Cari di sini

PERINGATAN !

DILARANG MENGUTIP, MENJIPLAK, ATAU MENG-COPYPASTE-KAN ISI DARI KAJIAN YANG PERNAH DILAKUKAN DAN DIPUBLIKASIKAN DI WEBSITE INI !!

BELAJAR BUKAN DARI HASIL MENJIPLAK TAPI DARI KETEKUNAN DAN KEULETAN DALAM MENCARI PRESTASI. HIDUP BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAPI UNTUK MEMBANGGAKAN!

Tentang ku

Alfian Rokhmansyah

Lahir di Pemalang pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 1989. Alamat rumah di Jalan Jenderal Sudirman No. 18 RT 007 RW 007 Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Pendidikan dasar diselesaikan di SD Muhammadiyah 02 Comal dan SMP Negeri 1 Comal. Pendidikan menengah diselesaikan di SMA Negeri 1 Pemalang dengan program studi Ilmu Alam.

Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Program studi yang ditempuh Sastra Indonesia S1 dengan konsentrasi bidang Ilmu Sastra. Beberapa minggu terakhir ini tengah disibukkan dengan aktivitas bimbingan skripsi bidang kajian resepsi sastra, di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Semoga bisa dinyatakan lulus tahun ini dan menjalani wisuda awal tahun 2011.


Add FB ku ya...

Sabtu, 24 Juli 2010

KAJIAN PERBANDINGAN PUISI “KARAWANG BEKASI” KARYA CHAIRIL ANWAR DAN PUISI “THE YOUNG SOLDIERS” KARYA ARCHIBALD MACLEISH


Oleh
Alfian Rokhmansyah
NIM 2150407005/Sastra Indonesia (Ilmu Sastra)
Universitas Negeri Semarang


PENDAHULUAN

Sastra bandingan adalah kajian secara sistematik sastra-sastra antar negara, maksudnya karya sastra yang diperbandingkan haruslah karya sastra yang sama genre dan tipenya. Tujuan sastra bandingan adalah membandingkan dua karya sastra yang dianggap serupa untuk mengetahui isi masing-masing karya sastra sehingga dapat diketahui apakah karya sastra yang satu dengan lainnya mempunyai hubungan atau tidak.

Dalam hal ini kedua karya sastra ini dibandingkan karena Chairil Anwar adalah tokoh yang unik dalam sejarah sastra di Indonesia. Ia dianggap pelopor suatu pembaharuan sastra sekaligus dituduh penyair yang suka mencuri karya sastra asing. Misalnya kita amati dalam puisinya yang berjudul Krawang-Bekasi. Oleh beberapa pengamat sastra, puisi itu dianggap plagiat dari puisi Archibald Macleish yang berjudul The Young Soldiers karena tidak mencantumkan nama Archibald Macleish.

PEMBAHASAN

Analisis Stara Norma Puisi Karawang Bekasi dan The Young Souldiers

Menurut Roman Ingarden, lapis-lapis norma dalam karya sastra adalah lapis bunyi, lapis makna, lapis objek, lapis dunia yang dilihat dari sudut pandang tertentu, dan lapis metafisika. Berikut hasil analisis kedua puisi menurut strata norma yang di sampaikan oleh Roman Ingarden.

Perbandingan Puisi Karawang-Bekasi dan The Young Soldiers

Puisi Karawang-Bekasi merupakan puisi yang dibuat pada tahun 1946 oleh Chairi Anwar setelah ia mendapatkan inspirasi dari kejadian di antara kota Karawang dan Bekasi. Puisi ini menceritakan perjuangan para pejuang bangsa dalam menghadapi musuh dan menjaga tokoh negara. Mereka gugur dalam usaha menciptakan perdamaian dan upaya memperoleh kemerdekaan.

Pada puisi The Young Dead Soldiers karya Archibald mendapatkan inspirasi dari kejadian perang yang ada di dunia. Ia menggambarkan keinginan para prajurit untuk dikenang dan keinginan lain seperti mendapatkan perdamian, kejayaan seusai perang, dan perang segera berakhir. Untuk menciptakan suasana yang berat, pengarang menggunakan pengulang pada setiap bait menggunakan kalimat They say. Pengulangan ini digunakan untuk memperlihatkan bahwa para prajurit ingin menyampaikan harapan-harapan mereka yang tertunda dan tidak dapat disampaikan langsung kepada pembaca.

PENUTUP

Berdasarkan uraian bentuk, puisi Chairil sedikit berbeda dengan puisi Archibald dalam penciptaan jumlah baris dan bait. Berdasarkan penggunaan diksi dan ungkapan kalimat, puisi Chairil hampir memiliki diksi, ungkapan yang sama. Pemilihan kata juga sama dan inti maknanya juga sama. Berdasarkan isi, imajinasi, motif, tema, puisi Chairil memiliki kesamaan dengan puisi Archibald yaitu menggambarkan perjuangan dengan tema yang sama pula.

Berdasarkan masyarakat, lingkungan; masyarakat yang ada dalam penciptaan puisi Chairil sedikit berbeda dengan Archibal. Dalam puisi chairil menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia dengan lingkungan yang pada zaman dahulu masih sangat alami, sederhana dan masalah perjuangan melawan penjajah. Sedangkan dalam puisi Archibald dalam masyarakat negara-negara yang maju dengan segala kekuasaan yang mendorong lingkungan untuk tercipta perang dunia kedua.

Dengan demikian puisi Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar tidak termasuk plagiat hanya saja diilhami atau mendapat pengaruh dari puisi The Young Dead Soldiers karya Archibald Macleish. Puisi Chairil terikat oleh sejarah yang tidak bisa dengan mudah diterima di mana dan kapan saja. Nada yang tersirat dalam puisi Chairil pun berbeda ia mengobarkan semangat perjuangan, sedangkan puisi Archibald memimpin perdamaian.

Proses kreatif yang dilakukan Chairil Anwar inimerupakan contoh kasus satu saja dari proses pengaruh asing dalam kesusastraan Indonesia yang telah berlangsung sejak nenek moyang kita menyadur Mahabharata.




KARAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliput debu.
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus digaris batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliput debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar 1946


THE YOUNG DEAD SOLDIERS

The young dead soldiers do not speak.
Nevertheless they are heard in the still houses.
(Who has not heard them ?)

They have a silence that speaks for them at night
And when the cloc counts.

They say,
We were young. We have died. Remember us.

They say,
We have done what we could
But until it is finished it is not done.

They say,
We have given our lives
But until it is finished no onecan know what our lives gave.

They say,
Our deaths are not ours,
They are yours,
They will mean what you make them.

They say,
Whether our lives and our deaths were for peace and a new hope

Or for nothing
We cannot say, it is you who must say this.

They say,
We leave you our deaths,
Give them their meaning,
Give them an end to the war and atrue peace,
Give them a victory that ends the war and a peace afterwards,
Give them their meaning,
We were young, they say,
We have died.
Remember us.

Archibald Macleish 1945

Terjemahan :

PRAJURIT (YANG) MATI MUDA

Prajurit (yang) mati muda tak dapat bicara.
Tetapi mereka didengar dirumah-rumah sunyi.
(siapa tidak mendengar mereka?)

Mereka dalam diam berbicara padamu di malam hari.
Dan ketika jam dinding berdetak.

Mereka berkata,
Kami (masih) muda. Kami (telah) mati. Ingatlah kami.

Mereka berkata,
Kami telah bekerja apa yang kami dapat
Tetapi sampai selesai (kerja) belum apa-apa.

Mereka berkata,
Kami htelah memberikan jiwa kami
Tetapi sampai selesai tak seorangpun tahu pengorbanan kami.

Mereka berkata, kematian kami bukan milik kami,
(kematian) itu milikmu,
(kematian) itu berarti bila engkau (memberi) arti.

Mereka berkata,
Meskipun jiwa dan kematian kami untuk perdamaian dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tak dapat bicara. Engkau yang harus berbicara tentang ini

Mereka berkata,
Kami telah mati meninggalkan engkau,
Berilah mereka arti/nilai mereka,
Berilah mereka suatu akhir perang dan suatu perdamaian sungguh
Berilah mereka kejayaan seusai perang dan perdamaian abadi,
Berilah mereka nilainya.
Kami (masih) muda, mereka berkata,
Kami telah mati.
Ingatlah kami.


1 komentar:

Silakan tinggalkan pesan anda untuk tulisan ini...