Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 11 Juni 2010

Kritik Feminisme


Oleh: Alfian Rokhmansyah

          Sastra merupakan salah satu media representasi budaya dan sosial yang menggambarkan hubungan gender. Teks sastra menjadi salah satu media untuk menyuarakan keinginan, kebutuhan, dan hak sebagai perempuan. Teks sastra mempunyai kemampuan memperkuat dan membuat streotipe tentang kebebasan gender yang baru. Sebuah kritik sastra feminis membantu membangun studi gender yang direpresentasikan di dalam karya sastra (Goodman dalam Sofia, 2003:32).
          Feminisme berbeda dengan emansipasi. Emansipasi cenderung lebih menekankan diri pada partisipasi perempuan dalam pembangunan tanpa mempersoalkan hak serta kepentingan perempuan yang selama ini dinilai tidak adil. Perempuan dalam pandangan feminisme mempunyai aktivitas dan inisiatif sendiri untuk memperjuangkan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan (Sofia, 2003: 24).
          Kritik sastra feminis adalah sebuah kritik yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia (Sugihastuti dan Suharto, 2002:20). Jenis kelamin tersebut secara langsung akan memengaruhi aspek sosial dan budaya manusia di sekitarnya. Kritik sastra feminis meletakan teori feminisme menjadi landasan dasar pemikiran. Feminisme muncul sebagai akibat adanya prasangka gender. Prasangka gender ini memandang perempuan sebagai makhluk kelas dua. Pemikiran seperti ini berdasar pada anggapan bahwa laki-laki berbeda dengan perempuan. Laki-laki dianggap lebih berperan dalam berbagai kegiatan, dan mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada perempuan. Perbedaan ini tidak hanya tampak secara lahiriah, tetapi juga dalam struktur sosial budaya di masyarakat. Dengan demikian, kritik sastra feminis merupakan kritik ideologis terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin (Budianta, 2002:201).
          Batasan umum kritik sastra feminis dikemukakan oleh Culler (dalam Endraswara, 2008:149), bahwa kritik sastra feminis adalah reading as women “membaca sebagai perempuan”. Istilah “membaca sebagai perempuan” mempunyai pengertian bahwa pembaca sadar terhadap adanya perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Yoder (dalam Sugihastuti, 2002:5) menyebut bahwa kritik sastra feminis itu bukan berarti seorang pengkritik yang berjenis kelamin perempuan, atau kritik tentang perempuan, atau kritik tentang pengarang perempuan. Arti sederhana kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan diantara diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang.
          Sugihastuti (2002:8-10) menyatakan bahwa kritik sastra feminis ini dapat dikembangkan dengan berbagai kombinasi pendekatan kritik yang lain, misalnya dari formalisme ke semiotik tanpa meninggalkan kesadaran bahwa terdapat perbedaan jenis kelamin dengan terimplisit dalam karya sastra. Kritik ini juga meletakkan dasar bahwa ada gender ketegori analisis sastra.
          Kritik sastra feminis berbeda dengan kritik-kritik yang lain karena masalah kritik sastra feminis berkembang dari berbagai sumber. Untuk memahami kritik sastra feminis diperlukan pandangan yang luas dalam bacaan-bacaan tentang perempuan. Bantuan disiplin ilmu yang lain seperti sejarah, psikologi, dan antropologi sangat diperlukan untuk menunjang proses penelitian kritik sastra feminis. Ia pun mempunyai relevansi dengan teori-teori sastra yang lain, sehingga teori-teori sastra seperti linguist, psikoanalisis, marxisme, dan dekonstruksionisme dapat digunakan untuk membantu pengungkapan kritik feminis dengan rangkaian analisisnya yang penting. Kritik sastra feminis yang diartikan “membaca sebagai perempuan” berpandangan bahwa kritik itu tidak mencari metodologi atau model konseptual tunggal, tetapi bahkan sebaliknya ia akan menjadi pluralis dalam teori dan praktiknya dengan menggunakan kebebasan dalam metodologi dan pendekatan yang dapat membantu pelaksanaan kritiknya.
          Abdullah (1997:45) menyatakan, salah satu teori yang dapat menjelaskan sebab-sebab munculnya hierarki gender adalah teori structural. Teori structural dibangun dari asumsi bahwa subordinasi perempuan adalah cultural sekaligus universal. Satu kelompok menyatakan bahwa perempuan mempunyai status lebih rendah sekaligus mendapatkan otoritas lebih sedikit karena perannya hanya berhubungan dengan arena domestik. Disisi lain, peran laki-laki lebih terlihat dalam arena public sehingga mendapatkan status sosial lebih tinggi. Kelompok strukturalis yang lain beragumentasi bahwa subordinasi perempuan itu kultural, tetapi berakar pada pembagian kerja berdasarkan gender.
          Dipandang dari sudut sosial, feminisme muncul dari rasa ketidakpuasan terhadap sistem patriarkhi yang ada pada masyarakat. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Millet (dalam Selden, 1991: 139) dalam buku Sexual Politics yang menggunakan istilah patriarkhi (pemerintahan ayah). Istilah ini mempunyai arti sangat mementingkan garis keturunan laki-laki. Budaya patriarkhi juga menggunakan kekuatan secara langsung ataupun tidak langsung dalam kehidupan sipil dan rumah tangga untuk membatasi perempuan. Konsep yang dianggap tidak adil inilah yang digunakan sebagai dasar oleh Millet untuk mengungkap sebab penindasan terhadap perempuan (Selden, 1991: 139).
          Terdapat dua hal penting yang harus dipahami dalam membahas masalah perempuann, yaitu antara seks dan gender. Pengertian seks atau jenis kelamin mengacu pada adanya perbedaan antara dua jenis kelamin manusia yaitu laki-laki dan perempuan yang secara biologis terdapat pada setiap orang. Jenis kelamin ini tidak akan berubah dan merupakan ketentuan dari Tuhan. Pengertian gender mengacu pada sifat yang terdapat pada kaum laki-laki atau perempuan yang terbentuk melalui proses sosial maupun kultural dalam masyarakat.
          Berkaitan dengan fenomena feminisme dalam dunia sastra, Faruk (dalam Sugihastuti, 2002:66) menyatakan bahwa bahasa adalah proses yang terus-menerus melakukan “tindakan gender” dalam berbagai situasi interaksi antara perempuan dengan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari. Ketika laki-laki dan perempuan berpikir melakukan komunikasi kebahasaan, mereka dihadapkan pada bahasa sebagai sebuah kondisi objektif yang bersifat eksternal yang memberikan batas, kerangka, dan bahkan arah terhadap apa yang dapat dipikirkan dan dikemukakannya.
          Jika bahasa menjadi alat reproduksi gender, maka sastra diharapkan berperan sebaliknya, yakni sebagai realitas tandingan yang dapat menihilkan bahasa sebagai alat legitimasi realitas keseharian yang dominan tersebut. Sastra modern, misalnya, sejak semula menempatkan diri sebagai sebuah aktivitas dengan harapan aktivitas tersebut mampu menerobos segala kemungkinan yang ditutup oleh bahasa. Perempuan di dalam karya sastra ditampilkan dalam kerangka hubungan ekuivalen dengan seperangkat tata nilai marginal dan yang tersubordinasi lainnya, yaitu sentimentalis, perasaan, dan spiritualitas. Oleh tata nilai marginal tersebut, perempuan hampir selalu terbentur pada batas untuk ditampilkan sebagai tokoh yang harus dibela atau korban yang selau dihimbau untuk mendapatkan perhatian (Faruk dalam Sugihastuti, 2002:66-67).
          Perjuangan serta usaha gerakan feminisme untuk mencapai tujuan persamaan hak dan kepentingan mereka mencakup berbagai cara, diantaranya ialah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki. Berkaitan dengan itu, muncullah istilah equal right’s movement atau gerakan persamaan hak. Cara lain adalah dengan membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga. Cara tersebut sering dinamakan women’s liberation movement, disingkat women’s lib atau women’s emancipation movement, yaitu gerakan pembebasan kaum perempuan (Djajanegara, 2000: 4).
          Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa munculnya ide-ide feminis itu bermula dari kenyataan bahwa keadaan belum sejajarnya hak antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Kesadaran akan tidak adanya kesejajaran hak yang terjadi dalam masyarakat inilah yang kemudian melahirkan kritik feminis. Perwujudan dari kritik feminis dilakukan melalui berbagai hal, baik melalui sikap, melalui penulisan artikel, puisi, novel, maupun berbagai media lain yang memungkinkan untuk dapat menyampaikan gagasan atau ide sebagai bentuk kritik feminis terhadap keadaan dan pandangan sosial yang terdapat dalam masyarakat.
          Dalam fase awal feminis modern (Selden, 1991: 139), tulisan tentang kesusastraan lebih sering mempunyai tekanan politis, dalam arti bahwa penulisan tntang feminisme menyatakan perasaan marah atas ketidakadilan. Gerakan inilah yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran “politis” perempuan atas tekanan laki-laki. Menarik untuk dicacat mengenai persamaan-persamaan antara tipe feminism dan bentuk-bentuk radikalisme politik yang lain. Perempuan sebagai kelompok yang ditekan mungkin dan telah dibandingkan dengan orang hitam dan kelas pekerja sebagaiman ditunjukkan oleh seorang feminis perancis, simone de beauvioir. Meskipun disejajjarkan seperti orang hitam, perempuan bukanlah minoritas. Tidak seperti kaum proletar yang diciptakan oleh politik kelas pekerja dan disahkan oleh sejarah, perempuan bukanlah hasil sejarah.
          Lalu apakah yang menyebabkan feminisme bergerak melalui kesusastraan? Salah satunya adalah persepsi bahwa secara umum, kesusastraan dianggap berfungsi sebagai alat legitimasi budaya patriarkhi. Pertama, nilai dan konvensi sastra sendiri telah dibentuk oleh laki-laki dan perempuan sering berjuang untuk mengungkapkan urusannya sendiri dalam bentuk yang mungkin tidak sesuai. Dalam narasi misalnya, konvensi yang membentuk petualangan dan perburuan romantic memperlihatkan dorongan dan tujuan seorang “lalaki”, yakni untuk menaklukkan dan menguasai perempuan. Kedua, penulis laki-laki menunjukkan tulisan kepada para pembacanya seolah-olah mereka semuanya adalah laki-laki. Pembaca perempuan pun dipaksa secara tidak sadar membaca sebagai laki-laki (Selden, 1991:140).
          Barret (dalam Selden 1991: 142) memberikan analisis feminis yang bersifat marxis tentang penggambaran jenis kelamin. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1.       Barret sependapat dengan pendapat seorang matrealis yang bernama Virginia Wolf yang menyatakan bahwa secara material, ada kondisi yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam menghasilkan kesusastraan. Kondisi ini sekaligus mempengaruhi bentuk dan isi tulisan mereka.
2.       Ideologi jenis kelamin mempengaruhi cara baca hasil penulisan laki-laki dan perempuan.
3.       Barret juga memberikan masukan bahwa para kritikus feminis harus memperhitungkan kodrat fiksional teks-teks sastra dan tidak begitu saja mengutuk semua penulis pria yang memamerkan seksisme dalam buku mereka dan bersetuju dengan para penulis wanita untuk mengangkat persoalan jenis kelamin. Pendapat tersebut berpedoman pada teori yang mengungkapkan bahwa sebuah teks tidak mempunyai arti tetap dan mengandung tafsiran yang bergantung pada keadaan dan ideologi pembaca.
          Penggunaan berbagai teori feminis tersebut diharapkan mampu memberikan pandangan-pandangan baru terutama yang berkaitan dengan bagaimana karakter-karakter perempuan diwakili dalam karya sastra. Hal inilah yang mendorong para feminis menggunakan kritik sastra feminis untuk menunjukkan citra perempuan. Kritik sastra feminis juga berfungsi untuk membendung karya-karya penulis pria yang menampilkan perempuan sebagai makhluk yang dengan berbagai cara dapat ditekan, dipersalahtafsirkan serta disepelekan oleh tradisi patriarkhi yang dominan. Selain itu, ternyata ada pula kajian tentang perempuan dalam tulisan penulis laki-laki yang dapat menunjukkan tokoh-tokoh perempuan yang kuat dan mungkin sekali justru mendukung nilai-nilai feminis.
          Keinginan untuk memunculkan pandangan baru tersebut juga menimbulkan beberapa ragam kritik sastra feminis. Diantara beberapa ragam kritik sastra feminis, kritik sastra ideologis merupakan kritik sastra feminis yang paling banyak digunakan. Kritik ini melibatkan perempuan khususnya kaum feminis sebagai pembaca dan meletakkan citra streotip perempuan sebagai pusat perhatian pembaca perempuan dalam karya sastra (Djajanegara, 2000:28).
          Djajanegara (2000:51-54) memberikan gambaran penelitian sastra dengan pendekatan feministik sebagai berikut:
1.       Peneliti mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh perempuan di dalam sebuah karya yang dilanjutkan dengan mencari kedudukan tokoh-tokoh tersebut di dalam keluarga dan masyarakat. Misalnya, jika kedudukannya sebagai seorang istri atau ibu, maka dia akan bersifat inferior dan berposisi lebih rendah dari pada kedudukan laki-laki di dalam suatu masyarakat tradisional. Hal ini disebabkan karena tradisi menghendaki dia berperan sebagai orang yang hanya mengurus rumah tangga dan tidak layak mencari nafkah sendiri. Di dalam rumah tangga yang konservatif, suami adalah pencari nafkah tunggal. Sebagai orang yang memiliki dan menguasai uang, suamilah yang memegang kekuasaan dan hidup seorang istri menjadi tergantung pada suaminya.
2.       Peneliti mencari tahu tujuan hidup tokoh perempuan dari gambaran langsung yang diberikan penulis. Misalnya, penulis melukiskan tokoh perempuan sebagai pribadi yang haus akan pendidikan atau pengetahuan dan rajin berkarya di luar lingkungan rumah sehingga bias diakui masyarakat sebagai sosok yang memiliki jati diri sendiri tanpa dikaitkan dengan kedudukan suami. Peneliti juga harus memperhatikan pendirian atau ucapan tokoh tersebut. Apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dikatakannya akan banyak memberikan keterangan tentang tokoh laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang diamati.
 3.      Peneliti mengamati sikap penulis yang mungkin menulis dengan kata-kata menyindir atau ironis, nada komik atau memperolok-olok, mengkritik atau mendukung, optimistik atau pesimistik. Nada dan suasana cerita pada umumnya mampu mengungkapkan maksud penulis dalam menghadirkan tokoh yang akan ditentang atau didukung para feminis. Untuk mengetahui pandangan serta sikap penulis, sebaiknya peneliti juga memperhatikan latar belakangnya karena tempat dan waktu penulisan sebuah karya sastra banyak mempengaruhi pendirian dan sikap seorang penulis.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...