Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Rabu, 16 Juni 2010

KONSEP DIRI

Pengertian Konsep Diri


Hal yang paling penting dalam menafsirkan kepribadian seseorang adalah melalui konsep diri yang dimiliki oleh individu tersebut. Konsep diri merupakan peranan yang paling utama sebagai faktor di dalam integrasi kepribadian, dalam memotivasi tingkah laku dan mencapai kesehatan mental. Konsep diri dapat menentukan bagaimana individu bertingkah laku dalam segala situasi. Pemahaman mengenai konsep diri dapat memudahkan untuk memahami tingkah laku individu.


Chaplin (2004: 451) mengatakan bahwa konsep diri merupakan evaluasi individu mengenai diri sendiri, penilaian atau penafsiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Menurut Burn (1993: vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, orang lain berpendapat mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan.


Cawagas (Pudjiyogyanti 1985: 2) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan kepandaian, kegagalan dan lain sebagainya. Calhoun (1995: 90) mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran mental diri anda sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri anda, pengharapan bagi diri anda dan penilaian terhadap diri anda sendiri.


Cooley (dalam Burns 1993: 17) menggambarkan konsep diri dengan gejala looking-glass self (diri cermin) dimana konsep diri seseorang dipengaruhi oleh apa yang diyakini individu tentang pendapat orang lain mengenai individu tersebut dan seakan-akan menaruh cermin didepan kita. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain, kita melihat sekilas diri kita seperti berada dalam cermin. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Ketiga, kita mengalami perasaan bangga atau kecewa.


Mead (dalam Burns 1993: 19) berpendapat bahwa konsep diri sebagai obyek timbul didalam interaksi sosial sebagai suatu hasil perkembangan dari perhatian individu tersebut mengenai bagaimana orang lain berinteraksi kepadanya. Sehingga individu tersebut dapat mengantisipasi reaksi orang lain agar bertingkah laku dengan pantas dan individu mampu belajar untuk menginterpretasikan lingkungannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang lain.


Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan pandangan atas diri sendiri, pengenalan diri sendiri dan pemahaman diri sendiri. Pandangan ini meliputi karakteristik kepribadian dari individu, nilai-nilai kehidupan, prinsip hidup, moralitas, pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.


Konsep diri terdiri dari bagaimana individu melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana individu dapat merasakan apa yang ada didalam dirinya, bagaimana individu menginginkan dirinya sendiri menjadi individu yang ideal dan bagaimana gambaran serta pandangan orang lain tentang diri individu itu sendiri.


Faktor-Faktor yang Memengaruhi Konsep Diri


Rakhmat (2004: 101-104) faktor yang memengaruhi konsep diri adalah faktor orang lain dan faktor kelompok rujukan (reference group). Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya, akan membentuk konsep diri saya.


Hurlock (1994: 235) mengatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri adalah usia kematangan, penampilan diri, kepatuhan seks, nama dan julukan, hubungan keluarga, teman-teman sebaya, kreativitas dan cita-cita.


Pudjiyogyanti (1985: 8) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu:


a. Peranan citra fisik

Setiap individu tidak dapat melihat keseluruhan tubuhnya, kecuali bila menggunakan cermin yang dapat memantulkan bayangan tubuh. Demikian pula halnya dengan citra diri, yang hanya dapat terbentuk melalui refleksi dari individu lain.


Penilaian yang positif terhadap keadaan seseorang, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain, sangat membantu perkembangan konsep diri kearah yang positif. Hal ini disebabkan penilaian positif akan menumbuhkan rasa puas keadaan diri. Rasa puas ini merupakan awal dari sikap positif terhadap diri sendiri.


b. Peranan seksual

Adanya perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, telah ditentukan pula peran masing-masing sesuai dengan jenis kelamin.


c. Peranan perilaku orang tua

Lingkungan yang pertama menanggapi perilaku kita adalah lingkungan keluarga, maka dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan ajang pertama dalam membentuk konsep diri anak. Lima tahun pertama dalam kehidupan anak atau pada masa prasekolah, secara keseluruhan anak tergantung pada keluarga.


Orang yang dikenal anak terbatas pada lingkungan keluarga saja dan anak memahami kebutuhan fisik melalui keluarga. Jadi dunia anak betul-betul dunia keluarga yang diwarnai oleh perilaku orang tua dan persaingan dengan saudara-saudaranya. Dan singkatnya, seorang anak mengalami ketergantungan fisik, sosial, maupun emosional pada keluarga.


d. Peranan faktor sosial

Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang-orang disekitarnya. Apa yang dipersepsi individu lain mengenai diri individu, tidak lepas dari struktur, peran, dan status sosial yang disandang individu.


Burns (1993: 189-209) menyebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan konsep diri seseorang, antara lain:



a. Diri Fisik dan Citra Tubuh

Citra tubuh merupakan gambaran yang dievaluasikan mengenai diri fisik. Perasaan-perasaan yang bersangkutan dengan tubuh dan citra tubuh menjadi inti dari konsep diri. Di dalam tahun pertama dari kehidupan, tubuh dan penampilan merupakan hal yang penting dalam mengembangkan pemahaman tentang konsep diri seseorang. Setiap individu tidak dapat melihat tubuhnya kecuali bila menggunakan cermin yang dapat memantulkan bayangan tubuh. Begitu pula halnya dengan citra fisik yang hanya dapat terbentuk melalui refleksi dari orang lain.


Pandangan dari individu lain mengenai keadaan fisik yang dilihat menyebabkan adanya dimensi tubuh yang ideal. Dimensi mengenai bentuk tubuh yang ideal dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain dan dapat pula dipengaruhi oleh adanya perbedaan waktu.


Pada umumnya individu beranggapan bahwa bentuk tubuh laki-laki yang ideal adalah atletis, berotot dan kekar, sedangkan bentuk tubuh wanita yang ideal adalah langsing tanpa ada lemak. Dengan adanya dimensi tubuh ideal sebagai patokan maka setiap individu beranggapan bahwa individu tersebut akan mendapat tanggapan yang positif dari individu lain apabila berhasil mencapai patokan tubuh yang ideal.


Kegagalan dan keberhasilan individu untuk mencapai patokan ideal yang telah ditetapkan oleh masyarakat merupakan keadaan yang sangat mempengaruhi pembentukan citra fisiknya. Seperti, tubuh yang tinggi, berotot dan atletis dianggap sebagai karakteristik positif dan pelindung bagi diri sendiri dan lingkungannya. Tubuh yang gemuk dan pendek sering mendapat citra yang negatif yaitu jelek dan tidak dapat diandalkan.


Tinggi badan, berat badan, warna kulit, pandangan mata dan proporsi tubuh menjadi sedemikian erat dengan sikap-sikap terhadap diri sendiri dan perasaan tentang kemampuan pribadi dan kemampuan untuk menerima keberadaan orang lain. Tubuh merupakan bagian dari individu yang terlihat dan dapat dirasakan dimana merupakan ciri yang khas dalam mempersepsikan tentang diri sendiri.


b. Keterampilan Berbahasa

Perkembangan bahasa akan membantu perkembangan konsep diri. Selain itu, simbol-simbol bahasa juga dapat membentuk dasar dari pandangan tentang diri. Penggunaan bahasa verbal dapat membedakan individu satu dengan individu yang lain. Individu dapat menyebut dirinya sendiri dengan kata saya atau aku dan menyebut orang lain dengan kata kamu, anda, dia dan mereka.


Pemakaian kata ganti dapat berguna sebagai konseptualisasi dari diri dan orang lain. Ketepatan pemakaian kata ganti memperlihatkan konsepsi pendewasaan individu mengenai eksistensi dan individualitasnya. Perbendaharaan bertambah seiring dengan pertambahan usia individu dan kemampuan untuk menerima keadaan orang lain. Pemakaian dan ketepatan kata-kata yang bertambah mencerminkan kemampuan yang bertambah dari individu tersebut untuk memahami dirinya sendiri sebagai seorang individu dengan mempunyai perasaan, kebutuhan-kebutuhan dan sifat-sifat.


c. Tanggapan dari Orang-orang yang Dihormati

Selain citra tubuh dan keterampilan berbahasa, konsep diri juga dapat dipengaruhi oleh tanggapan dari orang yang dihormati. Orang-orang yang dihormati memainkan sebuah peranan yang menguatkan dalam definisi diri. Adapun orang-orang yang dihormati dan menjadi sumber konsep diri adalah:

1) Orangtua

Orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pengembangan konsepsi diri karena orangtua merupakan sumber otoritas dan sumber kepercayaan. Orangtua merupakan sumber utama dalam memberikan kasih sayang. Perhatian, dan penerimaan pada anak-anaknya. Segala hal yang didapatkan dari orangtua akan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri anak. Kasih sayang dan penerimaan orang tua dapat dirasakan oleh anak-anak melalui isyarat, verbalisasi dan tanda dari orang tua. Pengalaman mengenai kasih sayang ataupun penolakan, setuju atau tidak setuju dari orang tua menyebabkan individu dirinya dan bertingkah laku dengan cara yang sama. Anak mempercayakan persepsi diri kepada pengalaman yang dialami langsung tentang diri secara fisik dan reaksi dari orang yang dihormati terutama orangtua.

2) Teman Sebaya

Kelompok teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat besar pada sikap individu. Kelompok teman sebaya mampu menumbuhkan perasaan harga diri, memberikan dukungan, kesempatan untuk mempraktekkan dan melatih diri dalam menyiapkan masa pendewasaan selanjutnya. Dalam bersosialisasi dengan teman sebaya, individu dituntut untuk melakukan kegiatan yang ada dalam kelompok itu. Individu akan merasa bangga bila dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kelompok dan sebaliknya individu akan merasa gagal, bersalah dan mendapatkan celaan apabila tidak dapat melaksanakan tugas yang telah ditargetkan dalam kelompok itu. Hal ini akan mempengaruhi konsep diri individu.


Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri adalah peranan citra diri, kematangan seksual, orangtua dan keluarga, teman sebaya dan pengaruh dari lingkungan sekitar atau masyarakat. Perasaan-perasaan yang bersangkutan dengan tubuh dan citra tubuh menjadi inti dari konsep diri. Semakin bertambahnya usia individu mampu menciptakan konsep diri yang positif. Kasih sayang dan perhatian orangtua mampu menciptakan konsep diri yang baik. Penerimaan di lingkungan teman sebaya menjadi langkah awal dalam mempersiapkan individu menuju kedewasaan dan mempengaruhi konsep diri selanjutnya. Penilaian masyarakat tentang keadaan individu akan berpengaruh dalam melakukan interaksi sosial di lingkungannya.


Karakteristik Konsep Diri



Calhoun dan Acocella (1995: 72) mengatakan bahwa konsep diri seseorang harus dilengkapi dengan kotak kepribadian yang cukup luas, dimana konsep diri tersebut dapat menyimpan bermacam-macam fakta yang berbeda tentang kita sendiri baik informasi negatif maupun positif, dan mendeskripsikan masing-masing karakter konsep diri sebagai berikut:

a. Konsep diri positif

1) Berkepribadian yang bersifat stabil dan bervariasi.

2) Dapat menerima dirinya sendiri dengan apa adanya.

3) Mampu menyimpan informasi tentang dirinya sendiri baik informasi negatif maupun positif.

4) Dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri.

5) Dapat menerima dirinya sendiri dan orang lain.

6) Mampu merancang tujuan-tujuan kehidupan yang sesuai dan realistis.

7) Seseorang mampu menghadapi kehidupan didepannya.

8) Bertindak dengan berani dan spontan serta memperlakukan orang lain dengan hangat dan hormat.

b. Konsep diri negatif

1) Pandangan seseorang tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, dia tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri, benar-benar tidak tahu siapa dia, apa kekuatan dan kelemahannya atau apa yang dia hargai dalam hidupnya.

2) Pandangan seseorang tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan terlalu teratur dan kaku. Dimana individu kemungkinan dididik dengan sangat keras oleh orang tuanya, individu tersebut menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum besi yang di dalam pikirannya merupakan cara hidup yang paling tepat.



DAFTAR RUJUKAN

  1. Burns, R.B. 1993. Konsep Diri (Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku). Jakarta: Arcan.
  2. Calhoun, J.F dan Accocella, J.R. 1995. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Edisi III. Diterjemahkan oleh Satmoko. Semarang: IKIP Semarang Press.
  3. Chaplin, J.P. 2004. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  4. Hurlock, E. B. 1994. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Edisi V. Jakarta: Erlangga.
  5. Kartono, Kartini. 1985. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: CV. Mandar Maju.
  6. Pudjiyogyanti, C. R. 1985. Konsep Diri dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penelitian Unika Atma Jaya.
  7. Rakhmat, J. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
  8. Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Jogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.
  9. Suryabrata, S. 2002. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  10. Widayani, Viena. 2006. Konsep Diri Pria Homoseksual (Studi Kasus di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus). Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...