Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 29 April 2010

SASTRA, POLITIK DAN IDEOLOGI

Oleh

Alfian Rokhmansyah

2150407005/Sastra Indonesia (Ilmu Sastra) S1

Universitas Negeri Semarang


Sastra, politik dan ideologi merupakan tiga unsur yang dapat digabungkan maupun dipisahkan. Tetapi dalam aliran sosiologi sastra, ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan suatu kesatuan. Politik dan ideologi sangat memengaruhi sastra yang digunakan untuk memengaruhi masyarakat pembaca.

Damono mengatakan bahwa dalam novel politik, politik memainkan peranan utama dan latar belakang politik merupakan latar belakang utama. Novel politik berisi ketegangan internal sehingga isinya berupa penggambaran perilaku dan perasaan manusia dan harus meresapkan ideologi modern.

Dalam sastra, tema politik dan kekuasaan begitu dieksploitasi. Keadaan semacam ini disebabkan oleh karena adanya ketimpangan dan masalah-masalah yang menjadi tugas pemerintahan tidak terlaksana dengan baik dan yang saya yakini bahwa pemerintahan di manapun, siapapun, kapanpun dan berbentuk apapun memang tidak pernah terlaksana dengan baik, selalu ada cacat, selalu menimbulkan ketidakadilan pada beberapa pihak dan pastinya kemudian selalu melahirkan karya-karya sastra yang bertemakan politik. (http://mediasauna.multiply.com/journal/item/9/Pemerintahan_dan _Politik_Kekuasaan_dalam_Sastra)

Menurut Roekminto (2010) ideologi mengacu pada cara berpikir orang dan kelompok tertentu, sehingga apabila seorang sastrawan yang mengekspresikan semestanya dalam sebuah karya sastra, maka apa yang dia tuangkan dalam teks itu adalah apa yang dia ingin katakan termasuk didalamnya ideologi yang dia anut dan dengan sendirinya karya sastra itu sendiri sudah berideologi, setidaknya ideologi pengarang. Namun demikian tidak berarti sastrawan menulis karena tujuan propaganda ideologi yang dianutnya. Jika hal itu terjadi maka pada saat itu juga esensi sastra itu hilang. Karya sastra adalah sebuah ruang yang dibentangkan untuk meletakkan sebagian “realitas” kemanusiaan penulis atas keberadaannya. Ruang bukanlah alat dan akan berubah menjadi alat ketika terjadi pemaknaan sedangkan pemaknaan itu sendiri tidak berada di tangan penulis melainkan pembaca, entah itu pembaca secara individu, kelompok maupun penguasa. Sebagai sebuah wadag atas gagasan-gagasan yang memang harus dikomunikasikan dan dibagikan pada manusia yang lain, ideologi membutuhkan sebuah media dalam melakukan proses komunikasi ini, sastra salah satunya dan dari sinilah kemudian ruang berubah menjadi alat karena sastra dipahami sebagai praksis dan bukan ontologis.

Sedangkan dalam tradisi Marxis, ideologi berbicara mengenai bagaimana kebudayaan tersusun hingga mampu membawa kelompok tertentu memiliki kontrol yang maksimal dengan potensi konflik minimal. Ideologi ini sendiri tidak bermaksud untuk menekan kelompok lain (meskipun potensi itu ada) melainkan lebih kepada persoalan bagaimana institusi yang dominan dalam masyarakat mampu bekerja melalui nilai-nilai, konsepsi dunia dan sistem simbol dalam rangka melegitimasi kekuasaan. Dalam gagasan Marx ideologi adalah superstructure sedangkan sistem sosioekonomi yang berjalan pararel adalah base dan sastra merupakan bagian dari superstructure (Roekminto 2008).

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Damono bahwa ideologi hanya dapat mengganggu novel. Ideologi merupakan suatu tantangan bagi novelis untuk memusatkan segala ketrampilan dan kecerdasannya dalam mengatasi ideologi mereka agar tidak masuk dalam novel yang ditulis. Banyak penulis beranggapan bahwa masuknya ideologi dalam karya sastra justru akan merusak nilai karya sastra (Damono, 1978: 48).

Ideologi dalam sastra seharusnya memiliki makna bagi kepentingan sastra dengan tujuan akhir menempatkan manusia sebagai obyek sekaligus subyek sastra dalam rangka memaknai zaman. Selain itu ideologi juga berperan dalam kanonisasi sastra. Pengalaman dan kesejarahan sosial, politik dan sastra bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa lain, sehingga pengajaran sastra juga harus berbeda termasuk bagaimana relasi sastra dan ideologi (Roekminto 2008)

Sumber:

  1. Damono, Sapardo Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: P3B.

  2. Roekminto, Fajar. 2008. Haruskah Sastra Berideologi?. Malang: Konferensi Internasional Kesusastraan XIX. http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/artikel/MAKALAH_HISKI_FAJARUKminto.pdf (diakses tanggal 28 April 2010)

  3. http://mediasauna.multiply.com/journal/item/9/Pemerintahan_dan_Politik_Kekuasaan_dalam_Sastra (diakses tanggal 28 April 2010)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...