Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 11 Juni 2010

KETIDAKADILAN GENDER


Oleh: Alfian Rokhmansyah

          Dalam kajian terhadap wanita konsep utama yang harus dipahami adalah perbedaan antara seks dan gender. Gender dan seks merupakan sebuah konsep yang berbeda. Pembedaan konsep itu diperlukan guna memahami ketidakadilan sistem sosial. Hal ini disebabkan masih banyak kesalahan dengan apa yang dimaksud dengan gender dan seks (Fakih, 2003: 7).
          Menurut Fakih (2003: 8-9) gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun wanita yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Konstruksi ini melalui jalan yang panjang dan melalui proses sosialisasi yang secara perlahan melekat pada jenis kelamin tertentu. Pelekatan ini dipelajari dari lingkungan sekitar seperti, orang tua, sekolah, budaya, kepercayaan, pendidikan dan sebagainya. Laki-laki dianggap sebagai makluk yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sementara wanita dikenal lemah lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Sifat dan ciri yang dimiliki jenis kelamin itu sebenarnya dapat dipertukarkan. Hal ini karena ciri dan sifat itu merupakan hasil konstruksi masyarakat. Sifat dan ciri yang melekat sangat dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya masyarakat di dalamnya, serta perubahan zaman yang terjadi. Pemberian sifat pada tiap-tiap jenis kelamin ini menimbulkan dominasi laki-laki terhadap wanita. Hal ini karena ada anggapan wanita membutuhkan perlindungan laki-laki.
          Adapun pengertian gender menurut Demartoto (2005: 8) adalah pembagian peran dan tanggung jawab baik wanita maupun laki-laki yang ditetapkan secara sosial dan kultural. Widanti (2005: 8) mengemukakan bahwa gender adalah interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin dalam hubungan antara laki-laki dan wanita.
          Perbedaan gender tidak akan menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Akan tetapi, yang terjadi perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan gender terutama kepada wanita. Manifestasi ketidakadilan gender terjadi dalam berbagai bentuk, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Fakih, 2003: 12).
          Perbedaan gender ini juga telah melahirkan budaya patriarkat. Patriarkat diartikan sebagai kekuasaan yang dimiliki oleh ayah atau laki-laki. Konstruksi sosial kekuasaan laki-laki dalam keluarga berkaitan dengan seluruh penguasaan anggota keluarga, sumber ekonomi, pengambil keputusan, pembuat peraturan dan lainnya. Dapat dikatakan, patriarkat adalah sebuah sistem yang meletakkan kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada wanita. Sistem ini pada akhirnya menjadi sebuah ideologi dalam masyarakat bahwa wanita adalah milik laki-laki sehingga setiap gerak langkah wanita tidak boleh melebihi yang memilikinya. Hal ini membuat segala nilai sosial yang ada harus disesuaikan menurut pandangan dan kepentingan laki-laki. Sistem seperti inilah yang membuat wanita dirugikan baik dalam politik, ekonomi, maupun budaya.
          Bias gender telah menyebabkan ketidakadilan gender. Hal ini dapat dilihat melalui manifestasi ketidakadilan yang ada. Yakni, marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, pembentukan setereotip atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, dan beban kerja lebih panjang dan tidak banyak.
          Menurut Eisenstein (dalam Fakih, 2003: 92-93) ketidakadilan yang dialami wanita bukan karena perbedaan biologis antara laki-laki dan wanita, tetapi lebih karena penilaian dan anggapan. Ketidakadilan terhadap wanita terjadi karena konstruksi sosial di masyarakat. Sebagai sebuah konstruksi, sistem itu bisa dibongkar dengan cara merumuskan nilai-nilai yang mengatur kedudukan pada satu gender yang berlaku untuk setiap jenis kelamin. Lebih utamanya adalah membangun suatu budaya wanita dan laki-laki , dalam arti sebuah budaya yang sama-sama menghargai kedua jenis kelamin. Penghargaan terhadap kedua jenis kelamin tersebut belum ada, dan mau tidak mau harus dilakukan untuk mewujudkannya.
          Terdapat perbedaan pekerjaan yang dilakukan mereka di dalam masyarakat disebabkan oleh pelbagai macam faktor, mulai dari lingkungan alam, hingga cerita dan mitos-mitos yang digunakan untuk memecahkan perbedaan itu tercipta dan bagaimana dua orang yang berlainan jenis dapat berhubungan baik satu dengan lainnya dan dengan sumber daya alam sekitarnya.
          Menurut Fakih (2003: 12), manifestasi ketidakadilan gender ada lima yaitu:
1)      Marginalisasi Wanita
          Proses marginalisasi, yang mengakibatkan kemiskinan, sesungguhnya banyak sekali terjadi dalam masyarakat dan negara yang menimpa kaum laki-laki dan wanita, yang disebabkan oleh berbagai kejadian, misalnya penggusuran, bencana alam, atau proses eksploitasi. Namun ada salah satu bentuk pemiskinan atas satu jenis kelamin tertentu, dalam hal ini wanita, disebabkan oleh gender. Adanya beberapa perbedaan jenis kelamin dan bentuk, tempat dan waktu serta mekanisme proses marginalisasi kaum wanita karena perbedaan gender tersebut.
          Marginalisasi kaum wanita tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan bahkan negara. Marginalisasi terhadap wanita sudah terjadi sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-laki dan permpuan.
2)      Subordinasi Wanita
          Anggapan bahwa wanita itu irasional atau emosional sehingga wanita tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan wanita pada posisi yang tidak penting.
          Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Di Jawa, dulu ada anggapan bahwa wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya akan ke dapur juga. Bahkan, pemerintah pernah memiliki peraturan bahwa jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dia bisa mengambil keputusan sendiri. Sedangkan bagi istri yang hendak tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami.
          Dalam rumah tangga masih sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas, dan harus meyekolahkan anak-anaknya maka anak laki-laki akan mendapatkan prioritas utama. Praktik seperti itu sesungguhnya yang tidak adil.
3)      Setereotip Jenis Kelamin
          Secara umum setereotip adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Celakanya setereotip selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu jenis setereotip itu adalah yang bersumber dari pandangan gender. Banyak sekali ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya wanita, yang bersumber dari penandaan (setereotipe) yang dilekatkan kepada mereka. Misalnya, penandaan yang berawal dari asumsi bahwa wanita bersolek adalah dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan setereoripe ini. Bahkan jika ada pemerkosaan yang dialami oleh wanita, masyarakat berkecenderungan menyalahkan korbannya.
          Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama kaum wanita adalah melayani suami. Setereotipe ini berakibat wajar sekali jika pendidikan kaum wanita dinomorduakan. Setereotipe ini terjadi di mana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat yang dimenangkan karena setereotipe tersebut.
4)      Kekerasan terhadap Wanita
          Kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi (assult) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber, namun salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan oleh anggapan gender. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender ini disebut gender-related violence. Pada dasarnya, kekerasan gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat.
5)      Beban Kerja
          Adanya anggapan bahwa kaum wanita memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum wanita. Konsekuensinya, banyak kaum wanita yang harus bekerja keras dan lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangga, mulai dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air untuk mandi hingga memelihara anak.
          Bias gender yang mengakibatkan beban kerja tersebut seringkali diperkuat dan disebabkan oleh adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap masyarakat sebagai jenis pekerjaan wanita”, seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap sebagai “pekerjaan lelaki”, serta dikategorikan sebagai pekerjaan bukan produktif”, sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi negara (Fakih, 2003: 21).
          Telah dijelaskan bahwa manifestasi ketidakadilan gender sangat banyak bentuknya, semuanya menyebabkan kerugian terhadap wanita baik kerugian fisik ataupun psikologis. Sering kali dampak psikologis tidak diperhitungkan dalam data statistik tindak kekerasan dalam wanita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...