Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Selasa, 08 Juni 2010

Budaya Hedonisme Remaja

Pesatnya tren kapitalisme dan konglomerasi memengaruhi pertumbuhan tempat hiburan dan pusat perbelanjaan. Fenomena ini secara langsung atau tidak, akan memengaruhi budaya dan pola hidup remaja. Pergeseran budaya mulai menjangkiti pemikiran remaja tanpa kompromi. Saat ini banyak remaja hedonis berseliweran dengan berbagai mode rambut dengan busana tanktop atau junkies, dan beberapa alat digital. Iklim masyarakat sekarang jauh berbeda dengan masyarakat tempo dulu. Namun, bila ditelaah lebih lanjut, gejala ini menunjukkan fakta bahwa remaja sekarang telah jatuh ke dalam kesenangan pada budaya pop.

Efek Globalisasi
Manusia harus berubah. Itulah hal dasar yang perlu dipikirkan bersama. Manusia harus dikembangkan seoptimal mungkin untuk mengkokohkan kedudukannya di muka bumi sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lain.
Manusia beralih menuju rentang waktu yang kontradiksional dengan fase-fase sebelumnya, yaitu fase globalisasi. Di satu sisi manusia memang dituntut untuk berkembang menuju ke arah yang lebih modern, baik aspek teknologi, hukum, sosial, politik, demokrasi, dan semua sistem lainnya harus disempurnakan. Semua bidang mengalami perkembangan yang begitu dahsyat mengatasi batas-batas ruang dan waktu. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa hasil perkembangan manusia bersifat relatif.
Globalisasi akan menimbulkan pengaruh negatif seperti kesenangan pada budaya pop, perdagangan bebas, marginalisasi kaum lemah, dan timbulnya jarak antara si kaya dan si miskin. Hasil tersebut telah membentuk suatu budaya baru bagi masyarakat, khususnya kaum muda remaja menjadi manusia yang terjebak dalam arus budaya pop.

Budaya Remaja
Dewasa ini remaja lebih suka membaca komik atau main game daripada membaca buku bermutu. Bacaan dengan analisis mendalam tidak masuk dalam skala prioritas remaja. Bahan-bahan bacaan hanya tersentuh jika terpaksa atau karena tuntutan akademis.
Gejala-gejala semacam ini merupakan bentuk adaptif dari kemajuan zaman, tapi itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya kecenderungan manusia sekarang bukan hanya sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan hal ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.
Bukti yang paling populer seperti halnya televisi. Berbagai acara televisi semakin hari semakin jauh dari idealisme jurnalistik, bahkan semakin melegalkan budaya kekerasan, instanisasi, dan bentuk-bentuk kriminalitas. Sebagian tayangan tersebut hanya semakin mendangkalkan sifat afektif manusia. Tayangan mengenai bencana alam, kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan teknologi, dan pembelajaran budaya telah membuat sisi afeksi manusia tidak peka terhadap hal tersebut. Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur semakin tereduksi.
Eksistensi remaja hanya ditempatkan pada pengakuan-pengakuan sementara, misalnya seorang remaja dianggap eksistensinya ada jika remaja tersebut masuk menjadi anggota geng motor, menggunakan baju-baju bermerek, menggunakan ponsel Blackberry, dugem, clubbing, melakukan freesex, ngedrugs, dan lain sebagainya. Eksistensi kaum muda remaja hanya dihargai sebatas kepemilikan dan status semata. Jika pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan dikalangan remaja, makna dan penghargaan terhadap insan manusia akan semakin jauh. Hasil dari semua itu adalah menghilangnya penghargaan terhadap manusia lainnya, misalnya tawuran, pemerkosaan, komersialisasi organ tubuh, dan trafficking. Contoh-contoh ini menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan yang dimulai dari pergeseran nilai-nilai budaya di kalangan remaja.

Refleksi
Pada hakikatnya manusia hidup sebagai pemberi makna. Dalam mengatasi pendangkalan hidup post-modernisasi semacam ini adalah pengendapan atau internalisasi. Internalisasi merupakan proses memaknai kembali makna-makna hidup. Makna hidup yang tadinya dihargai secara dangkal, kali ini digali dan diselami.
Budaya refleksi dan keheningan saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan jika hendak melawan arus budaya pop. Refleksi membutuhkan suasana hening. Keheningan jiwa dapat tercapai saat berefleksi. Secara etimologis, refleksi berasal dari bahasa Latin yang berarti memutar balik, memalingkan, mengembalikan, memantulkan, dan memikirkan. Dua arti terakhir cocok untuk mendefinisikan refleksi dalam kerangka permenungan ini. Refleksi adalah usaha melihat kembali sesuatu secara mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi hingga mendapati nilai yang mulia yang dapat digunakan sebagai bekal hidup.
Kesenangan pada budaya pop di masa globalisasi menawarkan begitu banyak hal yang hanya berakhir menjadi kesan-kesan tanpa satu pun yang dapat dialami. Dengan budaya refleksi, kesan-kesan tersebut dapat diendapkan. Secara satu persatu pengalaman negatif maupun positif dapat dianalisis, dipertimbangkan, disimpulkan, dan akhirnya diendapkan dalam nurani. Proses inilah yang membuat kaum muda remaja dapat menyadari baik dan buruknya suatu sikap. Dalam proses ini juga kaum muda remaja diajak untuk menindaklanjuti berbagai pengalaman yang didapat, sehingga muncul nilai-nilai dari setiap kejadian yang dialami, dan tentunya nilai tersebut dapat menjadi bekal hidup selanjutnya.
Refleksi berperan menjadi fungsi kritis dalam diri kaum muda remaja. Saat ia mengalami pendangkalan nilai-nilai hidup dalam bentuk pragmatisme, konformitas buta dan sebagainya. Refleksi menunjukkan kesalahannya, dan mengarahkan kepada yang benar.
Oleh karena itu kita sebagai remaja harus mampu merubah diri kita menjadi manusia yang bermakna bagi orang lain melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Usaha ini hanya bisa tercapai melalui usaha pribadi bukan orang lain, ada pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...