Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Sabtu, 26 Juni 2010

Teori Tingkah Laku


          Schutz dengan teori FIRO (dalam Sarwono 1998: 144) mencoba menerangkan perilaku-perilaku antarpribadi dalam hubungannya dengan orientasi (pandangan) masing-masing individu kepada individu-individu lain. FIRO (Fundamental Interpersonal Relation Orientation) adalah teori tiga dimensi tentang tingkah laku antarpribadi.
          Ide pokok Schutz dalam tori FIRO adalah bahwa setiap orang mengorientasikan dirinya kepada orang lain dengan cara yang tertentu (khas) dan caranya yang khas ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilakunya dalam hubungan antarpribadi. Secara singkat teori FIRO adalah pola hubungan antara individu pada umumnya dapat dijelaskan dalam kaitan dengan tiga kebutuhan antarpribadi, yaitu inklusi (keikutsertaan), kontrol, dan afeksi (kasih).
          Teori tentang tipe-tipe tingkah laku antar pribadi adalah sebagai berikut.
a.       Tipe-tipe perilaku inklusi
1)      Perilaku kurang sosial (under social behavior)
          Perilaku ini timbul jika kebutuhan akan inklusi kurang terpenuhi. Kecenderungan orang bertipe ini adalah menghindar dari hubungan orang lain, tidak mau ikut dengan kelompok-kelompok, menjaga jarak antara dirinya dengan orang lain, tidak mau tahu, acuh tak acuh, bersifat introvert, dan menarik diri.
          Bentuk tingkah laku yang paling sederhana adalah terlambat dalam pertemuan-pertemuan atau tidak datang sama sekali. Kecemasan yang ada dalam ketidaksadaraannya ialah bahwa ia seorang yang tidak berharga dan tidak ada orang lain yang menghargainya.
2)      Perilaku terlalu sosial (oversocial behavior)
          Psikodinamikanya sama dengan perilaku kurang sosial, yaitu disebabkan oleh kurangnya kebutuhan inklusi. Hal yang membedakan ialah pernyataan perilakunya yang berlawanan. Orang yang terlalu sosial cenderung memamerkan diri terlalu berlebihan (exbitionistic). Bicaranya keras, selalu menarik perhatian orang, memaksakan dirinya untuk diterima di dalam kelompok, sering menyebut namanya sendiri, suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengejutkan.
3)      Perilaku sosial (social behavior)
          Perilaku ini timbul pada orang yang masa kecilnya mendapatkan kebutuhan inklusi. Orang yang bertipe ini tidak mempunyai masalah dalam hubungan antarpribadi. Berada bersama orang lain atau sendirian, bisa sama-sama menyenangkan buat dia, tergantung situasi dan kondisinya. Ia bisa berpartisipasi, tetapi juga tidak; bisa melibatkan diri untuk kepentingan orang lain.

b.      Tipe-Tipe Perilaku Kontrol
1)      Perilaku abdikrat (abdicrat behavior)
          Orang yang berperilaku jenis ini menghindari pembuatan keputusan dalam hubungan antarpribadi karena ia merasa dirinya tidak mampu membuat keputusan dan bahwa orang lainpun mengetahui akan kelemahannya ini. Ia lebih suka dipimpin, lebih suka menjadi orang submisif.
2)      Perilaku otokrat (autocrat behavior)
          Orang yang berperilaku jenis ini  terdapat kecenderungan mendominasi orang lain, ingin selalu menduduki posisi atas, mau membuat semua keputusan, untuk dirinya dan orang lain. Reaksi tidak sadar terhadap perasaan tidak mampu pada tipe ini adalah mencoba untuk membuktikan bahwa ia mampu dan bisa membuat keputusan.
3)      Perilaku demokrat 
          Perilaku ini adalah perilaku yang ideal. Orang yang berperilaku jenis ini biasanya selalu berhasil memecahkan berbagai persoalan dan tanpa ragu-ragu mengambil keputusan. Ia bisa merasa senang dalam kedudukan atasan bawahan, tergantung pada situasi dan kondisinya. Dalam ketidaksadarannya, ia merasa mampu dan kemampuannya itu tidak perlu dibuktikan kepada orang lain.

c.       Tipe-Tipe Perilaku Afeksi 
1)      Perilaku kurang pribadi 
          Orang bertipe ini cenderung menghindari hubungan pribadi yang telalu dekat, kalau ramah hanya dibuat-buat, padahal secara emosional, tetap menjaga jarak. Pengalaman-pengalaman masa kecil menyebabkan orang bertipe ini merasa bahwa dirinya adalah orang yang  tidak bisa dicintai dan secara tidak disadari dirinya tidak ingin orang lain mengetahui hal itu.
2)      Perilaku terlalu pribadi
          Orang yang bertipe ini menginginkan hubungan emosional yang sangat erat, terlalu intim dalam berkawan dan kadang-kadang menuduh kawannya tidak setia kalau kawan itu berteman dengan orang lain. Ia merasa ada kecemasan untuk dicintai dan merasa tidak bisa dicintai.
3)      Perilaku pribadi 
          Orang yang bertipe ini bisa bertindak tepat dan selalu merasa senang dalam hubungan emosi yang dekat maupun yang renggang. Ia tidak mempunyai kecemasan dan yakin bahwa ia adalah orang yang patut untuk dicintai.

3.       Faktor-faktor yang Memengaruhi Tingkah Laku Manusia
a.       Faktor Personal
          Faktor personal adalah faktor yang berasal dari diri individu itu sendiri. Faktor-faktor personal meliputi:
1)      Faktor Biologis
          Faktor biologis berpengaruh dalam  seluruh kegiatan manusia. Perilaku tertentu yang merupakan bawaan  manusia dan bukan berpengaruh lingkungan. Faktor biologis ini adalah insting dan motif bercumbu, memberi makan, merawat anak, dan perilaku agresif. Faktor biologis selanjutnya adalah motif biologis. Arah penting dari motif biologis adalah  kebutuhan makanan, kebutuhan seksual, kebutuhan memelihara, berlangsungnya hidup dan menghindari rasa sakit dari bahaya (Rakhmat 1986: 41-45).
2)      Faktor Sosiopsikologis
          Proses sosial manusia mempengaruhi pemerolehan karakter sehingga berpengaruh pula pada perilaku. Faktor sosiopsikologis digolongkan menjadi tiga komponen, yaitu: komponen afektif, kognitif, dan komponen konatif.
a)       Komponen afektif
          Yang termasuk dalam komponen afektif adalah motif sosiogenis, sikap, dan emosi. Sedangkan motif sosiogenis itu terbagi menjadi motif ingin tahu, motif kompetensi, motif cinta, motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari identitas, kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna kehidupan, dan kebutuhan akan pemenuhan diri.
b)      Komponen kognitif
          Yang termasuk dalam komponen ini adalah kepercayaan. Kepercayaan adalah keyakinan bahwa sesuatu itu benar  atau salah atas dasar bukti, sugesti, otoritas, pengalaman atau intuisi (Kohler dalam Rakhmat 1986: 53). Kepercayaan menurut Salomon (dalam Rakhmat 1986: 53) dibentuk dari pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan.
c)       Komponen konatif
          Komponen konatif terdiri atas kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan adalah aspek perialaku manusia menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan. Kebiasaan merupakan hasil kelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi berkali-kali. Sedangkan kemauan erat dengan tindakan, bahkan ada yang mendefinisikan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan (Rakhmat 1986: 53).

b.      Faktor Situasional
          Faktor situasional adalah faktor yang datang dari luar individu. Menurut Samson (dalam Rakhmat 1986: 54-58) faktor ini meliputi:
1)      Faktor Ekologis
          Keadaan alam akan mempengaruhi daya hidup dan perilaku seseorang. Hal ini biasa dilihat dan dihubungkan dengan yang terjadi di Indonesia yaitu kemalasan bangsa Indonesia pada mata pencaharian bertani dikarenakan matahari yang selalu bersinar terik setiap hari.
2)      Faktor desain arsitektur
          Suatu rancangan arsitektur dapat mempengaruhi pola komunikasi di antara orang-orang hidup dalam ruangan. Selain itu, juga telah terbukti mempengaruhi pola-pola perilaku yang terjadi di tempat itu.
3)      Faktor suasana perilaku 
          Lingkungan merupakan beberapa satuan yang terpisah yang disebut suasana perilaku. Pada setiap suasana pola-pola hubungan yang mengatur perilaku orang-orang di dalamnya. Misalnya di masjid orang tidak akan berteriak keras, di dalam pesta orang tidak akan melakukan upacara ibadat, dan lain-lain.
4)      Faktor temporal
          Waktu memberi pengaruh terhadap perilaku manusia. Pada waktu tengah malam sampai pukul 04.00 fungsi tubuh manusia berada pada tahap yang paling rendah, tetapi pendengaran sangat tajam, pukul 10.00 daya ingat mencapai puncak, pukul 15.00 mencapai puncak dalam kemampuan analisis dan kreatif (Panati dalam Rakhmat 1991: 45).
5)      Faktor teknologi
          Revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku sosial. Lingkungan teknologis yang meliputi sistem energi, produksi, distribusi, membentuk serangkaian perilaku seseorang. Misalnya saja kehadiran televisi telah merubah masyarakat menjadi manusia  yang membutuhkan informasi dalam kesehariannya. Informasi menjadi mudah didapatkan dan mempengaruhi pola pikir masyarakat di dalamnya.
6)      Faktor sosial
          Sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan oraganisasi, karakteristik populasi adalah faktor-faktor sosial yang menata perilaku manusia. Dalam organisasi, hubungan antara anggota dengan ketua diatur oleh sistem peranan dan norma-norma kelompok. Karakteristik populasi seperti usia, kecerdasan, karakteristik biologis, mempengaruhi pola-pola perilaku anggota-anggota populasi itu. Kelompok orang tua akan melahirkan pola-pola perilaku yang berbeda dibanding kelompok anak muda.
7)      Faktor psikososial
          Persepsi sejauh lingkungan memuaskan atau mengecewakan manusia, akan mempengaruhi perilaku manusia.  Iklim psikososial menunjukan persepsi orang tentang kebebasan individual, keketatan, pengawasan, kemungkinan kemajuan, dan tingkat keakraban.
8)      Faktor stimulus yang mendorong dan memperteguh perilaku
          Kendala situasi mempengaruhi kelayakan melakukan perilaku tertentu. Ada situasi yang memberikan rentangan  kelayakan perilaku, seperti situasi di taman.
9)      Faktor budaya
          Faktor budaya juga mempengaruhi perilaku seseorang. Seseorang dengan latar budaya tertentu dan karakter tertentu dalam berperilaku tertentu pula sesuai dengan latar budayanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...