Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Kamis, 24 Juni 2010

Lesbian Laki-laki (Sebuah Novel karya Deojha)

“…simpulkan sendiri apakah semua karena kamu tetap menjadi seorang lesbian atau bukan. Aku juga lesbian kan, tapi aku tidak bodoh. Menurutku itulah masalahnya, menjadi bodoh,” benar apa yang dikatakan Pandhu….
“Semua karena aku belum bekerja, … tidak seperti Mahazza yang perlente itu…,”
“Dia matrelialistis juga ya…,”
Aku adalah seorang penganut kesedihan , keputusasaan dan kesedihan dan ketiadaan. Kosong dalam kungkungan bejana menyesatkan.setia dalam bara tanpa arti dan takut meski ingin berteriak padamu, “berhenti mencampakkanmu, perempuan!” (h. 135).

Buku setebal 209 halaman ini mengisahkan tentang seorang perempuan (23 tahunan) yang memutuskan menjadi seorang buchie (lesbian laki-laki) bagi seorang pasangan femme (lesbian perempuan). Ini merupakan sebuah testimony yang disusun seperti sebuah novel yang bertutur sendiri atau sebuah monolog yang ingin disampaikan kepada pasangannya yang sudah meninggalkannnya, sebagai jalan terakhir mengungkapkan cintanya yang tak berkesudahan.

Sangkala Senja –tokoh utama dan dipanggil Senja saja-dalam buku ini, mengisahkan pengalaman pahitnya ketika masih kanak-kanak, ia bersama kakak perempuannnya sering mengalami kekerasan baik fisik ataupun mental yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Semua terjadi lantaran ibunya tak mampu memenuhi kebutuhan fisik anak-anaknya akibat perceraian, ibunya seorang single parent yang tak mampu berkerja. Meskipun mereka adalah ningrat tapi mereka hidup miskin layaknya rakyat biasa. Tidak terlalu jelas Senja mengungkapkan silsilah keluarga, ini hanya pengantar saja pada latar belakang yang akhirnya ia harus diasuh oleh saudara yang lain. Akhirnya Senja pindah ke Jakarta bersama dengan ibu bapaknya yang baru dan keempat kakak laki-lakinya. Menurut pengakuannnya sebelum bertemu mereka, Senja sudah merasa diri suka dengan perempuan dan sedih sekali waktu ditinggalkan guru perempuannya semasa TK. Bersama dengan keluarganya yang baru ia tumbuh menjadi kanak-kanak yang tomboy dan disayang oleh keluarganya karena bagaimanapun ia anak perempuan satu-satunya.

Radarnya yang merasa diri sebagai lesbian semakin dirasakan ketika remaja dan ketika tinggal di Surabaya ia sudah mempunyai pasangan perempuan. Saat liburan Senja pun berani membawa pacarnya itu kerumahnya. Semua keluarga curiga (meskipun ia berusaha sebiasa mungkin) dan menanyakannnya dengan gagah berani dan gentelment sebagai buchi laki-laki ia mengakui orientasi seksualnya. Dan dirumahnya juga mereka bercinta secara liar sebagai pasangan lesbian. Senja menceritakan bagaimana sepasang lesbi muda bercinta tanpa risi apalagi ragu. Dari pacarnya yang pertama ini, Senja sudah terlihat sebagai Buchie yang setia, meskipun ia tahu pasangannya tidak setia, ia mencoba sabar, setia dan berharap pasangannya berubah. (Singkat cerita karena gesekan-gesekan antara Senja dan keluarganya yang makin keras, membuat Senja memutuskan kabur dari rumah.)

Pacarnya yang pertama ternyata adalah hipersek, ia bisa bercinta berkali-kali dalam sehari. Suatu hari Senja memergoki pasangannya sedang bercinta dengan buchi lain dan akhirnya ia ditinggalkan olehnya. Pacarnya pergi menjadi seorang perek bagi laki-laki hidung belang dikota lain, ternyata ia bisa juga bercinta dengan laki-laki atau lebih tepatnya ia adalah biseksual. Kemudian ia memiliki pasangan lagi yang hanya berlangsung sebentar saja, seorang perempuan cantik, baik dan mapan, Senja tetap setia menunggunya di kos –kosan mereka, tetapi akhirnya perempuan itu memutuskan bahwa ia tidak bisa melanjutkan hubungan. Rupanya pacar keduanya itu secara jujur mengakui bahwa ia bukanlah lesbian murni, hubungan kemarin hanyalah coba-coba saja, ingin mencoba bagaimana bercinta ala pasangan perempuan. Karena putus Senja bingung, harus berteduh dengan siapa, akhirnya ia memutuskan tinggal dulu dengan Pandhu, seorang buchi yang menjadi sahabat baiknya.

Dari Pandhu ia bisa bertemu dengan Ninggar, lesbian yang menjadi kekasih hatinya. Bersama Ninggar, Senja menemukan cinta sepasang lesbi yang ideal, bersama Ninggar ia menemukan hari-hari bahagia, bersama Ninggar ia dimanjakan, merasa sangat diperhatikan dan disayang, bersama Ninggar jugalah ia mengalami hubungan seks – mendapat pengalaman sek- yang menyenangkan sebagaimana yang ia bayangkan. Bersama Ninggar, ia hidup aman dan terawat, ga perlu memikirkan tempat tinggal, karena ia setia menunggu Ninggar pulang kerja dan siap merawat dirinya.Kebersamaan yang membuaikan itu kemudian lenyap ketika Senja sakit-sakitan, dan Ninggar mengirim Senja pulang ke rumahnya di Yogya. Dari sanalah hubungan mulai renggang dan pada akhirnya Ninggar meninggalkannnya dan kembali pada pasangan lamanya Mahazza.

Penderitaan yang sesungguhnya bermula dari sana –meskipun dari awal novel ini sudah sangat sengsara-bermula dari perginya Ninggar yang begitu dengan mudah melupakan Senja. Ternyata Senja terus saja sengsara, berharap, menanti, setia, jatuh bahun, bathin yang tercabik-cabik dan Senja tidak bisa berhenti memikirkan Ninggar. Sampai-sampai kawan-kawannnya lesbi lainnya prihatin, kasihan dan membodoh-bodohinnya karena kesetiaan Senja yang konyol.
Ya, Senja terbelenggu sendiri dalam bayangan cinta yang ideal ala lesbian, yang semestinya setia, yang semestinya tidak menyakiti, yang semestinya hubungan sek dilakukan dengan perasaan-perasaan lembut perempuan, yang semestinya-semestinya lainnya….[karena ia mendengar pasangan hetero atau laki-lakinya sering tidak setia] e e e ternyata banyak juga ya –setidaknya sepanjang pengalaman hidup Senja-femme yang selingkuh. Senja sendiri tetap setia dengan Ninggar, mencoba menjaga kesucian dengan tidak berhubungan sek dengan femme lain –meskipun banyak yang naksir Senja-yang pada akhirnya pertahanan kesetiaan ini jebol oleh seorang femme [yang cukup memikatnya secara fisik saja, tidak demikian hatinya, hatinya tetap untuk Ninggar] yang berlangsung hanya semalam saja, untuk melepaskan nafsu biologisnya yang tak terbendung. Dan satu lagi pengalaman sek yang menyedihkan, Senja merasa diperkosa oleh femme -berjilbab dan religius – yang membuat Senja sangat traumatic. Dan pertemuannya denga femme muda belia, yang mencoba menggantikan Ningga disisinya, tak berhasil meskipun femme ini, muda, cantik dan nekat.

Kesedihan terus berlangsung, seolah tak ada celah atau sinar cerah yang hadir (any way saya sendiri yang membacanya sangat capek!! Dari halaman satu sampai akhir isinya penderitaaaan cintanya yang seolah tak ada kehidupan lain.) apalagi ketika mendengar kabar bahwa Ninggar menikah dalam arti yang sebenar-benarnya. Menikah dengan laki-laki katanya bule lagi. Hancur, berkeping, terkoyak, tercabik, terjerumus, terpuruk, terjerembab dan tersunggkur dalam setia pada Ninggar.

Cinta seorang buchie =lesbian laki-laki yang gila, tidak logis, hitam kelam seperti lumpur lapindo. Bahasa yang lugas, tanpa tedeng aling-aling menguak kehidupan lesbian yang sekotak itu, dan yang berputar-putar disitu saja, kalau gonta ganti pasangan ya, diantara mereka-mereka juga. Komunitas kecil yang masih marginal ini, memiliki hukumnya sendiri, memiliki kebiasaanya sendiri, bebas memiliki hubungan seknya, dengan radarnya mereka bisa membaca seorang femme atau buchi kah perempuan yang dilihatnya itu? Dan satu lagi yang tak kalah penting, diantara mereka juga saling menyakiti, sama seperti dunia heteroseksual lainnya, ada selingkuh dan ada setia.
Setia sebagai femme?
Setia sebagai buchi?
Setia sebagai biseksual?
Kamu yang mana?

1 komentar:

  1. w juga buchie,n sllu d mainin femme....

    BalasHapus

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...