Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 24 Juni 2010

Definisi Lesbian

Tentu kata diatas sudah tak asing lagi dewasa ini. Lesbi, sebuah kata yang pada khalayak umum diartikan sebagai seorang perempuan yang memiliki ketertarikan secara seksual dan emosional kepada perempuan lain. Namun hanya itukah definisi Lesbian ? Lalu, seperti apakah bentuk ketertarikan ini ? Bukankah mereka sesama perempuan, apakah ketertarikan antara lesbi itu aneh dan berbeda dari yang biasa terjadi pada umumnya ?

Jawaban dari semua pertanyaan diatas adalah tidak. Beberapa pakar mengungkapkan bahwa seorang perempuan lesbi tak hanya memiliki ketertarikan secara emosional dan seksual melainkan juga secara spiritual dan memiliki hasrat seksual kepada perempuan lain serta berkeinginan untuk membina hubungan romantis dengan sesama perempuan.

Lebih jauh, ketertarikan yang terjadi pada mereka sama dengan ketertarikan seorang laki-laki kepada perempuan dan perempuan kepada laki-laki (pasangan heteroseks) pada umumnya. Hal-hal yang mereka inginkan dari sebuah hubungan istimewa dengan pasangan lesbian juga tak berbeda dengan pasangan-pasangan yang lain. Mereka dalam membina hubungan juga saling menyayangi, mencintai, dan ingin membuat pasangan mereka bahagia.

Ketertarikan ini sebenarnya disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini sendiri dapat diklasifikasikan lagi berdasarkan pakar-pakar yang mengungkapkanya. Hal ini dikarenakan peneliti yang melakukan riset berbeda-beda, beberapa diantaranya adalah ginekolog, psikolog, dan beberapa peneliti lain.

Diantaranya faktor yang mendukung seorang perempuan menjadi lesbi adalah mereka merasa bahwa sesama perempuan dapat lebih mengerti akan keinginan masing-masing dan lebih bisa menghargai pasangan, lebih nyaman dengan pasangan yang berjenis kelamin sama, serta merasa bisa mendapatkan kepuassan secara seksual (pada umumnya).

Sedangkan berdasarkan hasil riset para ahli, dikemukakan bahwa dalam kromosom seorang perempuan lesbi terjadi defek genetik. Hal ini yang mengakibatkan perempuan memiliki ketertarikan secara seksual kepada sesama perempuan. Defek genetic sendiri adalah kelainan gen dalam tubuh, dimana hal ini berperan besar dalam Orientasi Seksual seseorang. Defek inilah yang memberikan kontribusi besar kepada seseorang untuk menjadi homoseksual (gay ataupun lesbi). Hasil riset ini juga yang telah mengubur anggapan sebelumnya. Yaitu anggapan bahwa lesbi terjadi kerena faktor keinginan, nafsu, seks bebas, dan kehendak pribadi. Selain itu pengaruh hormonal yang ada pada waktu bayi masih dalam kandungan juga memberikan kontribusi yang cukup besar pula.

Hal senada diungkapkan oleh para psikolog bahwa lesbi disebabkan oleh pengaruh kognitif, lingkungan, hormonal, psikologi dan genetik seseorang. Salah satu contoh dari hal ini adalah pengalaman traumatis yang menjadikan seorang perempuan menjadi lesbian (aspek psikis). Bentuk yang umum dikenal adalah disakiti oleh laki-laki (kekasih, keluarga, ataupun teman), sehingga terjadi trauma psikis bagi perempuan yang disakiti tersebut. Lainya seperti melihat ibu yang selalu disakiti oleh ayah, pengaruh lingkungan pergaulan dan pengalaman-pengalaman lain, dimana hal ini dapat menjadikan seorang perempuan lebih merasa aman dan nyaman bersama perempuan lain.

Bukti-bukti diatas semakin diperkuat dengan dihapuskanya kata-kata mengenai gangguan homoseksual pada buku pedoman psikiatri DSM IV. Hal ini menunjukkan dengn jelas bahwa homoseksual (dalam hal ini lesbi) bukanlah gangguan jiwa.

Namun, memang tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan lesbian, seks dengan pasangan memang kerap terjadi. Akan tetapi, hal ini dipandag sebagai suatu kewajaran dalam suatu hubungan spesial. Sedangkan untuk masalah penggunaan narkotik yang sering ditudingkan pada kaum lesbian, tentu hal ini sangatlah subyektif. Jadi, tudingan negatif yang selalu ditunjukkan kepada mereka tidaklah obyektif dan belum pasti kebenaranya.

Lebih dari itu semua, masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum minoritas ini bisa dibilang lebih komplek dari orang awam pada umumnya (heterosesks). Masalah-masalah yang sering dihadapi oleh para lebian ini diantaranya kekerasan, diskriminasi, perampasan atas hak-hak mereka dan yang paling menjadi momok adalah coming out. Tantangan dari coming out ini sangatlah besar dan berasal dari berbagai kalangan, baik dari keluarga, teman, lingkungan, agama, maupun UU di negara yang bersangkutan. Sehingga masalah yang begitu pelik, besar dan tiada akhir ini, haruslah ditanggung bagi setiap insan lesbi yang ingin coming out.

Melihat kenyataan diatas, tentu cerca, maki, dan hujatan kepada kaum ini akan membuat mereka kian terpuruk. Untuk itulah, sebagai manusia yang menjunjug tinggi hak asasi manusia, selayaknya kita menghargai, dan akan lebih baik bila memberikan support yang positif kepada mereka. Supaya terciptalah keadilan dan kedamaian.

Demikian sedikit penjelasan mengenai lesbian. Sebagai penutup, saya berharap, pandangan miring tentang kaum lesbian selayaknya dihilangkan, kerena pandangan masyarakat tentang kaum minoritas ini tidaklah selau benar. Lesbi adalah perempuan normal dengan orientasi seks yang kebetulan berbeda dengan perempuan lain, namun hal ini tetaplah normal, karena hal itu tak lain disebabkan oleh pengaruh genetik setiap orang yang berbeda satu dengan yang lain.

Dan sedikit penekanan yang ingin saya sampaikan, bahwa lesbi disebabkan oleh faktor Internal Biologis (dalam hal ini yang mengambil bagian terbesar adalah faktor genetic dan hormonal) serta pengaruh lingkungan (seperti kekerasan, pola asuh anak, dan pengalaman traumatis), sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa lesbi itu bukanlah berdasarkan keinginan pribadi, melainkan karena pengaruh hal-hal tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...