Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 04 Mei 2010

PERPUSTAKAAN DAN BUDAYA BACA

Oleh
Alfian Rokhmansyah (Sastra Indonesia S1 Universitas Negeri Semarang)
Oke Mustofa (Ilmu Perpustakaan D2 Universitas Terbuka)

Setiap orang diberikan anugrah oleh Tuhan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan makhluk yang lain. Hal ini merupakan modal awal seseorang dalam mencapai kesuksesan tersebut. Kemampuan berpikir, membaca, bersosialisasi, beradaptasi, dan berkreatifitas merupakan beberapa kelebihan manusia dari banyak kelebihan lain. Kemampuan-kemampuan itu hendaknya dimanfaatkan dan dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dalam proses pencapaian kesuksesan.

Pengaplikasian kemampuan-kemampuan yang dianugrahkan kepada manusia dapat dilakukan pada proses pemerolehan ilmu pengetahuan. Proses pemerolehan ilmu pengetahuan ini tidak lepas kaitannya dengan usaha mencapai sukses. Sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan bangsa yang maju dan modern, manusia harus meyakini bahwa jalan untuk meraih sukses adalah dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan kunci sukses yang tidak hanya untuk kepentingan di dunia tetapi juga untuk kebahagiaan di akhirat kelak.

Cara untuk memperoleh ilmu adalah dengan belajar. Belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dalam proses belajar, manusia tidak akan lepas dari aktivitas membaca. Oleh karena itu, perpustakaan sebagai pusat penyedia referensi atau buku bacaan sangat dibutuhkan.

Budaya Baca

Budaya baca masyarakat di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mengahmbat pertumbuhan budaya membaca pada masayarakat. Pertama, budaya yang sudah ada secara turun menurun adalah budaya cerita bukan budaya baca dan perkembangannya menuju ke arah budaya menonton. Sudah menjadi fenomena umum bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat mengakar dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca. Hal ini terlihat pada realita yang sering ditemui di masyarakat, masyarakat lebih suka mendengar cerita dari orang lain daripada membaca sendiri, lebih senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus membaca teks terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih senang menonton versi layar lebar dari sebuah cerita dalam cerpen dan novel atau mendengarkan pembacaan puisi daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri.

Kedua, umumnya penghasilan masyarakat Indonesia masih rendah sehingga buku masih dianggap barang mahal, karena minat baca bergantung dari daya beli masyarakat pada sebuah buku. Tingkat ekonomi yang tidak memungkinkan memikirkan keperluan lain selain sandang, pangan, papan, atau ketidaktahuan masyarakat tentang masalah buku, atau pula tidak dijadikannya buku sebagai prioritas atau dengan kata lain tidak pernah terlintas sedikitpun untuk memasukkan buku sebagai daftar belanja bulanan sebuah rumah tangga maupun seseorang.

Ketiga, sistem pendidikan Indonesia belum menunjang tumbuhkembangnya budaya baca karena orientasinya masih membaca untuk lulus bukan membaca untuk pencerahan sepanjang hidup. Dewasa ini para siswa atau mahasiswa beranggapan bahwa membaca adalah upaya untuk menyelesaikan tugas dari guru atau dosen. Mereka berasumsi bahwa dengan membaca, mereka akan cepat lulus. Hal ini yang menunjukkan bahwa minta baca pada siswa dan mahasiswa bukan untuk penambah wawasan, tetapi untuk lulus.

Keempat, keberadaan perpustakaan yang belum memadai sehingga kesan masyarakat umum tentang perpustakaan masih dianggap sebagai tempat yang serius dan menyebalkan. Kondisi perpustakaan yang kurang memadai, baik dari sarana prasarana maupun dari jumlah koleksi, mengakibatkan masyarakat yang mulanya gemar membaca di perpustakaan menjadi enggan untuk kembali ke perpustakaan. Hal ini menyebabkan berkurangnya peminat baca di perpustakaan sehingga berdampak pada budaya baca.

Selain keempat alasan tersebut mungkin masih banyak alasan lain yang menghambat adanya budaya membaca pada masyarakat. Walaupun terkadang alasan tersebut tidak didasarkan pada penelitian yang memadai dan hanya didasarkan pada asumsi. Faktor-faktor tersebut bisa jadi menjadi alasan daya beli masyarakat yang rendah. Mengingat masalah perbukuan di Indonesia yang mirip benang kusut, penerbit tentu tak mau mengambil resiko dengan menerbitkan jumlah buku yang belum tentu terjual habis sesuai waktu yang diperkirakan. Selain itu, penulis yang kesejahteraan dari profesinya masih terus diragukan, juga menunggu penerbit yang hendak menerbitkan karyanya. Juga masalah distribusi buku yang tidak merata di seluruh pelosok negeri sehingga harus mengorbankan sebagian masyarakat yang harus rela kehilangan akses terhadap buku dan ketersediaan bahan bacaan lain.

Menyedihkan bila mengingat kurangnya minat budaya baca pada masa sekarang secara perlahan-lahan akan berimplikasi pada perkembangan budaya baca generasi selanjutnya, yaitu anak-anak dan remaja. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai buku dan aktivitas membaca, dapat dikatakan sangat beruntung mengingat arus budaya lisan yang sulit untuk ditebas sampai ke akarnya, tetapi hanya dapat diminimalisir. Sedangkan bagi yang tidak, mereka harus rela mengikuti pola tradisi orang-orang terdahulunya, padahal sebenarnya mereka belum tentu ingin dan tahu apa yang dimaksud. Maklum memang, abak memang cenderung menjadi duplikat orang yang mendidiknya sejak kecil. Ketika anak menginjak usia remaja, selain keluarga, pengaruh lingkungan pergaulan dan komunitas sehari-harinya akan sangat memberikan warna pada pemahamannya pada buku dan aktivitas membaca.

Dalam proses pembudayaan membaca dan menghargai buku sebagai bagian dari kehidupan modern, diperlukan suatu upaya yang berbentuk gerakan secara konstruktif dan berbasis elemen masyarakat secara keseluruhan. Gerakan ini harus memiliki konsep yang komprehensif sebagai bentuk dari kampanye nasional yang menyangkut seluruh komponen, seperti orang tua, guru dan pihak institusi pendidikan, pustakawan dan perpustakaan, penulis dan penerbit, toko buku, serta komunitas relawan dan masyarakat secara menyeluruh.

Kurikulum pendidikan sekolah yang memasukkan banyak aktivitas membaca pada konsep joyfull learning, semangat senang membaca haruslah benar-benar diimplementasikan dalam dunia pendidikan, sejak usia dini dalam lingkup sekolah, anak-anak harus dibiasakan memiliki tugas membaca, membuat jurnal sederhana, membuat laporan bacaan atau membuat resensi buku yang telah dibaca. Bila ini dilakukan, daya kritis dan daya nalar anak-anak akan terasah sejak dini dan tidak ada kata terlambat atau penyesalan saat usia mereka menginjak remaja.

Perpustakaan dengan pustakawannya, toko buku, penerbit dan penulisnya dapat menjadi panitia penyelenggara acara-acara seperti book fair, cuci gudang buku, seminar, kompetisi membaca, meresensi, menulis, mendongeng, diskusi interaktif mingguan, bengkel penulisan kreatif, bedah buku, pertemuan peresensi, penulis, dan pembaca, serta sosialisasi masyarakat melalui pembinaan-pembinaan keluarga yang terhimpun dalam kelompok-kelompok guna menumbuhkan minat membaca. Sosialisasi perlu dilakukan mengingat minat membaca akan muncul berawal dari motivasi diri sendiri yang tidak dapat dipaksakan oleh orang lain. pembuatan koran kecil yang khusus diterbitkan untuk kalangan anak-anak juga perlu untuk dicoba.

Orang tua sebagai satu-satunya pemberi pengaruh terbesar harus juga memanjakan anak-anak mereka dengan bahan bacaan pilihan, mendongeng untuk anak, serta mengajari anak membaca secara nyaring sejak dini. Bila saat ini tuntutan berkarir menjadi prioritas yang lebih penting daripada memanjakan anak-anak dengan didikan untuk perkembangannya, lembaga seperti perpustakaan seharusnya peka dengan membuat program mendongeng, mengajari membaca, dan sebagainya agar anak-anak tidak menjadi korban. Lembaga juga perlu untuk membentuk Klub Baca tersendiri yang memberikan fasilitas-fasilitas menarik bagi anggotanya, serta menciptakan kekeluargaan antaranggotanya.

Peran pemerintah menjadi sangat sentral dalam pengembangan budaya baca dan perpustakaan. Pemerintah disamping harus memprioritaskan anggaran untuk pendidikan termasuk perpustakaan juga harus membuat kebijakan yang strategis menyangkut pengembangan budaya baca.

Perpustakaan

Sekalipun perpustakaan telah melakukan upaya untuk menumbuhkembangkan budaya baca, namun hasilnya belum nampak di masyarakat. Perpustakaan di Indonesia terus berusaha meningkatkan minat baca bagi masyarakatnya dengan segala keterbatasan yang ada. Perpustakaan perguruan tinggi sejak tahun 1980-an terus meningkatkan kualitas pelayanannya. Cara yang ditempuh, misalnya dengan mengirim tenaga perpustakaan untuk menempuh pendidikan lanjut di bidang perpustakaan baik untuk pendidikan non-gelar, S1, maupun S2. Di samping itu peningkatan secara kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan dengan cara menambah jumlah anggaran. Penerapan teknologi informasi juga telah banyak di implementasikan dalam operasional perpustakaan baik pengembangan otomasi perpustakaan maupun pengembangan perpustakaan digital agar perpustakaan tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi informasi. Kebijakan pemerintah pusat tentang tenaga fungsional pustakawan juga telah mendorong semangat pustakawan untuk bekerja lebih profesional yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan budaya baca bagi masyarakat.

Upaya pengembangan perpustakaan umum sekarang sudah mulai digalakkan. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, misalnya perpustakaan daerah di Wonosobo, Magelang, Cilacap, dan Blora, pengembangan perpustakaan telah dilakukan. Selain itu, perputakaan provinsi Jawa Tengah juga mulai berbenah diri untuk menuju peningkatan kualitas layanannya. Segala usaha yang telah dilakukan perpustakaan tersebut merupakan salah satu cara mengembangkan budaya baca.

Peningkatan budaya baca memang bukan pekerjaan mudah, memerlukan perjuangan dan hasilnya hanya dapat dinikmati dalam jangka panjang. Karena begitu pentingnya peran perpustakaan dalam pengembangan budaya baca, maka jalan terbaik agar kita dapat berpartisipasi dalam pengembangan budaya baca adalah dengan cara mencintai perpustakaan. Sosialisasi budaya baca tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat umum, tetapi juga harus digalakkan oleh para pustakawan yang notabene adalah pelayan masyarakat dalam hal penyedia informasi mengenai referensi bacaan.

Bagi pimpinan dan staf perpustakaan cara terbaik untuk mencintai perpustakaan adalah dengan bekerja secara profesional. Seseorang dapat disebut profesional apabila dia mempunyai keahlian di bidangnya. Untuk menjadi ahli, mereka harus mempunyai pendidikan khusus. Tentunya masih harus ada syarat lain yang perlu dipenuhi yaitu menjadikan profesi tersebut sebagai sumber penghidupan yang layak dan membanggakan.

Bagi pimpinan perpustakaan harus lebih aktif dan kreatif dalam mengelola perpustakaan. Artinya sekalipun perpustakaan bukan organisasi yang mencari keuntungan, namun dalam pengelolaannya dapat mengadopsi berbagai cara yang diterapkan oleh dunia bisnis. Perpustakaan dapat belajar ke organisasi bisnis tentang bagaimana mengelola sumber daya manusia, mengatur keuangan, menerapkan konsep pemasaran. Aplikasi konsep pemasaran, misalnya, dapat diterapkan di perpustakaan dengan berbagai penyesuaian.

Pengembangan perpustakaan itu wajib hukumnya. Pengembangan itu harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Namun pendanaan untuk pengembangan perpustakaan itu langka kenyataannya. Oleh karena itu, pendekatannya adalah sistem bergilir berdasarkan kinerja pendekatannya. Maka program hibah kompetisi itu caranya. Dengan adanya kompetisi, maka diperlukan program hibah kompetisi dengan cara proposal dan penilaian proposal, dan Tim Penilai proposal yang selain menilai dokumen proposal, mungkin juga perlu melakukan penilaian lapangan. Penilaian lapangan ini dimaksudkan untuk mencocokkan apa yang tertulis dalam dokumen proposal dengan apa yang senyatanya ada di lapangan, dengan maksud untuk mendapatkan kepastian bahwa perpustakaan yang akan diberi dana hibah adalah perpustakaan yang memiliki potensi untuk berkembang dan mampu memanfaatkan dana tersebut sebaik-baiknya.

Pustakawan harus memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi diri atas kondisi dan kemampuan perpustakaannya. Selain itu, juga harus memiliki kemampuan untuk menyusun program pengembangan yang berbasis kompetisi. Sementara itu pada tingkat instansi penyandang dana yang dikompetisikan juga harus tersedia pustakawan (Madya dan Utama) yang memiliki kemampuan untuk menilai dan menyeleksi proposal secara transparan.

Dasar pengembangan sebuah perpustakaan harus dilakukan berdasarkan kebijakan dari lembaga penaung, kecuali jika perpustakaan tersebut bersifat independen. Dasar utama yang harus menjadi landasan adalah visi dan misi lembaga. Perpustakaan harus berperan mendukung tercapainya visi dan misi ini. Perpustakaan independen juga harus memiliki visi dan misi untuk dijadikan jalur pijakan pengembangan. Dengan visi dan misi yang jelas, maka dapat dibuat sebuah ukuran atau indikator keberhasilan yang harus dicapai dalam pengembangan.

Dari sekian banyak komponen perpustakaan, ada beberapa komponen yang dapat dipilih sebagai prioritas, yaitu koleksi, SDM pustakawan dan tenaga administrasi, jenis dan bentuk layanan, cakupan pengguna, dan fasilitas pendukung. Prioritas diberikan pada komponen yang paling mendukung target pengembangan lembaga. Pertimbangan lain adalah ketersediaan dana yang dimiliki.

Pada setiap kegiatan pengembangan, dibutuhkan pendukung utama untuk menjamin keberhasilan. Pendukung pertama adalah dana. Pendukung berikutnya adalah perencanaan yang di dalamnya sudah dimuat tujuan masing-masing kegiatan, ukuran capaian, bentuk program. Pada perencanaan juga disebutkan kapan setiap tujuan harus tercapai. Pendukung utama ketiga adalah sumber daya manusia pengelola perpustakaan, seperti kepala perpustakaan, pustakawan, dan karyawan lain, yang mengetahui peran masing-masing sehingga akan bersedia bertanggung jawab atas keberhasilan atau tertundanya pencapaian tujuan.

Langkah pengembangan sebaiknya dimulai dari kesepakatan bersama dari setiap komponen di dalam sistem, mulai dari pimpinan lembaga, pengelola perpustakaan sampai pada pengguna. Semua komponen harus sepakat tentang apa yang akan dikembangkan, serta konsekuensi yang harus dihadapi akibat pengembangan, misalnya suasana baru dan berbeda. Dengan demikian semua komponen akan bergerak pada arah yang sama, tidak membuat arah sendiri-sendiri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...