sinta telah mencoba meneleponku. Tapi aku tidak angkat. Aku kira dia hanya kangen denganku. Maafkan aku. Mulai sekarang kau tinggal di rumah saja. Biar aku dan Sinta yang bekerja. Kami sudah sepakat dengan semua ini.”

“Benar kata kakakmu, Ri. Aku dan kakakmu akan membiayai hidup kalian. Kamu ikhlas. Karena kamu adalah satu-satunya keluargaku. Aku tidak punya saudara lain. Ayah ibuku juga telah tiada,” kata Sinta sambil terisak menahan tangis.

Fahri benar-benar aneh. Kenapa semua orang begitu perhatian dengannya. Memang dua minggu yang lalu ia baru keluar dari rumah sakit. Ia divonis mengidap kerusakan ginjal yang begitu parah. Harus mendapat donor ginjal. Sehingga ia bisa bertahan hidup dan menjalani aktivitas seperti biasa.

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya kecapaian saja. Kalian tidak perlu menyuruhku tidak bekerja. Aku ingin mandiri. Tidak ketergantungan dengan kalian,” ucap Fahri. Ia berjalan menuju kamarnya. Masuk kamar sambil membanting pintu.

Di dalam kamar Fahri duduk termenung. Menatap jendela yang terbuka. Melihat surya yang kembali ke peraduannya. Langit jingga seakan merupakan gambaran jiwanya yang mulai panas. Fahri merasa sangat tertekan dengan semua ini. Ia kembali mengenang masa lalunya. Ya, masa lalu ketika semua ini belum terjadi.

* * *

Fahri memasuki sebuah toko sepatu. Penampilan Fahri ketika itu begitu casual. Dengan gaya anak muda saat itu. Kaos oblong putih yang dirangkap dengan baju lengan panjang yang lengannya di lipat hingga siku. Celana jins yang dipadu dengan sepatu santai.

Ketika sedang asyik memilih sepatu, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyenggol sikunya. Ia kaget dan menjatuhkan sepatunya yang masih ada ditangannya. Fahri melihat gadis itu dengan tatapan kagum. Wajahnya begitu manis. Rambutnya terurai panjang. Tinggi semampai. Tapi tak lebih tinggi dari Fahri. Dan gadis itu mulai salah tingkah.

“Eh… maaf.”

“Oh tak apa.”

“Aku bingung dengan pilihanku. Jadi nabrak deh.”

“Ya nggak apa-apa kok.”

Fahri mulai tertarik dengan gadis yang baru menyenggolnya itu. Hingga percakapan mereka sampai disebuah foodcourt lantai lima mal itu.

Rara. Ya, nama gadis itu Rara. Dia baru saja menyelesaikan studi sarjananya di Universitas Diponegoro program Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. Fahri heran, kenapa ia tidak pernah melihatnya. Padahal ketika Fahri semester tujuh, harusnya dia semester satu.

Sejak saat itu, Fahri mulai sering jalan dengannya. Hingga mereka memutuskan untuk berpacaran, dan menjalin hubungan secara lebih serius. Fahri menganggap bahwa ia adalah calon istrinya kelak. Karena selama ini setiap gadis yang dipacarinya hanya sebatas pacar dan belum berfikir untuk menjadikannya calon istri.

Tiga bulan lamanya Fahri menjalani hubungan dengan Rara. Hingga suatu ketika ia mendapati Rara tengah asyik ngobrol dengan seorang laki-laki di sebuah kafe. Fahri mendekati mereka.

“Ra, kamu di sini?”

“Eh… Fahri. Kok kamu ada di sini? Ngapain?”

“Aku nganter temen beli baju. Kamu kok ada di sini?”

“Iya, aku lagi sama temenku.” Rara mengatakan bahwa ia pergi dengan temannya. Tetapi Fahri melihat tingkah aneh dari Rara dan teman laki-lakinya itu.

“Teman?” laki-laki itu memandang Rara dengan tatapan tajam seakan akan menerkam Rara.

“Eh… gimana ini ya.” Rara mulai salah tingkah dan bingung.

“Ra, jujur, dia siapa?”

“Eh gini, Ri. Semua bisa kujelaskan kok.”

“Udah deh Ra, jelasin aja semuanya sama cowok ini!” kata laki-laki itu, sambil mengacungkan telunjuk ke muka Fahri.

“Gini Ri. Sebenarnya dia itu… dia… dia pacarku. Maafkan aku Ri. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku juga mencintainya, tapi aku juga tak mau kehilangan dirimu!”

“Apa…? Jadi selama ini kamu sudah menikamku dari belakang? Tak kusangka Ra. Ternyata kamu tidak lebih rendah dari mantan-mantanku dulu!”

“Heh jaga ya bacot-mu itu! Jangan kataian Rara sejelek itu!”

“Terserah aku! Aku ada hak untuk ngatain dia seperti itu!”

“Iya, Ri. Silakan kamu katain aku seperti apa, tapi aku nggak mau kehilangan kamu!” ucap Rara sambil memeluk Fahri.

“Lepaskan Ra. Ayo kita pergi.”

“Oke! Oke! Kamu udah nyakitin aku! Inget, kamu tidak akan pernah bahagia dengannya!” kata Fahri geram. “Mulai detik ini, kita putus! Tak perlu hubungi aku lagi untuk minta maaf! Karena aku takkan bisa maafin kamu! Inget itu!”

Fahri berlalu dari Rara dan laki-laki itu. Kepala fahri seakan mau pecah. Fahri masih mendengar teriakan Rara memanggilnya sambil terisak. Fahri tak mungkin kembali untuk perempuan yang tak bisa menjaga hati seseorang.

Ternyata ada juga playgirl di kota ini. Fahri tersenyum sendiri dalam perjalanan pulang di dalam mobilnya. Hati Fahri masih sakit dibuatnya. Tetapi Fahri merasa bersyukur, ternyata Tuhan telah menunjukkan siapa Rara sebenarnya sebelum akhirnya mereka menikah.

* * *

Tetapi kekalutan pikiran Fahri tidak langsung hilang. Sejak kejadian malam itu, Rara selalu menelepon dan mengirim pesan singkat ke HP Fahri. Setiap sore Rara juga menunggunya di lobby kantor Fahri. Usaha untuk melupakan Rara semakin sulit.

Fahri mulai bingung. Apa yang harus ia lakukan untuk mengakhiri semua ini. Akhrinya Fahri mencoba bunuh diri. Ia mencoba menenggak obat serangga cair. Hingga mulutnya berbusa dan tak sadarkan diri di kamarnya.

Hampir satu bulan Fahri dirawat di rumah sakit. Dan hampir satu minggu ia tak sadarkan diri. Ayah dan ibunya tahu jika penyebab kenekatan Fahri adalah masalahnya dengan Rara. Rara tidak berani menjenguk Fahri. Karena ia merasa bahwa dirinya adalah penyebab semua yang dialami Fahri. Dan itu memang kenyataannya.

Fahri tahu jika dia telah divonis mengidap gagal ginjal yang telah kronis. Dan dia harus mendapatkan donor ginjal, jika tak mau harus melakukan cuci darah.

* * *

Air mata Fahri mulai menetes mengingat kejadian yang menyebabkan ia harus menerima semua kesakitan yang kini dialaminya. Kenapa harus terjadi semua ini? Keluhan dan keluhan yang tiap kali muncul pada diri Fahri.

Hanya satu hal yang ingin ia temui sekarang. Seseorang yang begitu tulus memberikan kasih sayang padanya. Tidak perlu mendonorkan ginjalnya. Tetapi hanya satu hati untuknya. Dan tak melukainya. Seperti yang pernah ia terima dari orang-orang yang dulu mencintainya karena kekayaannya.

Fahri berharap ada seseorang yang mampu menghapus semua tetesan air matanya. Menghapus semua rasa sakit di hatinya. Memunculkan senyumnya. Dan mengasihinya sepanjang sisa hidupnya. Adakah orang seperti itu? Dan apakah itu hanya sebuah pembualan yang tak mungkin terwujudkan? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Mata Fahri mulai menutup. Mengahabiskan sisa air matanya. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur yang selama ini memberikan ketulusannya untuk ia tiduri. Menghangatkannya dikala ia dingin. Matanya membuka dan menerawang langit-langit kamarnya. Kosong. Gelap. Inikah gambaran hidupnya. Hingga tak ada yang mau menyentuh hatinya walau sedikit. Agar bisa memberikan ketenangan dalam hidup dan sisa hidupnya.

Mata Fahri mulai terpejam. Langit sore mulai gelap. Seakan mengiringi tidur Fahri. Dan itulah saat terakhirnya melihat surya di sore hari. Karena sejak saat itu, Fahri tidak akan bangun dan menatap surya. Menatap ibunya yang selalu terisak melihat kondisinya. Melihat ayahnya yang bekerja siang malam untuknya dan ibunya. Melihat keriangan anak-anak kakaknya. Melihat keharmonisan rumah tangga kakaknya. Melihat canda tawa teman-temannya dikantor. Dan satu yang tak akan lagi dialaminya, sakit hati karena ulah perempuan-perempuan yang hanya mengandalkan materi tanpa cinta yang tulus bersemi di hati mereka.

__ >”<>

Semarang, 21 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...