Cari di sini

Memuat...
PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 07 Mei 2010

Cerita: JAKA TARUB

Adalah Kyai Ageng di Selandaka, kegemarannya nulup. Waktu Kyai ke hutan, menemukan jabang bayi lalu digendong di sabuknya, lalu meneruskan nulup. Melihat ada kijang senang sekali. Diikuti terus ke mana perginya. Lama-lama kijang itu hilang, membuat kecewa hatinya. Uring-uringan kepada jabang bayi. Lalu jabang bayi itu diletakkan di bawah pepohonan. Kyai Ageng melanjutkan mencari kijang tadi.

Adapun tempat meletakkan bayi tadi, dulu adalah tempat pertapaan Kyai Ageng Tarub. Sepeninggal Kyai Ageng, istrinya yang menjanda tanpa anak masih tinggal di situ. Bayi tadi dipungut oleh Nyai Randa, serta dididik seperti anaknya. Setelah berumur tujuh tahun, kelihatan tampannya. Teman sepermainannya sangat sayang kepadanya. Kegemarannya nulup di hutan. Sampai saatnya dewasa, mau dikawinkan tidak mau.

Pada suatu hari Ki Jaka nulup di hutan, melihat burung aneh warnanya. Ia sangat tertarik, ditulup tidak kena. Berpindah-pindah hinggapnya, terus diikuti ke mana perginya, sampai di hutan belantara. Burung tidak kelihatan lagi. Di tengah hutan itu ada sendang, tempat mandi para bidadari. Pada hari Selasa Kliwon para bidadari turun mandi. Ki Jaka bersembunyi. Para bidadari melepaskan pakaiannya. Ki Jaka tajam melihat, sangat terpikat atas kecantikan para bidadari. Lalu diambilnya salah satu pakaian bidadari itu. para bidadari mandi bergembira ria. Ki Jaka lalu berdehem. Para bidadari terkejut, segera terbang memakai pakaian masing-masing. Hanya seorang bidadari, Dewi Nawang Wulan, masih tertinggal di sendang, karena pakaiannya tidak ada. Ki Jaka mendekati, dan akan mencarikan pakaian, bila Sang Dewi mau diperistri. Sang Dewi bingung dan terpaksa mau memenuhi permintaan Ki Jaka. Setelah diberi pakaian, Dewi Nawang Wulan diajak pulang, diperistri, menjadikan kegembiraan Nyai Randa di Tarub.

Kemudian Nyai Randa di Tarub meninggal, maka Ki Jaka lalu disebut Kyai Ageng Tarub. Kyai Ageng Tarub dan Nawang Wulan mempunyai seorang putri cantik, diberi nama Rara Nawangsih.

Pada suatu hari Dewi Nawang Wulan akan ke sungai, mencucui popok. Suaminya diminta menjaga dandang, serta dipesan, dengan sungguh-sungguh jangan sekali-kali membuka tutup dandang. Setelah istrinya pergi, Kyai Ageng menunggu di dapur sambil mengasuh anaknya. Sementara itu, Kyai Ageng merasa heran, istrinya diberi satu lumbung padi, tetapi sudah lama sekali padinya tidak berkurang. Apa sebabnya? Terdorong rasa ingin tahu, seberapa istrinya menanak nasi, tutup dandang dibuka. Kyai Ageng terkejut, ternyata di kukusan hanya ada sebutir padi. Tutup dikembalikan lagi. Istrinya datang, lalu membuka tutup dandang, ternyata padinya tetap sama seperti ketika dimasukkan. Sang Dewi marah. Ia tahu bahwa tutup dandang telah dibuka suaminya. Sang Dewi ingin meninggalkan suaminya, pulang ke kahyangan, tetapi kesaktian Sang Dewi telah hilang, tidak dapat pulang ke Kawidadaren.

Sejak terbuka rahasia memasak nasi itu, terpaksa Nawang Wulan setiap pagi harus menumbuk padi. Lama kelamaan padi dalam lumbung habis. Di dasar lumbung terlihatlah pakaian Nawang Wulan, Ananta Kusuma, yang dulu dicuri Ki Jaka Tarub. Sang Dewi makin marah, diambilnya pakaian itu lalu dipakainya. Sudah bulat tekatnya untuk pulang ke kahyangan. Sang Dewi pamit kepada suaminya, dan berpesan bila anaknya menangis supaya dibawa naik ke rumah panggungm, di bawahnya supaya dibakari jerami ketan hitam, Sang Dewi pasti akan turun menyusui anaknya. Setelah berpesan demikian diambilnyalah jerami ketan hitam, dibakar, dan Sang Dewi membumbung mengikuti asap. Ki Ageng Tarub sangat sedih hatinya.

Kyai Ageng Tarub melaksanakan semua pesan sang Dewi. Setiap anaknya menangis dibawa naik panggung, dibakarnya jerami ketan hitam di bawahnya. Setelah semakin besar suara anaknya mirip suara ibunya.

(dari Babad Tanah Jawi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...