Cari di sini

Memuat...
PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 07 Mei 2010

PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM PENELITIAN SASTRA

Pendahuluan


Hubungan antara psikologis dengan ilmu kajian sastra sebenarnya telah lama ada, selama usia ilmu itu sendiri. Akan tetapi, penggunaan psikologi sebagai sebuah pendekatan dalam penelitian sastra belum lama dilakukan orang. Sejalan dengan itu, Robert Downs (1961:149) mengemukakan bahwa psikologi itu sendiri bekerja pada suatu wilayah yang ‘gelap’, ‘mistik’ dan paling peka terhadap bukti-bukti ilmiyah. Wilayah ‘gelap’ itu memang ada pada manusia, dan dari wilayah gelap itulah kemudian muncul prilaku serta aktifitas yang beragam, termasuk prilaku kreatif, bersastra dan lain sebagainya.


Secara sederhana, pendekatan psikologis dalam dunia sastra dapat dirumuskan sebagai suatu cara analisis yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia yang merupakan pancaran dalam menghayati dan mensikapi kehidupan; baik kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat yang lebih luas.


Penjelajahan ke dalam batin atau jiwa untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk manusia yang unik ini merupakan sesuatu yang menantang dan merangsang. Seiring dengan itu banyak pula peneliti sastra yang mencoba memahami karya sastra dengan bantuan psikologi.


Menurut Rene Wellek dan Austin Warren (1993:81-93), Hardjana (1991:60), psikologi memasuki bidang kritik sastra lewat beberapa jalan, yaitu:

1. Pembahasan tentang proses penciptaan sastra;

2. Pembahasan psikologi terhadap pengarangnya ( baik sebagai suatu tipe maupun sebagai saeorang pribadi);

3. Pembicaraan tentang ajaran dan kaidah psikologi yang dapat ditimba dari karya sastra; dan

4. Pengaruh karya sastra terhadap pembacanya.


Beberapa tokoh psikologi terkemuka seperti Carl Gustav Jung, Mortimer Adler, dan Sigmund Freud telah memberikan inspirasi yang banyak tentang pemecahan misteri tingkah laku manusia melalui teori-teori psikologi. Tapi di antara mereka, Freud-lah yang secara langsung berbicara tentang proses penciptaan seni sebagai akibat tekanan dan timbunan masalah di alam bawah sadar yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk penciptaan karya seni.


Seniman (termasuk sastrawan) pada mulanya seorang yang berpaling dari kenyataan hidup karena dia tidak dapat berdamai dengan dirinya sendiri berhubung adanya tuntutan akan kepuasan-kepuasan nalurinya yang tidak terpenuhi dan yang kemudian membiarkan hajat erotik dan ambisinya bermain leluasa dalam khayalan. Dengan bakatnya yang istimewa dia menjalin khayalan-khayalannya menjadi suatu kenyataan hidup baru yang oleh orang-orang lain disebut sebagai cerminan hidup yang berharga. Demikianlah dengan melewati jalan tertentu, seniman itu (termasuk sastrawan) itu menjadi seorang pahlawan, raja, pencipta, dan tokoh-tokoh lain yang diimpikannya tanpa harus menempuh liku-liku jalan perubahan hidup lingkungan sekitarnya. (Feud dalam Hardjana, 1991: 63). Teori psikologis yang dikembangkan oleh Freud ini dinamakan sebagai “psikoanalisis” dan teori inilah yang banyak diterapkan di dalam pendekatan psikologis.


Konsep dan Kriteria


Menurut penelitian Freud, di dalam diri manusia terdapat ‘id, ego, super-ego’. Jika ketiganya bekerja secara wajar dan seimbang manusia akan memperlihatkan watak yang wajar pula. Tapi ketiga unsur tersebut tidak bekerja dengan seimbang, inilah puncak ‘peperangan’ yang terus menerus yang terjadi dalam batin manusia dengan gejala-gejala resah, gelisah, tertekan, dan neurosis yang menghendaki adanya penyaluran.


Adapun kriteria penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan psikologis antara lain: (1) Karya sastra yang bermutu menurut pandangan psikologis adalah karya sastra yang mampu menggambarkan kekuatan dan kekacauan batin manusia karena hakekat kehidupan manusia itu adalah perjuangan menghadapi kekalutan batinnya sendiri. Prilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari bagi setiap orang belum sepenuhnya menggambarkan diri mereka masing-masing. Apa yang diperlihatkan belum tentu sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam dirinya karena manusia seringkali berusaha menutupinya. Kejujuran, kecintaan, kemunafikan, dan lain-lain, berada di dalam batin masing-masing orang yang kadang-kadang terlihat gejalanya dari luar dan kadang-kadang tidak. Oleh sebab itu kajian tentang perwatakan para tokoh harus menukik ke dalam segi kejiwaan. (2) Kebebasan individu peneliti sangat dihargai, dan kebebasan mencipta juga mendapat tempat yang istimewa. Dalam hal ini, sangat dihargai individu yang senantiasa berusaha mengenal hakekat dirinya. Dalam upaya mengenal dirinya pula sastrawan mencipta untuk mengkonkretkan apa yang bergolak di dalam dirinya.


Metode dan Langkah Kerja


Freud menggambarkan bahwa pengarang di dalam mencipta ‘diserang’ penyakit jiwa yang dinamakan ‘neurosis’ bahkan kadang-kadang mencapai tahap ‘psikosis’ seperti sakit saraf dan mental yang membuatnya berada dalam kondisi sangat tertekan (tidak diartikan dalam kondisi gila), berkeluh kesah akibat ide dan gagasan yang menggelora yang menghendaki agar disublimasikan atau disalurkan dalam bentuk penciptaan karya sastra. dan oleh karena karya sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah penciptaan yang diliputi oleh berbagai macam masalah kejiwaaan, maka untuk menggunakan pendekatan psikologis ini mesti melalui dukungan psikologi.


Pengetahuan psikologi yang minim bagi peneliti akan menyulitkan dalam pemakaian dan pengoperasian pendekatan ini. Berikut akan digambarkan metode atau langkah kerja pendekatan psikologis.


1. Pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra baik segi intrinsik maupun segi ekstrinsiknya. Namun penekanannya pasa segi intrinsiknya, yaitu dari segi penokohan dan perwatakannya (dalam fiksi).

2. Segi ekstrinsik yang dipentingkan untuk dibahasa adalah mengenai diri pengarang yang menyangkut masalah kejiwaaan, cita-cita aspirasi, obsesi, keinginan, falsafah hidup, dan lain-lain. Dalam hal ini perlu perlu dilacak riwayat hidup pengarang dari masa kecil karena adanya anggapan bahwa peristiwa kejiwaan dan pengalaman masa kecil akan mempengaruhi kehidupan, tindakan, dan cara berpikir yang bersangkutan pada masa dewasa. Dengan memahami segi kejiwaan pengarang, akan ssangat membantu dalam memahami perilaku dan perwatakan tokoh-tokoh cerita yang ditulisnya. Apa yang ditulis pengarang boleh jadi merupakan tumpukan pengalaman kejiwaan. Dengan demikian, akan menjadi mudah pula menalarkan segi-segi lain yang ada kaitannya dengan perilaku dan watak tokoh cerita.

3. Di samping menganlisis penokohan dan perwatakan, dilakukan pula analisis yang lebih tajam tentang tema utama karya sastra, karena pada masalah perwatakan dan tema ini pula pendekatan psikologis sangat tepat diterapkan, sedangkan aspek lain lebih cocok digunakan pendekatan lain.

4. Di dalam analisis perwatakan harus dicari nalar tentang perilaku tokoh. Apakah perilaku tersebut dapat diterima ditinjau dari segi psikologi. Juga harus dijelaskan motif dan niat yang mendukung tindakan tersebut. Kalau ada prilaku tokoh yang berubah tajam, misalnya sebelumnya brutal kemudian menjadi kalem, maka peneliti mesti menalarkannya dengan mencari data-data yang diperkirakan dapat mendukung tindakan tersebut. Dengan begitu, berarti peneliti diminta secara jeli mengikuti tingkah laku tokoh dari satu peristiwa ke peristiwa lain.

5. Proses penciptaan adalah hal lain yang harus mendapat perhatian. Harus diketahui apa motif penciptaan. Harus dilihat apakah penciptaan disebabkan oleh endapan pengalaman batin atau ada pengalaman atau keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi dimana kekecewaan itu segera tersalurkan lewat jalan menulis. Bisa jadi seorang penulis yang mempunyai fisik kecil dan lemah akan melampiaskan kekurangan itu dengan mensublimasikannya dengan jalan menciptakan tokoh yang kekar, keras, dan perkasa. Dengan demikian segala angan-angan atau obsesi yang menggunung yang menyebabkan ia mencipta tetapi yang mendorongnya adalah kemampuan imajinasi dan kebebasan berpikir dan berbicara.

6. Konflik serta kaitannya dengan perwatakan dan alur cerita harus pula mendapat kajian. Bahkan perlu dijelaskan perwatakan yang dihinggapi gejala neurosi, psikosis, dan halusinasi. Dalam menganalisis konflik harus dilihat apakah konflik itu terjadi dalam diri tokoh, atau konflik dengan tokoh lain atau situasi yang berbeda di luar dirinya.

7. Analisis dapat diteruskan kepada analisis pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Pengaruh yang mesti mendapat perhatian adalah pengaruh yang menimbulkan kesan mendalam yang menghunjam sanubari yang pada akhirnya berdampak didaktis pada dirinya. Dalam hal ini sulit sekali menganalisis kesan pembaca karena wujudnya sangat abstrak.


Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Psikologis


Melaui uraian tentang konsepsi dan metode pendekatan psikologis di atas, menurut Atar Semi (1993) timbul kesan bahwa pendekatan ini menjurus kepada pemanfaatan ilmu jiwa yang rumit, abstrak, dan kompleks. Sungguhpun demikian, pendekatan psikologis menpunyai keunggukan antara lain:

1. Sangat sesuai untuk mengkaji aspek perwatakan secara mendalam;

2. Dengan pendekatan psikologios ini dapat memberikan umpan balik kepada penulis atau pengarang tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya;

3. Sangat membantu dalam menganalisis karya sastra surealis, abstrak, absurd, (dan mungkin yang bersifat fantastik), dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya-karya semacam itu.

Adapun kelemahannya antara lain:

1. Menuntut kekayaan pengetahuan, ilmu jiwa psikologi. Kalau tidak, pendekatan ini sukar untuk dijalankan;

2. Banyak hal yang abstrak yang sukar dinalar dan dipecahkan karena keterangan tentang perilaku dan motif tindakan itu tidak dijelaskan oleh penulis;

3. Sukar mengetahui kaitan satu tindakan dengan tindakan lain yang diperlihatkan tokoh karena tokoh itu sendiri ‘mati’, tidak bisa diwawancarai, sedangkan pengarang-pun seringkali tidak mau mengomentari karyanya;

4. Tidak mudah mengetahui apakah pengalaman yang menimpa tokoh cerita merupakan pengalaman pengarang atau bukan;

5. Pendekatan ini secara operasional lebih bisa berjalan apabila pengarang jujur dengan hati nuraninya. Dalam arti ia memang mengeluarkan segala obsesi yang mengendap di dalam jiwanya kemudian disalurkan lewat tulisan; tetapi bila pengarang tidak jujur menerapkan pengalaman batinnya, maka segala macam kajian tentang riwayat hidup pengarang juga tidak banyak berarti;

6. Psikoanalisis yang menjadi basis pendekatan ini sampai sekarang banyak teori yang dikemukakan oleh Freud – tidak dapat dibuktikan secara saintifik, banyak hal yang sebenarnya merupakan misteri.


Disamping kelemahan yang dikemukakan oleh M. Atar semi di atas sebenarnya pendekatan ini memiliki kekurangan yang mendasar sebagaimana dikemukakan oleh antara lain: Andre hardjana(1991) dan Jiwa Atmaja (1986) bahawa pendekatan psikologis tidak dapat digunakan untuk mengukur nilai karya sastra. Pendekatan ini hanya cocok dipakai oleh para analis hanya berusaha mengungkapkan gejolak perasaan pengarang maupun kekacauan batin tokoh-tokoh dalam cerita (fiksi).


DAFTAR PUSTAKA

  1. Andre Harjdana. 1991. Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

  2. Atar Semi. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta: angkasa Raya.

  3. Endraswara, Sawardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.

  4. _______. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.

  5. Herman J. waluyo. 1990. Kritik Sastra. Surakarta: UNS Press.

  6. _______. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: UNS Press.

  7. Panuti Sudjiman. 1996. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

  8. Soediri satoto. 1993. Metode Penelitian Sastra. Surakarta: UNS Press.

  9. Suroso, dkk. 2008. Kritik Sastra: Teori, Metode, dan Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera.

  10. Wellek, Rene dan Austrin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...