Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Rabu, 28 April 2010

MARXISME DAN SASTRA

Negara yang mempunyai pandangan komunis, umumnya mengharuskan pengarang di negara itu untuk menuruti garis partai. Hal ini mengakibatkan di negara itu tidak lahir karya-karya besar. Sastra dan pengarang mempunyai peranan penting dalam negara komunis untuk menjalankan strateginya.

Karl Marx dan Frederick Engels

Marx dan Engels membicarakan sastra dalam hubungannya dengan faktor-faktor ekonomis dan peranan penting yang dimainkan kelas sosial, khususnya dalam pengaruh sosial ideologi dan pembagian kerja.

Dalam hubunganya dengan konsep ideologi, semua pikiran lahir berdasarkan keadaan sosial bahwa macam-macam pikiran yang berbeda-beda, baik yang bersifat falsafah, ekonomi, maupun historis, menampilkan tak lebih dari suatu perspektif yang berkaitan dengan posisi kelas pengarang, suatu pandangan dunia yang menyimpang dan sepihak.

Pembagian kerja memegang peranan penting dalam kehidupan sosial. Perkembangan perdagangan dan industri, ada orang atau kelompok orang bergeser dari taraf produksi material ke taraf produksi mental. Di bawah ekonomi kapitalisme, sastra dianggap sebagai parang industri.

Marx dan Engels menyebut sastra mencerminkan kenyataan dengan berbagai cara, tetapi dalam perspektif ekonomi. Selain itu, pandangan Marx dan Engels menunjukkan pandangan konsep sastra yang deterministis. Hubungan antara sastra dan masyarakat hanya dipandang dari segi kausalitas, seni atau sastra sebagai ideologi tidak memiliki otonomi.

Dalam pandangan Engels, sastra adalah cermin pemantul proses sosial. Sastra sebagai cermin dan konsep. Isi sastra, seni dan filsafat lebih kaya dan samar-samar dibandingkan dengan isi politik dan ekonomi. Politik dan ekonomi cenderung lebih bersifat langsung dan ideologis murni. Dua pokok pikiran Engels, pertama, tendensi politik penulis harus disajikan tersirat saja karena semakin tersembunyi pandangan si penulis, semakin bermutulah karya yang ditulisnya. Kedua, setiap novelis yang berusaha mencapai realisme harus mampu menciptakan tokoh-tokoh yang representatif dalam karya-karyanya.

Georgei Plekhanov

Kesenian dimulai ketika manusia menyadari bahwa dalam dirinya telah muncul perasaan dan gagasan sebagai pengaruh dari kenyataan yang melingkunginya. Seni dan sastra terikat kepada alat-alat produksi dan hubungan hak milik, sastra dan seni merupakan akibat dari kerja. Seni adalah cermin kehidupan sosial dan ada instink estetis yang sama sekali nonsosial serta tidak terikat pada kelas sosial tertentu.

Seni yang tidak bersumber dari perjuangan kelas tidak mungkin menjadi seni yang agung. Semua seni dan sastra terikat pada kelas, seni dan sastra agung tidak dapat muncul dari masyarakat yang dikuasai oleh pandangan borjuis.

Karya sastra besar adalah karya sastra yang mengandung pernyataan semangat kebangsaan yang berkembang secara historis, gerak dialektik daripada gagasan politik dan ekonomi. Pengarang besar adalah pengarang yang paling dekat dengan masyarakat dan evolusinya, yang mengagungkan kebutuhan zamannya, mengekspresikan semangatnya, yang mewakili orang selamanya.

Pandangan Plekhanov tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pemikiran yang terjadi di zamannya. Pentingnya hubungan sastra dengan proses sosial tidak menjadi perhatian para kritikus, novelis, dan politikus.

Georg Lukacs

Lukacs terpengaruh pada pandangan Plekhanov yang menyatakan bahwa sastra terikat pada kelas dan sastra besar tidak mungkin lahir di bawah dominasi borjuis. Tulisannya bertema dasar mengenai runtuhnya realisme borjuis pada tengah kedua abad kesembilan belas dan digantikan dengan sastra teknis yang terlihat bagus namun tidak berharga sama sekali.

Modernisme hanya mampu melihat manusia sebagai makhluk putus asa yang terasing. Modernisme sengaja mengingkari kenyataan seutuh-utuhnya dan hanya merupakan gerakan artistik yang steril. Modernisme bukan berarti menambah kaya kesenian, tetapi justru mengingatinya.

Sastra ditulis berdasarkan pandangan tertentu. Sastra modernis berpura-pura tanpa pamrih dan berpura-pura bersikap objektif terhadap masalah dunia. Hilangnya humanisme sosialis menyebabkan sastra modernis dibebani dengan wawasan yang sangat subjektif yang menerima pengalaman subjektif sebagai kenyataan. Manusia dalam sastra modernis digambarkan sebagai makhluk terkecil dari dirinya sendiri dan masyarakat. Sehingga sastra akan kehilangan hubungan dengan kehidupan sosial.

Pujangga besar adalah yang mampu menciptakan tipe-tipe manusia yang abadi, yang merupakan kriteria sesungguhnya dari pencapaian sastra. Keunggulan realisme terletak pada keunggulan dalam penciptaan tipe yang bersumber pada kesadaran penulis akan perubahan sosial yang progresif. Lukacs mempunyai keyakinan bahwa akan muncul realisme baru yang segar, yaitu realisme sosialis, yang akan mengatasi humanisme borjuis yang lapuk.

David Craig

Gagasan realisme sosialis sangat mendesak dan perlu segara dilaksanakan. Para pengarang realis memiliki satu hal yang sama, yaitu menciptakan efek kreatif berdasarkan idiom, gaya, dan cara yang bersumber pada rakyat. Perhatian kaum marxis terhadap rakyat memang menimbulkan kesan seolah-olah yang digarap hanyalah tema kerakyatan, dan metode yang dipergunakan memberat kepada sejarah sosial.

Nilai estetis bukanlah satu-satunya ukuran dalam analisis. Sebuah novel yang berhasil secara estetis, di dalamnya terdapat pengetahuan yang diperlukan untuk menghubungkan kebenaran dengan kenyataan.

Lenin dan Goldman

Lenin berpendapat bahwa sastra harus menjadi sebagian dari perjuangan kaum proletar. Sastra harus menjadi skrup kecil dalam mekanisme sosial demokratik. Karya sastra besar harus sejalan dengan garis partai, oleh karena itu perlu disampaikan sejelas mungkin. Berbeda dengan Engels yang menyatakan bahwa dalam karya sastra besar, maksud dari pengarang itu tersembunyi.

Goldman merupakan kritikus yang berjalan dalam jalur para-marxis. Ia mengembangkan kritik dialektis yang menampilkan pandangan marxistis. Kaum para-marxis mendekati seni dengan menghormati integritasnya, menghargai inti utama karya sebagai hasil seni.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...