Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 11 Juni 2010

HOMOSEKSUAL


Oleh: Alfian Rokhmansyah

DEFINISI HOMOSEKSUAL

          Menurut Kartono (1989: 247) homoseksual adalah relasi seks jenis kelamin yang sama, atau rasa tertarik dan mencintai jenis seks yang sama. Homoseksual dapat dimasukan ke dalam kajian abnormalitas seksual yang terdapat dalam psikologi abnormal.
          Dede Oetomo yang dijuluki sebagai Bapak Gay Indonesia memberikan definisi homoseksual sebagai orientasi atau pilihan seks yang diarahkan kepada seseorang yang berjenis kelamin sama atau ketertarikan orang secara emosional dan seksual kepada seseorang dari jenis kelamin yang sama (Oetomo 2001: 6).
          Menurut Hidayat (dalam Widayani 2006: 12) homoseksual sebagau rasa tertarik secara perasaan, rasa kasih sayang, hubungan emosional secara erotik baik yang lebih menonjol (predominan) atau semata-mata (eksklusif) terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama dengan atau tanpa hubungan fisik. Lain halnya dengan Winknjosastro dan Prawirohardjo (dalam Widayani 2006: 11) menegaskan bahwa homoseksual adalah hubungan seksual antara dua orang pria dimana cara pemuasan seksualnya ditujukan pada rangsangan jenis untuk mencapai ejakulasi dan orgasme, dan objek merangsangnya diantara pria-pria yang tidak bertendensi homoseksual bahkan diantaranya anak-anak dibawah umur dengan rayuan-rayuan, janji-jani dan imbalan material.
          Homoseksual merupakan salah satu penyimpangan perkembangan psikoseksual. Secara sederhana homoseksual dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang kuat akan daya tarik erotis seseorang terhadap jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksualitas lebih lazim digunakan bagi pria yang menderita penyimpangan ini, sedang bagi wanita, keadaan yang sama disebut lesbian (Lukman 2009).
          Berdasarkan pendapat-pendapat dari beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa homoseksual merupakan hubungan antara pria dengan pria, baik yang melakukan hubungan seksual maupun hanya sebatas saling memberikan kasih sayang satu sama lain.

JENIS-JENIS HOMOSEKSUAL

          Coleman, dkk (dalam Supratiknya 2006: 94-95) menggolongakan homoseksualitas ke dalam beberapa jenis:
1.       Homoseksual tulen, yaitu jenis homoseksual yang memenuhi gambaran stereotipik populer tentang lelaki yang keperemuan-perempuanan, atau sebaliknya perempuan yang kelaki-lakian. Sering juga disebut sebagai kaum tranvestit, yakni orang yang suka mengenakan pakaian dan perilaku seperti lawan jenisnya. Bagi penderita yang memiliki kecenderungan homoseksual ini, daya tarik lawan jenis sama sekali tidak membuatnya terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai minat seksual terhadap lawan jenisnya.
2.       Homoseksual malu-malu, yakni kaum lelaki yang suka mendatangi wc umum atau tempat-tempat mandi uap, terdorong oleh hasrat homoseksual tetapi tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualitas.
3.       Homoseksual tersembunyi yaitu kelompok homoseksual yang biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dilindungi dengan cara menyembunyikan homoseksulitas mereka. Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh sahabat-sahabat karib, kekasih mereka, atau orang lain tertentu yang jumlahnya sangat terbatas.
4.       Homoseksual situasional yaitu jenis homoseksual yang terjadi pada penderita hanya pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan tidak mendapatkan partner lain jenis, sehingga tingkah lakunya timbul sebagai usaha menyalurkan dorongan seksualnya. Terdapat aneka jenis situasi yang dapat mendorong orang mempraktikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam, misalnya penjara dan medan perang. Akibatnya, biasanya mereka kembali mempraktikkan heteroseksualnya sesudah keluar dari situasi tersebut. Nilai tingkah laku ini dapat disamakan dengan tingkah laku onani atau masturbasi.
5.       Biseksual, yakni orang-orang ynang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksualitas sekaligus. Penderita homoseksualitas ini dapat mencapai kepuasan erotis optimal baik dengan sama jenis maupun dengan lawan jenis.
6.       Homoseksual mapan yaitu kaum homoseksual yang menerima homoseksualitas mereka, memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertanggung jawab, dan mengikat diri dengan komunitas homoseksual setempat.

          Menurut Kartono (1989: 248), ekspresi homoseksual dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
1.       Kategori homoseksual aktif atau tipe maskulin, yaitu kategori yang berperan sebagai pria dalam hubungan dan dalam kegiatan sodomi, tipe ini yang melakukan penetrasi penis. Kategori ini tidak selalu memiliki sifat maskulin, ada beberapa yang malah mempunyai sifat feminim.
2.       Kategori homoseksual pasif atau tipe feminim, yaitu kategori yang berperan sebagai wanita dalam hubungan dan dalam kegiatan sodomi, tipe ini yang menjadi objek sodomi. Kategori ini tidak selalu memiliki sifat feminim, ada beberapa yang malah mempunyai sifat maskulin.
3.       Kategori aktif-pasif atau tipe netral, yaitu kategori yang bergantian peran dan dalam kegiatan sodomi, tipe ini dapat berperan sebagai objek maupun yang melakukan sodomi. Jadi tipe ini dapat berperan sebagai pria maupun wanita dalam suatu hubungan.

PENYEBAB HOMOSEKSUAL

          Ada banyak terori yang menguraikan penyebab seseorang menjadi homoseksual. Ada teori nature, nurture, dan gabungan antara nature dan nurture. Teori nature menjelaskan bahwa homoseksual disebabkan karena gen tertentu yang menentukan orientasi seksual seseorang. Dalam teori nurture menyebutkan bahwa perilaku homoseksual disebabkan karena faktor lingkungan dan pengalaman hidup seseorang. Selain itu disebabkan karena faktor psikodinamik yaitu adanya gangguan perkembangan yang buruk pada masa kanak-kanak, dan faktor sosiokultural yaitu adat istiadat yang memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan yang salah atau menganggap homoseksual merupakan budaya yang wajar. Pada penggabungan teori nature dan nurture dijelaskan bahwa homoseksual memang sudah digariskan secara genetik dan pengaruh faktor lingkungan biasanya menyadarkan bahwa mereka berbeda (Widayani, 2006: 17-18).
          Menurut Kartini (1989: 248) sebab-sebab perilaku homoseksual, antara lain:
1.       Faktor dalam berupa ketidakimbangan hormon-hormon seks di dalam tubuh seseorang.
2.       Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual yang normal.
3.       Seseorang selalu mencari kepuasan relasi homoseks karena ia pernah menghayati pengalaman homoseksual yang menggairahkan pada masa remaja.
4.       Seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibunya sehingga timbul kebencian atau antipati terhadap ibunya dan semua wanita. Kemudian muncul dorongan seks yang jadi menetap.
          Timbulnya sifat homoseksual pada diri seseorang dapat disebabkan bermacam-macam faktor, seperti kekurangan hormon laki-laki selama masa pertumbuhan, mendapatkan pengalaman homoseksual yang menyenangkan pada masa remaja atau sesudahnya, memandang perilaku heteroseksual sebagai sesuatu yang menakutkan atau tidak menyenangkan, atau karena dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang didominasi oleh ibu sedangkan ayah lemah atau bahkan tidak ada (Widayani, 2006: 16).
          Menurut Freud (dalam Widayani 2006: 24) setiap orang yang lahir ke dunia membawa sifat biseksual, yaitu setiap orang mempunyai hormon seks pria dan wanita serta mempunyai ketertarikan dengan jenis kelamin yang sama dan yang berlainan. Secara umum kencenderungan maskulin dominan pada laki-laki dan feminim pada wanita sehingga umumnya orang mengidentifikasi diri dengan jenis seksual yang sama dengan kelaminnya dan menganggap jenis kelamin lain sebagai partnernya.
          Dengan pandangan Freud ini berarti homoseksual dapat terjadi pada setiap pria karena pada dasarnya orang yang lahir dengan kondisi biseksual. Biasanya ajaran dari lingkungan sekitar membuat seorang menjadi homoseksual. Bagi orang-orang yang homoseksual, hanya mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama yang akan menimbulkan hasrat seksual mereka.
          Menurut Supriyatno (2009) secara umum teori-teori tentang penyebab homoseksualitas meliputi disfungsi hubungan antara orang tua dan anak, peran gender tradisional yang membingungkan, akibat kekerasan seksual, atau karena faktor genetis.
          Asuhan yang salah bisa direpresentasikan dalam tipikal orang tua yang kurang seimbang. Seorang anak yang sejak kecil kurang mendapat kasih sayang dari seorang ayah dan lebih dominan dengan ibu dari pada ayah, berpeluang besar menjadi homoseksual. Alasan psikologis lain yang menyebabkan terjadinya homoseksual adalah pengalam buruk atau trauma dengan wanita. Misalnya seseorang yang mengalami patah hati dengan seorang wanita dapat beralih orientasi seksual dengan mencintai sesama pria (Supriyatno 2009).
            Seseorang menjadi homoseksual karena pengaruh orang-orang sekitarnya, seperti faktor keluarga dan lingkungan yang kurang mendukung. Sikap-tindaknya yang kemudian menjadi pola seksualnya dianggap sebagai sesuatu yang dominan sehingga menentukan segi-segi kehidupan lainnya. Selain itu, homoseksual juga dapat disebabkan karena sering mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis mereka sehingga mereka melampiaskan kekecewaan itu dengan menjalin hubungan dengan sesama jenisnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...