Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Rabu, 28 April 2010

PELOPOR TEORI SOSIAL SASTRA


Teori sosial sastra sudah muncul sejak sebelum Masehi. Sastra dianggap sebagai unsur kebudayaan yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi masyarakatnya, karena pada awal perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari kegiatan sosial.

1. Dalam bukunya yang berjudul Ion dan Republik, Plato menyinggung masalah hubungan antara sastra dan masyarakat.

1) Menurut Plato, segala yang ada di dunia ini sebenarnya hanya merupakan tiruan dari kenyataan yang berada di dunia gagasan. Dalam dunia gagasan terdapat suatu manusia, dan semua yang ada di dunia ini adalah tiruan manusia yang berada di dunia gagasan tersebut.

2) Plato menyebut ada tiga macam seniman, yaitu pengguna, pembuat, dan peniru. Pengguna memberi petunjuk kepada pembuat tentang cara pembuatan sesuatu, yang kemudian ditiru oleh peniru.

3) Sastra, khususnya puisi, memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Cerita-cerita yang beredar di masyarakat harus disensor terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada anak-anak, karena mungkin bisa menyesatkan.

4) Puisi tidak cocok bagi masyarakat yang berpikir sehat. Karena menurut Plato, setiap warga republik harus lebih banyak menggunakan pikiran sehatnya dan bukan menggunakan perasaan.

2. Di Eropa abad ke-17 dan ke-18, muncul beberapa teori tentang pengaruh lingkungan terhadap sastra.

1) Epik cocok untuk suatu macam masyarakat tertentu, yakni yang masih kasar dan tidak begitu sesuai untuk masyarakat yang sudah halus.

2) Lakon adalah suatu potret yang tepat dari tata cara dan tingkah laku orang-orang pada zaman suatu naskah ditulis.

3. Johann Gottfried von Herder menolak pandangan Kant yang menganggap bahwa rasa keindahan hanya dapat ditimbulkan oleh suatu penilaian murni yang tanpa pamrih.

1) Herder beranggapan bahwa setiap karya sastra berakar pada suatu lingkungan sosial dan geografis tertentu.

2) Herder menggunakan sejarah sebagai acuan untuk menganalisis sastra dan menggunakan sastra sebagai alat untuk memahami sejarah.

4. Madame de Stael membicarakan hubungan antara sastra dengan lembaga-lembaga sosial dalam buku De la Liteterature Consideree dans ses Rapports aves les Institutions Sociales.

1) Sastra mendapat pengaruh dari agama, adat istiadat, dan hukum, dalam pengertian bahwa sastra adalah segala tulisan yang melibatkan penggunaan pikiran keculai ilmu fisika.

2) Stael memisahkan antara Sastra Utara dan Sastra Selatan untuk wilayah Eropa. Sastra Utara bersifat murung atau bersuasana sedih, karena masyarakat yang mendiami Eropa Utara suka murung dan merenung. Sastra Selatan bersuasana lebih cerah, karena Eropa Selatan merupakan daerah sejuk, penuh hutan lebat dan air sungai yang jernih.

3) Iklim bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi sastra.

4) Sifat-sifat bangsa sangat memengaruhi perkembangan sastra di suatu daerah, karena sifat-sifat bangsa dipengaruhi oleh berbagai lembaga sosial seperti agama, hukum dan politik.

5. Perkembangan pendekatan sosiologi terhadap sastra terbagi menjadi dua jalur, yaitu pandangan positivme dan pandangan yang menolak sikap empiris.

1) Pandangan positivme adalah usaha untuk mencari hubungan antara sastra dengan beberapa faktor, seperti iklim, geografi, dan ras.

2) Pandangan positivme menyatakan bahwa tidak ada ukuran mutlak dalam penilaian sastra. Penilaian artistik tergantung pada waktu, tempat dan fungsinya.

3) Pandangan yang menolah sikap empiris, berpendapat bahwa sastra bukan sekedar pencerminan masyarakatnya. Sastra merupakan suatu usaha manusia untuk menemukan makna dunia yang semakin kosong dari nilai-nilai akibat pembagian kerja.

6. Hippolyte Taine menelaah sosiologi tentang sastra Inggris dalam buku Historie la Litterature Anglaise.

1) Taine mencoba untuk mengembangkan suatu wawasan yang sepenuhnya ilmiah, yang menganggap bahwa sastra dan seni dapat diselidiki dengan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti.

2) Taine bukan penganut positivme murni, ia tidak pernah menyimpulkan bahwa sosiologi sastra menganggap sastra sebagai cermin atau dokumen. Taine menganggap sastra hanya bisa dianggap sebagai dokumen apabila merupakan suatu monumen.

3) Ras, saat, dan lingkungan merupakan tiga konsep yang menghasilkan suatu struktur mental yang praktis dan spekulatif dalam suatu sastra.

4) Taine berpendapat bahwa sastra selalu menyesuaikan diri dengan cita rasa masyarakat pembacanya. Hal ini yang menunjukkan adanya perhatian Taine pada perkembangan sosioogi sastra khususnya pandangan mengenai masyarakat pembaca.

5) Ekonomi merupakan salah satu faktor penentu sastra, tetapi Taine tidak menyebutka teori dan contoh secara jelas.

6) Meskipun faktor-faktor luar menentukan karya sastra, ada faktor yang lebih menentukan yaitu faktor kejiwaan dalam penciptaan karya sastra.

7) Taine beranggapan bahwa lingkungan adalah faktor utama penentu karya sastra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...