Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Jumat, 11 Juni 2010

Pembaca dalam Resepsi Sastra


Oleh: Alfian Rokhmansyah

          Konsep pembaca dalam kegiatan bersastra menunjukkan pada sasaran yang dituju oleh ciptaan yang bernama sastra. Konsep pembaca dapat dimaknai sebagai penikmat atau konsumen. Menurut Chamamah (dalam Jabrohim 2001: 146), perhatian pada konsumen sastra berangkat dari sisi fungsi komunikasi dari sastra, ialah bahwa sastra yang terbaca dalam wujud teks sastra, pada hakikatnya berada dalam poros pengirim dan penerima.
          Menurut Jauss, pembaca atau penerima sastra dibedakan antara penerima yang sungguh-sungguh dan penerima yang bertindak sebagai penghubung. Penerima yang sungguh-sungguh adalah pembaca yang menerima suatu teks untuk dirinya sendiri dan bertindak hanya menerima segala sesuatu yang diberikan oleh teks yang dimaksud. Sedangkan penerima yang bertindak sebagai penghubung adalah pembaca yang aktif memahami teks dan menuliskan pengalaman resepsinya ke lingkungan luar sebagai pembawa kultur budaya estetik yang memanifestasikan hal kesejahteraannya sendiri.
          Pertemuan antara pembaca dan teks sastra menyebabkan terjadinya proses penafsiran atas teks oleh pembaca sebagai subjekif, yang hasilnya adalah pengakuan makna teks. Dalam menanggapi karya sastra, pembaca selalu membentuk unsur estetik melalui pertemuan antara horizon harapan, bentuk teks, dan norma-norma sastrawi yang berlaku. Pembaca selaku pemberi makna akan senantiasa ditentukan oleh ruang, waktu, golongan sosial, budaya dan pengalamannya.
          Implikasi estetik terletak pada kenyataan bahwa resepsi pertama suatu karya oleh pembaca mencakup pengujian nilai estetiknya dalam perbandingannya dengan karya-karya yang sudah dibaca. Kejelasan implikasi historis mengenai hal ini ialah pemahaman pembaca pertama akan ditopang dan diperkaya dalam sebuah rantai resepsi dari generasi ke generasi sehingga makna historis suatu karya akan diputuskan dan nilai estetiknya dibuktikan. (Jauss 1983: 20)
          Fungsi terpenting dominasi pembaca adalah kemampuannya untuk mengungkapkan kekayaan karya sastra. Pembaca memungkinkan untuk menampilkan makna secara tak terbatas, baik pembaca sezaman maupun pembaca dalam konteks sejarah.
          Pembaca jelas berbeda antara satu dengan yang lain, baik dari segi usia, jenis kelamin, profesi, kelas sosial, dan wilayah geografis. Pembaca dalam teori resepsi dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:
1.       Pembaca Biasa
          Pembaca biasa merupakan pembaca dalam arti sebenarnya, yaitu yang membaca suatu karya sastra, bukan sebagai bahan penelitian. Penelitian untuk pembaca ini dapat dilakukan secara diakronik maupun sinkronik. Pembaca ini biasanya hanya sekadar membaca sebuah teks dan memahaminya hanya sebagai sebuah bacaan tanpa ada tanggapan dan reaksi yang mendalam dalam meresepsi apa yang telah dibacanya.
2.       Pembaca Ideal
          Pemabaca ideal adalah pembaca yang berpengetahuan. Pembaca ini adalah pembaca yang kompeten dalam pengetahuan maupun penguasaan bahasa yang digunakan dalam karya sastra. pembaca ideal dapat dikatakan sebagai pembaca yang ahli dalam bidang sastra. pembaca ini adalah pembaca yang melakukan pembacaan secara mendalam.
          Jauss mengemukakan bahwa penting mempertimbangkan pembaca dalam pemahaman karya sastra, namun tanggapan tersebut hendaknya difokuskan pada perubahan-perubahan, interpretasi, dan evaluasi pembaca terhadap teks yang sama atau berbeda pada kurun waktu yang sama atau berbeda pula.
          Pengertian mengenai tanggapan pembaca mengandung dua konsep, yaitu konsep tantang tindak menanggapi karya sastra dan konsep tantang pembaca. Konsep tanggapan pembaca menunjukkan mengenai aktivitas pembaca dalam menerima karya sastra. Pembaca memberikan tanggapan atau terhadap suatu karya sastra karena adanya sentuhan estetis pada karya sastra tersebut (Chamamah dalam Jabrohim 2001: 148-149).
          Pada waktu melakukan interpretasi suatu teks, pembaca sudah mempunyai bekal yang berkaitan dengan karya yang dibacanya. Bekal pengetahuan inilah yang selanjutnya menyediakan kepada si pembaca satu cakrawala harapan. Kedalaman bekal pembaca diangkat dari gudang pengetahuan dan pengalamannya, yaitu gudang pembaca yang berisikan seperangkat norma-norma sosial, historis, dan budaya yang dimanfaatkan dalam proses pembacaannya.
          Bekal pembaca senantiasa bertambah dan berubah. Latar belakang pengetahuan mereka berbeda sehingga hasil penerimaan dan tanggapannya berbeda pula. Keadaan ini memperlihatkan gejala bahwa dalam tindak pembacaan terjadi interaksi dialog antara pembaca dengan teks yang dibacanya yang selanjutnya melahirkan beragam makna.
          Kehadiran ragam makna tersebut menunjukkan bahwa sebuah teks jika belum dibaca, ia masih berada dalam tatanan artefak yang tidak tersusun rapat. Karya sastra akan berubah menjadi karya seni, yaitu menjadi objek estetik dan berfungsi estetik, setelah dibaca atau ditanggapi. Kondisi ini disebabkan pengarang dan karyanya adalah dua hal yang berbeda. Sebelum karya sastra hadir, makna ada di tangan pengarang. Tetapi ketika karya hadir di hadapan pembacanya, kekuasaan pengarang menjadi hilang dan berpindah ke tangan pembaca. Dalam proses penghadiran karya sastra, pembaca berganti peran menjadi pengarang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...