Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 14 Januari 2010

SIMPHONI

SIMPHONI

Oleh: Alfian Rokhmansyah

Langit mulai menguning. Sang surya kini tengah berjalan ke peraduannya. Dengan langkah gontai, aku berjalan menyusuri jalan beraspal menuju rumahku. Aku sangat letih hari ini. Maklum seharian aku harus menatap papan tulis. Huh… andai aku tidak perlu susah-susah untuk kuliah. Bayar, dapat ijazah, kerja, selesai urusannya. Tapi, semua ini butuh proses yang panjang.

Aku langsung merebahkan diri di atas kasur dengan tetap mendengarkan musik dari headphone yang menempel ditelingaku. Aku masih heran dengan semua kejadian tadi siang di taman kampus. Aku tak tahu apa yang salah dengan diriku ini. Kenapa semua jadi aneh dan di luar nalar.

Sejam lamanya aku tidur dengan tetap memasang headphone-ku di telinga. Aku benar-benar ingin berteriak sekencang-kencangnya, agar ada yang mau mendengar jeritan perasaanku yang mulai tak stabil ini.

“Aduh!” Aku kaget dengan benda yang jatuh menipa mukaku. Aku serentak bangun dan mengambil buku yang ada di samping kepalaku tadi. “Siapa yang melempar buku ini?” tanyaku dalam hati.

Aku celingak-celinguk mencari sosok manusia yang berani melempar buku ke mukaku. Mataku tertuju pada daun pintu yang terbuka. “Sepertinya aku tadi sudah menutup pintu. Tapi kenapa terbuka?” gumamku.

Aku bangun dan melangkah keluar kamar. Aku terpaku melihat sosok anak kecil sedang tertawa terbahak di dekat pintu. Aku mulai geram dan langsung kujitak kepala anak itu.

“Aduh! Apa-apaan sih kak!” anak itu melotot memandangiku.

“Dasar anak nakal! Siapa yang mengajarimu melempar buku ke muka orang tua?”

Sambil tertawa ia berkata, “Kakak udah tua ternyata!” Sambil tetap tertawa ia menghilang dibalik pintu depan. Entah apa yang akan ia lakukan.

Aku kembali ke dalam kamar. Kunyalakan radio untuk menghilangkan bosan dengan mp3player-ku. Aku cari jaringan yang lumayan enak untuk didengarkan. Aku berhenti pada sebuah channel.

“Aku sepertinya pernah mendengar suara ini,” gumamku. “Tapi dimana ya?” Aku mengamati suara itu dengan seksama.

“Kenapa ini radio! Kok tiba-tiba resek gini sih!” kataku sambil memukul-mukul radio. Heran, kenapa disaat penting seperti ini harus kumat.

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ternyata ada pesan masuk. Hah! Ngapain dia sms ke nomorku. Kurang kerjaan banget nih orang.

Aku bingiung harus menjawab apa. Dia adalah orang yang tadi siang bertemu denganku di taman kampus. Oh iya, kalau tidak salah suara di radio tadi… ya benar, itu suaranya.

Aduh… kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini. “Tenang, Bob, jangan panik,” kataku dalam hati.

Berbegas aku mandi dan berpakaian seadanya. Aku langsung pergi ke sebuah tempat. Dia mengajakku ketemuan. Ada apa ya? Dia dapat nomorku dari siapa? Perasaan aku tadi siang cuma ketemu di taman dan tidak terjadi apa-apa. Cuma kata maaf aja yang keluar dari mulut kami. Pertanyaan itu bertubi-tubi muncul berulang-ulang dalam benakku.

Kupacu motorku dengan kecepatan penuh. Aku tak mau terlambat. Aku merasa ada dorongan untuk secepatnya tiba di sana.

Setibanya aku di sana aku tak melihat sosok orang itu. Sepi… hanya ada satu dua orang yang sedang asyik berpacaran. Di mana dia? Aku kenapa jadi resah seperti ini.

* * *

“Hei…” Suara itu mengagetkanku. Aku menoleh dan kudapati sosok yang tadi siang menabrakku di taman kampus.

“Eh… hai juga,” sapaku sekenanya. “Sudah lama nunggu?”

“Baru aja,” jawabnya dengan senyum yang begitu menawan. Aku terkesima melihat senyumnya yang menawan seperti itu. “Mungkin duluan kamu yang datang. Ini kan belum ada jam tujuh.”

“Oh… eh… iya… eh… maaf,” jawabku dengan panik.

“Tidak usah panik seperti itu. Biasa aja kali.” Ia seperti mencari sesuatu dan tiba-tiba dia memegang tanganku dan berkata, “Duduk di sana yuk…”

Aku membuntutinya. Aku duduk di sebelahnya. Suasana di sini begitu romantis. Tapi kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini. Aku belum pernah merasakan seperti ini.

“Kok bengong. Heran ya, kenapa aku ajak ke sini?”

“Ya begitulah. Aku belum kenal kamu. Mungkin juga sebaliknya. Kamu juga belum mengenal aku, tapi kenapa tiba-tiba kamu ngajak aku ketemuan?”

“Oh… maaf. Aku tadi setelah nabrak kamu, aku minta nomormu dari temanmu. Aku ngajak kamu kesini cuma mau minta maaf dan…”

“Kenapa?”

“Dan mau ngomong sesuatu kepadamu.”

Aku tertegun melihat matanya yang bersinar. Matanya sepeti kristal yang begitu mahal. Anggun. Aku tak pernah melihat mata seindah itu sebelumnya.

“Mau ngomong apa? Dingin di sini.”

“Dingin?” tanyanya. Ia lalu berdiri dan memberikan jaketnya kepadaku. Ia mengenakan jaket itu menutupi tubuhku. Aku memang lupa membawa jaket. Tadi keburu-buru, takut telat.

“Eh… terima kasih.”

“Sebentar.” Dia pergi meninggalkanku. Kemudia ia kembali dengan membawa dua botol softdrink. “Ini minum.”

Aku menganggukkan kepalaku. Tanda terima kasih. Aku heran dengan semua ini. Ah… ini cuma perasaanku saja. Mungkin ini hanya ucapan maaf yang tadi belum lunas.

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Sebenarnya…” kata-katanya terputus.

Ia menundukkan kepala. Ia kembali menatapku dengan mata kristalnya itu. Tapi kenapa aku begitu terpesona dengan dirinya. Jujur ia begitu tampan. Badannya yang dibalut dengan kaus ketat, menonjolkan setiap lekukan di badannya. Aku rasa itu hasil kerja kerasnya melakukan olah raga.

Aku juga terkesima dengan wajahnya yang bersih. Bibirnya yang merah. Begitu menawan. Tubuhnya tinggi. Mungkin banyak perempuan yang tertarik kepadanya.

Tapi aku juga tak kalah dengannya. Aku juga mempunyai wajah yang lumayan. Tubuhku juga proporsional, dan tak kalah tinggi dengannya. Di kampus, aku juga banyak cewek yang suka.

Lalu apa yang membuatku tertarik kepadanya. Aku laki-laki, dan ia pun laki-laki. Tapi kenapa… ada apa denganku…

“Hei… kok bengong, Bob. Ada yang salah?”

“Eh, nggak kok. Oh, ya maaf. Aku belum tahu namamu.”

“Aku Rio. Kamu Bobi kan?”

“Iya. Kok bisa tahu?”

“Iya, aku tahu namamu. Sebenarnya aku…,” dia menundukkan kepada, dan tiba-tiba dia memegang tanganku, “Aku suka kamu. Aku sudah lama mengamati dirimu. Aku tahu namamu. Tapi ketika aku ingin berkenalan denganmu, aku takut. Aku juga takut untuk meminta nomormu.”

Dia berdiri. Dia berjalan mendekatiku. Aku masih kaget dengan semua yang ia ucapkan. Aku tertunduk lesu.

“Tapi, tadi siang tak sengaja aku menabrakmu. Aku fikir ini adalah kesempatanku untuk bisa mengajakmu berkencan. Aku tadi setelah siaran, aku langsung menghubungimu. Dan kamu pun memberikan peluang kepadaku.”

Aku berdiri dan menatapnya. “Tapi… tidak seperti ini. Aku masih normal. Aku masih menyukai perempuan!” bentakku.

Dia menundukkan kepalanya. Aku melihatnya terisak. Aku bingung apa yang harus aku perbuat. Aku mendekatinya. Apakah aku telah berkata yang tak sesuai sehingga ia menangis? Mungkin aku salah.

“Rio… dengarkan aku. Aku memang kagum dengan dirimu. Tetapi ini hanya rasa kagum tidak lebih. Lagi pula, aku mempunyai seorang pacar cewek.”

“Ya aku sudah tahu semuanya. Dan aku harap kau tidak marah denganku atas semua pengakuanku ini,” ucapnya sambil memegang tanganku. “Dan aku harap, kamu bisa jaga rahasia ini.”

“Aku janji, Rio. Aku takkan mengumbar semuanya. Aku tahu kau seorang penyiar. Aku juga tahu, kau kakak tingkatku. Aku tak mau pendidikanmu terganggu gara-gara masalah seperti ini.”

Aku mengecup keningnya. Aku merasa ada getaran aneh dalam diriku. Aku hanya berfikir, ini adalah ciuman kasih sayang dari seorang adik untuk kakaknya.

* * *

Sejak kejadian malam itu. Aku selalu kepikiran Rio. Aku takut jika aku menghubunginya, aku takut jika dia mengira aku memberikan kesempatan dan harapan untuknya. Aku bingung atas diriku!

Sudah dua minggu ini aku tidak melihatnya di kampus. Aku tanya kakak tingkatku yang ikut kuliah denganku, tapi hasilnya nihil. Tak ada yang bisa memberiku jawaban pasti. Aku semakin tersiksa dengan kejadian itu. Kenapa aku harus memikirkannya? Aku masih normal. Aku masih menyukai lawan jenisku. Aku masih pacaran dengan Eni. Aku mencintainya, dan ia pun tidak mau lepas dariku. Tapi… kenapa aku harus mengalami semua ini.

Aku coba hubungi handphone­-nya tapi tetap tidak diangkat. Aku menjadi cemas. Aku merasa ada yang hilang. Aku khawatir terjadi sesuatu pada dirinya.

Eni mulai merasa ada yang aneh padaku. Dia selalu membuntutiku setiap hari. Aku rasakan semua itu. Aku selalu diam ketika ia menanyakan apa yang terjadi padaku.

Malam itu, aku mengajak Eni makan malam disebuah kedai dekat kampus. Eni mendesakku untuk menceritakan apa yang menjadi masalah bagiku.

“Bob, apa yang terjadi padamu?” tanyanya sambil meremas tanganku.

“Tidak ada apa-apa, En.”

“Aku tahu, Bob. Aku sudah pacaran denganmu lebih dari dua tahun. Aku tahu jika kamu ada masalah.”

“Dengar, En. Aku tidak punya masalah apapun. Yah… paling cuma masalah kuliah.” Aku tetap bungkam dengan semuanya.

“Tidak… tidak mungkin hanya karena masalah kuliah kamu jadi berubah seperti ini. Kamu berubah!”

Eni marah.

“Aku berubah?” tanyaku sambil memandang wajahnya.

“Ya… kamu berubah. Kamu tidak seperti Bobi yang dulu. Kamu tidak seperti Bobi yang selalu cerita tentang semua masalah yang kamu hadapi.”

“Tidak semua masalahku harus kamu ketahui!” jawabku.

“Oke kalau itu maumu. Terserah kamu, Bob. Aku tak mau ambil pusing dengan semua masalahmu! Terserah kamu!” katanya sambil berlalu meninggalkanku sendirian di kedai itu.

Aku hanya bisa memandang kosong ke arah perginya dia. Aku tak habis fikir, kenapa aku harus mengalami semua ini. Pikiranku kalut.

Aku dan Eni tidak ada komunikasi selama dua hari sejak kejadian malam itu. Dan tepat pukul dua siang, Eni menghubungiku. Ia meminta putus. Dan aku tanpa ada beban mengiyakan semua yang Eni inginkan. Aku mulai panik, aku bingung dengan diriku. Aku berubah! Tidak seperti Bobi yang dulu! Kenapa aku harus memikirkan laki-laki itu! Apa yang terjadi pada diriku! Aku pusing dan aku tiba-tiba tak tahu apa yang terjadi kemudian.

* * *

“Bob, sadarlah.”

Aku seperti mengenali suara itu. Aku kenal suara itu. Ya… itu suara Rio. Aku tahu. Itu suara Rio.

“Ri…o…” aku berusaha mengucapkan namanya seutuh mungkin. Aku merasakan tangannya menggenggam tanganku.

“Ya, Bob. Ini aku.”

“Aku sekarang di mana?”

“Kamu di rumah sakit, Bob. Dua hari lalu kamu pingsan. Aku menemukanmu tergeletak dilantai rumahmu. Dan ketika aku panik, ibu dan ayahmu pulang. Akhirnya kami membawamu kemari.”

“Bob, kemana kamu selama ini. Aku mencarimu.”

“Aku tidak kemana-mana. Aku cuma tidak ingin bertemu denganmu untuk beberapa waktu. Aku tetap kuliah. Dan aku selalu memperhatikanmu tiap hari. Aku pun tahu jika kamu putus dengan Eni. Aku tahu semuanya.”

“Bob, maafkan aku! Aku telah membuatmu kecewa. Tapi aku merasa kehilangan saat aku tak melihatmu. Aku… aku tidak mau kehilanganmu…”

Rio memelukku. Aku merasa tentram. Aku merasa tak ada lagi yang hilang. Begitu tentram. Begitu damai. Hingga aku teteskan air mataku dalam pelukannya.

Rio tiap hari datang ke rumah sakit. Hingga ibu dan ayahku menitipkanku kepadanya. Aku merasa tentram. Aku bahagia. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Aku belum pernah mendapatkan perhatian sebegitu besar dari Eni seperti yang Rio berikan kepadaku.

Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya? Tuhan, inikah jalanmu untukku? Aku akan tetap syukuri semua yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan aku takkan menyia-nyiakan semua ini. Terima kasih Tuhan.

* * *

Aku menjalani hubungan dengan Rio layaknya pasangan laki-laki dan perempuan. Tiap pagi ia selalu menjemputku di rumah dan pergi ke kampus bersama. Rutinitasku setelah menjalani hubungan dengan Rio tidak ada bedanya dengan kesehariaku bersama Eni. Hanya saja, kali ini aku yang mendapat perlakuan istimewa.

Tiap aku mencoba menawarkan diriku untuk menjemputnya, ia selalu menolak. Ia khawatir akan terjadi sesuatu terhadapku. Aku rasa ia terlalu berlebihan. Tapi aku menyukai perhatiannya. Pantas, banyak gadis-gadis di kampus yang mengincarnya.

Perhatiannya, kasih sayangnya, cintanya, ketulusannya, membuatku mabuk meresapi semua yang dia berikan. Semua ini tak pernah aku peroleh dari Eni. Apakah ini yang dinamakan cinta sejati?

Malam itu aku mendapatkan ajakan dari Rio untuk makan malam disebuah kafe. Aku bergegas merapikan diri. Kulihat jam di dinding kamarku, ternyata masih kurang sepuluh menit lagi. Tapi kenapa perasaanku tidak karuan. Padahal aku telah menjalani hubungan dengannya lebih dari satu bulan. Ah… aku cuma gugup saja.

Tanpa kuduga, ia sudah berdiri dibelakangku ketika aku sedang menghadap cermin. Aku berbalik dan langsung memeluknya. Kurasakan hangat tubuhnya. Pelukannya begitu erat. Seakan tidak ingin dilepaskan. Kupandangi wajahnya yang begitu mempesona. Aku berfikir kenapa aku bisa mencintai laki-laki ini.

“Sayang, sudah siap? Ayo berangkat!” Ia membuka pembicaraan sambil melepas pelukannya.

“Sudah. Lihat saja. Aku sudah rapi, kan?” jawabku sambil kembali memeluknya.

Ia memacu motornya dengan kecepatan standar. Aku memeluknya erat. Ada rasa takut kehilangan dia yang begitu besar dalam diriku. Kusandarkan kepalaku di punggungnya. Aku ingin sekali selalu mendekapnya seperti ini. Tiba-tiba tangan kirinya merepas tanganku yang ada di perutnya.

Aku merasa tentram. Damai. Tak terusik apapun. Inikah cinta? Aku selalu menanyakan itu dalam benakku. Aku belum bisa percaya ini cinta.

Sesampainya kami di sebuah kafe yang suasananya begitu romantis, ia memilih tempat duduk di belakang. Suasana di tempat yang ia pilih benar-benar romantis. ia duduk di hadapanku. Kupandangi wajahnya. Ia tersenyum. Perasaanku seperti melayang ke awang-awang.

“Kenapa, Bob? Kok kamu pandangi aku seperti itu? Ada yang aneh, ya?”

“Eh…tidak. Tidak ada apa-apa kok. Kamu beda aja malam ini.”

Tangannya meremas tanganku. Aku semakin salah tingkah. Malam ini benar-benar beda dengan acara makan malam sebelum-sebelumnya. Ia benar-benar memujaku dan memberikan sentuhan yang berbeda.

“Aku boleh menanyakan sesuatu tidak?”

“Tanya apa sayang?”

“Hm… sebenarnya apa yang kamu suka dariku? Kenapa kamu memilihku untuk menjadi pacarmu?”

Rio tersenyum. Ia kembali meremas tanganku. Ia memandangiku dengan tajam. Aku kembali menemukan tatapan mata kristalnya.

“Aku mencintaimu, karena aku mencintaimu. Tidak ada alasan lain selain aku mencintaimu.”

“Ah… mulai deh gombalnya keluar!”

“Aku tidak seperti laki-laki lain yang cuma bisa ngegombal. Aku jujur. Aku mencintaimu karena aku sangat mencintaimu.”

“Udah jujur aja kenapa."

“Jujur. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelum bertemu denganmu, Bob. Aku sangat kagum denganmu. Setiap aku bertemu denganmu di kampus, aku melihat ada sesuatu dalam dirimu.”

“Berarti kamu pernah pacaran dengan cowok sebelumnya?”

“Aku tidak mau dikatakan munafik. Aku pernah pacaran dengan cowok satu kali sebelum memilih untuk menjadi pacarmu. Emang kenapa ada yang salah? Tapi itu dulu banget. Pas aku semester dua. Itu pun cuma dua bulan pacaran.”

“Hah… dua bulan? Jangan-jangan pacaran sama aku cuma dua bulan. Atau malah kurang.”

“Nggak sayang. Aku janji akan menjagamu. Dulu bukan aku yang minta putus. Tetapi dia. Dia minta putus karena dia sudah punya cowok baru.”

“Janji?”

“Ya. Aku janji!”

Makan malam kami benar-benar romantis. Rio menghadiahiku sebuah cincin. Menurutnya itu adalah cincin yang dulu ingin diberikannya pada pacarnya yang dulu. Tetapi ia tunda, hingga ternyata ia dikhianati. Ia sepertinya menaruh harapan padaku. Aku ingin membahagiakannya. Dan aku janji akan selalu ada untuknya.

* * *

Sejak malam itu, ia selalu hadir untukku setiap aku membutuhkannya. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Hingga aku diminta untuk tinggal satu kos dengannya. Dengan susah payah, akhirnya aku diizinkan untuk kos di dekat kampus. Padahal rumahku masih satu kota dengan kampusku. Jika ditempus dengan sepeda motor kecepatan standar, hanya membutuhkan waktu 20 menit.

Aku hidup dengannya layaknya pasangan pada umumnya. Aku mencoba untuk menepati niatku agar tidak meninggalkannya. Dan ia pun menepati janjinya tidak akan meninggalkanku.

Karena ketulusan cintanya, ia bersedia menjadi seorang pelayan kafe, hanya karena ingin tetap di kota ini. Walaupun sekarang aku tidak lagi hidup satu atap dengannya, aku masih seperti yang dulu. Tetap mencintainya. Karena aku ingin bersamanya. Untuk selamanya.

Semarang, 18 Desember 2009

__ >”<>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...