Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 14 Januari 2010

PERBANDINGAN KEHIDUPAN HOMOSEKSUAL DALAM NOVEL CINTA TERLARANG DAN NOVEL LELAKI TERINDAH

Oleh :
Alfian Rokhmansyah
NIM 2150407005
Sastra Indonesia, S-1
Universitas Negeri Semarang


A. Pendahuluan
Kesusastraan merupakan karya seni yang di dalamnya berupa nilai-nilai tentang karya sastra dan bukan karya sastra. Nilai-nilai dalam karya sastra tidak begitu saja lahir tanpa adanya pengorbanan, tetapi dengan belajar dari masyarakat. Selain sebagai karya seni yang memiliki imajinasi dan sosial, sastra juga dianggap sebagai karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai alat atau sarana intelektual.

Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksi terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian kehidupan dari masyarakat. Pengarang sebagai objek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya kepada objek kolektifnya. Signifikansi yang dielaborasikan objek individual terhadap realitas sosial di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian itu, menjadikannya dapat diposisikan sebagai dokumen.

Pengarang membuat karya sastra berdasarkan kenyataan yang terjadi oleh manusia. Oleh karena itu, karya sastra dapat diartikan sebagai suatu gambaran mengenai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Karya sastra yang memuat beraneka ragam nilai dan merupakan gambaran lengkap kehidupan suatu kelompok masyarakat umumnya berwujud sebuah novel.

Tidak dipungkiri dunia sastra saat ini sedang mengalami banyak terobosan yang digawangi oleh sastrawan-sastrawan muda. Di tengah booming industri penerbitan buku, seperti didera oleh sebuah godaan besar untuk melampaui klaimnya sebagai tempat bagi masyarakat bercermin, melihat dan memahami dirinya sendiri. Pengalaman kolektif sehari-hari sebuah masyarakat, atau peristiwa-peristiwa biasa yang dekat dengan dunia pengarang yang bersangkutan, seolah kehilangan daya pikat sebagai bahan eksplorasi untuk dihadirkan kembali sebaga wacana alternatif bagi pembaca, untuk mendefinisikan kembali keberadaannya, dan menimbang-nimbang kembali apa yang sebenarnya disebut sebagai realitas. Para pengarang tiba-tiba berpretensi menjadi peneliti sosial dan beramai-ramai menyingkap realitas-realitas tersembunyi. Seksualitas merupakan lahan yang pertama kali dan paling banyak diserbu oleh pengarang-pengarang dengan ambisi seperti itu.

Dalam perkembangan novel Indonesia saat ini, dari kedua penyimpangan orientasi seksual itu yang banyak diangkat menjadi tema sebuah novel adalah homoseksual. Homoseksual merupakan perilaku menyimpang seksual yang diidap oleh laki-laki sehingga mempunyai orientasi seksual suka dengan sesama laki-laki. Homoseksual juga dapat diartikan sebagai hubungan yang terjalin antara pria dengna pria (Widayani, 2006: 1).

Dalam analisis ini akan membandingkan kehidupan homoseksual dalam novel Cinta Terlarang karya Andre Aciman dengan novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana. Kehidupan homoseksual dalam kedua novel ini akan dibandingkan dengan melihat aspek penerimaan lingkungan dan kondisi psikologis dari para tokoh yang terlibat dalam kehidupan cinta homoseksual di masing-masing novel.

B. Kehidupan Pria Homoseksual dalam Novel dalam Novel Cinta Terlarang Karya Andre Aciman

C. Kehidupan Pria Homoseksual dalam Novel dalam Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana

D. Penutup
Dalam kehidupan nyata, homoseksual merupakan perilaku menyimpang yang berhubungan dengan kelainan orientasi seksual dan masih dianggap tabu untuk dilakukan. Homoseksual dalam kehidupan masyarakat merupakan perilaku yang tidak sesuai dan menyimpang dari kodrat manusia.

Persoalan homoseksual bukanlah merupakan persoalan kodrat manusia. Tetapi menyangkut orientasi dan praktik seksual sesama jenis. Kodrat manusia yang berpotensi menjadi seorang homoseksual merupakan suatu teori yang dicetuskan oleh Sigmund Freud dalam teori Psikoanalisa-nya.

Perilaku homoseksual di Indonesia masih dianggap tabu dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Hal ini disebabkan karena masyaralat Indonesia masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Selain itu, Indonesia juga masing dipengaruhi oleh budaya Jawa yang mempunyai peraturan pada setiap perilaku manusia.

Dalam Cinta Terlarang hanya dieksploitasi seksualitas homoseksual dibandingkan dengan kehidupan percintaannya, sedangkan dalam novel Lelaki Terindah mengungkapan lebih rinci, mulai dari bentuk-bentuk penolakan dari lingkungan, hingga kisah cinta homoseksual.

DAFTAR PUSTAKA
1. Aciman, Andre. 2008. Cinta Terlarang. Diterjamahkan dari Call Me By Your Name oleh F.X. Dono Sunardi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
2. Aksana, Andrei. 2007. Lelaki Terindah. Jakarta: Gramedia.
3. Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
4. Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Depdikbud.
5. Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
6. Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
7. Jaffar, Erros. 2004. Iblis itu Bernama “Homoseksual” (part 1). http://swaramuslim.net/ (diunduh 7 November 2009)
8. Just The Facts Coalition. 2008. Just the Facts About Sexual Orientation and Youth: A Primerfor Principals, Educators, and School Personnel. http://www.apa.org/pi/lgbc/publications/justthefacts.html (diunduh 4 Mei 2009)
9. Kartono, Kartini. 1985. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: CV. Mandar Maju.
10. Lukman. 2009. Homoseksual. http://lukmanpsi05.blogspot.com/2009/01/ homoseksual.html (diunduh 10 Mei 2009)
11. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
12. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
13. Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
14. Satoto, Soediro. 1993. Metode Penelitian Sastra. Surakarta: UNS Press.
15. Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta: Angkasa Raya.
16. Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Diterjemahkan oleh Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
17. Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
18. Suharianto. 2005. Dasar-Dasar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia.
19. Sumardjo, Jakob. 1999. Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977. Bandung: Alumni.
20. Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
21. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani Budianta) Jakarta: Gramedia.
22. Widayani, Viena. 2006. Konsep Diri Pria Homoseksual (Studi Kasus di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus). Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.



Untuk mendownload file ini, silakan klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...